"Jadi, boleh ya, gue anter?"
"Ya kalau lo maksa." Jessi menjawab cuek mengangkat bahu tidak peduli.
"Yes!" Desis Sean, dan sekilas kepalanya noleh ke temen-temennya, dan mereka bilang "Sean Chai Yo!" Lengkap dengan gerakan absurd ala ala t****k.
Jessi geleng-geleng sambil ngebatin
"Tuh kan bocil. Badan doang gede, tapi kelakuan bocil abis."
"Ya udah yuk!" Ajak Sean pada Jessi. Semangat banget Sean jadi pengawalnya Jessi.
"Kamu beneran mau pipis?"
"Ya iya dong, masa boong."
"Jadi nganter nggak?"
"Jadi kok, kemana aja lo pergi gue anter."
"Kalau gue pergi ke neraka lo anter juga?"
"Lo nggak mungkin ke neraka, kan lo bidadari surga gue." Euh Sean makin uwu godainnya.
"Ih padahal gue iblis neraka. Masih mau ikut gue lo?"
"Nggak apa-apa, iblis secantik lo, gue serahin jiwa gue."
Cewek digombalin sama Sean pasti klepek-klepek. Gimana enggak, dari postur tubuh aja Sean keliatan bibit unggul, badan tinggi, kulit putih, wajah tampan, anak jurusan tehnik, calon kerja di tambang, masa depan terlihat bersinar, tapi ga mempan buat Jessi. Jessi tetep ngebucin om-om dosennya, Cahyo Wardhana Yodha. Kalau Shelly tau mungkin Shelly bakalan misuhin Jessi bego, soalnya nganyepin Sean yang ganteng, muda dan masa depan cerah, menurut Shelly, Sean adalah high quality jomblo yang patut diperjuangkan ketimbang Pak Cahyo yang jelas punya tunangan.
Alih-alih klepek-klepek malah Jessi nyebik, ngremehin gombalan Sean, dan hanya berapa detik kemudian Jessi udah lari ninggalin Sean, sebabnya, Jessi ngelihat Cahyo keluar dari toilet dan berjalan menuju ruang dosen.
"Jes! Mau kemana?" tanya Sean yang ngeliat Jessi tiba-tiba ngibrit sambil menjajari Jessi. Sayangnga, Jessi nggak jawab, matanya fokus ke Cahyo, agar nggak kehilangan arah kemana Cahyo pergi.
Sean yang bingung ada apa dengan Jessi ngikutin Jessi yang mendadak lari, meski nggak tau Jessi mau kemana dan ada apa?
Jessi ngejar Cahyo ke ruang dosen, dan Sean ngejar Jessi.
"Pak! Pak Cahyo!" Jessi manggilin Cahyo dan Cahyo, saat denger suara Jessi, yang entah kenapa sangat bisa dikenali oleh telinganya, Cahyo langsung kabur, berusaha menyembunyikan diri agar nggak berhadapan sama Jessi.
"Lo nyari dosen?" Tanya Sean saat tau Jessi lari ke ruang dosen, dan Jessi nggak jawab, semua pikirannya fokus ke Cahyo.
"Pak...!" Jessi berhasil berhadapan sama Cahyo dan Cahyo sama sekali nggak mau mandang Jessi.
"Pak! Bapak kenapa sih kayak ngeliat setan gitu pas liat saya! Emang saya ada salah sama Bapak?" tanya Jessi, kesal karena tiba-tiba Cahyo menghindar, padahal kemarin keliatan sayang. Jessi jadi baper.
"Saya nggak menghindar." Elak Cahyo, sambil duduk di kursinya dan berpura-pura sibuk sama dokumen di mejanya.
Jessi duduk di hadapan Cahyo menyelidik, Cahyo nggak mau ngeliat Jessi. Tatapan matanya selalu menghindari Jessi. Gimana Cahyo mau ngeliat Jessi, kalau otaknya jadi nggak beres kalau mandangin Jessi. Cahyo nggak mau jadi lelaki b***t yang jadiin Jessi obyek fantasi.
"Pak! Jangan pura-pura sibuk dong." Jessi mulai kesel karna Cahyo nyuekin dia. Emang mahasiswi ngelunjak Jessi ini.
"Terus saya harus apa?" Cahyo berhenti dari kesibukannya dan menatap Jessi.
"Nah gitu dong pak."
"Bapak kenapa sih nyuekin saya?"
"Siapa bilang?"
"Sikap bapak yang bilang. Saya tadi di kelas nanya, tapi dianyepin."
"Pertanyaan kamu nggak prinsipil, di buku juga banyak jawabannya. Jadi saya nggak perlu jelaskan. Kamu bisa cari di buku panduan."
"Kalau kamu serius belajar pasti kamu nggak nanyain pertanyaan nggak berbobot begitu," kata Cahyo sadis.
"Tapi saya nggak punya bukunya."
"Kamu mahasiswa apa anak TK? Inisiatif cari kan bisa. Di Gramedia banyak buku bisnis internasional, di perpus juga banyak."
"Dasarnya kamu emang nggak serius belajar."
Jawaban Cahyo nylekit, sengaja biar Jessi nggak ngejar-ngejar Cahyo lagi, dan jangan sampai Jessi datang lagi ke mimpi.
Jessi natap Cahyo, mata gadis itu berkaca-kaca, bentar lagi mungkin Jessi mau nangis kalau Cahyo masih aja ketus. Cahyo jadi kasian sama Jessi, tapi nanti kalau Cahyo baik ke Jessi nanti aura baper merajalela. Bukan hanya Jessi yang baper, tapi Cahyo juga.
"Kok Pak Cahyo galak sih ke saya." Jessi nyebik-nyebik. Nah kan bentar lagi nangis nih anak gadis.
"Bu-bukan galak...saya cuma ngasih tau kamu, kalau yang kamu tanyain di kelas tadi udah ada di buku." Kata-kata Cahyo melembut.
"Ya tapi kenapa ngatain saya anak TK?"
"Ngatain pertanyaan saya nggak berbobot." Sebutir air mata bergulir ke pipi Jessi, membuat hati Cahyo tergetar oleh rasa bersalah.
"Saya tahu kalau saya bodoh, tapi bukan gini caranya Pak, ngata-ngatain saya!"
"Saya nggak ngatain kamu anak TK. Sa-..."
"Jess! Gue cariin kemana-mana juga!" Belum selesai Cahyo ngomong seorang pemuda tinggi melongok masuk ke ruangannya.
"Maaf Pak, ganggu." Pemuda itu menyapa Cahyo yang menatap tidak suka.
"Udah belum bimbingannya Jes?" tanya Sean.
Jessi nggak jawab, masih kesel sama Cahyo yang ketus.
"Jes...!" Sean maju mendekati Jessi dan menepuk pundak Jessi.
"Udah!" Jessi jawab ketus dan langsung keluar dari ruangan Cahyo.
"Eh Jess!" Sean menyusul Jessi tanpa pamit pada Cahyo.
Suasana ruangan Cahyo jadi sepi, sepeninggal Jessi dan Sean.
"Hah, anak jaman sekarang ga tau sopan santun." Gumam Cahyo, tapi ada rasa kesal mengalir di relung hatinya, dan Cahyo tidak tau, kekesalannya itu untuk apa?
Cahyo mengabaikan perasaannya yang mendadak tidak nyaman, menghela nafas, mengambil ponselnya dan menghubungi Gita, tunangannya.