"La, lo dimana?" ujar Deva.
Deva masih mencoba menghubungi Anila lagi dan lagi. Deva cemas karena hari ini Jakarta lagi-lagi diguyur hujan lebat lagi. Sudah pukul 9 malam tapi Anila belum juga pulang. Dia mencoba menghubungi rumah Anila, tapi wanita itu tidak disana. Dia bahkan telah mendatangi apartemen Anila dan menunggunya disana beberapa saat, namun wanita itu tidak kunjung muncul juga. Deva pikir Anila sudah diapartemennya tadi, namun ternyata tidak ada seorangpun disana. Kata tetangga apartemen Anila kalau sejak pagi Anila belum pulang sama sekali sejak pagi tadi.
Setiap kali Deva mencoba menghubungi Anila, teleponnya selalu tersambung kepesan suara. Hal itu membuat Deva hampir melemparkan handphonenya karena rasa emosi dan khawatirnya. Beberapa hari ini Anila memang berubah lebih pendiam, pemurung dan lebih banyak melamun dari biasanya. Deva tidak tau apa yang terjadi pada wanita itu hingga berubah total seperti sekarang ini, Deva sangat cemas akan kondisi Anila.
Anila memang masih menyiapkan sarapan dan pakaiannya kekantor, tapi sebatas itu saja. Untuk makan malam dan menghabiskan waktu Bersama setelah makan malam, sudah tidak pernah lagi selama satu minggu ini. Awalnya Deva bisa mengerti apalagi sejak kejadian minggu lalu yang Anila menangis hebat dipelukannya. Deva membiarkan gadis itu karena berharap dengan menyibukkan dirinya wanita itu akan melupakan masalahnya dan akhirnya bisa bercerita kepadanya tentang semua masalahnya. Tapi kali ini berbeda, Anila seolah menyembunyikan masalahnya itu dari dia. Anila berubah, sangat berubah.
Deva tidak bisa menolerirnya lagi. Deva akan membuat Anila bercerita apa masalahnya kepadanya. Ini sudah satu minggu berlalu tapi Anila tak kunjung kembali seperti Anila yang semula. Tidak biasanya Anila bertahan selama ini, tanpa bercerita kepadanya tentang apa masalahnya.
Hujan di luar semakin lebat, bahkan angin bertiup sangat kencang membuat Deva semakin khawatir akan keberadaan Anila. Dia berharap agar Anila tidak dalam mobil sekarang, cuaca terlalu berbahaya saat ini untuk Anila mengemudi. Saat Deva sibuk mengkhawatirkan Anila, dering handphonenya mengejutkan Deva. Dengan cepat disambarnya handphonenya itu, dia berharap panggilan itu dari Anila atau seseorang yang tau keberadaan Anila sekarang. Nomor baru tertera di layar handphonenya, dengan cepat digesernya icon telepon berwarna hijau dihandphonenya.
“Halo,” sapanya dengan tidak sabaran, namun bahu Deva langsung melorot tidak bersemangat saat tau bukan Anila atau orang yang tau keberadaan Anila yang menelponnya.
“Halo Va, maaf gue ngeganggu. Gue nggak bisa tidur,” jawab orang diseberang. Deva menghela napasnya, dia terlalu malas menaggapi orang yang diseberang.
“Lo nggak keberatan kan gue nelpon?, lo taukan gue nggak bisa tidur kalau ada hujan lebat ama angin kencang?” tanya suara itu lagi.
“Nggak papa sih Na, tapi gue lagi sibuk Na. Gue lagi nungguin Anila. Gue khawatir dia kejebak banjir nggak bisa pulang,” jawab Deva jujur lalu mencoba membuka tirai apartemennya mengintip keluar.
Tidak ada jawaban dari Davina tapi Deva tidak peduli. Deva bahkan langsung melempar handphonenya saat Anila muncul di pintu apartemennya dengan keadaan basah kuyup.
***
Suasana kembali hening setelah tadi Deva mengomeli dan menanyai Anila panjang lebar. Darimana saja Anila?, bagaimana dia bisa basah kuyup?, kenapa tidak menghubunginya? dan pertanyaan-pertanyaan lain. Namun Anila bergeming memilih untuk tidak menjawab perkataan Deva sama sekali. Hal itu membuat Deva lagi-lagi harus mendesah gusar, dia mengalah.
Jika dalam keadaan seperti ini, Anila tidak akan bisa dipaksa siapapun untuk berbicara. Jadi daripada dia memaksa wanita itu sekarang, lebih baik dia melakukan sesuatu agar Anila tidak sakit karena telah hujan-hujanan di luar sana tadi. Toh menurutnya dia akan bisa mengajak Anila bicara nanti.
Deva memilih untuk membantu Anila mandi dari pada menunggu Anila untuk meresponnya dan menjawabnya. Dimulai dari menyiapkan air hangat untuk Anila lalu membuka baju wanita itu, kemudian menggosok tubuhnya dan membersihkannya dengan air shower terlebih dahulu sebelum melilitkan bathrobe ketubuh Anila. Deva mengeringkan rambut basah Anila dengan handuk yang tadi dililitkannya di rambut wanita itu. Cukup pelan dan lembut sampai akhirnya dia menyadari airmata wanita itu muncul lagi. Airmata Anila itu membuat Deva akhirnya tak sabar lagi untuk tau ada apa sebenarnya dengan Anila. Segera dipegangnya bahu Anila, dipaksanya mata Anila menatap kedua matanya.
"Lo sebenarnya kenapa?" tanyanya menahan geramannya.
Sungguh Deva sangat benci melihat Anila yang begini. Ini sudah keberapa kalinya Deva menanyakan soal ini, tapi Anila tidak menjawab Deva sama sekali membuat emosi Deva akhirnya memuncak.
"Kalau lo diam gini, gue nggak ngerti La. Bilang apa masalah lo?, lo kenapa?
Cerita La, biar gue bisa ngertiin keadaan lo yang sekarang ini," bentak Deva.
Bukannya menjawab, malah airmata Anila yang semakin jatuh bercucuran. Deva mendesah frustasi dan memilih untuk keluar dari kamarnya untuk menenangkan dirinya juga. Dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya hingga membuat Anila terluka lagi nantinya. Setelah dirasanya dia tenang, dia menyiapkan cokelat panas untuk Anila. Dibukanya pintu kamarnya pelan, jaga-jaga apabila Anila ternyata sudah tidur.
"Lo minum cokelatnya biar tenang baru tidur," kata Deva sambil menyerahkan cokelat ditangannya pada Anila yang ternyata belum tidur.
Anila menyesap cokelat hangat buatan Deva. Sedangkan Deva hanya memilih diam mengamati wajah Anila yang sembab, lingkaran hitam matanyapun terlihat sangat jelas. Begitu kentara kalau Anila sebenarnya sangat lelah sekarang.
"Va, kalau seandainya gue egois, lo bakal marah nggak ama gue?" tanya Anila dengan nada lirih.
Ini adalah kalimat pertama wanita itu kepadanya dalam satu minggu ini. Meski terdengar pelan dan serak, Deva masih bisa mendengarnya. Deva diam tidak menjawab untuk beberapa saat, yang dilakukannya malah memperbaiki poni gadis itu.
"Kalau gue ngotot pengen tetap bertahan, dengan egoisnya ingin mempertahanin seseorang, meski gue tau orang itu bukan buat gue dan orang itu adalah punya orang lain, gimana Va?" tanya Anila lagi.
Deva terhenyak ada rasa sakit dirasakannya didadanya saat Anila berkata seperti itu. Deva tidak tau siapa yang Anila bicarakan, tetapi Deva benar-benar tidak menyukainya. Dia bisa membuat Anila sebegininya, ingin rasanya Deva menghajar orang itu sekarang juga.
"Lo nggak salah kalau nyukain orang lain meski udah punya orang lain, yang salah itu kalau lo ngerebut punya orang lain. Apapun itu pada akhirnya apa yang bukan punya lo akhirnya akan lepas juga dan akan kembali kepemiliknya. Gue tau lo juga bukanlah orang yang egois, kalaupun elo sampai memutuskan egois itu pasti karena lo mau berjuang bukan semata-mata hanya ingin memilikinya doang.” kata Deva masih dengan memperbaiki rambut Anila dibagian depannya.
“Tenang aja gue nggak bakal marah ama lo. Gue tau sejahat-jahatnya elo, elo tau batasan kok dan gue juga selalu siap nerima elo dan ngingatin elo," kata Deva panjang lebar. Deva lalu tersenyum mengembang saat melihat mata bulat indah Anila menatap fokus pada matanya juga.
Tanpa disadari keduanya, keduanya mendekatkan wajah mereka satu sama lain. Sampai akhirnya bibir lembut Anila menyentuh bibir Deva, awalnya hanya bersentuhan biasa, kemudian Anila menggerakkan bibirnya yang dibalas Deva dengan bergerak pelan dan lembut. Kemudian ciuman itu berubah menjadi lebih cepat dan kuat, bahkan Anila kini sudah duduk dipangkuan Deva. Anila menekan tengkuk Deva sambil mengusap-usap bagian leher dan rambut pria itu dengan pelan. Deva tak mampu lagi menahan desahannya ketika tangan Anila mulai merayap dan menyentuhinya di bagian yang mampu menaikkan hasratnya kepuncak.
"Nggak papakan Va kalau aku mau kamu," suara itu memang pelan dan lirih, tapi Deva masih bisa mendengarnya.
Dengan cepat Deva membalikkan badan Anila, membaringkan gadis itu diranjangnya lalu melanjutkan semuanya itu sebagai jawaban Deva untuk Anila. Deva tau hubungannya dengan Anila sudah aneh sejak mereka melakukan s*x untuk pertama kali, tapi ada satu hal yang Deva tau yang mungkin Anila tidak tau. Sesuatu yang membuatnya tidak menyesal karena sudah melakukan hubungan badan dengan Anila. Sesuatu itu adalah komunikasi yang tidak terlihat namun ada saat mereka sedang bercinta. Saat mereka melakukannya, baik Deva dan Anila seolah bisa melampiaskan emosi dan apa yang menumpahkan seluruh perasaan mereka yang tersembunyi dan mengganjal melaui hubungan itu.