CHAPTER 14

1309 Kata
Anila memandang langit mendung Jakarta, walau begitu Anila masih memilih untuk tetap duduk di sudut salah satu coffee shop yang terkenal di Jakarta. Anila kembali menghela napasnya berat untuk melepaskan rasa sesak di dalam hatinya, mata Anila kembali menatap kosong kearah luar coffee shop. Anila melamun, pikiran Anila kembali membawanya pada pemandangan yang dijumpainya siang tadi saat dia sedang keluar untuk makan bersama Nagi. Pemandangan itu adalah pemandangan Deva yang sedang duduk bersama dengan Davina di sebuah tempat makan yang dulu menjadi tempat favorite keduanya untuk bertemu dan berkencan. Pemandangan siang tadi seharusnya tidak perlu membuatnya terluka seperti ini karena pemandangan itu adalah pemandangan yang sudah diduganya beberapa waktu belakangan ini. Pemandangan yang sudah pasti terjadi saat Anila tau Davina sudah pulang ke Indonesia. Tapi tetap saja dia merasa galau sekarang. Anila tidak mau menerima kenyataan seperti ini. Jujur saja ada rasa cemburu yang besar dirasakan oleh Anila. Tidak hanya itu, dia juga merasa tak rela dalam hatinya karena pemandangan itu. Tetapi dibalik rasa cemburu dan tidak relanya, rasa cemas, kasihan dan sedih Anila lebih mendominasinya sekarang. Siang itu Anila melihat wajah Deva yang menahan khawatir, marah dan sedih, membuat Anila menebak kalau Deva masih memiliki perasaan terhadap Davina. Meski itu hanya sebatas tebakan, tetapi ternyata mampu membuat d**a Anila terasa sesak sepanjang hari ini. Bayangan Anila tak berhenti sampai Deva yang bertemu dengan Davina tetapi juga sampai dengan kembalinya dua orang itu menjadi sepasang kekasih. Berkali-kali Anila menghembuskan napasnya kuat, berharap sesak yang dirasakannya menghilang. Namun semuanya sia-sia, sesak didadanya bahkan terasa semakin menghimpitnya. Membuat Anila susah untuk bernapas baik. Sadar kalau tempat ini bukanlah tempat yang pantas buatnya untuk menangis, akhirnya Anila memutuskan untuk segera pulang. Anila segera menyambar kunci mobil jazz merahnya lalu beranjak pergi untuk meninggalkan tempat itu. Anila berputar-putar disekitaran Jakarta, hingga pada akhirnya mobil Anila berhenti diparkiran apartemen Deva. 'Pada akhirnya lo tetap kesini juga huh?' sinis Anila pada dirinya sendiri seolah mengejek dirinya sendiri. Sepertinya tidak peduli sesakit apa dia karena Deva, pada akhirnya hati dan otaknya tetaplah membawa Anila pulang ketempat dimana dia berpikir kalau tempat itu adalah rumahnya. Anila memasuki apartemen Deva, Anila menemui pria itu tengah menonton acara kesukaannya. Wajah tampannya masih terlihat sama, tapi Anila tau ada yang berbeda dari wajah itu. Raut wajah Deva terlihat lebih bahagia, sama seperti ketika Deva memberitahunya bahwa dia dan Davina sudah menjadi sepasang kekasih. 'Apakah ini sudah waktunya untuk berpisah?' tanya Anila pada dirinya. 'Tapi gue belum siap,' lagi Anila mejawab pertanyaannya sendiri. "Lo udah nyampe?, gue udah masak buat kita. Gue juga mau ngomong ama lo," Deva beranjak dari sofanya lalu berjalan kearah Anila. Anila berjalan sedikit mundur dan menunduk, membuat Deva terdiam ditempatnya lalu menatap Anila dalam diam. Anila menggigit bibir bawah bagian dalamnya untuk menahannya agar tidak menangis di depan Deva. Dia tidak bisa menerima berita itu sekarang, pikir Anila. Tanpa dia sadari dan bisa ditahannya lagi, airmata Anila luruh begitu saja dari pelupuk matanya. Dengan cepat Anila mengangkat tangannya untuk segera menghapus airmatanya itu. Tapi belum sempat dia menghapus airmatanya, Deva sudah terlebih dahulu memeluk Anila, lalu mengusap punggung Anila. "Kalau lo mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan, gue bakal selalu ada buat nenangin lo," kata Deva pelan. Saat itulah tangis Anila jatuh begitu saja tanpa ditahan-tahannya lagi. Memikirkan bagaimana kalau pelukan, perhatian dan segalanya yang ada pada Deva tidak ada untuknya lagi membuat Anila benar-benar mau mati rasanya. Anila tidak akan pernah mau dan rela berbagi dengan siapapun, dengan apa yang bisanya dia dapatkan dari Deva selama ini. Tidak akan. Membagi sedikit saja Anila tidak mau, apalagi harus memberikan semua itu pada wanita lain selain dirinya. Tapi bagaimana kalau itu untuk kebahagiaan Deva?, apakah Anila harus mengalah? Iya Anila akan mengalah. Anila akan memberinya dengan rela bahkan jika itu akan membunuhnya sendiri karena kesakitannya. Sama seperti sekarang ini, seandainya Deva kini kembali bersama dengan Davina, mungkin Anila akan akan sangat terluka dan sakit karena keputusan Deva itu, tapi Anila rela kalau itu memang untuk kebahagiaan Deva. Sejak Anila mengenal Deva, Deva adalah orang yang selalu ada untuknya, perhatian padanya dan selalu memenuhi maunya selama itu masih mampu dia berikan. Itulah kenapa Anila ingin berkorban untuk kebahagiaan Deva. Anila masih ingat bagaimana Deva menggendongnya dari bukit sambil menangis, hanya karena Anila jatuh dan kepalanya berdarah. Padahal saat itu tubuh Anila sangat gemuk, tetapi Deva tetap memaksa untuk menggendongnya dan selalu menyuruhnya untuk selalu berbicara. Sehingga dia bisa memastikan kalau Anila masih hidup. Saat itu Deva dan Anila masih anak kecil polos yang tidak tau kalau luka di kepala Anila tidak akan membunuh Anila semudah itu. Semua kenangan bagaimana Deva memperlakukannya tiba-tiba berputar kembali di kepala Anila, sampai akhirnya Anila lelah dan mulai mengantuk dalam pelukan Deva. 'Tuhan, bisakah aku sedikit egois?' tanyanya sebelum benar-benar terlelap. *** Anila mengerjapkan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk keretinanya. Matanya sedikit susah untuk dibukanya karena matanya memang sangat membengkak dan wajahnya yang juga sembab membuatnya sadar kalau kemarin pasti dia menangis seolah tidak akan ada hari esok lagi. Tidak hanya itu, Anila juga merasakan kepalanya yang terasa sakit dan berat. Baru Anila akan memejamkan matanya kembali, dilihatnya Deva memasuki kamar dengan nampan berisi nasi goreng, s**u dan lemon madu jahe kesukaan Anila ditangannya. "Lo udah bangun?" tanya Deva. Deva tau kalau Anila itu sudah bangun, meski mata Anila sudah terpejam kembali. Anila mengangguk kecil. Anila terlalu enggan untuk membuka matanya. Setiap kali dia melihat Deva ingin rasanya airmatanya terus berkeluaran. Belum lagi bayangan Deva dan Davina yang kemarin sudah bertemu membuat Anila semakin takut untuk melihat dan mulai pembicaraan dengan Deva. Anila belum bisa kalau berhadapan langsung dengan Deva sekarang. Untuk saat ini dia benar-benar ingin menghindar dari Deva, meskipun itu hanya sebentar. Dia tidak ingin mendengar berita Deva yang sudah balikan dengan Davina saat ini. Setidaknya dia butuh waktu untuk mempersiapkan dirinya dulu sebelum mendengar berita itu. Anila tidak terlalu egoiskan kalau dia begini? "La, gue mau ngomong sama lo sekarang boleh?" tanya Deva pelan. "Gue masih capek Va, bisa lain kali?" pintanya lirih. Tidak, Anila tidak akan melepaskan Deva untuk saat ini. Dia ingin bertahan dan dia juga ingin egois sedikit. Anila mendengar desahan pelan napas Deva, lalu dirasakannya usapan lembut dikepalanya. "Ya udah sekarang lo tidur aja dulu, entar gue ke tempat lo buat permisiin lo buat absen hari ini." Deva lalu mengecup kening Anila seperti biasanya jika gadis itu merasa tertekan, kesepian dan sedih. Katanya Deva dia melakukan itu, dia mau menunjukkan pada Anila kalau dia akan selalu ada dan bisa diandalkan oleh Anila disetiap masalahnya. Saat pintu kamar Deva terdengar tertutup, Anila membuka matanya. Airmatanya kembali menetes. Anila menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangisnya. "Va maaf kalau saat ini gue pengen egois sedikit aja. Kasih gue waktu untuk berjuang atau sampai gue benar-benar siap kalau akhirnya lo minta berhenti dan bilang kalau lo ama Davina balikan," bisik Anila. Sungguh yang dibutuhkan Anila hanyalah waktu. Waktu untuk membuatnya siap untuk menerima semuanya nanti. Dia tau menghindari Deva untuk berbicara saat ini hanya bisa dilakukannya sementara saja karena pada akhirnya mereka akan tetap bicara juga nantinya. Anila ingin sedikit mengundur Deva mengatakan apapun yang ingin Deva katakan padanya. Anila terlalu takut dan pengecut untuk menerima semua itu untuk saat ini. Menurut Anila dia perlu menyiapkan hatinya dan juga mentalnya untuk mendengarkan berita itu dari mulut Deva nanti. Jadi kalau pada akhirnya Deva meminta hubungan mereka ini berhenti sampai disini karena dia telah kembali bersama Davina lagi, maka Anila tidak akan sehancur Deva yang dulu. Setidaknya Anila pernah mencoba untuk berjuang dan bertahankan di sisi Deva sebisa dia. Kalaupun Anila kalah dengan Davina untuk mendapatkan Deva pada akhirnya, Anila tidak akan merasa menyesal lagi. Itu karena dia sudah mencoba untuk berjuang dan bertahan di sisi Deva, tapi kalau Deva tetap merasa lebih bahagia dengan Davina, Anila bisa apa? Kalaupun Anila mundur, itu bukan karena dia tidak menginginkan Deva lagi, tapi karena Devalah yang telah memutuskannya dan memintanya untuk berhenti.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN