Divo terdiam, setiap kali nama Davina keluar dari mulut kembarnya ini Divo selalu merasa ada yang salah. Baiklah, Divo juga sebenarnya marah dengan apa yang dilakukan Davina kepada Deva, tapi jangan berpikir kalau Divo membenci Davina. Dia, Diva, mama dan papa mereka hanya marah pada Davina karena hancurnya Deva saat itu. Untunglah Anila mampu membuat manusia sekeras Deva melakukan apapun yang wanita itu mau, hingga Deva bisa kembali waras hingga sekarang.
"Lo masih cinta ama dia?" tanya Divo ragu.
Divo memang bukan psikolog tapi dia bisa menjadi tempat curhat yang baik bagi para kembarnya. Sama seperti Deva dan Diva yang selalu tempatnya bercerita dan meminta saran.
Deva diam, dia benar-benar tidak tau lagi dengan perasaannya. Otaknya berkata 'iya' sedangkan hatinya berkata 'tidak'.
"Gue nggak tau Vo."
Divo ikut terdiam, dia tidak cukup pengalaman soal patah hati total yang membuatnya hancur seperti Deva dulu. Jadi sulit baginya untuk bisa memberikan pendapat atau masukan pada Deva.
"Kalau seandainya dia bilang dia masih cinta sama lo. Dia pergi dan nolak lo karena ada suatu alasan yang besar yang tidak bisa dia bilang sama lo. Terus, ternyata dia tidak menikah dengan pria yang lo bilang pergi sama dia itu. Apa yang akan lo lakuin?" tanya Divo hati-hati.
"Gue nggak peduli, yang gue tau dia udah pergi tanpa mau jelasin apapun ama gue," jawab Deva setelah berpikir panjang, seolah memang itu adalah jawaban mutlak dan final darinya.
"Va lo tau, kalau lo memang masih mencintai Davina, lo bakal bisa maafin Davina dengan mudah Va.” Kata Divo memulai mengeluarkan pendapatnya.
“Dengan alasan lo mencintai Davina juga, lo bakal bisa menerima kesalahan dia dan bisa maafin dia. Bahkan tanpa dia perlu menjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena pada akhirnya lo bakal mengerti kenapa dia nolak lo dan ninggalin lo. Lo bakal menerima dia lagi pada akhirnya," jelas Divo setaunya.
Deva cukup mengerti apa yang dikatakan Divo, tapi dia menolak untuk menerima semua itu. Tanpa mereka sadari, Diva sudah masuk kekamar Divo dan langsung bertanya.
"Kalau seandainya Anila yang ngelakuin itu semua ke lo, bayangin seandainya saat itu Anila adalah Davina."
"Anila nggak mungkin ngelakuin itu ke gue, kalaupun dia ngelakuinnya dia pasti punya alasan yang sangat besar dan penting. Dia juga bakal bilang alasannya ke gue meskipun nggak saat itu juga. Gue yakin dia pasti nggak bakal nyakitin gue, dia nggak sejahat itu." Deva berkata defensive. Deva mengatakannya dengan yakin kalau Anila tidak akan sekejam dan sejahat Davina. Anila tidak akan menghancurkannyakan?, seperti apa yang dilakukan Davina.
Diva menghela miris, kenapa para pria begitu tidak peka. Bahkan wajah bingung Divo membuat Diva semakin gemas dengan kenyataan 2 pria yang paling dia sayangi selain papanya itu benar-benar tidak menangkap apa yang dia maksud. Padahal Diva sudah mengkodeinnya secara jelas. Diva juga punya pengalaman minim soal percintaan, tapi untuk menebak apa mau hatinya, bukanlah hal sulit baginya.
"Gue nggak terlalu ngerti gimana keadaan lo sekarang Va, tapi saran gue bending lo temui Davina sekarang, dengerin penjelasan dia. Setelah itu lo lihat, lo bisa nggak maafin dia dan nerima dia seandainya dia minta balikan.” Perintah Diva pada Deva.
“Benar kata Divo tadi, cinta itu tanpa syarat Va. Dan gue harap lo bisa ngelihat cinta lo yang sebenarnya. Siapa Davina buat lo dan siapa Anila ama lo, sebelum semuanya terlambat," kata Diva.
Diva memang menentang Deva kalau seandainya kakaknya itu memilih kembali bersama dengan Davina. Tapi kalau Deva memang bahagia dengan Davina, dia bisa apa?. Lagi pula Diva yakin kalau Deva tidak akan kembali lagi pada Davina. Diva hanya perlu menunggu waktu membuka tutup mata dan hati yang menutup mata dan hati Deva.
Deva mendesah lalu bangkit. "Udah ah, gue balik. Lagian mama papa kayaknya larut deh pulangnya," pamit Deva.
"Lo kenapa nggak nginap disini?" Divo mengernyit.
Deva lebih memilih melangkah keluar kamar Divo daripada menjawab pertanyaan Divo.
"Mana mau dia disini, Anila entar yang temenin siapa?" sindir Diva.
Deva masih sempat membarikan delikan sebalnya pada Diva.
"Kok bawa-bawa Anila sih?" Divo makin bingung.
Deva mengabaikan pertanyaan Divo. Dia keluar tanpa peduli lagi reaksi dua kembarnya yang beda satu sama lain.
"Anak orang jangan ditiduri aja Va, dipekain dikit!" teriak Diva iseng.
Divo menatap Diva semakin bingung dan penasaran. Melihat wajah penasaran dan bingung Divo, Diva geli.
Tapi Diva hanya bilang "Apa?" dengan nada galak pada Divo.
Dasar, kembar sompret maki Divo dalam hatinya.
***
"Hai Va," sapa Anila semangat ketika mendapati Deva berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kenapa lo, tumben semangat lo bisa sampe malam?" tanya Deva menyelidik.
Mendapati seorang Anila semangat sampai malam adalah hal yang paling jarang ditemui Deva. Itu karena Anila terlalu mudah merasa lelah. Jadi tidak heran jika semangat Anila sudah habis ketika sore hari. Itulah alasan mengapa Deva menyelidiki wajah semangat Anila sekarang.
Hihihi, Anila terkikik lalu menggeleng. Lebih memilih menarik tangan Deva kemeja makan lalu menyiapkan makanan untuknya.
"Nih..." Anila menyerahkannya pada Deva lalu membuat satu lagi buatnya.
Setelah berdoa keduanya lalu menyantap makanannya. Sambil makan Anila menceritakan tentang semua kegiatannnya hari ini, hal-hal yang membuatnya semangat dan bahagia. Minus masalah Tio, meski itu adalah salah satu penyebabnya dia bisa bahagia sepanjang hari ini. Perasaan marah dan dendamnya pada Tio hilang sudah, jadi lega rasanya bagi Anila.
Deva mendengarkan cerita Anila dengan serius. Seperti sejak mereka bersahabat, Deva selalu mendengar dan menanggapi cerita sahabatnya itu dengan baik. Tapi kali ini berbeda, mata Deva memang tertuju pada Anila. Telinganyapun mendengarkan cerita Deva tapi pikirannya ikut bekerja memikirkan tentang Anila. Deva baru menyadarinya sekarang, kalau apa yang dia mau hanyalah melihat Anila selalu seperti ini, selalu bahagia.
"Iiihhhh Va, lo dengerin gue nggak sih," rengut Anila, pipinya menggembung kesal.
"Iya...iya gue dengar, ini pipi nggak usah digembungi kayak Miss Puff aja lo," kata Deva sambil menekan pipi Anila yang membuat Anila meringis kesakitan.
"Ah elu mah gitu Va," Anila merengut lagi, Anila tidak pernah senang kalau Deva sudah menyebutnya seperti character ibu guru Spongebob itu.
Deva terkekeh senang. Deva juga menyadarinya sekarang kalau moodnya sebenarnya sangat dipengaruhi oleh seorang Anila.
Selesai makan malam, Anila dan Deva memutuskan untuk maraton film horror. Keduanya memang aneh, mereka berdua sama-sama sangat menyukai film horor. Bahkan saking sukanya Deva dan Anila rela berjuang mengumpulkan semua film-film horor yang menjadi koleksi mereka itu. Mereka bahkan sampai mengumpulkan film horror langka yang sudah tidak beredar lagi. Keduanya rela merogoh kocek yang dalam hanya untuk mendapatkan film itu. Mereka lalu menjadikannya film itu sebagai harta bersama mereka. Coba tanya horor populer mana yang belum mereka tonton dan miliki, dari yang terbaru sampe yang lama, Deva dan Anila punya. Exorcist 1973?, Poltegrist, The Exorcism?, The Grudge? Atau yang terbaru The Conjuring 2, Deva dan Anila punya.
Ketika keduanya tengah serius menonton ulang Babadok, dengan Anila dalam pelukan Deva. Entah kenapa Anila tiba-tiba bertanya tentang kondisi tokoh di dalam film itu. Sialnya kondisinya tidak jauh dengan kondisi Deva.
"Va, apa ditinggal orang yang kita cinta bakal bisa buat sehancur itu ya?, maksud gue, fisik ibunya si anak memang nggak kenapa-kenapa tapi kayaknya dia hancur banget deh secara mental dan rohani, makanya roh jahatnya ngegunain gambaraan orang yang dicintainya buat ngerasuki dia." Deva tidak menjawab. Anila diam, dia baru menyadari kesalahannya.
"Sorry..." lirihnya melihat wajah Deva yang sempat terlihat kosong.
Deva menghela nafasnya, kembali memeluk Anila dan melanjutkan tontonan mereka, walaupun kini dia tidak konsentrasi lagi. Dia hanya butuh waktu, waktu akan membantunya menemukan jawaban tentang semuanya.
'I hope too,' harapnya dalam hati.
Bagaiamanpun Deva tidak akan mau berlarut-larut dengan masalahnya ini. Dia tidak akan mau menghabisakan banyak waktunya hanya untuk memikirkan Davina. Sudah cukup dia dulu yang bertingkah bodoh sampai mengorbankan banyak hal hanya karena patah hatinya pada Davina. Deva pikir itu semua sudah cukup, dia masih punya hal-hal lain yang perlu dia pikirkan dalam hidupnya.