Ke manakah Gus Yusuf?

1032 Kata
Semenjak ku beritahu kidal itu sudah sejak kecil ku alami, Gus Yusuf hanya mengangguk dan tak lagi mencari tahu mengenai wewangian tersebut, apakah mungkin dia sudah tahu siapa orangnya? Namun, tak ingin ku marah, atau ada hal lainnya yang aku sendiri tidak tahu apa itu. “Saya akan segera kembali, sekarang harus menghubungi seseorang terlebih dahulu,” ucapnya, belum sempat ku menjawab dia sudah pergi begitu saja. Untuk pertama kalinya, pergi begitu saja di saat dirinya akan menghubungi seseorang, yang entah siapa orangnya, aku benar-benar tak ingin soouzon pada siapapun. Sembari menunggu, tak ingin menyia-nyiakan waktu dengan penantian sia-sia, aku buka buku yang kebetulan ada di dalam tas, lalu membaca nya agar tak terlalu hening selama menunggu nya. Buku yang saat ini k*****a adalah buku islami, judulnya saja sudah cukup membuatku penasaran ingin cepat-cepat membaca, karena ini buku baru yang belum sempat k*****a sebelumnya. Berjudul menjadi bidadari cantik ala islami, benar-benar buku yang sangat bagus, dari mulai cover sampai judulnya pun sangat indah, karya dari Zainal Abidin Bin Syamsuddin Ummu Ahmad Rifqi. Semoga saja isi dari buku ini jauh lebih bermanfaat. “Apa sebelumnya, saya pernah bertemu dengan mu, Ning? Assalamualaikum,” ucap seseorang, baru saja ku mulai membaca, tiba-tiba terdengar suara itu. Perlahan, ku menoleh dan ternyata sudah ada seorang lelaki yang tengah berdiri tepat di belakang ku, siapakah dia? Aku benar-benar tidak mengenal dirinya, bertemu pun baru hari ini. Ku tundukan kepala, lalu tetap menjawab nya dengan sopan serta ramah, “Maaf waalaikumussalam, kamu siapa, ya? Aku belum pernah mengenal mu sebelumnya,” sahutku. “Apa kamu yakin? Tetapi, entah kenapa saya rasa dan yakin, kita pernah bertemu sebelumnya, oke ... saya belum pernah melihat wajahmu seperti apa, namun ada satu hal yang membuat saya yakin untuk menyapa, yaitu tas serta buku yang saat ini kamu baca.” “Oh, iya? Maaf, tas dan buku seperti ini mungkin bukan hanya dimiliki oleh ku, bisa aja banyak yang lainnya,” sahutku lagi. Tidak tahu sama sekali dia siapa sampai membuatku ketakutan, mana suamiku sampai sekarang belum kembali yang entah pergi nya ke mana, bisa terjadi fitnah jika terus-menerus berduaan seperti sekarang, mana ku tak mengenalinya sama sekali. “Maaf, kalau begitu aku permisi, harus pulang karena suamiku ....” “Tunggu, kamu mencari lelaki yang memakai pakaian warna putih bercorak burung merak, bukan? Saya melihatnya sebelum ke sini, dia sudah pergi dengan mobil nya,” ucap lelaki itu lagi. Benarkah? Apakah itu semua benar? Tetapi, dari ciri-ciri yang sudah dia sebutkan tadi memang ciri khas suamiku, bagaimana ini? Apakah dia benar dan berkata dengan jujur? Aku sangat bingung sekali saat ini. Sembari mengucap bismillah, ku tetap melangkah untuk pergi dari lelaki itu dulu, apapun yang terjadi nantinya pada suamiku, menghindari diri dari sebuah fitnah jauh lebih baik bagiku. “Maaf, terima kasih assalamualaikum,” ucapku, lalu benar-benar pergi dari tempat sebelumnya. Berjalan dengan cepat, sampai membuatku semakin bingung harus bagaimana, dia sudah tak ada, juga tidak mengikuti aku, harus bagaimana sekarang? Mencoba untuk menghubungi suamiku tetap tak bisa, nomor nya tidak bisa dihubungi. Kamu ke mana sebenarnya? Di mana kamu, Gus? Kenapa kamu tega membiarkan aku sendiri mencari mu seperti ini, jangan sampai aku percaya pada ucapan lelaki tadi. Masih sangat yakin, bahwa suamiku tak pergi meninggalkan aku, masih setia menunggu sembari mencari keberadaan dirinya, sedikit pusing karena tak tahu harus melakukan apalagi. “Itu ada penjaga masjid ini, mungkin dia tahu atau sempat melihat suamiku.” Tetap menundukkan pandangan ku, sembari bertanya dengan sopan, “Maaf, assalamualaikum, Pak, saya ingin bertanya sesuatu,” ucapku. “Oh, ya, waalaikumussalam. Apa ana sing bisa daktulungi?” “Nyuwun pangapunten sakderengipun, wonten pundi kulo panjenengan sedoyo mangertos wonten pundi, Gus, ingkang ngagem busana pethak corak merak, medal saking masjid rumiyin?” Aku berharap bisa menemukan jawaban. Akan tetapi, saat bapak-bapak itu menggeleng dan menjelaskan dia tidak tahu bahkan tak pernah melihatnya, membuatku semakin kebingungan harus bagaimana. Aku sudahi saja, ku ucapkan terima kasih pada bapak itu dan melenggang agak menjauh dari jarak nya, untuk kembali mencari ke mana pergi nya Gus Yusuf. Kenapa dia meninggalkan aku? Tanpa menjelaskan apapun terlebih dahulu, langsung pergi dan mengatasnamakan akan menghubungi seseorang, padahal aku sendiri tak begitu yakin dia hanya akan melakukan itu. Jika hanya menghubungi seseorang, mana mungkin dia pergi begitu lama tanpa ada kabar sama sekali kepadaku, bukankah ada telepon dan chat? Alasan saja jika lupa untuk menghubungi ku. Tetap mencari ke sana dan kemari, masih mencari di sekitar masjid, dari mulai halaman depan sampai belakang, semuanya nihil, aku rasa ini bukan seperti masjid besar, musala atau semacamnya, karena tak terlalu luas. Pada saat ku hentikan langkah ini tepat di dekat halaman belakang, aku bertemu dengan lelaki itu lagi, harap-harap cemas saat melihatnya berjalan seperti menuju ke arah ku, mungkinkah dia akan menganggu ku lagi seperti tadi? Semoga Allah selalu melindungi ku. *** “Benar, kan? Apa yang sudah saya katakan tadi, lelaki yang kamu cari memang benar-benar tak ada, dia pergi.” “Sebaiknya, kamu pulang saja, Ning, saya sarankan itu.” “Kenapa kamu begitu yakin, bahwa lelaki itu yang aku cari? Bisa saja kamu salah orang,” tanyaku dengan sangat sebal. “Karena sebelum dia pergi, saya sudah memperhatikan kalian, jadi saya tahu, bahkan tahu dia pergi begitu saja dengan mobil yang diantarkan oleh seseorang sebelumnya, seperti tukang bengkel,” jawabnya. Ya Allah, aku harus bagaimana? Kenapa ucapan dia semakin meyakinkan aku, bahwa itu benar-benar Gus Yusuf, apalagi sampai sekarang dia belum kembali dan tak ada kabar sama sekali. Haruskah ku percaya pada orang lain? Tetapi, jika semua itu memang benar, kenapa Gus Yusuf tega pergi meninggalkan aku seperti ini, kenapa dia begitu tak berperasaan pada istrinya sendiri. Sesak dalam dadaku semakin terasa, ku perbanyak istighfar untuk tetap sabar pada jalan takdir ini, siapa tahu memang ada sesuatu yang mendesak lalu secepatnya dia akan segera kembali untuk menjemput aku. Ku yakinkan diri ini berulang kali dengan keyakinan yang sama sekali tak bisa ku yakini dengan sepenuhnya. Hanya bisa berpasrah kepada Allah SWT yang maha tahu segalanya, Allah tak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. “Yakin? Ning, masih mau menunggu dia seperti sekarang?” Lagi dan lagi lelaki itu ikut campur dengan rumah tangga ku, sungguh tak sopan sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN