Tak terasa sudah hampir zuhur, kami masih saja di tempat tadi, selesai makan pun tak ada kabar dari tukang yang sedang memperbaiki mobil, Gus Yusuf memutuskan untuk mencari musala ataupun masjid terdekat, menunaikan ibadah salat bersama.
“Kamu tak apa-apa, kan? Kita mencari musala jalan kaki seperti ini?” Gus Yusuf ternyata bisa peka juga terhadap orang yang ada di dekatnya.
“Ora apa-apa, sing penting aman, Gus.”
“Terima kasih, Ning.”
“Lagi pula kita niatkan untuk mencari rumah Allah, bukan sembarangan jalan kaki, Gus. Insya Allah pahala, lelah ataupun letih nya,” ucapku.
“Kamu benar, ya sudah ... ayo, sebelum azan,” katanya.
Pada saat kami terus berjalan kaki, entah kenapa ada sedikit keanehan lagi pada diri suamiku, bukan dirinya melainkan tubuhnya, saat ini aku sangat dekat dengannya, karena dia terus saja menggenggam tanganku, jadi ku bisa mencium aroma yang ada di tubuhnya.
Parfum laki-laki seperti itu, kah? Aku belum pernah sebelumnya berdekatan dengan lawan jenis seperti ini selain dengan abah, apalagi abah suka nya wewangian untuk ibadah bukan parfum sejenis nya.
“Gus?”
“Ya?”
“Sejak kapan memakai wewangian seperti ini, Gus?”
Ku terkejut, di saat dia menghentikan langkahnya, dan menatap kedua mataku dengan sangat lekat, aku tidak tahu harus berkata apalagi jika sudah mendapat tatapan seperti itu darinya.
“Sejak saya menikah denganmu,” jawabnya.
“Bagaimana? Hmm, bagaimana maksudnya, Gus?” Aku benar-benar tidak paham.
Ku lihat pun dia menyunggingkan senyumnya, dia tak lagi menatapku seperti tadi, ku dengar pun sepertinya dia terkekeh, entah menertawakan apa.
“Kenapa, Gus? Aku memang tak paham apa yang kamu katakan tadi.”
“Kamu pasti ada pikiran kenapa saya memakai wewangian seperti aroma wanita? Benar begitu? Padahal kamu sendiri yang menyiapkan itu wewangian di atas tempat tidur, katanya itu untuk malam pertama kita, mungkin wewangian itu masih menempel di baju ini, aneh memang sudah dua hari belum hilang wangi nya.”
Apa maksudnya? Aku benar-benar tak paham dan tak mengerti, wewangian itu? Bukan milikku, apalagi bukan aku yang menaruh nya di tempat tidur, mana mungkin ku memakai wewangian yang sangat menyengat itu.
“Ning? Jangan bilang, ini bukan milikmu? Jika memang ....”
“Gus, sejak kapan wewangian itu ada di atas tempat tidur kita? Mana pernah aku memakai wewangian seperti itu, bahkan aku baru mencium aroma nya sekarang, pakaian ini? Yang Gus pakai sudah dipakai berapa kali selama di rumah ku? Aku tak ingat.”
Gus Yusuf tak langsung menjawab karena yang ku perhatikan dia seperti sedang memikirkan sesuatu, memang benar-benar aku tak mengerti itu semua apa maksudnya.
Cukup lama kami saling diam, pada akhirnya keheningan kembali tercipta, jika bukan aku yang kembali membuka pembicaraan, mungkin topik kali ini akan langsung ditutup begitu saja seperti topik-topik lainnya.
“Gus? Kenapa tak menjawab?”
“Tunggu, biar saya ingat-ingat lagi, sekarang ... kita fokus menunaikan ibadah salat terlebih dahulu, oke? Kita akan kembali membahas nya, karena ini sangat penting, saya merasa ada sesuatu yang sudah terjadi.”
Tumben sekali dia begitu, ya sudahlah mau bagaimana lagi? Lebih baik khusyuk ibadah, kebetulan kami sudah berhasil menemukan tempat beribadah yang jarak nya tak begitu jauh dari restoran tadi.
Saat kami berpisah untuk salat, aku ingat-ingat lagi dari kapan Gus Yusuf mengenakan pakaian itu, selain hari ini. Namun, yang ada diingatan hanya momen di mana saat itu aku sempat geram dengan kelakuannya Marwah, waktu itu dia bersikukuh untuk memasak, apakah hari itu?
“Ya Rabb, bantu lah aku untuk kembali mengingat semuanya. Agar aku ataupun suamiku tak lagi bertanya-tanya, apalagi aku tak ingin ada kesalahpahaman lagi, aku takut soouzon dalam diri semakin meningkat, jangan sampai astaghfirullah.”
Begitu banyak sekali hal ganjil dalam pernikahan ini, walaupun sudah berusaha untuk tetap berpikir yang baik-baik, tetap saja petunjuk Allah selalu menunjukkan yang sebenarnya terjadi seperti apa.
***
Jangan ditanya kenapa bisa dia selalu santai dalam menghadapi semua situasi, aku pun tak mengerti kenapa bisa seperti itu. Aku dengan cepat merapikan kembali mukena dan bergegas untuk menunggu Gus Yusuf di depan gerbang, karena tak ingin dia melupakan topik lagi seperti yang sudah-sudah.
“Ning, mau ke mana? Bahkan saya saja sampai ditinggal.”
Ku hentikan langkah ini, ku menoleh ke belakang dan sangat tidak percaya ternyata Gus Yusuf masih ada di dalam masjid, karena sebelumnya ku pikir dia sudah lebih dulu menunggu di gerbang depan.
“Aku pikir kamu udah duluan ke ....”
“Ayo, kita duduk dulu, lagi pula mobil belum selesai diperbaiki, tadi ada telepon dari pihak tukang setelah saya salat,” ucapnya memotong pembicaraan, hobi sekali dia begitu.
“Oh, iya? Baiklah, mari kita duduk.”
Setelah kami duduk berhadapan, ku masih setia menunggu kelanjutan dari pembahasan yang tadi, berharap semoga kali ini langsung selesai tanpa ditunda apalagi langsung dilupakan begitu saja seolah-oleh tak ada masalah.
“Kita lanjutkan pembicaraan yang tadi, Ning. Jadi, apakah benar wewangian itu bukan milikmu? Dan kamu juga tak merasa menaruh nya di atas tempat tidur kita?” tanya Gus Yusuf, aku bersyukur ternyata kali ini dia mau membahas nya kembali.
Cepat-cepat ku gelengkan kepala, menandakan aku benar-benar tak merasa melakukan nya, membeli wewangian seperti itu saja tidak pernah lalu bagaimana ceritanya bisa menaruh di atas tempat tidur lalu diberikan pada suamiku, sangat membingungkan.
“Apakah kamu sudah ingat, selain hari ini, kapan saya mengenakan pakaian yang saat ini dipakai? Kamu ingat, kah?” Gus Yusuf kembali bertanya kepadaku.
“Seingat ku ... hari di mana aku dan Marwah berada di dapur, kamu pulang dari masjid saat itu, Gus, setelah salat subuh,” sahutku, mungkin memang benar tetapi tak terlalu yakin.
Bagaimana bisa yakin? Pakaian yang Gus Yusuf pakai dari awal dia di rumah ku sampai hari ini, warna pakaian nya selalu saja berwarna putih, corak yang ada di baju tersebut mirip-mirip, bahkan mungkin tak ada bedanya jika dilihat dengan tidak teliti.
“Kamu yakin, Ning?”
“Tak terlalu yakin, Gus. Tapi, seingat ku ya ... pada hari itu.”
“Lalu, bagaimana bisa wewangian itu ada di atas tempat tidur kita? Jika memang bukan kamu yang melakukan nya, secarik kertas nya pun masih saya simpan,” ucap Gus Yusuf lagi.
“Oh, iya? Apakah boleh aku membaca nya? Karena tulisan ku tulisan tangan kiri, Gus, jelas bisa dibedakan.”
“Kamu kidal, Ning?”
“Ya, Gus. Sejak kecil, jadi bisa kita bedakan tulisan nya, apakah boleh aku membaca nya?” Ku ingin tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, dan apa tujuan nya.
Bukan wewangian biasa, selain seperti aroma wanita, wewangian tersebut cukup membuatku semakin soouzon pada hal-hal aneh, tak bisa ku jabarkan jika belum mendapatkan sebuah bukti kebenaran nya.