“Aku tahu, kamu menikahi aku bukan karena sepenuhnya kamu ingin, Gus. Tapi bukankah sejak dulu cinta kita nyata? Kenapa sekarang kamu berbicara seolah-olah aku lah penyebab kehancuran ini!” “Saya tidak mengatakan hal seperti itu, Marwah. Saya hanya mengingatkan bahwa kamu ataupun Anisa sama bagi saya, harus saya berikan keadilan, jadi tolong jangan seenaknya dalam bersikap.” “Apa? Apa katamu, Gus? Aku seenaknya dalam bersikap? Bukankah kamu yang begitu, hmm? Salahkan saja aku, salahkan aku sampai kamu puas!” Aku tidak sengaja mendengarkan itu semua di balik pintu, tadinya aku pikir di dalam hanya ada Marwah seperti tadi pagi, aku datang lagi hanya untuk membawakan makanan yang aku pisahkan tadi, untuk dia makan. Akan tetapi, kedua telingaku dikejutkan dengan semua yang ku dengar tadi.

