Ingat, jadi orang janganlah egois hanya untuk kesenanganmu sendiri. Kecuali dalam hal cinta.
-Rama-
"Karena dia targetnya," balas Raja cepat membuat Rama melotot kearahnya.
"Jangan berani macam-macam sama Sinta!" ancam Rama marah.
"Tergantung sama elo. Kalo elo nggak mau ngakui kalo elo itu si Hacker Boy, gue akan—"
"Oke!" putus Rama kemudian menarik napasnya pelan.
Jika boleh jujur, saat-saat seperti ini adalah momen yang membuat Rama memilih untuk mati daripada mengakui jika dirinya adalah si Hacker Boy ataupun memilih untuk menyelamatkan Sinta. Kedua pilihan itu sangat berarti untuk Rama. Namun bagaimanapun, Rama harus memilih salah satu diantara keduanya. Lantas, manakah yang akan Rama pilih dari kedua pilihan itu?
Raja tersenyum sengit melihat Rama yang hanya diam saja. Dia berdeham singkat menarik kembali atensinya Rama. "Jadi gimana, lo mengakuinya apa enggak?"
"Gue bukan Hacker Boy tapi gue bisa retas sistem server," balas Rama kesal masih tak mengakui jika dirinya adalah si Hacker Boy yang sebenarnya.
"Terserah lo," balas Raja kesal langsung berbalik arah menuju mobilnya berada. "Cepet masuk."
"Heh mau kemana weh?" tanya Rama sebelum mengikuti Raja memasuki mobilnya sendiri.
"Uji omongan lo bener apa enggak," sahut Raja kemudian masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian Rama masih terdiam ditempatnya berpijak membuat Raja geram dan membunyikan klakson mobilnya saat melihat Rama yang hanya diam saja.
"Ini motor gue gimana, bagong! Spionnya pecah gara-gara elo!" sentak Rama saat baru saja menyadari jika spion sebelah kirinya pecah karena berbenturan dengan jalan.
"Entar gue ganti kerugiannya!" teriak Raja dari dalam mobil.
"Nah sip, gitulah baru mau gue," ujar Rama bersemangat langsung mendirikan motornya agar berdiri dengan tegak lagi. "Bagi cepek entar!"
"Lo minta satu juta juga bakal gue kasih!" sahut Raja cepat dan langsung mendapat gelengan kepala dari Rama.
"Nggak nggak. Gue nggak mau satu jeti. Pokoknya cepek, baru gue mau."
"Sumpah freak!" umpat Raja kesal namun sayangnya Rama tak mendengarnya karena Raja hanya berkata pelan. "Iya entar gue kasih. Cepet woi!
"Iya sabar kenapa sih? Pantes diputusin sama Sinta. Orang lo nggak sabaran kayak gini," sindir Rama kemudian melempar senyum miringnya.
"Nggak usah bawa-bawa dia lagi!" teriak Raja penuh emosi. "Buru!"
Melihat Raja yang marah malah membuat Rama senang. Dia tergoda untuk mengejek Raja lebih jauh lagi. "Sinta! Sinta! Sinta! Sinta! Sin—"
"Gue tabrak motor lo kalo nggak buru!" ancam Raja langsung membuat Rama ketar-ketir dan segera menyalakan motornya.
"IYA IYA SABAR AH! JADI COWOK HARUS SABAR!"
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, kini Rama dan Raja telah sampai di markasnya Geng Screzer yang ada ditengah hutan. Raja memang membawa Rama kesana karena perintah dari ayahnya. Rama mengikuti Raja berjalan masuk ke dalam gedung itu dengan bibirnya yang asyik berceloteh apapun.
"Gila sih markas Geng Screzer gede banget. Pantes aja dibangun ditengah hutan," ujar Rama menatap takjub pada bangunan yang dia masuki itu.
"Wah mantul, motornya gede-gede. Keren juga versinya. Gue jadi pengen juga punya satu motor kayak gitu."
"Bah, ini sih fix markas sultan. Banyak banget fasilitasnya. Ada kulkas empat pintu, kursi pijat elektrik, robor pelayan, ckckck, mantul bener ini markas."
"Wanjay, gile keren parah. Gue kira ini markas cuma satu lantai nggak tahunya malah empat. Betah nih gue disini lama-lama—"
"Diam! Banyak ba*cot lo!" sentak Raja yang sudah merasa kesal mendengar perkataannya Rama yang seperti anak kecil saat mendapatkan sebuah mainan kesukaannya.
Rama memberikan cengiran lebarnya, kemudian berjalan semakin dekat dengan Raja. "Btw, bokap lo galak nggak? Tubuhnya penuh tato kayak di gengster di film Jepang-Jepang gitu ya? Terus sering bawa golok kayak film Marvel? Wah keren sih kalo iya."
"DIAM GUE BILANG!" bentak Raja yang sudah kehabisan kesabarannya.
"Iya iya gue diam. Lo mah nggak peka, Ja. Gue nerveous gini lo malah bentak gue. Hibur kek malah nambah-nambahi," cibir Rama melirik sekilas ke arah Raja yang masih tetap diam. "Gue nggak bakal mati hari ini juga kan, Ja?"
"Bakal! Kalo lo banyak omong!"
"Oke siap! Gue bakal diam," sahut Rama cepat langsung berlagak menutup bibirnya dengan gerakan mengunci dari arah kanan ke kiri. Raja hanya meliriknya saja kemudian memutar bola matanya lelah.
Setelah mereka berjalan tak berapa lama mereka sampai disebuah ruangan yang luas, itu adalah ruang rapat. Rama sampai bergidik ketika memasuki ruangan itu ketika melihat banyaknya pasang mata yang menatap tajam kearahnya. Rama hanya berdiri disampingnya Raja saat Raja menghadap ke seorang pria berjas hitam tengah duduk santai dan memainkan sebuah gelas berisi cairan berwarna ungu pekat. Rama yakin jika cairan didalam gelas itu adalah wine.
"Papa, maaf terlambat. Tadi ada sedikit kendala saat dijalan," kata Raja setelah memberi hormat kepada pria itu.
Kedua matanya Rama membesar saat mendengar perkataannya Raja. "Papa? Berarti d-dia—"
"Halo, Aryasatya. Salam kenal, Saya Alfian, ketua Gengster Screzer," sapa pria itu dengan nada yang terdengar dingin.
"Mati gue," gumam Rama pelan melihat tatapan dingin dari pria itu.
"Tidak tidak. Kamu tidak akan mati hari ini," sahut pria dewasa itu yang bernama Pak Alfian. "Tapi kamu akan mati hari ini juga jika kamu tidak mau mengerjakan apa yang Saya perintahkan."
Saat itu juga Rama merasakan suasana yang berbeda. Hawa disekitarnya terasa dingin namun mengintimidasi. Dengan susah payah Rama menelan air liurnya sendiri. Bisa dipastikan, memilih untuk mengikuti Raja kemari adalah pilihan yang salah. Karena sama saja dia akan berakhir meninggal jika tak mengerjakan apa yang bos gengster itu perintahkan. Dan Rama sangat yakin jika dia akan diperintah mengerjakan tugas yang tak baik.
"Kamu Saya perintahkan untuk meretas sistem keamanan laptop milik Saya yang ada diatas meja ini. Saya sudah sengaja menyambungkan laptop ini dengan jaringan internet dan sudah Saya beri keamanan server yang ketat. Jika kamu bisa menerobos masuk ke dalam laptop ini, maka kamu akan aman selamanya. Dan kamu akan mendapatkan imbalannya," jelas Pak Alfian membuat Rama menatap serius ke arahnya.
"Dan jika kamu gagal, maka marga Aryasatya hanya tinggal nama," lanjut Pak Alfian dengan kejam. Rama berdiam sebentar memikirkan berapa banyak peluang dia bisa berhasil. Namun jika menilik dari pengalaman dia meretas server yang sudah bertahun-tahun, seharusnya itu tak menjadi masalah untuk dirinya. Dan juga, Rama tak mau jika marga Aryasatya itu menghilang. Semua keluarganya memiliki marga itu dan itu adalah marga dari kakek neneknya terdahulu.
"Baik, Saya terima perintah ini," balas Rama mantap.
"Perlu laptop?" tawar Pak Alfian membuat Rama mengangguk. Tapi saat menyadari senyum miring milik Pak Alfian, Rama langsung menggeleng.
"Tidak, terima kasih. Saya menggunakan ponsel Saya saja," balas Rama sopan.
"Kenapa? Takut jika Saya berbuat curang hah? Hahahaha."
Rama hanya terdiam saja. Rama berpikir, ini adalah Geng Screzer. Gengster yang terkenal bengis, sadis, manipulatif dan sangat jahat. Rama tak boleh ikut terseret dalam permainan mereka. Dan Rama yakin jika laptop yang akan ditawarkan itu belum tentu aman. Maka dari itu Rama memilih untuk menggunakan ponselnya saja yang seratus persen dia jamin aman. Karena sudah dia beri aplikasi keamanan buatannya sendiri.
"Baik, kalau itu yang kamu mau. Saya beri kamu waktu satu jam."
Rama langsung memgangkat tangannya untuk menyela. "Saya hanya butuh waktu setengah jam."
Perkataannya Rama membuat heboh seisi ruangan itu. Pak Alfian memicing tajam ke arah Rama. Namun tak berapa lama dia mengangguk untuk menyetujuinya. Kemudian Pak Alfian mempersilahkan Rama duduk dan mulai mengerjakan perintahnya. Pertama-tama Rama mengaktifkan ponselnya ke dalam mode dark dan tak lupa mengaktifkan keamanan ponselnya. Setelah ponselnya sudah dalam kondisi online, Rama langsung masuk ke dalam situs website khusus untuk meretas yang biasa dia gunakan. Rama melacak keberadaan laptop itu dari alamat yang dia tulis melalui kolom pencarian. Namun ternyata Pak Alfian memang menjebaknya. Tanpa diperlihatkan ke hadapannya Rama, Pak Alfian telah mengaktifkan beberapa laptop secara bersamaan dan dia letakkan disudut-sudut yang berbeda di dalam ruangan itu.
Rama merasa kesusahan karena dia belum menyentuh atau bahkan tidak diberi kesempatan untuk melihat seri produksi laptop yang dikhususkan oleh Pak Alfian untuk Rama retas. Karena tak bisa memeriksa seri produksi laptop itu membuat Rama bertambah sulit untuk mencari alamat IP-nya.
Rama masih mengetikkan beberapa kata kunci pada kolom pencarian. Menggeram kesal karena Pak Alfian sengaja membuat aktif beberapa laptop yang ada diruangan itu. Jika dijumlahkan, Rama mendapatkan lima laptop yang sedang menyala dan semua dalam keadaan aktif dan tersambung dengan jaringan internet. Parahnya lagi, setelah Rama cek semua laptop yang ada diruangan itu lewat tampilan layar pada ponselnya yang menampilkan suatu situs khusus untuk meretas, kelima laptop itu memiliki seri produksi yang sama. Rama melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu berjalan sudah lima belas menit itu artinya Rama harus selesai dalam waktu lima belas menit lagi. Dan Rama baru bisa memastikan satu dari kelima laptop itu yang salah. Tak ada cara lain lagi akhirnya Rama membuka laman baru dan mengetikan situs website yang sudah dia hapal diluar kepala.
Rama yang disibukkan dengan dua halaman yang menampilkan dua situs yang sama dibuat kesusahan karena harus bolak balik dari laman satu ke laman satunya. Berjenggit kaget saat mendengar perkataannya Pak Alfian.
"Waktu sudah hampir habis. Sisa sepuluh menit lagi!" teriak Pak Alfian lantang menatap sinis ke arah Rama.
Rama semakin meningkatkan kinerjanya. Sudah tiga laptop yang dia retas dan semua itu salah. Hanya tinggal dua, dan Rama hanya fokus untuk meretas satu laptop untuk memastikannya. Tanpa Rama sadari waktu sepuluh menit itu sudah hampir habis.
"Tiga puluh, duapuluh sembilan, duapuluh delapan, duapuluh tujuh—"
"Aargh," erang Rama karena terganggu oleh perhitungan mundur yang dilakukan oleh Pak Alfian. Rama mencoba memejamkan kedua matanya untuk mengembalikan kefokusannya yang sempat goyah dan itu berhasil.
"Lima, empat, tiga—-"
"Selesai!" potong Rama langsung mengangkat kedua tangannya. Terlihat Pak Alfian yang menatap tak yakin kearah Rama karena setelah dia melirik ke laptopnya, laptopnya masih dalam keadaan baik-baik saja.
"Mana? Laptop Saya tidak ada masalah sama sekali," kata Pak alfian sedikit meninggikan nadanya.
"Silahkan Anda tekan tombol enter," balas Rama kemudian tersenyum manis.
Pak Alfian langsung melakukan apa yang Rama katakan. Setelah dia menekan tombol enter, saat itu juga kedua matanya membola saat melihat layarnya yang berubah menjadi abu-abu dan ada tulisan warning diatasnya menyatakan jika laptop tersebut telah direstas. Pak Alfian berdiri spontan dan bertepuk tangan diikuti oleh semua anak buahnya.
"Selamat! Selamat Aryasatya—"
"Panggil Saya Rama saja," potong Rama kemudian menundukkan kepalanya singkat.
Pak Alfian mengangguk kemudian bertepuk tangan lagi. Kini tatapan dinginnya sudah tergantikan dengan tatapan kebahagian. Sebenarnya Rama berdecih dibalik senyum sopannya. Tak merasa senang jika dia mendapat apresiasi dari Pak Alfian, ketua Geng Screzer.
Setelah semuanya hening, Pak Alfian mengangkat laptopnya tinggi dan mengarahkan layarnya yang masih tertulis warning itu ke hadapan semua anak buahnya. Memutarnya sampai semua orang tahu jika Rama seratus persen telah berhasil menyelesaikan perintah dari bos mereka.
"Selamat kamu telah berhasil menyelesaikan perintah dari Saya dengan tepat waktu," kata Pak Alfian membuat Rama menegakkan tubuhnya dan mengangguk singkat. "Kamu akan mendapatkan imbalan yang setimpal."
Pak Alfian tersenyum singkat ke arah Rama. "Kamu memang si Hacker Boy itu."
"Bukan, Saya hanyalah—"
"Sudahlah. Semua orang tahu jika kamulah si Hacker Boy itu," sela Pak Alfian kemudian terkekeh senang.
"MULAI HARI INI RAMA RESMI MENJADI BAGIAN DARI GENG SCREZER DAN SAYA AKUI BAHWA DIA MEMANGLAH HACKER BOY, SI HACKER HEBAT. MAKA SAAT INI JUGA KALIAN HARUS BERSIKAP BAIK KEPADA RAMA DAN MEMBANTU RAMA UNTUK MENYELESAIKAN PROJEK KITA"
"Baik Bos!" balas semua anggota membuat Rama terbengong sesaat karena mendengar balasan yang sangat keras itu.
"Rama, mulai detik ini juga kamu akan bekerja sama dengan Geng Screzer. Apapun tugasnya kamu harus bisa menyelesaikannya," perintah Pak Alfian membuat Rama terkejeut. Melihat raut wajah Rama yang kelihatan kaget Pak Alfian terkekeh geli.
"Tenang, tugasmu bukanlah membunuh ataupun memegang senjata berapi seperti anggota Geng Screzer lainnya," ujar Pak Alfian kemudian terkekeh kecil. "Tugasmu hanya meretas suatu sistem yang ada di salah satu server."
"Maaf sebelumnya, Pak Alfian, sejak Saya datang kemari, Saya memang tidak berminat untuk bergabung dengan Geng Screzer. Saya hanya ingin menyelesaikan tugas hari ini saja, tidak lebih," sela Rama dengan berani bahkan mampu semua orang melotot kearahnya, termasuk Raja dan juga Pak Alfian sendiri.
Pak Alfian bertepuk tangan lagi membuat Rama menatapnya heran. "Wah, kamu memamg anak yang pemberani. Seharusnya sedari dulu Saya merekrut kamu menjadi anggota Geng Screzer."
"Tanpa menurunkan rasa hormat, Saya memang meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Alfian dan seluruh anggota yang ada disini," kata Rama kemudian menundukkan kepalanya sedalam mungkin agar perbuatan dan perkataannya terlihat selaras. Padahal dalam hati Rama sudah menyumpah serapahi Geng Screzer itu terlebih kepada Pak Alfian, ketuanya.
"Akan tetapi Saya tidak memberikan penawaran dan pilihan. Melainkan Saya memberikan perintah kepadamu," sahut Pak Alfian setelahnya tertawa pelan namun terdengar mengerikan ditelinganya Rama.
"Saya tidak—"
"Jika kamu tak mau menuruti perintah dari Saya, maka perusahaan milik Aryasatya akan hancur dalam waktu kurang dari duapuluh empat jam!" potong Pak alfian dengan nada yang sangat dingin.
Perkataan itu sukses membuat Rama mengetatkan rahangnya, mencoba agar tak sampai berkata kasar saat itu juga. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat untuk menyalurkan rasa marahnya. Bahkan kepalan tangan itu terlihat memerah ketika Rama semakin mengeratkan kepalannya. Menatap tajam dan penuh permusuhan kearah Pak Alfian. Geng Screzer itu sangatlah egois dan Rama mengakuinya saat ini juga. Selain egois, Geng Screzer ternyata juga sangat manipulatif.
"Kamu menolak, maka keluargamu akan hancur tak bersisa," peringat Pak Alfian lagi. Membuat Rama menarik napasnya panjang kemudian menghembuskan napasnya secara perlahan.
"Baik, Saya terima perintah dari Anda," balas Rama mantap setelah menganggukan kepalanya singkat.
"Good boy," balas Pak Alfian singkat kemudian bertepuk tangan lagi.