Hanya seorang pengecut yang berani menjatuhkan lawannya dengan memanfaatkan orang-orang yang lawannya sayangi.
-Rama-
"Iya. Saya juga sudah menyuap semua guru-guru yang ada disini. Saya pastikan mereka tak akan berani melaporkannya ke polisi."
"Baik, Mister. Saya akan kembali ke markas."
Melihat tanda-tanda sesi telepon akan segera berakhir, Rama cepat-cepat pergi dari sana. Berjalan mengendap-endap agar tak membuat curiga orang yang ada didalam ruang kepala sekolah itu.
Rama berbelok arah, kali ini dirinya memilih untuk pergi ke ruang uks seperti yang tadi Bu Yatemi katakan. Raut wajahnya terlihat sedang berpikir keras tak selaras dengan raut wajahnya ketika dia meminta ijin tadi. Kedua tangan Rama mengepal didepan, memukul udara kosong yang ada didepannya. Untung saja saat ini koridor sepi, jadi tak ada seseorang yang melihat tingkah anehnya Rama.
"Aarrggghhh. Picik! Egois! Manipulatif!" erang Rama kesal setelah melihat apa yang terjadi tadi didepan matanya sendiri.
"BANG*SAT!"
Rama langsung mempercepat langkah kakinya ingin segera sampai diruang uks dan menidurkan dirinya agar emosinya bisa redam. Ya, hanya tidurlah satu-satunya cara untuk meredam emosinya Rama. Rama tak terbiasa melampiaskan emosinya lewat rokok bahkan dia benci asap rokok.
Saat dirinya sedang berbelok ke kiri, Rama tak sadar jika sedari tadi setelah dirinya keluar dari ruang kelas, orang itu memperhatikan gerak-geriknya Rama. Dari mulai berjalan mengendap-endap, mengintip seseorang lewat celah pintu, sampai mengikuti Rama menuju ruang uks. Orang itu terkekeh kecil saat melihat Rama yang baru saja memasuki uks. Senyum miringnya terbit saat itu juga.
"Tunggu saja penderitaan lo! Dan gue bakal jadi orang kaya," kata orang itu langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat yang tadi dia pijak. Pergi dengan terburu-buru sebelum ada seseorang yang melihatnya.
***
Anak orang kaya tak semuanya wajib sekolah. Ya itu benar, salah satunya adalah Raja. Saat ini Raja tengah duduk disebuah kursi mewahnya yang ada disebuah gedung yang sangat jauh dari keramaian kota. Gedung itu adalah markas milik Raja pribadi. Markas yang dia gunakan untuk menyendiri, musyawarah atau hanya untuk tempat tinggal sebagai pelarian sejenak. Markas itu adalah pemberian dari ayahnya yang dikhususkan untuk Raja. Jadi markas tersebut milik Raja pribadi.
Saat ini Raja tengah duduk bersandar pada sebuah kursi putar dengan kepala menengadah keatas. Otaknya sedang merencanakan sesuatu untuk mencari si Hacker Boy. Kesepuluh jarinya mengetuk-etuk diatas mejanya dengan kaki yang sesekali bergerak membuat kursinya berputar pelan tak sepenuhnya. Saat dirinya tengah asyik dengan pikirannya sendiri tiba-tiba terdengar dering telpon. Segera Raja mengangkat telpon itu.
"Halo," sapa Raja singkat mengernyit saat melihat nomor baru yang telah menelponnya itu.
"Apakah Saya bisa berbicara dengan King?" tanya orang diseberang sana membuat Raja mengernyit saat mendengar panggilan itu. Lantas dirinya duduk dengan tegak saat teringat dengan dibalik alasan sebutan King itu berasal.
"Ya, dengan Saya sendiri. Ada perlu apa?" tanya Raja dengan bahasa formal. Dia tahu, jika saat ini adalah waktunya dia bekerja.
"Begini King, Saya sudah mengetahui dimana keberadaan Hacker Boy," kata orang itu membuat senyum miring terbit dibibirnya Raja.
"Lalu?"
"Sebelumnya Saya minta maaf, King. Saya—"
"Katakanlah. Janganlah sungkan. Jika kau tak berani membawanya ke hadapanku, katakan saja informasi tentang dirinya. Dan kamu akan tetap mendapatkan imbalannya," ucap Raja mengetahui jika si lawan bicaranya terlihat sangat ragu.
"Tapi sebelum itu, apakah Saya bisa mendapatkan imbalan sebanyak seratus juta rupiah?"
Raja tersenyum semakin lebar, namun bukan senyum bahagia yang terlihat melainkan senyuman penuh kelicikan. "Ya, kamu bisa mendapatkan sekarang juga."
"Baik, King."
"Jadi, katakanlah."
"S-sebenarnya, Hacker Boy itu adalah salah satu siswa di SMA Angkasa Wijaya."
Raja menghembuskan napasnya pelan. "Hah! Jika itu aku sudah tahu."
"Dia adalah hacker yang menyebabkan Queensha dikeluarkan dari sekolah. Dia adalah orang yang melaporkan Bima ke kantor polisi dan membuat Bima dipenjara dengan kasus pembunuhan dan dialah yang menyeret Pak Surya hingga dia hengkang dari kedudukannya sebagai kepala sekolah," cerita orang itu dengan detail.
"Lantas, siapa sebenarnya dia? Katakan! Aku kirim imbalannya sekarang juga!" sentak Raja yang sudah tak sabar lagi. Namun tak kunjung ada balasan dari seberang sana. Hanya terdengar helaan napas seseorang.
"Dia adalah Ramawijaya Aksa Aryasatya."
Detik itu juga, kedua bola mata Raja melotot seketika. Raja tahu, siapa Rama itu. Namun yang Raja tahu hanyalah Rama itu seorang siswa di SMA Angkasa Wijaya yang kebetulan dekat dengan Sinta semenjak Sinta pindah ke sekolah itu. Ya, Sinta, mantan kekasihnya Raja. Raja tersenyum miring, saat sebuah rencana apik melintas di otaknya.
"Waktunya bekerja," gumam Raja kemudian tersenyum miring yang mampu membuat siapapun bergidik.
***
Saat ini jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore hari. Rama, Sinta, Naya dan Nakula baru saja mengerjakan tugas kelompok mereka dikelas. Mereka sengaja memilih mengerjakan tugas itu dikelas setelah pulang sekolah karena mereka tak menemukan satu hari yang cocok untuk berkumpul dirumah salah satu diantara mereka semua. Dan juga tugas mereka hanya tinggal sedikit maka dari itu mereka tetap melanjutkan dikelas saja. Dan semua itu karena berkat Nakula, laki-laki pendiam namun cerdas.
"Eh, gue pulang dulu ya," pamit Naya kemudian menjabat tangan ketiga temannya. Mendengar hal itu Sinta bergegas membereskan peralatannya.
"Eh, Nay. Tungguin. Gue juga mau pulang."
"Emang papa lo udah jemput?"
Sinta mengangguk dengan kedua tangan yang sibuk memasukan pensil ke kotak pensil. "Iya udah. Dari tadi malah."
"Ya udah. Yuk."
"Gue pulang dulu, ya guys," pamit Sinta kepada Rama dan Nakula. "Lo hati-hati, Ram. Jangan ngebut-ngebut."
"Aciee. Sinta udah mulai perhatian nih sama Rama," goda Naya dengan mata yang berbinar.
"Rese sih, ini anak. Kemarin aja nganterin gue pulang malah ngebut. Kayak nggak inget aja lagi bawa nyawa orang lain," cibir Sinta membuat Rama terkekeh.
"Ya elo kan minta cepet pulang. Ya udah."
"Udah ah, gue mau pulang," ucap Sinta tak mau meladeni Rama lebih jauh lagi. "Pokoknya jangan ngebut di jalan."
"Ya udah deh, gue tabrakin juga motor gue ke tiang listrik," ceplos Rama sengaja membuat Sinta yang belum pergi dari sana langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Rama ya gitu, Sin. Elo bilang kayak gitu, dia malah sengaja mau celakain dirinya sendiri. Biar elo jengukin dia. Dia pasti seneng tuh," sahut Naya membuat Sinta menoleh heran.
"Ralat. Bukan jengukin. Tapi gue suruh ngurus gue sekalian," sela Rama membuat Sinta melotot lagi. Sinta yang tak tahan langsung melempar satu pukulan ke bahunya Rama.
Plak!
"Enak aja, nyuruh gue buat ngurusin elo. Emang gue babysister lo?" omel Sinta kesal.
"Ralat. Elo emang bukan babysister gue. Tapi calon istri gue," balas Rama cepat membuat Naya terkikik geli melihat dua temannya yang berdebat.
"Ih najis! Udah ah, pulang yuk, Nay," ajak Sinta langsung menarik tangannya Naya keluar dari kelas. Setelahnya Nakula berdiri dari kursinya.
"Gue pulang," pamit Nakula singkat.
"Eh eh, ya bentarlah. Tungguin gue," kata Rama langsung meraih tasnya dan mulai berjalan disampingnya Nakula yang hanya diam saja tengah membaca sebuah note kecil di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya dia masukkan ke dalam saku celana. Melihat gayanya Nakula, Rama berdecih.
"Sok keren," cibir Rama kepada Nakula tapi tak ditanggapi oleh Nakula. "Tapi beneran keren sih."
"Eh, Na. Si Dewa kemana? Tumben banget bolos sekolah sampai sore. Biasanya juga siang baru nongol."
"Nggak tahu, ada urusan keluarganya mungkin," balas Nakula masih dengan mata yang menatap pada notenya. Rama hanya mengangguk kemudian memutar kunci motornya yang ada disela-sela jarinya. Memainkan kuncinya untuk mengusir kebosanan. Pasalnya, jika berjalan berdua seperti ini, disebelahnya ada Nakula, pasti Rama akan mati kebosanan. Karena Nakuka bukanlah tipikal orang yang suka berbicara.
Beberapa menit kemudian, Rama sedang melajukan motor besarnya menelusuri jalan raya yang mulai sepi karena hari akan berganti malam. Teringat dengan pesannya Sinta, lantas Rama memelankan laju motornya. Meskipun Sinta tak tahu, Rama akan tetap mematuhi perintah dari Sinta. Mengingat perkataannya Sinta tadi membuat perasaannnya senang seketika. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya sudah tertarik ke atas dengan sempurna. Dan bersyukurnya, Rama mengenakan helm full face jadi senyumnya tak akan terlihat dari luar. Saat Rama akan membelokkan motornya ke arah kiri, langsung saja dia menarik rem motornya secara mendadak saat melihat sesuatu yang ada didepannya. Karena saat dia berbelok tempat itu memang menikung tajam. Dan karena tak bisa menyeimbangi motornya, membuat keseimbangan motor menjadi goyah.
Brak!
"Aarrrgghh…." erang Rama melihat kondisi motornya yang terjatuh. Untung saja motor besarnya itu tak menindih anggota tubuhnya. Buru-buru Rama berdiri dan melihat lurus ke depan.
"Heh! Ngapain berdiri ditengaj jalan? Minggir sana!" suruh Rama dengan kesal. Namun orang itu hanya diam tak bergeming. Orang yang diajak bicara oleh Rama masih diam duduk didepan body mobilnya yang berhenti tepat ditengah jalan.
"Lo rese ya jadi orang. Minggir lo! Ini jalan bukan bunya bokap lo. Jangan cari gara-gara," kata Rama lagi.
"Meskipun ini jalan bukan punya bokap gue, tapi gue bisa punya hak penuh atas jalan ini," balas orang itu santai kemudian berdiri dari posisi duduknya.
"Sok kaya," cibir Rama.
"Emang gue kaya hahaha," balas orang itu kemudian tertawa lepas merasa lucu dengan sikapnya Rama. "Gue kira, kalo gue ketemu elo bakal perang tatapan dingin. Nggak tahunya lo ngelawak. Pertama kali kita ketemu, lo aja udah sok jagoan. Aslinya badut hahaha."
"Heh, gue nggak ada masalah ya sama lo," kata Rama yang sudah malas berdebat dengan orang itu. Orang itu berjalan pelan mendekati Rama dan setelahnya berdiri didepannya Rama.
"Ada. Lo ada masalah sama gue."
"Heh sekate-sekate lo bilang," omel Rama kesal. "Lagian Sinta itu udah mantan lo. Jadi bukan masalah buat elo lagi kalo gue deketin Sinta."
Orang itu mengernyit sesaat, namun tak berapa lama dia terkekeh senang. Ya, orang itu adalah Raja. "Oh jadi sekarang lagi ngincer Sinta. Cih, bekas gue gitu lo suka."
Bugh!
"Jaga mulut lo!" kata Rama marah setelah memukul pipinya Raja itu sekali. "Emang pantes Sinta mutusin elo. Lo cowok toxic!"
"Hahaha. Gue pun juga berharap buat pisah sama dia," balas Raja dengan sangat tenang.
"Jadi apa masalahnya sampai lo cegat gue. Buru, gue keburu capek."
"Lo," kata Raja dengan nada datar. "Lo si Hacker Boy kan?"
Kedua matanya Rama lantas melotot sempurna. Tubuhnya menegang melihat mendengar hal itu. Namun sebisa mungkin, Rama menguasai tubuhnya agar tak terlihat kaku di penglihatan kedua matanya Raja.
"Nggak! Gue bukan Hacker Boy. Gue bahkan nggak kenal siapa dia," balas Rama dengan cepat namun Raja malah terlihat terkekeh pelan.
"Penipu," ucap Raja dengan mimik wajah senang membuat Rama mengepalkan kedua matanya.
"Lo udah ketahuan. Sekarang ikut gue," perintah Raja mutlak.
"Ogah. Gue bukan Hacker Boy."
Raja semakin mendekat ke Rama. Kemudian mengeluarkan sebuah ponsel yang menampilkan gambar seseorang. Dia perlihatkan kehadapannya Rama membuat Rama terkejut lagi.
"Mau berani taruhan sama gue? Lo nggak ngaku orang yang ada difoto ini bakal celaka," kata Raja dengan sadisnya.
Langsung Rama mencengkeram kerah kemejanya Raja dengan kuat karena dia sangat emosi. "Lo breng*sek!"
"Yes, I am," balas Raja kemudian tertawa lepas.
"Lo siapa hah?"
"Gue? Ehm," balas Raja sengaja menggantung.
"Jangan bilang kalo lo anggota geng—"
"Salam kenal, gue anak dari pendiri Geng Screzer. Menduduki wakil ketua yang akan mewarisi tahta ketua Geng Screzer setelah bokap gue," kata Raja diakhiri dengan senyum senangnya.
Berbeda dengan Rama, yang kini mimik wajahnya sudah kaku. Dirinya tak pernah menyangka jika Raja adalah anak dari pendiri geng yang terkenal brutal dan sadis itu. Jadi, kemarin-kemarinnya itu nyawa Sinta sudah terancam bahaya. Namun Rama bernapas cukup lega mengingat jika Sinta kini sudah putus dari Raja.
"Masih nggak mau ngaku?" tanya Raja membuat Rama berdecih pelan.
"Untung Sinta udah putus sama lo."
"Karena dia targetnya," balas Raja cepat membuat Rama melotot kearahnya.
"Jangan berani macam-macam sama Sinta!" ancam Rama marah.
"Tergantung sama elo. Kalo elo nggak mau ngakui kalo elo itu si Hacker Boy, gue akan—"
"Oke!" putus Rama kemudian menarik napasnya pelan.
Jika boleh jujur, saat-saat seperti ini adalah momen yang membuat Rama memilih untuk mati daripada mengakui jika dirinya adalah si Hacker Boy ataupun memilih untuk menyelamatkan Sinta. Kedua pilihan itu sangat berarti untuk Rama. Namun bagaimanapun, Rama harus memilih salah satu diantara keduanya. Lantas, manakah yang akan Rama pilih dari kedua pilihan itu?