Sebagaimanapun aku menyembunyikannya, jika memang sudah waktunya, semua akan terungkap dengan sendirinya.
-Rama-
Suasana malam terasa menenangkan. Tak ada sesuatu yang mengusik seorang laki-laki yang kini tengah duduk dikursinya dengan beberapa buku yang ada didepannya dengan keadaan terbuka. Tak ada permen karet yang dia kunyah seperti biasanya. Tak ada sepasang earphone yang menyumbal telingan. Hanya ada sebuah bolpoin yang bergerak lincah ditangan kanannya.
Malam ini, Rama sangat bersemangat untuk belajar. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, yang bahkan untuk menyentuh buku pun rasanya Rama tak sanggup. Perasaannya saat ini terasa seperti berbunga-bunga. Itu semua terjadi karena adanya kejadian tadi sore saat Rama mengantarkan Sinta pulang sekolah.
Saat sore tadi diperjalanan menuju rumahnya Sinta, pada mulanya mereka duduk dengan tenang. Sampai Rama teringat sesuatu dan segera bertanya kepada Sinta.
"Sin, lo tahu soal Geng Screzer?" tanya Rama sempat melirik kearah spion yang dimana di spion itu terpantul bayangannya Sinta.
"Hem? Geng Screzer? Nggak pernah. Cuma baru dengar tadi pagi. Emang kenapa?"
"Nggak papa sih?"
"Oh iya, Ram. Kata temen sekelas, Geng Screzer itu lagi nyari hacker kan. Dih lebih baik nggak usah deh. Jangan mau kalo lo ditawari kerja sama ama geng itu. Katanya nih ya, geng itu kejam banget," kata Sinta bersemangat membuat Rama yang sedang menyitir langsung melirik kearah Sinta dengan raut wajah yang terkejut.
'Jangan-jangan, Sinta tahu kalo gue hackernya,' batin Rama dengan wajah yang pusat pasi. Merasa belum siap jika Sinta mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
"Woi, Rama. Dengerin kalo gue lagi ngomong!" bentak Sinta kesal karena dia diacuhkan oleh Rama.
"S-Sinta, lo tahu kan gue nggak pinter. Gue nggak bakal, s-si hacker itu—"
"Bukan gitu ogeb! Gue tahu kalo lo itu nggak pinter. Jadi gue percaya kalo lo itu bukan si Hacker Boy itu," kata Sinta pelan. "Gue cuma bilang aja biar lo nggak usah deket-deket sama Geng Screzer. Cowok kan gitu, meskipun lo bukan si Hacker Boy, lo bakal tetep nekat ngaku kalo lo itu Hacker Boy cuma buat cari duit. Ya tapi nggak tahulah bakal gimana nasip lo kalo lo ketahuan boong."
"Ya bakal mampus gue," timpal Rama yang langsung mendapat tepukan dibahunya dari Sinta.
"Makanya, jangan sok ngaku jadi Hacker Boy dan jangan pernah deketin Geng Screzer. Ngerti?" tanya Sinta dengan nada mengancam yang sontak saja membuat Rama menyunggingkan senyum manisnya. Namun sayangnya Sinta tak melihat senyuman itu. Dengan cepat Rama menurunkan sudut bibirnya dan berdeham pelan.
"Kalo misal gue tetep nekat datengin Geng Screzer dan ngaku jadi Hacker Boy emang apa yang bakal terjadi?" pancing Rama dengan santainya.
"b**o lo! Lo udah tahu bakal habis ditangan Geng Screzer masih aja mau nekat ke sana," omel Sintak tak habis pikir dengan jalan pikirannya Rama.
"Ya maksud gue itu, lo bakal gimana kalo gue—"
"Gue bakal benci sama lo seumur hidup!" potong Sinta cepat membuat Rama mengatupkan bibirnya lagi. Mereka berdua terdiam sebentar kemudian Sinta menghela napasnya dengan berat.
"Gue nggak mau lo kenapa-napa Rama. Please, jangan bahayain diri lo sendiri. Janji sama gue, Ram," ujar Sinta dengan intonasi rendah dan terdengar sangat serius. Rama masih terdiam setelah mendengar perkataannya Sinta. Karena jujur saja Rama tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bagaimana pun juga, dirinya adalah seorang Hacker Boy yang sebenarnya. Jujur dari dasar lubuk hatinya yang terdalam, Rama yakin jika kedepannya, dia pasti akan beurusan dengan Geng Screzer itu secara langsung.
"Rama, janji sama gue," kata Sinta lagi lebih menuntut.
"Oke. Gue janji sama lo."
"Good boy," balas Sinta langsung menepuk bahunya Rama sebanyak dua kali. Dan setelah itu pembicaraan mereka terhenti. Dan tanpa adanya persetujuan, mereka dengan kompak melanjutkan perjalanan dengan menikmati angin sepoi sore hari.
Mengingat kejadian tadi sore membuat Raam merasa senang. Merasa yakin jika sebenarnya Sinta sudah memiliki rasa terhadapnya. Entah rasa suka sesama lawan jenis atau hanya suka sesama teman. Rama tak peduli, yang pasti saat ini Rama merasa sangat senang.
***
Pagi hari, Rama sudah duduk tenang di kursinya sendiri. Disampingnya ada Sinta disebelah kiri dan sebelah kanannya berdirilah Nakula. Sedangkan didepannya ada Naya dan juga Dewa. Entah apa yang mereka rencanakan, pagi-pagi sekali mereka sudah berkumpul dimejanya Rama dengan formasi lengkap, lima orang.
"Dih, kenapa pagi-pagi kalian ngumpul dimeja gue? Sana pergi, balik ke meja lo sendiri. Hush hush!" usir Rama kepada teman-temannya karena merasa sangat yakin jika pagi-pagi mereka sudah berkumpul seperti ini mereka akan membicarakan gosip yang tak perlu diceritakan. Tapi yang membuat Rama merasa aneh adalah saat menyadari sosok Nakula disebelahnya. Karena setahu Rama, Nakula itu tak akan pernah ikut berkumpul hanya untuk acara gosip.
"Ssshhttt. Diam-diam! Gue sengaja undang kalian semua ke sini karena gue punya berita terhot," jerit Naya tertahan. Kemudian memeriksa wajah keempat temannya satu persatu.
"Ya udah apaan. Buru bilang habis itu kalian balik ke meja kalian sendiri," timpal Rama kemudian menguap. Memang, Rama itu tipikal siswa yang sering tidur terlambat membuat berimbas pada sekolahnya yang terganggu. Lihat saja, kedua matanya bahkan belum bisa terbuka dengan sempurna.
Plak!
"Bangun! Jangan tidur," peringat Nakula setelah menampar kepalanya Rama sekali langsung membuat Rama meringis karena merasa sakit di kepalanya.
"Jangan geplak kepala gue. Kalo kepala gue nglundung, lo mau tanggung jawab hah?!" sentak Rama yang terpancing emosi oleh perbuatannya Nakula.
"Dih, masih pagi juga udah nyeremin tuh mulut," sindir Dewa melirik sinis ke arah Rama dan langsung dibalas dengan tatapan mata yang tajam.
"Udah diam!" teriak Sinta merasa kesal dengan tingkah teman-temannya. "Udah pada diam nih, Nay. Ayo lanjut."
Naya mengangguk kemudian memposisikan dirinya menghadap kearah teman-temannya. "Gue denger-denger nih ya, kepsek kita ganti."
"Udah tahu. Gegara masalahnya Bima itu. Pak Surya udah minggat dari sini juga sebenarnya udah lama. Sekitar semingguan lebih. Cuma pada nggak sadar aja," sela Rama panjang karena memang sebenarnya dia sudah mengetahui hal itu. Bahkan Rama melihat sendiri ketika Pak Surya yang digeret polisi. Rama tahu karena Raam memantaunya lewat cctv yang ada disekolah mereka ini. Saat itu, Rama memang sengaja mengirim surat kejahatan ke kantor polisi saat sore hari. Makanya Pak Surya baru dijemput polisi saat para siswa sudah pulang.
"Ya, itu benar. Dan sekarang kita udah punya kepsek baru," tambah Naya membuat keempat temannya menoleh kearahnya.
"Mister or Miss?" tanya Sinta mewakili pertanyaan dari tiga temannya.
"Nggak tahu. Gue nggak lihat. Cuma dikasih tahu infonya aja. Katanya sih orangnya super sibuk. Bahkan dia belum pernah datang ke sekolah ini satu kalipun. Kan gue jadi curiga nih sama kepsek baru. Masa iya, ada kepsek nggak ada upacara sambutannya. Aneh banget kan?" tanya Naya membuat teman-temannya mengangguk setuju.
"Heh! Jangan suudzon. Bisa jadi kepseknya emang sibuk. Bisa aja lagi pergi ke luar kota. Atau bahkan ke luar negeri. Udah-udah jangan gosipin orang," peringat Sinta bijak.
Saat mereka akan membubarkan diri, tiba-tiba televisi yang ada diseluruh ruangan baik di ruang kelas ataupun ruangan lainnya, tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Awalnya hanya memperlihatkan layar yang buram berwarna abu-abu hingga tak lama kemudian terlihatlah sebuah gambar seseorang.
Semua pasang mata menatap heran kearah televisi yang masih menyala menampilkan seorang pria berjas hitam dengan topeng hitam menutupi wajahnya. Mereka menduga jika itu adalah film-film barat seperti yang sering bermunculan di televisi.
"Eh, hari ini diadain nobar film barat? Tumben banget," kata Sinta yang langsung diangguki oleh empat temannya. Tiba-tiba Dewa bersorak heboh.
"Yes! Waktunya nobar film. Nggak ada mapel wuuuhuuuu….." teriak Dewa membuat Sinta dan Naya kesal karena Dewa yang berteriak sangat keras dan tak berapa lama Dewa menerima dua pukulan dari Sinta dan Naya.
Plak!
Bugh!
"DIAM!" teriak Sinta dan Naya kompak membuat nyali Dewa meciut seketika. Bahkan kini Dewa hanya duduk dengan kepala menunduk pasrah.
"I-iya. G-gue diam nih," cicit Dewa menunduk ketakutan. Berbeda dengan Dewa, Rama dan Nakula masih menatap heran saat mendapati gambar orang bertopeng itu yang sedikit menggganjal. Tak berapa lama, orang itu mulai berbicara ke arah kamera.
"HALO SELAMAT PAGI WARGA SMA ANGKASA WIJAYA," sapa orang bertopeng itu menyapa lewat televisi dengan suara yang keluar seperti seorang laki-laki yang diedit menjadi suara seorang hacker.. Mendengar hal seperti itu sontak saja para siswa heboh. Menerka siapa dalang orang bertopeng itu.
"Eh itu siapa sih? Sok misterius jadi orang. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngedrama. Mau nyari masalah hah?" kata Seno yang merasa kesal dengan adanya kejadian itu.
"A-apa itu penjahat? Kata teman gue, diseluruh kelas telivisinya juga sama menyala kayak gini," sahut Dinda tiba-tiba.
"Apa jangan-jangan kerjaannya si Hacker Boy?" tuduh Aldi tiba-tiba membuat teman-temannya yang lain heboh.
"Iya tuh. Pasti si Hacker Boy. Tapi masalah apa lagi. Bukannya SMA Angkasa Wijaya udah nggak ada masalah lagi?" tanya Seno penasaran.
Sedangkan ditempat duduknya, Rama mengernyit heran mengapa teman-temannya langsung menuduh kalau Hacker Boy adalah pelakunya. Tanpa dia sadari, kedua tangannya Rama sudah terkepal erat.
"Cari sensasi tuh pasti. Siapa sih si Hacker Boy itu," cibir Reneo, si berandalan kelas, teman sepermainnya Seno. Mendengar hal itu Rama merasa marah. Dirinya akan berdiri namun tertahan saat Nakula menahan bahu kanannnya. Nakula menunduk dan berpisik pelan.
"Duduk, Ram. Jangan gegabah," bisik Nakula singkat. Rama menghempaskan tangannya Nakula.
"Bukan gue, Na. Gue nggak bakal—"
"Gue tahu. Udah diam," potong Nakula cepat. Rama berdecih langsung melengoskan kepalanya. Dan kini dia malah bertatapan dengan Dewa. Dewa menatap ke arah Rama dengan tatapan yang berbeda. Seolah bertanya siapa pelaku manusia bertopeng itu dan mengapa orang itu bisa meretas televisi di seluruh ruang kelas.
"SAYA ADALAH MISTER AL, PERWAKILAN DARI GENG SCEZER. LEWAT TAYANGAN VIDEO INI SAYA HANYA INGIN MENYAMPAIKAN SEBUAH BERITA YANG MENGGEMBIRAKAN UNTUK KITA SEMUA!"
"Anj*ir! Geng Screzer kenapa bisa masuk sini. Sini cuma kawasan bocah SMA," kata Dewa terkejut. Tentu saja, Dewa sudah mengetahui seberapa ganasnya gengster itu.
"Dia masih incer si Hacker Boy," sahut Nakula dan langsung diangguki oleh Rama. Tentu saja Rama berpikir seperti itu, karena orang itu secara terang-terangan memperkenalkan nama gengsternya.
"Satu yang pasti. Sekolah udah kacau!" timpal Naya refleks. Sinta masih menatap kearah temannya itu dengan terheran.
"Maksutnya? SMA Angkasa Wijaya udah nggak aman buat sekolah? Emang sekolah ini ilegal?" tanya Sinta dengan bodohnya langsung mendapat tamparan kecil dari Rama.
"Anak kecil nggak usah sok tahu. Diam aja," ucap Rama kemudian tersenyum mengejek."
"Nay, itu tuh si Rama geplak pala gue," adu Sinta kepada Naya.
"Eh gue nggak geplak kepala lo ya. Gue cuma nempeleng kecil."
"Ya sama aja."
"Ya bedalah!"
"Ssshhhtt. Diam! Ribut mulu lo berdua. Dinikahin baru tahu rasa," ceplos Naya membuat Rama dan Sinta kompak terdiam.
"Wah, ada pembagian duit ya? Enaklah. Yok gaslah!" sahut Seno tiba-tiba langsung diangguki oleh Reneo.
"Yoi! Bisa jadi holkay dadakan nih hahaha," timpal Reneo dengan santainya.
"DENGAN INI SAYA MENYAMPAIKAN, SIAPAPUN SESEORANG ATAU SEKELOMPOK ORANG YANG MENYERAHKAN HACKER BOY KEPADA KAMI, AKAN KAMI BERI SERATUS JUTA RUPIAH SEBAGAI IMBALANNYA. DAN JIKA KALIAN BISA MENYERAHKAN HACKER BOY DALAM WAKTU DUA PULUH EMPAT JAM, AKAN KAMI BERI IMBALANNYA SEBANYAK DUA KALI LIPAT!"
"Anj*ir, beneran holkay dadakan tuh," kata Dewa refleks mengundang tatapan marah dari Rama dan juga Nakula.
"Puntadewa Surya Aswatama," panggil Nakula dengan nada penuh peringatan. Berbeda lagi dengan tatapannya yang menatap tajam kearah Dewa seolah siap menusuk retinya Dewa. Rama, Dewa, dan juga Naya langsung melotot melihat reaksinya Nakula. Mereka bertiga tahu, jika seorang Nakula sudah memanggil seseorang dengan nama panjangnya itu berarti Nakula sedang marah. Dan jika sudah marah, itu berarti Dewa sudah berkata yang keterlaluan menurut Nakula.
"I-iya, Na. Peace, Na. Ampun," kata Dewa penuh ketakutan dengan kedua tangan yang menyatu didepan d**a. Nakula terdiam hanya melengos saja. Menatap lurua ke arah televisi yang masih menyala.
"KAMI AKAN SELALU TERBUKA UNTUK SEMUA ORANG YANG INGIN MENYERAHKAN HACKER BOY ATAUPUN HANYA UNTUK MEMBERIKAN SEDIKIT INFORMASI TENTANG HACKER BOY. DAN TENTU KALIAN SEMUA AKAN TETAP MENDAPAT IMBALANNYA!"
"Ck, manusia picik," geram Rama mengepalkan kedua tangannya dibawah meja.
"ATAU, UNTUK HACKER BOY YANG ENTAH MELIHAT INI ATAU TIDAK, ANDA BISA MENYERAHKAN DIRI ANDA SENDIRI LANGSUNG KEPADA KAMI. DAN AKAN KAMI BERIKAN IMBALAN LEBIH DARI ITU SEMUA. IMBALAN TERTINGGI ADALAH ANDA BISA MENGUASAI SETENGAH DARI PULAU INI DAN ANDA AKAN KAMI ANGGAP SEBAGAI BAGIAN DARI GENG SCEZER!"
"KAMI TUNGGU INFORMASI DARI KALIAN SEMUA. SEKIAN INFORMASI DARI KAMI. SALAM DARI MISTER AL!"
Pip!
Setelahnya televisi mati secara mendadak. Semua pasang mata masih menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tatapan semua orang sama, merasa tak percaya. Lantas tiba-tiba terdengar suara dering bel berbunyi membuat perhatian para siswa kembali. Mereka segera pergi menuju kursinya masing-masing. Dan saat itu, Bu Yatemi, guru kimia datang. Para siswa langsung heboh berebut menanyakan kepada Bu Yatemi tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Bu Yatemi, itu beneran Geng Screzer?" tanya seorang siswi dikelas itu.
"Ibu juga tidak terlalu yakin," balas Bu Yatemi yang terlihat sama terheran dengan para siswa.
"Terus kenapa dia bisa tampil di televisi, Bu? Apakah siaran itu berasal dari ruang kepala sekolah? Karena hanya ada disana televisi utamanya yang berguna untuk mengontrol televisi lainnya," kata Aldi tiba-tiba membuat Bu Yatemi menggelengkan kepalanya.
"Bu guru juga tidak tahu. Setahu Bu guru, ruang kepala sekolah ditutup sejak seminggu yang lalu."
"Apakah itu semua karena ulahnya si Hacker Boy? Televisi utama diruang kepala sekolah memang tidak sedang dikontrol oleh seseorang tapi sedang diretas oleh si Hacker Boy," celetuk Reneo membuat Rama langsung menatap tajam ke arahnya.
"Sudah sudah. Jangan bahas itu lagi. Kita mulai saja pembelajaran kita kali ini. Tapi sebelum itu mari kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa dimulai," ujar Bu Yatemi memulai acara pembelajarannya.
"Berdoa selesai."
"Bu, Saya ijin ke uks," kata Rama setelah mengacungkan tangannya. Dengan selihai mungkin Rama merubah raut wajahnya menjadi memelas dan terlihat tak bertenaga.
"Kamu kenapa, Rama?"
"Sakit, Bu. Kemarin hujan-hujanan," balas Rama lemas.
"Kamu ada-ada saja. Pakai acara hujan-hujanan segala. Ya sudah kamu boleh ke uks. Tapi jangan keluyuran kemana-mana," peringat Bu Yatemi.
"Baik, Bu," balas Rama langsung berdiri dari duduknya. Namun sebelum itu sebelah tangannya langsung ditahan oleh Sinta.
"Lo sakit apa? Perasaan tadi lo baik-baik aja," bisik Sinta pelan.
"Ssshhhttt. Cerewet lo," bisik Rama langsung pergi meninggalkan uks.
Setibanya diluar ruang kelas, Rama langsung berlari menuju ruang kepsek berada. Dia berjalan mengendap-endap saat sampai didekat ruangan yang dia tuju. Saat itulah Rama melihat pintu kepala sekolah yang sedikit terbuka. Rama berjalan semakin pelan, dan mengintip dari celah pintu disana karena dicendelanya tertutup rapat dengan korden. Saat Rama mengintip, saat itu juga Rama terkejut saat melihat seseorang pria dengan setelan baju berwarna navy beserta jasnya. Orang itu terlihat sedang mengenggam ponselnya dan berbicara dengan lawan si penelpon.
"Saya sudah menyelesaikan tugas dari Anda, Mister Al," kata orang itu.
"Baik. Saya akan melepaskan jabatan kepala sekolah ini."
"Iya. Saya juga sudah menyuap semua guru-guru yang ada disini. Saya pastikan mereka tak akan berani melaporkannya ke polisi."
"Baik, Mister. Saya akan kembali ke markas."
Melihat tanda-tanda sesi telepon akan segera berakhir, Rama cepat-cepat pergi dari sana. Berjalan mengendap-endap agar tak membuat curiga orang yang ada didalam ruang kepala sekolah itu.