Berpikirlah cerdik untuk menipu musuhmu. Dengan begitu kau akan menang dengan sendirinya.
-Rama-
Saat ini Rama tengah duduk bersandar di kursinya sendiri. Tak lupa juga mulutnya yang tengah asyik mengunyah permen karetnya sembari sesekali dia tiupkan sampai membentuk sebuah balon. Kedua matanya tak lepas memperhatikan Dewa yang tengah bercerita didepannya. Sedangkan tugasnya Rama hanya mendengarkan dengan hikmad sesekali menganggukan kepalanya saat ditanya oleh Dewa.
Setelah kejadian yang menggemparkan tadi dikantin, Rama langsung mengajak kedua temannya menuju ruang kelas mereka karena waktu istirahat hampir habis. Namun saat mereka tiba di ruang kelas, ternyata guru yang mengajar mereka sedang ada sedikit halangan membuatnya sedikit terlambat untuk masuk ke dalam kelas. Dan hal itu dimanfaatkan oleh Dewa untuk bercerita. Berbeda dengan Rama dan Dewa yang sudah duduk dikursinya sendiri, Sinta dan Naya entah pergi kemana. Sejak waktu istirahat tiba tadi kedua gadis itu sudah menghilang entah kemana.
Plak!
"Anj*ing!" umpat Rama spontan saat merasakan tamparan keras nan pedas dibahu sebelah kanannya. Padahal saat ini Rama tengah bersantai. Rama segera memutar badannya ke belakang bersiap akan menceramahi si pelaku.
"Heh! Lo nggak—"
"Apa hah!" balas si pelaku dengan wajah garang. Sontak saja Rama menciutkan nyalinya. Jika berhadapan dengan orang yang kini ada didepannya, Rama tak akan pernah sanggup. Untuk menutupi rasa takutnya, Rama mengusap bahunya yang tadi bekas ditampar oleh Naya.
"Lo kenapa sih, Nay. Sakit nih bahu gue. Lo kira tamparan lo nggak pedes apa?" sungut Rama mengadu seperti anak kecil. Bahkan lihatlah, wajah yang biasanya memperlihatkan tatapan sombong itu kini hanya bisa memperlihatkan wajah memelasnya. Sontak Naya dan Sinta memutar bola mata mereka dengan malas.
"Li kinipi sih, Niy," cibir Naya menirukan suaranya Rama. Kemudian menatap garang lagi kearah Rama. Sedangkan Sinta dan juga Dewa sudah duduk santai menyaksikan drama yang ada didepan mata.
"Heh! Lo sadar nggak sama sikap lo dikantin tadi. Sok sokan jadi buaya darat," kata Naya penuh dengan emosi. "Udah bagus pensiun jadi buaya malah berulah lagi."
"Ehm, elo tahu ya, Nay? Padahal kan elo nggak ada dikantin tadi," cicit Rama sembari menundukkan kepalanya tak kuasa melihat tatapan garangnya Naya.
"Kalo gue nggak dikantin bukan berarti gue nggak tahu sama apa yang lo perbuat!" sentak Naya.
"I-iya sorry. Tadi itu si Sadewa—"
"Nggak usah bawa-bawa nama Sadewa. Yang salah itu elo bukan Sadewa. Hih, gue giling juga lo lama-lama," ujar Naya gemas. Menggeser dahinya Rama dengan satu jarinya. Saat Naya akan melewati tempat duduknya Rama. Namun sesaat Naya mematung ketika Rama menggenggam jarinya itu dan dia menarik tubuhnya Naya sampai mendekat ke arah Rama.
"Naya yang cantik jelita, gue itu bukan berniat mau tebar pesona. Itu taktik gue aja mau nyelamatin si Sadewa dari amukannya Reyan," kata Rama dengan nada yang dia buat seimut mungkin agar Naya luluh dengannya.
"Tapi nggak gitu juga Rama yang ganteng. Kasian noh gebetan lo. Bisa illfil sama sifat lo itu," bisik Naya dengan nada yang dibuat imut juga sembari matanya melirik ke arah Sinta yang hanya bisa berkedip polos tak mengerti dengan suasana yang sedang terjadi.
"Ehem!" deham Dewa keras berniat mengkode Rama dan Naya dengan menunjuk Sinta dengan delikan matanya. Dikode seperti itu Rama dan Naya sontak melepaskan diri saling menjauh. Mereka tersenyum canggung menoleh ke arah Sinta.
"Eh s-sorry, Sin. Gue nggak bermaksud—"
"Kenapa minta maaf ke gue. Itu kan hak lo. Elo kan lagi deket sama Naya. Lo juga lagi bujuk Naya kan biar dia maafin lo soal sikap lo di kantin tadi. Gue paham kok," balas Sinta kemudian mengangguk dengan senyuman yang menenangkan. Hal itu malah membuat ketiga temannya kalang kabut karena bukan respon itu yang mereka harapkan.
"Nggak, Sin. Gue sama Rama nggak deket dalam konteks seperti yang lo maksud. Gue sama Rama cuma dekat ya biasa kayak sesama teman gitu," imbuh Naya dengan tatapan yang bersalah.
"Gue ngerti kok," sahut Sinta dengan nada yang santai. "Udah udah. Kalian cepat duduk, Bu Diah udah masuk tuh."
Menoleh ke depan, ternyata memang Bu Diah sedang berjalan menuju meja guru. Langsung saja Rama dan Naya segera duduk dikursinya sendiri. Naya langsung mengeluarkan ponselnya, mencari kontaknya Rama kemudian mengetikkan beberapa kata untuk dia kirim ke Rama.
Ramaling
Online
Naya|| Mampus, Sinta pasti salah paham.
Setelah mengetikan pesan itu, Naya langsung mengirimkannya. Dan langsung dibaca oleh Rama karena saat itu juga Rama sedang membuka ponselnya. Dan setelahnya Rama membalas pesannya Naya.
Ramaling
Online
Naya|| Mampus, Sinta pasti salah paham.
Rama|| Ya terus gimana dong, Nay. Entar Sinta malah jaga sikap sama gue. Terus dia nggak mau baper sama gue. Entar gue yang repot:(
Naya hanya membaca pesan itu kemudian berdecih pelan. Memutar kepalanya ke belakang dan berucap tanpa kata ke arah Rama dengan jari yang menunjuk ke arah Rama.
"Itu semua salah lo," bisik Naya membuat Rama melengkungkan bibirnya ke bawah dan sukses membuat Naya bergidik ngeri.
"Najis!" maki Naya kesal kemudian memutar kepalanya ke depan lagi.
Rama menghela napas berat. Kemudian menoleh ke arah Sinta yang sedang duduk diam sembari membaca buku paketnya. Rama menggeser tubuhnya kearah Sinta.
"Sinta," panggil Rama dengan bisikan pelan.
"Apa, Rama?" balas Sinta dengan bisikan juga.
"Lo marah ya?"
"Enggak tuh. Emang kenapa?"
"Ya, karena gue tadi sama Naya—-"
"Enggaklah. Ngapain juga gue marah."
"Ehm, Sin," panggil Rama lagi membuat Sinta menoleh dengan alis terangkat. "Entar pulang sekolah gue anterin ya?"
Terlihat Sinta yang sedang berpikir keras membuat Rama menunggu dengan berharap cemas. Namun seketika wajahnya berubah saat melihat Sinta yang menganggukan kepalanya.
"Iya boleh."
***
Saat bel istirahat berbunyi, para siswa segera bergegas keluar dari lingkungan sekolah. Namun tidak menutup kemungkinan, masih ada beberapa siswa yang bertahan didalam kelas ataupun gedung sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler.
Tak berbeda dengan Sinta, kini dirinya sedang mengikuti Rama yang berjalan disampingnya menuju tempat parkiran. Sesuai dengan janjinya Rama tadi, kali ini Rama akan mengantarkan Sinta pulang. Sebenarnya Sinta sendiri bingung kenapa tiba-tiba Rama ingin sekali mengantar dirinya pulang. Namun Sinta tak mau ambil pusing dan mengiyakan saja tawarannya Rama.
Dipertengahan perjalanan menuju tempat parkir, Rama dan Sinta harus beberapa kali berhenti untuk menyapa teman-temannya Rama atau bahkan bersenda gurau sebentar. Awalnya Sinta kagum saat melihat Rama dan teman-temannya. Sinta tak mengira jika Rama memiliki teman diluar kelas mereka yang bisa dibilang cukup banyak. Namun semakin ke sini, Sinta merasa kesal karena sebenarnya dia sudah merasa sangat letih ingin segera sampai dirumah.
"Ck," decak Sinta tak suka saat melihat Rama yang sedang bergurau dengan sekumpulan teman laki-lakinya.
"Kenapa hm?" tanya Rama setelah mendengar decakannya Sinta.
"Kelamaan. Gue keburu capek," sahut Sinta dengan raut wajahnya yang sangat bosan. Mengetahui hal itu membuat Rama terkekeh kemudian mendekat ke arah Sinta.
"Iya bentar. Nggak sopanlah kalo gue nggak nyapa temen sendiri. Entar dikira gue sombong," bisik Rama tepat di telinga kirinya Sinta.
"Tapi lama," kata Sinta memberengut.
"Iya iya, entar dijalan ngebut kok," balas Rama yang tak tahan dengan sikapnya Sinta langsung mengusap gemas kepalanya Sinta.
"Ehem! Cie Rama udah punya gandengan hahaha," seru temannya yang melihat aksi romantis yang ada didepan mata.
"Hahaha, dibilang gitu juga boleh," balas Rama kemudian tertawa renyah.
"Nggak! Gue bukan pacarnya Rama," sentak Sinta kesal takut jika ketahuan dengan Naya.
"Ah Rama udah biasa ngakuin cewek lain pacarnya sendiri. Padahal dianya jomblo," kata temannya yang lain.
"Nggaklah. Gue pastiin semester depan ini cewek jadi pacar gue," ujar Rama penuh keseriusan.
"Terserah lo ajalah."
"Rama ayo cepet pulang!" ajak Sinta yang sudah tak tahan dengan godaan teman-temannya Rama. Apalagi mendengar perkataannya Rama yang mengklaim akan menjadikan dirinya sebagai kekasihnya Rama.
"Iya iya pulang. Gue pulang dulu bro," pamit Rama sembari bertos ala lelaki. Sinta langsung meninggalkan Rama membuat Rama kaget langsung menyusul Sinta.
Setelah itu mereka berdua berjalan bersama menuju tempat parkir. Lima menit setelahnya, Sinta sudah duduk di jok belakang sedangkan Rama didepan sembari menyetir motornya. Saat mereka berdua keluar melewati pintu gerbang, Sinta langsung menutup wajahnya dengan tangan saat melihat seorang laki-laki yang berdiri menyender diluar gerbang sekolahnya. Laki-laki itu sedang bermain ponsel dengan satu tangannya yang dia masukkan ke dalam saku jaket jeans navynya.
"Mampus gue," gumam Sinta yang terdengar oleh telinganya Rama membuat Rama terkekeh seketika.
"Itu yang lagi berdiri nyender, mantan elo kan, Sin? Hahaha."
Plak!
"Diam b**o! Entar dia lihat kesini," kata Sinta gemas setelah menampar bahunya Rama.
"Kenapa juga harus malu sih. Santai aja kali," balas Rama dengan entangnya. "Apa jangan-jangan lo belum bisa move on dari dia. Hayo ngaku. Kalo nggak ngaku hidungnya bisa panjang loh kayak pinokio."
Bugh!
"Gila lo. Diam ah. Gue gebukin juga kalo lo cerewet lagi," ancam Sinta setelah menghantam punggungnya Rama pelan.
"Iya ampun. Jangan gebukin tulang punggung gue," sahut Rama dengan nada takut.
"Kalo entar tulang punggung gue rusak, siapa yang mau jadi tulang punggungnya elo?" kata Rama dengan nada yang menggoda. Awalnya Sinta tak mengetahui apa maksud perkataannya Rama. Namun tak berapa lama Sinta tersadar saat mendengar tawanya Rama. Langsung saja Sinta melempar pukulannya ke bahunya Rama.
"Nih makan nih pukulan maut dari gue. Nih nih!"
Bugh! Bugh! Bugh!
"Iya Sinta. Udah udah. Gue nyerah. Heh udah ogeb! Entar ini motor nabrak!" sentak Rama yang kualahan menerima serangan dari Sinta.
"Makanya diam!"
"Iya gue diam," balas Rama menurut.
Setelahnya, Rama tetap melajukan motornya dengan tenang. Sinta juga ikut duduk diam sembari memperhatikan jalan. Bahkan dua orang itu tak sadar jika sedari tadi sedang diperhatikan oleh seseorang. Seseorang yang pernah hadir dihatinya Sinta. Dia adalah Raja. Saat ini Raja tengah memandang motornya Rama yang sednag melaju semakin jauh. Melihat pemandangan yang baru saja lewat didepannya, membuat kedua sudut bibirnya Raja tertarik keatas.
"Jadi udah punya pawang lagi ya?" tanya Raja kemudian terkekeh seperti sedang mengejek.
"Tapi nggak masalah. Punya pawang bakal sama aja kalo dia nggak bisa berhentiin rencana gue yang mau rubah hidup lo itu," kata Raja dengan nada yang dalam.
"See you again, Sinta." ujar Raja kemudian pergi menjauh dari depan sekolahnya SMA Angkasa Wijaya. Kali ini Raja yakin kalau rencana yang telah dia susun sangat lama itu akan berhasil. Memikirkannya saja sudah berhasil membuat Raja tersenyum lebar sampai membuat beberapa orang yang berjalan disampingnya menatap dengan heran tapi Raja tak ambil pusing.