Aksi Menutupi Kebenaran

1152 Kata
Harta dari hasil kerja keras jalur hitam, tak akan pernah membuatnya bahagia. -Rama- "Itu karena gue nggak mau terikat perjanjian sama orang-orang jahat!" kata Rama tajam tak kalah tajam dengan tatapannya. Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja membuat tiga sekawan itu kompak menoleh ke sumber suara. Brak! "NGAKU! DIMANA HACKER BOY!" Dengan kompak Rama, Dewa dan Nakula menoleh ke tengah kantin yang sedang ramai. Melihat dua orang yang saling berhadapan dengan empat mata yang saling memandang dengan tatapan yang berbeda membuat suasana heboh seketika. Banyak siswa lainnya yang langsung mendekat membentuk lingkaran. Melihat dua pelaku yang sedang berdiri berhadapan itu, membuat tiga sekawan menoleh terheran. Mereka tahu siapa dua orang yang sedang adu mulut itu. Seorang cowok menatap tajam kearah si lawan dengan pakaian urakan dan rambut warna biru navy. Dia adalah Reyan merupakan salah satu siswa kelas dua belas yang berarti dia adalah seorang kakak kelas. Reyan terkenal galak, sadis suka membully orang. Dia juga pemarah bahkan pendendam. Dan juga Reyan merupakan ketua siswa badung di SMA Angkasa Wijaya yang pertama dan paling sadis. Banyak siswa yang menjauhinya karena tak mau berurusan dengannya. Bahkan Rama sendiri memilih menjauh daripada harus berhadapan dengan Reyan. Bukannya takut hanya saja Rama malas berurusan dengan manusia yang tak berakal. Lawan bicaranya Reyan hanya terdiam. Dia adalah Sadewa. Seorang siswa kelas sebelas yang pernah menyewa jasanya Rama untuk meretas kunci jawaban ulangan. Melihat Sadewa yang menatap takut ke arah Reyan, Rama menyimpulkam kalau Sadewa pasti sedang dalam masalah. Yang tambah membuat Rama bingung adalah kenapa Reyan bertanya mengenai Hacker Boy ke Sadewa? Apakah Sadewa telah memberitahu jika Rama lah si Hacker Boy? Terlihat Sadewa yang sempat melirik kearah Rama dengan pandangan yang memelas. Belum sampai lima detik, Reyan langsung menarik kerah seragamnya Sadewa membuat kontak mata keduanya terputus. "Dimana Hacker Boy itu hah!" sentak Reyan didepan wajahnya Sadewa. Bahkan Sadewa sampai menutup matanya saat Reyan membentaknya. "U-udah gue bilang. H-Hacker Boy n-nggak ada---" Brak! Reyan langsung menghempaskan Sadewa membuat Sadewa jatuh tersungkur dilantai. Rama yang melihat itu tergerak untuk membalasnya namun langsung dicegah oleh Dewa dan Nakula. "Jangan maju, Ram. Entar ketahuan," nasehat Nakula dengan bijak dan langsung diangguki oleh Dewa. "Iya tuh bener. Disini aja lo. Jangan cari mati." "Tapi Sadewa bisa mati ditangannya Reyan," kata Rama dengan tatapan kesalnya. "Sadewa nggak bakal diapa-apain. Gue jamin," ucap Nakula membuat Rama menghela napas kemudian kembali duduk ditempatnya. "Dimana Hacker Boy itu, hah!" bentak Reyan lagi. "Bilang sama gue dimana dia. Karena gue mau bawa dia ke Screzer." Rama sontak terkekeh pelan mendengar kalimat itu. "Gue yang ogah lo bawa ke sana." "Dasar manusia picik! Mentingin diri sendiri," tambah Rama membuat kedua temannya mengangguk menyetujui. Bugh! Suara pukulan membuat Rama membulatkan matanya. Dia melihat sendiri Reyan mengamuk dan melayangkan satu lukulannya ke wajahnya Reyan. "Gue bilang dimana Hacker Boy," tanya Reyan lagi kepada Sadewa. "Jangan sampai lo nyesel saat lo udah ada di rumah sakit." Tubuh Sadewa langsung bergetar saat mendengar kalimat itu. Jujur saja Sadewa juga bingung kenapa Reyan bisa mengetahui soal Hacker Boy. Yang lebih membuatnya bingung adalah, kenapa harus Sadewa yang Reyan temui? Demi Tuhan, Sadewa tak pernah membocorkan rahasia kerja samanya dengan Rama dulu. Dia juga tak berniat memberitahu ke temannya sendiri. Dan rahasia itu hanya Sadewa simpan sendiri. "Dimana hah! Gue hajar juga lo!" ancam Reyan kejam membuat Sadewa ketakutan. "S-sebebarnya Hacker Boy i-itu---" "Gue!" potong Rama cepat dengan suara lantang kemudian menyisir rambutnya sendiri ke belakang. Mengedipkan satu matanya ke arah Reyan. Kemudian Rama memasukan kedua tangannya ke saku membuat beberapa siswi menjerit karena terpesona dengan ketampanannya. Rama berjalan mendekat dengan santai. Bahkan dengan sengaja Rama melempar flying kiss ke kumpulan para siswi membuat suasana heboh seketika. Ya, si buaya darat sudah kembali. "Aaa... Kak Rama ganteng banget astaga!" jerit tertahan dari seorang gadis kelas sepuluh, adik kelasnya. "Pangeran Rama! Jadikan aku putrimu, pujaan hatimu! Aku rela jika hanya menjadi istri keuda" teriak seorang gadis dari kelas dua belas. "Mleyot hati adek, Bang!" seru gadis lainnya membuat Rama tersenyum lebar kearahnya. Sesampainya didekatnya Reyan, Rama tersenyum dengan tampan. Membuat Reyan yang dipandang oleh Rama mengernyitkan alisnya. "Siapa lo?" tanya Reyan terheran. "Masa lo nggak kenal gue? Dahlah level main lo sampai mana sih?" ejek Rama kemudian tersenyum menghina. "Hai girls, who I am?" "KING RAMA OF HANDSOME!" teriak para gadis membuat Rama tersenyum bangga kemudian melambaikan tangaannya keatas berniat menyapa sekumpulan para gadis disana. "Udah kan. Lo denger sendiri siapa gue." "Bukan," tolak Reyan langsung yang masih terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi. "Maksud gue lo ngapain ke sini hah." "Oh maksud lo, gue motong omongannya Sadewa tadi?" tanya Rama santai kemudian menunjuk Sadewa yang masih terbaring dilantai. "Iya!" balas Reyan dengan tegas. Rama terkekeh berjalan mengitari Reyan dengan mata yang menatap Reyan seolah sedang menilai. "Nggak papa," balas Rama santai kemudian membantu Sadewa berdiri. "Gue cuma mau pansos aja. Lumayan nih, cewek-cewek lagi nonton," kekeh Rama membuat Reyan melotot. Rama menyandarkan tubuhnya diatas meja. Kemudian membenarkan lagi tatanan rambutnya. Menyenggol lengannya Sadewa. "Gimana Sad, gue udah cakep belom? Niat gue entar pulang sekolah gue mau nembak cewek," ujar Rama yang tak menyambung dengan akar permasalahan yang sedang terjadi. Bahkan wajahnya Sadewa kini menatap ke arah Rama dengan cengo. "Yah, kak Rama otw punya pawang guys!" jerit seorang gadis tiba-tiba membuat siswi lain mendesah berat. "Siapa sih Ram, cewek yang elo suka itu? Jangan-jangan gue ya? Aw gue jadi malu," timpal gadis lainnyan yang langsung mendapat sorakan dari para gadis. Sedangkan Rama hanya terkekeh dengan senang hati menanggapinya. "Lo!" tunjuk Reyan marah karena bisa-bisanya Rama menyela aksi introgasinya terhadap Sadewa dengan santai. Terlihat kedua matanya Reyan yang memicing tajam. "Tingkah lo nggak kayak cowok!" "Elo juga," balas Raam tenang. "Gue sih lakik. Elo kan banci." Mendengar sindirian itu membuat Reyan tambah emosi. "Salah gue kalo adu mulut sama lo. Mulut lu emang lemes. Pasti bakal menang," sindir Reyan kepada Rama. Rama hanya mengangguk membenarkan dengan senyuman yang mengembang. "Thanks, brother." Tak kuasa menghadapi tingkahnya Rama yang sangat menyebalkan menurut Reyan, Reyan langsung memutar badannya pergi meninggalkan kantin. Dan suasana kembali heboh karena masalah mengenai Reyan yang mencari Hacker Boy terhenti. Rama langsung menarik lengannya Sadewa dia ajak menuju mejanya yang masih diduduki oleh Dewa dan Nakula. "Makan," titah Rama menggeser mangkuknya sendiri yang belum tersentuh sama sekali ke hadapannya Sadewa. "R-Ram, gue nggak---" "Iya tahu. Udah sana makan," potong Rama kemudian mengeluarkan ponselnya. "Terus darimana Reyan tahu kalo disini ada Hacker Boy?" tanya Dewa tiba-tiba. "Gue juga nggak tahu. Kaget gue waktu Reyan nanyain itu ke gue," sambar Sadewa. "Menurut gue pasti ada orang lain yang ngasih tahu. Pelanggan elo kan banyak Ram, bukan cuma gue doang." "Lah iya bener juga," gumam Rama pelan. "Ya udahlah. Lagian masalah Reyan udah beres juga." "Btw, thanks ya." "Nggak geratis. Bayar makanan gue itu. Soalnya tadi belum gue bayar hehehe." "Btw, geli gue gong, akting kayak tadi!" seru Rama kesal menggeplak mejanya sendiri. "Sanstailah. Elo juga menikmati gitu," ejek Dewa membuat Rama kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN