Mencari Seorang Hacker

2076 Kata
Jika kamu ingin lebih menikmati hidup maka milikilah hobi dan tenukilah hobi itu. -Rama- Suara dering yang menggema dikamar pada esok hari membuat tidurnya Rama terusik. Rama mengernyit didalam tidurnya saat masih mendengar nada dering dari telponnya. Saat Rama berniat bangun dari tidurnya nada dering itu berhenti, membuat Rama mengurungkan niatnya dan langsung menarik selimut untuk dia menutupi tubuhnya karena pagi ini cuaca dingin sangatlah terasa. Saat Rama akan memasuki alam mimpinya lagi, suara nada dering telponnya terdengar lagi membuat Rama tak bisa menahan rasa kesalnya lagi langsung menendang selimutnya sampai terpental ke lantai dan meraih ponselnya yang dia simpan diatas nakas. Menekan tombol telpon dengan kasar dengan napas yang memburu. Demi Tuhan, Rama sangat kesal karena acara tidurnya diganggu. Bahkan Rama semakin kesal saat tahu saat ini masih pukul lima pagi. "Apa hah! Ngapain lo nelpon gue pagi-pagi!" teriak Rama setelah mengangkat telponnya tanpa perlu melihat nama si penelpon. Setelah Rama berteriak seperti itu si penelpon tak menjawab amukannya Rama. Rama menjauhkan ponselnya dan tak berapa lama dia mendengus kesal setelah membaca nama dari si penelepon. "Gue kirim virtex juga lo ke ponsel lo ya, Wa. Cepet! Lo ngapain nelpon gue pagi-pagi hah!" sentak Rama setelah mengetahui jika si penelpon adalah Dewa. Terdengar Dewa yang berkata dengan gugup. "A-anu, itu, lo---" "Anu apa hah? Jangan nggak jelas kalo ngomong!" sentak Rama marah tak suka jika Dewa tak berbicara langsung pada inti pembicaraannya. "Lo udah buka website sekolah?" tanya Dewa cepat membuat Rama mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Belomlah. Ngapain juga pagi-pagi gue baca gosip?" sahut Rama melempar pertanyaan yang langsung membuat Dewa tertawa seketika. "Lah iya bener sih. Terus lo udah nonton berita di televisi?" "Lo nggak tahu, gue nggak doyan nonton berita di tipi?" tanya Rama ke Dewa membuat Dewa yang ada diseberang telepon menepuk dahinya sendiri. "Asal lo tahu aja ya, Wa. Elo tuh gangguin tidur gue. Jadi otomatis gue baru bangun tidur. Mana sempat gue baca website sekolah sama nontonin berita?" "Gila ya lo! Udah jam segini lo masih molor? Ck, pantes masih jomblo," cibir Dewa yang masih bisa didengar oleh Rama. "Heh, gue denger ya!" hardik Rama marah dan mendapat balasan berupa cibiran dari Dewa. "Sengaja!" sentak Dewa. Rama mendengus keras. Mendudukan diri dipinggir kasurnya. "Udah kan? Nggak ada lagi yang lo omongin. Gue tutup." "Eh, bentar bentar, Ram. Belum, masih ada yang perlu gue omongin sama lo. Tadi itu belum bagian inti pembicaraan." "Ogah. Lo cuma bahas gosip. Gosip itu hoax! Dahlah gue tutup aja." "Heh dengerin dulu," kata Dewa dengan nada gemas. "Ini menyangkut hacker." Mendengar satu kata itu, Rama langsung duduk dengan tegap. Merasa jika kabar yang akan Dewa ceritakan ini bisa dikategorikan cukup serius. "Ehm, ya udah apaan?" "Tadi grup kelas heboh, katanya ada info dari website sekolah yang bilang lagi nyari seorang hacker di SMA Angkasa Wijaya. Terus tadi gue juga nggak sengaja denger dari berita, ada seorang gengster yang cari seorang hacker juga. Menurut lo mengganjal nggak?" cerita Dewa diakhiri dengan pertanyaan yang membuat Rama berkipir sedikit lebih keras. "Ya bisa jadi mereka emang butuh seorang hacker buat pekerjaan tertentu," sahut Rama pelan. "Eh bentar, lo denger ditelevisi beritanya valid nggak tuh?" "Ya validlah. Televisi loh ini masa iya bercandaan." "Terus tadi lo ada bilang yang cari seorang hacker itu sekelompok gengster? Gengster apa namanya?" "Masalahnya diberita itu nggak disebutin," kata Dewa kemudian terdiam. "Eh bentar, gue ada dapet picture dari temen kelas," ujar Dewa lagi membuat alis Rama terangkat. "Eh anjir! Ram, lebih baik lo segera mandi terus berangkat sekolah. Ini gue tinggal berangkat doang. Gercep. Nggak pake lama." "Heh apaan anjir tiba-tiba nyuruh gue berangkat sekarang. Masih jam setengah enam njir. Kepagian ogeb!" protes Rama kesal tak mau jika disuruh untuk berangkat terlalu pagi. "Lo bakal kaget lihat info dimading sekolah. Gercep. Gue otw ke sekolah sekarang," balas Dewa cepat sempat membuat Rama terheran sebentar. Tapi kembali lagi raut wajahnya menjadi kesal. "Heh Dewa gue nggak mau---" Tut! "DEWANJING! GUE NGGAK MAU BERANGKAT KEPAGIAN!" murka Rama kesal berteriak didepan ponselnya yang sudah diputuskan telponnya oleh Dewa diujung sana. Beberapa kali Rama melakukan pernapasan untuk meredakan emosinya. Karena bagaimanapun, emosi disaat pagi hari itu tidak baik untuk kesehatan jasmani dan rohani. Setelah berhasil membuat dirinya sendiri menjadi lebih rileks, Rama mulai terpikirkan oleh perkataannya Dewa. "Emang ada info apa dimading. Tumben banget Dewa ngomongin mading? Biasanya juga ngomongin website," gumam Rama kepada dirinya sendiri. Setelah memikirkan perkataannya Dewa pada akhirnya Rama bangkit berdiri dari duduknya. "Daripada ngecek cctv sekolah buat nyari tahu apa yang terjadi, gue pasti kehabisan waktu. Ya udahlah, mending berangkat pagi ajalah," kata Rama segera menarik sebuah handuk dibelakang pintu kamar mandinya dan langsung masuk ke dalamnya untuk memulai acara mandi paginya. *** Baru saja Rama turun dari motor besarnya, Rama langsung mendapat serangan dibahunya. Ada sebuah dorongan yang cukup keras hingga mampu membuat Rama terkejut seketika. "Aarrgghh! Gen-genderu-ruwowo," latah Rama refleks membuat seseorang yang ada dibelangnya lansung tertawa terbahak-bahak. Rama langsung membalikkan tubuhnya. Menatap tajam ke si pelaku. Namun ternyata si pelaku itu tak menyadari tatapan tajam yang Rama lemparkan tepat ke dirinya. Membuat Rama marah dan langsung melayangkan satu tamparan pedas. Plak! "Heh anj*ing! Sakit ogeb!" maki Dewa kesal langsung mengusap pelan pipinya. Meringis saat merasakan tamparannya Rama masih terasa menyakitkan. Bahkan sampai meninggalkan bekas kemerahan yang mencetak telapak tangannya Rama. "Makanya jangan usil!" "Ye elonya aja yang budeg. Gue dari tadi manggilin elo dari depan pintu gerbang sampai sini. Heran gue, lo pura-pura nggak denger apa budeg beneran?" cibir Dewa yang masih mengusap pipinya berusaha mengurangi rasa sakitnya. "Heh mulut! Minta dijahit?" sentak Rama marah. Dewa langsung memanyunkan bibirnya membuat Rama ingin menampar pipi satu milikmya Dewa. Namun terhenti saat mendengar nada dering diponselnya. Segera Rama mengangkat telpon itu yang ternyata dari Nakula. "Assalammualaikum. Halo, Na? Kenapa?" tanya Rama to the point. "Sini mading. Gercep!" tandas Nakula singkat diujung telepon. "Heh kebiasaan lo nggak pernah jawab salam dari---" Tut! "Heh bagong! Gue santet juga lo Na! Jadi orang nyebelin banget!" "Entar lo sama Nakula jadi belok dong. Kan kalo elo santet dia, dia jadi suka sama lo kan?" tanya Dewa dengan tatapan polosnya. Sontak saja saat itu juga Rama langsung darah tinggi. Menghadapi kelakuan dua temannya, Dewa dan Nakula ternyata sangatlah menyiksa jiwa dan raganya. "Heh itu namanya pelet. Pelet!" kata Rama dengan keras tepat didepan telinganya Dewa. "Ya santailah. Orang gue cuma tanya," cibir Dewa sembari mengusap telinganya. Rama mendengus keras langsung berjalan cepat meninggalkan Dewa sendirian diparkiran. Sesampaimya didepan mading, Rama dibuat terheran saat melihat banyaknya siswa yang berkumpul sembari bercerita soal mading. Rama, Dewa, dan Nakula hanya menatap sekumpulan siswa itu yang tak berkurang satupun melainkan bertambah. Dan ketiga orang itu malas untuk berdesakan dengan siswa lain hanya untuk mengetahui gosip apa yang sedang mereka bicarakan. "Udahlah. Ke kelas aja yu," ajak Rama menatap datar sekumpulan siswa yang berdiri didepan mading. "Nggak!" balas Dewa dan Nakula kompak membuat Rama terheran. "Lah ngapain juga nontonin gosip. Balik aja ke kelas, gue masih ngantuk nih," kata Rama kemudian menguap kecil. Memang benar, Rama masih mengantuk karena ulah Dewa tadi pagi. "Kan udah gue bilang, info di mading itu ada hubungannya sama hacekr," bisik Dewa pelan dan langsung diangguki oleh Nakula. Tentu saja Rama semakin penasaran dirinya menjadi ingin mengetahui informasi apa yang ada dimading. Namun Rama juga tidak mau jika harus berdesak-desakan dengan siswa lain. "Males bet," dengus Rama pelan langsung jongkok dengan satu tangan menopang dagunya. Sedangkan Nakula langsung memundurkan tubuhnya sampai mentok didinding belakangnya. Bersandar santai dengan kedua tangannya yang dia masukkan ke dalam saku celana. Sedangkan Dewa sedang berpikir keras untuk bisa mendapatkan informasi yang ada dimading tanpa membuat Rama berdesakan. Jika tetap memaksa Rama untuk berdesakan dengan siswa lain, bisa-bisa Rama malah malas untuk berurusan dengan informasi itu. Karena menurut Dewa informasi itu sangat penting dan Rama harus mengetahuinya, maka dari itu Dewa memilih mengorban dirinya sendiri. Dewa langsung menerobos masuk ke dalam kerumunan siswa itu. Tak berapa lama terdengar seruan dari depan mading. "Heh, jangan disobek woi. Gue juga belum baca!" umpat seorang gadis terdengar sangat marah. "Iya. Kita juga pengen tahu apa yang tertulis dikertas itu sampai-sampai satu sekolah heboh," balas seorang gadis lainnya. "Janji entar gue tempelin lagi!" balas Dewa berteriak kemudian berlari menuju tempatnya Rama dan Nakula berada. Dengan napas yang terputus-putus Dewa memberikan selembar kertas yang kumal ke tangannya Rama dan langsung Rama baca sekilas. Mengetahui jika informasi yang ada dikertas itu memanglah penting, Rama langsung membidik gambar kertas itu. Setelahnya memberikan kertas itu kepada Dewa dan berjalan pergi menuju kelas diikuti oleh Nakula. Dewa menatap kertas yang ada ditangannya. Kemudian tersenyum miring saat mendapatkan sebuah ide jahilnya. Memutar tubuhnya ke sekumpulan siswa yang masih berdiri didepan mading. "Siniin cepert kertasnya. Kita juga pengen lihat!" seru seorang laki-laki membuat Dewa tersenyum lebar. Bukannya langsung menyerahkan kertas itu kembali ke mading dengan baik-baik, Dewa malah meremas kertas itu sampai membuat bola kecil kemudian melemparnya dengan santai ke sekumpulan siswa itu. "Nih gue baliin," kata Dewa santai kemudian pergi berlalu menuju kelasnya. Sekumpulan siswa yang telah mendapatkan kembali kertas itu mendadak emosi saat melihat kertas yang semula masih berbentuk lembaran kita sudah berubah menjadi bulatan bola kecil yang tak beraturan. "WOI DEWA!" seru beberapa siswa yang langsung membuat Dewa menoleh dengan senyum yang semakin lebar. "Iya Dewa ganteng ada disini," ucap Dewa percaya diri membuat sekumpulan siswa itu dengan kompak berakting mual-mual. "Mati aja lo!" kompak sekumpulan siswa itu membuat Dewa langsung melotot garang. Berbalik badan dan pergi menuju kelasnya. *** Saat ini tengah jamnya istirahat. Rama, Dewa dan Nakula sengaja duduk dibangku kantin disudut paling pojok sembari menyantap makanan yang sudah terhidang didepannya mereka. Bukan tanpa alasan mereka memilih tempat itu. Karena biasanya tempat favorit mereka ada dibangku tengah. Untuk kali ini mereka mengungsi karena ada pembicaraan penting yang tak boleh didengar oleh siswa lain. "Jadi menurut lo nyam nyam, soal informasi yang ada di mading nyam nyam nyam, itu gimana, Ram nyam nyam," kata Dewa dengan mulut yang penuh dengan makanan dan dia sedang mengunyahnya dengan sangat cepat membuat suara yang keluar dari mulutnya membuat Rama dan Nakula terganggu. "Telen dulu makanannya," saran dari Nakula kemudian menggeser duduknya agar semakin jauh dari tempat duduknya Dewa. Nakula hanya ingin menjaga kebersihannya, dia tak mau mendapatkan semburan makanan dari mulutnya Dewa. Dewa yang melihat tingkahnya Nakula sontak menyengir lebar dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda perdamaian. Setelah itu dengan cepat Dewa menelan makanmya dan menghadap kearah Rama yang ada disebelah samping kanannya. "Jadi gimana, Ram? Informasi yang ada dimading itu menurut lo ada yang penting?" Rama terlihat berpikir sejenak kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Ada. Gue sinpulin satu hal." "Apaan?" tanya Dewa dan Nakula kompak lagi. "Orang yang buat info itu tahu kalo di SMA Angkasa Wijaya ada hacker," balas Rama pelan namun sangat berefek untum Dewa dan Nakula. Bahkan karena rasa kagetnya tanpa sengaja Dewa menjatuhkan sendok yang dia gunakan untuk makan. Prang! "Yang bener weh!" sentak Dewa sedikit emosi tak mempercayai ucapannya Rama. "Ya itu udah bener," balas Rama dengan kesal. "Coba lo pikir, diberita televisi ataupun di website sekolah apakah ada sumber informasinya? Atau minimal ada kontak yang bisa dihubungi? Enggak ada kan," jabar Rama kemudian mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan sebuah foto hasil bidikan tadi paginya. Sebuah foto berisi informasi yang diambil oleh Dewa dari mading. "Kalian lihat ini," ucap Rama sembari menunjuk tulisan kecil yang berada dipojok kanan. "Disini tertulis, jika kalian mengetahui keberadaan hacker, silahkan hubungi nomor dibawah ini. Dan kalian akan mendapatkan hasil yang setimpal. Salam Geng Screzer." Rama baru saja selesai membaca tulisan kecil yang tadi dia tunjuk sendiri. Hal ini membuat Dewa dan Nakula semakin terkejut. "Jadi, Geng Screzer yang udah nyebarin informasi itu?" tanya Nakula yang langsung diangguki oleh Rama dengan mantap. "Ya udah, lo ngaku aja, Ram. Lo pasti dapat duit banyak banget. Geng Screzer loh ini. Hartanya pasti banyak," kata Dewa bersemangat. "Kalo lo udah dapat gajinya, bisalah bagi ke gue setengahnya. Gue kan bestie lo hahaha." Rama terdiam sejenak. Jika dipikir-pikir, bekerja sama dengan Geng Screzer terlihat sangat menggiurkan. Mengingat Geng Scezer itu adalah gengster yang sering merampas bank-bank besar ataupun toko perhiasan. "Nggak. Gue nggak mau," kata Rama mantap membuat Dewa mengernyit tak mengerti. "Duitnya lebih gede, Ram. Lo nggak perlu lagi retas-retas database sekolah buat nyuri kunci jawaban," sentak Dewa seperti tak setuju dengan perkataannya Rama. "Itu karena gue nggak mau terikat perjanjian sama orang-orang jahat!" kata Rama tajam tak kalah tajam dengan tatapannya. Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja membuat tiga sekawan itu kompak menoleh ke sumber suara. Brak! "NGAKU! SEKARANG DIMANA HACKER BOY!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN