Masa Lalunya Raja

1558 Kata
Aku memang memiliki keahlian, namun aku tak mau bekerjasama dengan orang yang hanya mementingkan keuntungannya untuk dirinya sendiri. -Rama- Bagaimana jadinya jika anak tumbuh dengan paksaan dari orang tuanya? Akankah dia memang tumbuh besar dengan penuh kebahagian? Ataukah dia hanya tumbuh dengan mental yang terganggu? Malam ini, seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun sedang duduk termenung dikamarnya yang sangat luas namun gelap. Saat ini sudah memasuki pukul sepuluh malam namun dirinya tak berniat untuk beranjak tidur sama sekali. Pikirannya terlempar pada beberapa tahun yang lalu. Saat kejadian kematian sang ibu. Ya, anak itu piatu. Dia hanya hidup bersama papanya, tak ada anggota keluarga yang lain. Beberapa kepingan memori saling berdesakan untuk singgah dibenaknya. Sampai tak berapa lama, dirinya teringat dengan memori yang sangat lama sekali, tepatnya saat dirinya berusia lima tahun. Saat itu dirinya sedang bermain sebuah mainan mobil-mobilan dan juga robot diruang keluarganya. Bermain dengan suasana hati yang senang gembira. Bahkan beberapa kali terdengar dia menyandungkan sebuah lagu yang tak berjudul. Kegiatannya terhenti saat dirinya mendengarkan sebuah suara benda jatuh dan kemudian pecah terdengar sangat keras. Membuat dia kaget dan suasana hatinya berubah menjadi ketakutan. Brak! Ppyyaaarr! "Mama! Papa!" teriak anak itu langsung gemetaran saat mendengarkan suara benda pecah. Dia langsung duduk meringkuk disofa dengan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri. Kepalanya mendongak menatap kearah kamar milik orang tuanya. Terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras kemudian ditutup dengan sangat keras juga. Anak yang sedang duduk meringkuk itu segera berdiri saat melihat seorang wanita cantik keluar dari kamar itu dengan terburu-buru. Hatinya menghangat seketika. Namun tak berapa lama tubuhnya menegang saat melihat sebuah koper yang digeret wanita itu. Anak kecil itu juga baru menyadari jika kedua pipi wanita itu terbanjiri oleh air mata. "M-mama," panggil anak itu pelan membuat seorang wanita yang dia panggil dengan sebutan mama, menoleh ke arahnya. Namun tak berapa lama, si wanita langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Si anak laki-laki itu merasa ditolak kehadirannya. Dengan langkah lebar si anak laki-laki berlari mendekati mamanya. "Mama, mau pergi kemana? Raja ikut ya, Ma," ujar anak laki-laki kecil itu yang ternyata dia adalah Raja, Nagaraja. Raja langsung mencekal kaki mamanya. Dengan kesal dan masih dengan uraian air mata di kedua pipinya, wanita itu melepaskan tangannya Raja dari kakinya dengan paksa. "Lepas! Saya bukan Mama kamu," kata wanita itu tajam berusaha melepaskan cekalan tangan Raja. Raja menggeleng keras saat mendengar ucapan tersebut. "Enggak, Ma. Mama adalah Mamanya Raja. Mama nggak boleh ninggalin Raja. Raja mau ikut Mama," kukuh Raja yang kali ini mendekap erat kaki wanita itu. Terlihat helaaan napas dari si wanita. Namun tak berapa lama, terdengar sebuah suara seperti dua benda yang saling berbenturan keras. Plak! "SUDAH SAYA BILANG, SAYA BUKAN MAMA KAMU. APA KAMU TIDAK MENGERTI HAH?!" teriak wanita itu setelah menapar pipinya Raja sekali namun sangat keras. Bahkan saat ini masih terlihat sangat jelas warna merah dipipi sebelah kiri miliknya Raja. Raja diam mematung mendapat perlakuan yang seperti itu dari wanita yang dia anggap mama. "LAKSITA! DIAM KAU!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari lantai dua. Raja segera mendongak untuk melihat orang yang baru saja berteriak. Dilantai dua terlihat seorang pria muda yang terlihat sedang menahan emosi sembari menuruni anak tangga dengan langkah kakinya yang cepat. "P-papa," gumam Raja pelan. Terheran saat melihat tatapan penuh amarah dikedua mata papanya. "Ada apa? Apa yang aku ucapkan adalah fakta kan? Jadi aku tak perlu diam," balas wanita itu dengan nada santai. Raja terheran mendengar perkataan wanita itu. "Jangan pergi! Kesepakatan kita belum berakhir. Kau jangan ingkar. Tunggu Raja berusia dua belas tahun dulu. Itulah kesepatakan kita!" bentak papa terlihar sangat emosi. Raja bertambah bingung tak mengerti apa yang sedang kedua orang tuanya bicarakan. "Tidak! Aku batalkan kesepakatan kita! Aku tidak kuat menjalaninya. Dan itu semua karena kau! Kau tak jujur sejak awal akan dirimu yang sebenarnya!" sahut si wanita dengan lantang. "Karena itu adalah hakku! Kau tak ada hak untuk mengetahuinya," ujar papa dengan sangat tegas. "Tapi pada akhirnya aku tetap mengetahuinta, bukan? Kau sangat menyiksaku disini. Lepaskan aku dan kita akan menjadi dua orang yang tak saling kenal." "Tidak! Tugasmu belum selesai untuk merawat Raja." "Hahaha. Kau masih menganggapku pembantumu ya? Jika seperti itu akan lebih baik," ucap si wanita dengan nada pongah. "Namun kau malah menganggapku sebagai budakmu. Kau selalu menyuruhku ini dan itu. Kau bukan hanya menganggapku sebagai budakmu saja. Bahkan lebih dari itu. Aku juga korban pemer*kosaanmu. Bahkan kau tak mau bertanggung jawab akan kehamilanku!" "Itu karena hanya Rajalah yang aku anggap sebagai anakku sendiri," balas papanya Raja dengan nada yang sangat santai. "Kau! Alfin kau benar-benar breng*sek!" "Ya, aku mengakuinya Nona," balas papanya Raja dengan senyum miringnya yang terlihat sangat menakutkan. "Lebih baik lepaskan aku. Aku tak sudi tinggal lagi di neraka ini!" "Setelah kau menampar Raja, kau masih berani meminta untuk dilepaskan? Tentu saja tak semudah itu. Kau harus mendapatkan hukumanmu," kata papa langsung melesat pergi menuju wanita itu berada. Namun saat dua langkah lagi pria itu akan tiba didepan si wanita, Raja langsung mencegah papanya. Merentangkan kedua tangannya seolah sedang melindungi si wanita. "Pa, jangan sakiti, Mama," mohon Raja dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca. "Lihatlah! Dia bahkan sudi memohon padaku untuk melepaskanmu," kata papa langsung berdecih. "Raja, sini Sayang. Kamu tak perlu memohon untuknya. Dia hanyalah seonggak sampah yang tak berguna dan juga tak berperasaan. Dia sudah menamparmu tadi tapi kamu malah membantunya." "Itu karena dia adalah mamanya Raja" balas Raja cepat membuat kedua mata papanya membola. Bahkan tubuhnya menegang saat mendengar suara anaknya yang berkata dengan sangat lantang tanpa adanya keraguan. "Aku bukanlah mamamu!" Plak!" "LAKSITA!" Langsung saja papa menarik tangan wanita itu untuk dia bawa ke sebuah ruang bawah tanah yang ada dibawahnya tangga didalam rumah itu. Raja masih terdiam karena rasa sakit dipipinya. Kaki ini pipi sebelah kanannya. Raja hanya bisa terdiam melihat wanita yang dia anggap sebagai mama, sedang diseret oleh papanya ke ruang bawah tanah. "Berani-beraninya kau menampar anakku dengan tangan kotormu. Kau harus menerima akibatnya!" kata papa langsung menyeret wanita itu masuk ke dalam ruangan. Raja terhenyak segera berlari mengikuti papa namun pintu itu langsung tertutup sebelum Raja sampai. "Papa! Jangan sakiti mama. Papa, Raja mohon, Papa!" teriak Raja berkali-kali namun tak terdengar ada sahutan. Yang Raja dengar adalah suara teriakan dan jeritan wanita itu yang memohon ampun untuk berhenti dan dilepaskan. Raja tak tahu apa maksud dari kata berhenti itu. Yang bisa Raja lakukan adalah menangis kencang didepan pintu itu. Kembali lagi pada seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahum. Dirinya menghela napas saat teringat dengan masa lalunya yang suram. Meraih sebuah vapor listrik yang tergeletak disampingnya. Langsung dia sesap membuat uap api masuk ke dalam mulutnya. Dadanya terasa sangat berat. Hatinya pedih dan raganya terasa sangat lelah. Remaja itu sebenarnya tak menyukai papa kandungnya. Tak menyukai sikap papanya yang selalu mengaturnya. Apalagi saat mengetahui papanya adalah ketua gengster yang sangat ganas. Tapi dia bisa apa? Dia adalah anaknya, anak kandungnya. Pernah sekali dia kabur dari rumah namun papanya tetap bisa menemukannya dan langsung menghukum dirinya. Sejak saat itu, kepribadian dia yang sebenarnya adalah remaja yang baik berubah menjadi seorang remaja yang kejam dan bengis seperti papanya. Remaja itu meraih sebuah ponsel diatas nakas. Mencari kontak seseorang setelahnya menekan tombol telpon. Menunggu beberapa saat untuk mendapat balasan telponnya. "Halo?" sapa orang diseberang sana. "Halo, Bro. Bisa bantuin gue?" kata remaja itu. "Yaelah santai aja sama gue. Mau dibantuin apa?" "Lo tahu hacker yang ada di Indonesia? Seorang hacker jenius yang bisa meriset sebuah sistem pertahanan," ujar remaja itu yang tak lain adalah Raja. Terdengar hening diujung telepon membuat dahi Rama mengernyit tak terhentikan. "Jadi, gimana? Lo punya kenalan seorang hacker?" tanya Raja lagi dan langsung mendapat dehaman singkat dari si lawan. "Gue sebenarnya nggak punya relasi seorang hacker," ujar orang itu membuat Raja menghela napas dengan kasar. "Tapi, denger-denger ada gosip yang beredar kalo---" "Hoax," potong Raja cepat. "Bukan gitu. Gue denger nih ya, di SMA Angkasa Wijaya ada seorang hacker. Dia katanya sering berulah. Pertama kalinya muncul dipublik saat ada masalah sama pacar lo." "Queensha?" tanya Raja tak percaya. Pasalnya, kekasihnya yang cantik jelita itu hanya mengaku jika dirinya ingin pindah satu sekolah dengan Raja agar bisa bertemu dengan Raja setiap hari. Tidak diduga ternyata karena ulah seorang hacker. Menilik sifat Queensha yang tak pernah takut dengan siapapun, membuat Raja terheran dengan aksi si hacker terhadap Queensha. Apakah si hacker itu mengancam kekasinya yang tak pernah takut? "Ya iyalah, ogeb. Emang pacar lo yang mana lagi? Lo cuma punya satu pacar," cecar orang diujung sana dengan nada yang terkesan sangat kesal. "Terus lo tahu siapa orangnya?" tanya Raja bersemangat. "Nah itu dia masalahnya. Gue nggak tahu. Jangankan gue, anak SMA Angkasa Wijaya aja semua nggak tahu. Emang misterius banget ini orang." Raja terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana caranya mendapatkan hacker yang sedang mereka bicarakan itu. "Bro, gue percaya sama lo. Tolong bantu gue cari hacker itu. Kerja jeras lo bakal gue bayar berapapun yang lo mau." "Hehehe, gue suka nih cara lo. Oke, gue terima kerja sama lo!" balas orang itu bersemangat membuat Raja terkekeh senang. "Money is evryting, right?" tanya Raja kemudian terkekeh lagi. Dan rasa senangnya Raja itu ternyata menular ke lawan bicaranya. "Lo tenang aja. Gue bakal cari ide buat cari itu hacker. Gue jamin bakal ketemu. Dan kalaupun gue nggak bisa jalanin misi ini sendiri, gue bakal kasih rencananya ke elo. Gimana?" "Deal!" tanda Raja langsung. Kemudian mereka berbincang urusan lainnya yang menurut mereka jauh lebih menyenangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN