Didunia ini, manusia tak bisa memilih untuk terlahir sebagai orang baik atau menjadi orang jahat. Dan ketahuilah, sesungguhnya orang baik adalah seseorang yang tersakiti dimasa lalunya. Dirinya mulai bertindak kasar pada mulanya hanya ingin untuk melindungi diri sendiri. Namun siapa sangka, trauma akan rasa sakitnya membuatnya merubah diri menjadi orang jahat.
-Rama-
Disebuah momen, dimanapun dan kapanpun pasti ada keseimbangan. Dimana ada hal positif disitu pasti ada hal negatif yang menyertai. Bentuk dari hal positif dan negatif itu bermacam-macam. Jadi, jangan terlalu terkejut jika mengunjungi suatu tempat dan kamu menemukan hal negatif disana. Jangan risau, jangan resah, kamu pasti akan menemukan hal positifnya disana. Dan bahkan bisa saja kamulah hal positifnya dan kamu bisa membuat keseimbangan.
Namun kamu juga harus berhati-hati dengan susuatu hal yang kamu pikirkan baik saat pertama kali bertemu. Jangan langsung percaya tanpa penilaian, karena jaman sekarang banyak orang jahat yang berkedok baik saat didepan. Misal mereka murah senyum, suka menolong, atau bahkan mengaku jika dirinya tak memiliki perasaan dendam apapun.
Rama terdiam dikasurnya yang dingin. Tadi siang, kamarnya dia tutup rapat sedangkan dirinya tiduran di karpet berbulu. Sekelebat banyangan dari masa lalunya melintas dibenaknya. Membuat Rama mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Raca benci dan amarahnya berkorbar lagi.
-Sepuluh tahun yang lalu-
Saat itu, saat Rama berumur tujuh tahun, Rama sedang berangkat sekolah bersama Tika, adiknya untuk pertama kalinya. Karena jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, maka mama memperbolehkan mereka untuk naik ke dalam bis sekolah untuk menjemput mereka ke sekolah. Saat itu Rama dan Tika terlihat sangat senang sekali.
"Ma, Rama sekolah dulu sama Tika," pamit Rama kemudian menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru saat mendengar klakson bis sekolahnya yang sudah tiba. Sang mama yang baru mencuci piring, segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari kecil menuju Rama dan Tika berada. Tak lupa juga meraih dua buah tas diatas meja yang sudah dia isi dengan bekal kedua anaknya untuk makan siang.
"Iya. Selamat belajarnya Kakak, Adek," balas mama setelah memakaikan tas ke pundaknya Tika dan segera menyalami kedua anaknya.
"Tika sama Kakak berangkat dulu, Ma. Mama jangan kangen. Muaaacchh..." ujar Tika setelah mencium sebelah pipi mamanya membuat dia terkekeh senang.
"Iya iya. Sana berangkat. Keburu ditinggal bis."
Rama dan Tika mengangguk kemudian melambaikan tangannya. Setelah itu mereka berdua langsung berlari kecil keluar dari rumah. Tak lupa Rama menggenggam sebelah tangan adiknya. Kelakuan kedua anaknya membuat kedua sudut bibir sang ibu itu tertarik dengan perlahan. Mensyukuri karunia dari Tuhan karena telah mengirimkan dua malaikat kecil yang kini tengah tumbuh dengan baik.
Dibis, Rama dan Tika menatap penuh kagum pada kondisi bis sekolahnya itu. Mereka baru pertama kali ini menaiki bis sekolah dan hal itu membuat mereka sangat antusias. Ditambah lagi, banyak anak-anak seusia mereka yang sudah duduk rapi dikursinya masing-masing. Rama segera menarik tangan adiknya dengan pelan.
"Ayo duduk, Dek," ajak Rama mendapat anggukan dari Tika. Rama menarik tangan adiknya untuk segera duduk dikursi paling belakang karena kursi bagian depan sudah terisi semua. Karena satu kursi panjang berisi tiga tempat duduk, membuat kursi yang ada disebelahnya kirinya Rama kosong dan posisinya Tika ada disebelah kanannya, dekat dengan cendela.
Tak berapa lama bis menempuh perjalanan, tiba-tiba bis berhenti. Segera Rama menoleh ke luar cendela bis namum ternyata mereka belum sampai disekolah. Rama menebak pasti ada seorang anak yang akan memasuki bis mereka. Dan tebakan itu benar saat seorang anak laki-laki berseragam sama dengannya masuk dan langsung duduk disebelah kirinya. Rama melirik anak itu yang terlihat seperti anak baik.
"Hai, kenalin aku Rama," ujar Rama dengan nada ceria. Mengulurkan sebelah tangannya. Si anak yang diajak bicara oleh Rama itu menoleh dengan pandangan heran. Namun tak berapa lama dia mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar. Dia terlihat sangat senang.
"Salam kenal. Aku Brandon."
"Jadi nama kamu Brandon ya. Kamu kelas berapa Brandon?"
"Aku kelas satu D. Kalau kamu Rama."
"Aku kelas satu A. Aku kira kita satu kelas ternyata enggak."
"Nggak papa dong. Meskipun kita nggak satu kelas kita tetep bisa jadi teman." Rama megangguk senang saat mendengar perkataannya. Entah mengapa Rama sangat ingin berteman dengan Brandon. Rama yakin Brandon adalah anak yang sangat baik.
"Eh itu miniatur seri pertama ya? Wah keren. Aku mau beli juga tapi kehabisan," ujar Brandon senang saat melihat sebuah miniatur kecil berbentuk Naruto yang tergantung diresleting tasnya Rama. Rama menoleh dan mengambil miniaturnya. Memperlihatkan kepada Brandon.
"Iya, papa aku yang beliin. Katanya hadiah karena aku masuk kelas satu A," balas Rama ceria. "Papa bilang aku harus membawa miniatur ini setiap kali aku ke sekolah biar aku selalu semangat belajar. Dan aku sudah berjanji pada papa, aku nggak akan hilangin miniatur ini."
Brandon lantas berdecak kagum. "Wah kamu enak ya."
Rama hanya tertawa ringan. Setelahnya Rama menoleh ke arah Tika yang hanya duduk diam memperhatikan jalan. Rama tak tahu saja, disebelahnya Brandon tengah menatap kearah Rama dengan tatapan liciknya.
Saat bis sudah memasuki gedung sekolah, semua anak-anak turun satu persatu. Rama, Tika dan Brandon langsung berdiri berurutan. Tika berdiri didepannya Rama, kemudian dibelangnya Rama berdiri Brandon. Mereka semua keluar dengan sangat tertip. Sebelum mendekati pintu, tubuh Rama tersentak kedepan dan langsung menoleh kearah belakang.
"Maaf, Rama. Tadi ada orang lain yang dorong aku. Maaf ya," kata Brandon dengan raut wajah yang memelas. Mengetahui jika Brandon tak bersalah, lantas Rama tersenyum ceria.
"Iya, Brandon. Nggak papa kok."
Setelahnya mereka kembali berdiri mengantri lagi. Setelah turun, mereka berjalan bersisian dan akhirnya berpisah saat tiba didepan kelasnya Rama. Setelah Rama memasuki kelasnya dan Tika sudah pergi ke kelasnya sendiri yang masih Tk, Brandon tersenyum licik sembari melihat suatu benda yang ada digenggamannya.
Saat Rama akan membuka tasnya untuk mengambil peralatan belajar, Rama kaget saat tak melihat miniatur Narutonya diresleting tasnya. Hal itu membuat mood Rama hancur seketika. Rama menangis karena telah berjanji pada papanya dia akan menjaga miniatur itu. Tapi naas miniatur kecil itu telah hilang. Saat pulang sekolah, Rama bertemu dengan Brandon. Alangkah terkejutnya Rama saat melihat tasnya Brandon ada miniatur Naruto miliknya. Rama langsung memintanya untuk mengembalikan namun Brandon bilang jika miniatur itu adalah miliknya. Teman-temannya Brandon mengejek Rama pencuri. Padahal Brandonlah pencurinya. Karena tak ada orang lain yang membelanya, pada akhirnya Rama meninggalkan Brandon dengan kekecewaan. Rama kecewa dengan Brandon. Padahal Rama berniat ingin berteman dengan Brandon. Namun segera Rama urungkan. Sejak saat itu Rama berhati-hati dalam memilih teman.
***
Disebuah bukit yang tak terlalu tinggi namun tumbuh banyaknya pepohonan, berdirilah sebuah gedung yang sangat besar. Gedung itu merupan sebuah markas milik Gengster Screzer. Disana, sedang berkumpul orang-orang dari pemilik gedung itu. Mereka ini adalah sebuah geng yang sangat ditakuti oleh orang-orang dan selalu diburu oleh para polisi. Maka dari itu mereka membangun markasnya berada diatas bukit.
Sedikit latar belakang dari Geng Screzer. Geng Screzer adalah sebuah gengster terkuat yang ada di Jakarta. Merupakan gengster legend yang sudah terkenal sejak lama. Geng ini dibangun oleh seorang mafia berdarah dingin pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Karena dibangun oleh seorang mafia kelas atas, menjadikan geng ini wadah bagia para penjahat.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, sedang duduk disebuah kursi kebesarannya. Mungkin dia adalah ketuanya. Terlihat dari kursinya yang sangat megah dan besar. Apalagi saat menilik wajahnya yang terkesan sangat santai duduk dengan satu kaki yang disilangkan. Berbeda dari orang-orang lainnya. Yang duduk dengan tegap tegang dan gelisah dengan mimik wajah yang terlihat tak tenang.
Jika kalian menebak jika Geng Screzer adalah geng untuk anak-anak remaja usia SMA maka kalian salah besar. Geng Screzer adalah geng khusus ornag dewasa yang terdiri dari penjahat kelas atas. Geng itu diketui oleh Pak Alfian Mahendrajaya. Seorang mafia yang mewarisi gen ayahnya, yang merupakan mantan mafia kelas atas didunia. Tapi sayang ayahnya Pak Alfian meninggal karena tertembak tepat dijantungnya saat dirinya akan merampas sebuah bank internasional. Dan satu fakta yang harus kalian tahu, bahwasanya Pak Alfian sang ketua Geng Screzer itu adalah ayah kandung dari Raja, Nagaraja, mantannya Sinta.
Saat ini terlihat mereka tengah rapat penting. Ada sebuah proyektor yang menampilkan sebuah gambar bank yang terkenal kaya dan tentu sangat terkenal diantara pembisnis sukses di Indonesia. Pak Alfian terlihat tengah mengetuk-etukkan jarinya diatas meja rapat. Hal itu membuat semua pasang mata menatap kearahnya penuh dengan ketakutan karena sejak lima menit yang lalu Pak Alfian tidak berbicara sepatah katapun.
"Jadi, siapa yang memiliki sebuah rencana brilian?" tanya Pak Alfian dengan nada rendah namun tetap terdengar oleh semua peserta rapat yang sangat banyak. Tentu saja mereka mendengarnya, karena suasana didalam ruangan itu sangat hening. Mereka semua tak berani berucap atau membuat keributan disaat sang ketua tengah duduk diam saat berlangsungnya rapat. Tak ada seorangpun yang merespon pertanyaannya Pak Alfian karena mereka tak mengetahui rencana apa yang dimaksud oleh Pak Alfian.
Brak!
"Apa aku harus menembak telinga kalian itu agar berfungsi, huh?!" Sentak Pak Alfian merasa kesal karena tak ada satu orangpun yang menanggapi pertanyaannya.
"P-papa. Apa maksud rencana brilian itu? Apa Papa mempunyai hal terselubung?" tanya Raja, anaknya ingin meredam emosi papanya itu. Pak Alfian menoleh ke arah kanannya. Disana duduklah Raja dengan raut wajah yang dia buat sesantai mungkin. Padahal sebenarnta dia juga takut dengan papanya sendiri.
Pak Alfian mengembuskan napasnya sekali lagi. Kemudian berdiri dari duduknya. Langsung melipat kedua tangannya didepan d**a. "Aku memiliki satu proyek. Kita akan membobol bank kaya raya."
"Maksud Papa, apakah bank yang itu?" tanya Raja sembari menunjuk sebuah proyektor yang menampilkan sebuah bank megah dan besar. Hal itu membuat Pak Alfian mengangguk mantap.
"Ya, benar. Arilo Bank. Bank nasional yang sangat kaya. Bahkan kekayaannya menduduki peringkat pertama."
Semua orang memandang kagum pada Pak Alfian yang telah menerangkan itu. Terlihat wajah-wajah yang sangat bersemangat. Karena mereka semua sudah tak sabar menantikan momen yang sangat mereka sukai, yaitu mencuri harta orang lain. Mereka ini adalah sekumpulan orang-orang yang telah dibutakan dengan harta. Jadi tak heran jika mereka merencanakan pembobolan bank ini.
"Tapi bagaimana caranya, Pa? Apakah kita akan bertindak langsung di bank itu? Tapi Raja kira pasti mereka memiliki standar keamanan yang tinggi. Bisa saja mereka menyewa tim keamanan khusus dari negara tetangga. Melihat bank itu adalah bank yang sangat kaya."
Pak Alfian segera mendudukan tubuhnya lagi. Kedua tangannya terlihat sedang merapikan kerah lehernya dan juga membenarkan sebuah dasi yang menggantung dilehernya. Setelah itu Pak Alfian mengambil sebuah remot untuk mengontrol protektor dari jarak jauh. Sekali tekan tombol diremot itu, tampilan proyektor langsung berganti.
"Papa sudah menganalisis Arilo Bank selama bertahun-tahun lamanya. Papa juga sudah menyiapkan rencana yang sempurna. Hanya saja ada satu kekurangannya."
"Arilo Bank, menyimpan uang sampai 100 triliun. Dan kita harus merampas uang itu. Rencana kita adalah kita akan menyusup ke dalam bank itu secara perlahan. Namun apa yang dikatakan Raja memang benar. Arilo Bank memiliki keamaan yang tinggi. Dan untung saja itu hanya dengan mamasang beberapa cctv pengawas dan tak ada tim khusus untuk menjaga bank itu," jabar Pak Alfian membuat semua orang mengangguk mendengar penjelasannya. Tapi dahi mereka kompak mengernyit saat melihat Pak Alfian yang menghela napas berat. Sepertinya rencana Pak Alfian ini belum sempurna dan memiliki satu masalah.
"Yang menjadi kendalanya adalah satu, pintu brankas di bank itu bukanlah pintu brankas biasa. Brankas disana memiliki keamanan yang diatur lewat teknologi yang sangat canggih," kata Pak Alfian membuat semua pasang mata terkejut melihat kearah. Sudah dipastikan rencana mereka tidak berhasil.
"Berhubung rencana ini sudah aku susun selama bertahun-tahun, aku tak rela jika rencana ini buntu ataupun gagal."
"Maka dari itu kita membutuhkan seorang hacker. Seorang hacker jenius yang bisa meretas keamanan sistem brankas itu."
Semua orang yang ada disana terdiam. Begitu pula dengan Pak Alfian. Dirinya terlihat sedang berpikir keras. "Aku menyuruh kalian semua untuk mencari seorang hacker jenius. Hacker jenius yang mau diajak bekerja sama dengan kita dan bisa merahasiakan rencana ini dari orang lain."
"Dan satu, perhatikan langkah kalian. Jangan sampai polisi mengetahui keberadaan kita. Kita harus bertindak tenang seperti air danau," nasehat Pak Alfian kepada seluruh anggota Geng Screzer.
"Baik Bos!" koar semua anggota berkata dengan mantap. Pak Alfian mengangguk melihat respon dari anak buahnya. Kemudian Pak Alfian bangkit dari posisi duduknya.
"Rencana ini akan kita lanjutkan setelah kita mendapatkan hacker yang pantas untuk kita ajak bekerja sama. Memang banyak hacker di Indonesia. Tapi yang kita perlukan adalah seorang hacker yang tidak gegabah dan sangat teliti dalam bekerja. Cukup itu saja yang kita bahas untuk hari ini. Rapat selesai!" kata Pak Alfian keras langsung pergi melangkah keluar dari ruang rapat diikuti oleh Raja.
Dengan langkah lebar, Raja berjalan mendekati Pak Alfian yang hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Mengetahui Raja sudah ada disebelahnya, Pak Alfian menoleh singkat.
"Kamu masih berhubungan dengan gadis itu?" tanya Pak Alfian tiba-tiba membuat Raja menoleh terkejut kearah papanya. Namun sesegera mungkin dia mengatur ekspresi wajahnya kembali.
"Sudah tidak, Pa. Terakhir aku berbicara dengannya adalah dua bulan yang lalu saat peristiwa itu," balas Raja dengan nada yang rendah.
"Bagus. Itu yang Papa inginkan. Jangan buang-buang waktu lagi dengan dirinya. Ingatlah kamu sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi kalian akan bertunangan. Ayahnya dia sudah menagih tanggal bertunangan kalian."
"Tenang saja, Pa. Raja pastikan dia tak akan mengganggu dan berbicara dengan Raja lagi."
Kaliamat yang dikatakan dengan sangat mantap itu berhasil membuat Pak Alfian menganggukan kepalanya. Merasa cukup puas dengan apa yang telah anak laki-lakinya itu lakukan. Saat mereka sudah sampai diluar gedung, dengan cepat sepasang ayah dan anak itu segera masuk ke dalam mobil Ferrari. Dan tak berapa lama mobil itu melesat pergi meninggalkan markas Geng Screzer.