Orang yang tulus mencintai, tentu kau tak akan mau membahayakannya. Kamu akan melindunginya lebih dari hidupmu sendiri. Maka tak jarang jika seseorang mengatakan kamu adalah orang bodoh, karena sebenarnya mereka tak melihat ketulusan cintamu. Dan kamu seharusnya membiarkan saja. Yang perlu kamu ingat adalah, orang yang kamu cintai, harus tahu ketulusan cintamu.
-Rama-
"Astaga!"
"Emang norak banget ini cewek," gumam Rama pelan tak diindahkan oleh Sinta.
Beberapa saat setelahnya, kini mereka berdua kembali hening dengan raut wajah yang bertolak belakang. Rama semakin menatap Sinta yang tengah menatap kagum pada beberapa makanan yang disusun diatas meja oleh seorang pelayan laki-laki tadi. Dengan semangat yang membara, Sinta mengulurkan tangannya mengambil sepasang garpu dan sendok. Namun sebelum tangannya dia tarik, Rama langsung merebut dua benda itu dari tangannya Sinta.
"Nggak pakai sendok garpu," kata Rama setelah meletakkan kembali dua benda itu ke tempat semula. Sinta mengernyit menatap Rama. Namun Rama tetap cuek saja. Menarik tangannya Sinta pelan dan dia tuntun untuk berendam disebuah wadah kecil berisi air bersih.
"Tangan lo halus ya, Sin," ujar Rama tiba-tiba sembari mengelus pelan punggung tangannya Sinta. Seketika itu juga Sinta tersadar jika Rama tengah mencuci tangannya. Sinta menarik tangannya sendiri membuat Rama sedikit terciprat diarea wajahnya.
"Agre*sif banget dah," cibir Rama yang mendapat cibiran juga dari Sinta. Setelahnya, Sinta menatap polos pada makanan yang ada didepan mata. Beberapa makanan itu diletakkan diatas piring namun terbuat dari tanah liat. Dan alasnya diberi daun pisang.
"Yang ini namanya apa?" Tunjuk Sinta pada salah satu makanan yang terhidang diatas meja. Dipiring yang ditunjuk Sinta itu terdapat sebuah nasi bewarna kuning dengan tambahan lauk pauk lainnya.
"Oh itu namanya nasi kuning. Bahasa jawabanya sega kuning. Lauknya ada beragam. Yang itu namanya telur dadar, yang sampingnya itu abon sapi, sampingnya lagi ada asem-asem iga, terus yang ini nih namanya kering tempe dicapur ikan teri," jelas Rama panjang membuat Sinta mengangguk mengerti.
"Terus yang dielo itu namanya apa?"
"Kalo yang ini," kata Rama menunjuk piring yang ada didepannya. "Namanya gudeg spesial khas Yogyakarta."
"Hah? Yogyakarta?" Jogja maksud elo?"
"Iya Jogja. Masa gitu aja nggak tahu."
"Ya gue tahunya Jogja. Itupun dari oleh-oleh kaos yang papa bawa dari sana."
"Dasar! Lo perlu belajar tentang budaya-budaya yang ada di Indonesia," peringat Rama membuat Sinta menundukkan kepalanya.
"Lagian kalo lo mau belajar soal budaya Jawa, nggak bakal susah kok. Lo pasti merasa bangga saat mengetahui beragamnya budaya Jawa."
Sinta hanya mengangguk kemudian melirik ke arah Rama. "Terus sejak kapan lo tertarik sama budaya Jawa?"
"Sejak gue masih kecil."
"Lo asli suku Jawa ya?"
"Bukan. Dari keluarga gue, cuma nenek sama kakek dari pihak papa yang asli suku Jawa. Tapi mereka nggak tinggal disini. Gue mulai belajar budaya Jawa saat gue tahu nama Ramawijaya itu diambil dari nama wayang disebuah kisah mahabarata. Dan itu buat gue kagum dengan wayang sampai akhirnya gue mempelahari kisah mahabarata dan tanpa sadar gue nanamin budaya Jawa di kehidupan gue."
"Maksud lo nanamin budaya Jawa?"
"Ya gue jadi sering nontonan wayang, suka makanan Jawa, suka sama kebiasaan orang-orang Jawa yang sopan santun. Ya gitulah."
Sinta terlihat akan bertanya lebih dalam lagi namun segera dicegah oleh Rama. "Sshhtt. Udah udah, makan tuh."
Pada akhirnya Rama dan Sinta makan dalam diam. Sinta terlihat sangat menyukai nasi kuning spesial itu. Ini adalah kali pertamanya Sinta memakan itu. Melihat raut wajahnya Sinta Rama tersenyum diam-diam Rama tak menyesali pilihannya untuk mengajak Sinta pergi diluar.
***
Saat ini mereka berdua tengah duduk bersisian disebuah lapangan yang telah disulap menjadi sangat bagus. Ditengah lapangan ada panggung yang berukuran tak terlalu besar. Sedangkan penonton duduk dikursi yang ditata berjajar. Rama memilih untuk duduk dibagian tengah. Saat lampu sudah dimatikan dan suara gamelan terdengar saat itulah Sinta bersorak riang.
"Wow! Keren!" seru Sinta senang mendapat pelototan tajam dari Rama.
"Diam, Sin. Lo mau didepak dari sini dan nggak bisa lihat pertunjukan lagi?"
"E-enggak. Enggak mau."
"Makanya diam."
"Iya iya. Gue diam."
Pertunjukanpun akhirnya dimulai. Terlihat seorang wanita berpakaian adat Jawa mulai memasuki panggung dengan gerakan tarian yang lemah gemulai. Bahkan Sinta terkagum dengan gerakannya yang terlihat sangat bagus dan mengalir.
Wanita si penari itu menari dengan pola yang berbeda-beda. Tunggu, dahi Sinta mengernyit saat menangkap gerakan si wanita yang ada diatas panggung itu. Sinta menangkap gerakan itu seperti suatu pertanda mengabadikan dirinya sendiri. Jadi setiap gerakan itu ada maknanya sendiri dan berurutan seperti membentuk suatu cerita.
Hingga tak lama kemudian seorang pria berpakaian adat Jawa dengan sebuah mahkota memasuki panggung. Kemudian sepasang penari itu menari secara bersama-sama dengan pola yang bergantian seolah saling mengisi. Rama yang melihat Sinta menatap kagum pada si penari membuat kedua sudut bibirnya tertarik perlahan.
"Mereka itu adalah sepasang suami istri yang gue bilang tadi di kisah mahabarata," kata Rama kemudian menunjuk penari pria. "Yang itu namanya Ramawijaya."
Sinta mengangguk antusias. Mendengarkan penjelasan dari Rama. Kemudian Rama menggeser jarinya menjadi menunjuk penari wanita. "Kalo yang itu namanya---"
"Bidadari!" seru Sinta memotong perkataannya Rama. "Karena dia menari dengan anggun dan lemah lembut. Terlebih lagi dia itu cantik. Kayak gue hehehe."
"Bukan ogeb!" maki Rama kesal. "Dalam kisah mahabarata, raja Ramawijaya menikah dengan wanita yang dia cinta."
Rama langsung menoleh cepat ke arah Sinta. Membuat Sinta juga ikut menoleh ke arahnya karena merasa heran mengapa tiba-tiba Rama melihat kearahnya. "K-kenapa lihatin gue?"
"Dan istrinya raja Ramawijaya bernama Dewi Sinta," kata Rama setelahnya membuat kedua bola mata Sinta melebar.
Bukan karena terkejut dengan perkataannya Rama, tapi dengan tatapanya Rama. Sinta merasa jika tatapannya Rama saat melihat ke arahnya berubah menjadi lembut dan menyanyu. Tanpa Sinta duga, Rama mendekatkan wajahnya kearahnya. Membuat jarak diantara mereka mengecil. Saat Sinta akan menggeser wajahnya ke belakang, Rama langsung menahan lengannya Sinta.
"Lo mau nggak, Sin, kisah cinta lo sama kayak kisah mahabarata?" ujar Rama dengan nada yang rendah namun berhasil membuat jantung Sinta berdetak sangat kencang. "Elo Sinta dan gue Rama. Kita pada akhirnya menikah. Tapi gue nggak mau nikah muda, jadi kita bisa pacaran dulu."
Dan perkataan Rama yang bisa dibilang pernyataan cintanya itu berakhir dengan tanpa ada balasan dari Sinta karena Sinta hanya terdiam mematung saja. Dan dengan gerakan canggung Sinta menggeser duduknya dan menarik lengannya dan langsung dia lipat didepan d**a.
***
Suara kicauan burung mengiringi acara berdiam dirinya Rama dibalkon kamarnya. Entah mengapa sejak tadi jam lima, Rama sudah duduk dengan sebungkus besar permen karet. Mulutnya terlihat sedang menguyah permen karet sedangkan kedua matanya terlihat memandang ke arah rumah burung beo milik papanya. Saat tanpa sengaja kedua matanya menutup, sekelebat bayangan tentang kejadian tadi malam terlintas dibenaknya. Membuat Rama mengerang frustasi.
"Aarrghhh! Kenapa gue sok cool njir!" umpat Rama meremas rambutnya sendiri teringat momen saat dirinya mengajak Sinta pacaran.
Namun Sinta tak membalasnya sama sekali. Bahkan setelah mereka nonton, Sinta masih diam saja. Membuat suasana mendadak menjadi canggung. Dan saat Sinta sudah turun dari motornya Rama dengan terburu-buru Sinta langsung masuk ke dalam rumahnya. Padahal Rama mau meminta maaf dan Sinta tidak perlu memikirkan ucapannya tadi.
"Segala ngajak pacaran. Deket aja barusan. Dasar mulut, nggak bisa sopan dikit apa," gerutu Rama menampar pelan bibirnya sendiri.
Pagi-pagi ini papa dan mamanya entah pergi kemana, yang jelas mereka pasti pergi ke suatu tempat untuk berkumpul dengan teman-temannya. Rama mendesah pelan saat menyadari dirinya tak memiliki jadwal hari ini, dihari Minggu. Ingat soal permintaan mamanya? Mamanya Rama pernah meminta Rama untuk pergi ke tempat les yang direkomendadikan langsung oleh mamanya. Yang mana tempat les ini adalah teman mamanya sendiri. Setelah dipikir dengan sangat matang, Rama memilih untuk mundur dari jadwal lesnya. Dan akan berbicara dengan pelan ke mamanya.
Sudah Rama bulatkan tekadnya, Rama akan menekuni hobinya satu itu. Ya, meretas. Rama sangat ingin meretas dengan kualitas yang tinggi. Rama yakin, suatu hari hobinya itu akan bermanfaat untuk orang lain. Namun sebelum memberikan manfaat untuk orang lain, terlebih dahulu Rama harus belajar dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang dia dapat tentang dunia hacking benar-benar menyerap dengan matang diotaknya.
"Ya, pilihan gue nggak salah. Gue punya hobi, dan gue pantes nekuni hobi gue buat kesuksesan gue dimasa yang akan datang," gumam Rama kemudian beranjak dari tempat duduknya. Kini kedua tangannya memegang pagar balkon yang terbuat dari stainles. Menyangga tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya itu.
Mendongak ke atas langit yang mulai berganti warnanya menjadi biru muda. "GUE PENGEN BEBAS!" teriak Rama menggelegar dikebun anggur belakang rumahnya.
Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari arah kamar. Buru-buru Rama masuk ke dalam kamarnya dan tak berapa lama alisnya mengernyit saat melihat sebuah nama seseorang. Dengan sekali tekan, telponpun terangkat.
"Halo?" sapa Rama terlihat santai.
"Halo, Rama," kata orang itu dan langsung mendapat balasan berupa dehaman pelan dari Rama.
"Kenapa lo? Tumben pagi-pagi gini nelpon gue? Mau ngapelin gue lo?" seloroh Rama kemudian memainkan robot kecilnya ditangan kiri.
"Ye enak aja lo! Gue mau ajak lo pergi nih."
"Nah kan! Lo itu nelpon gue maunya cuma berduaan sama gue. Nggak bilang ngapel tapi mau ngajak gue ngedate hahaha," gelagar Rama membahana disetiap sudut kamarnya yang minimalis.
"Bukan gitu anjir. Gue mau kasih---"
"Jajanin gue dong, Nay. Baru gue mau," seloroh Rama membuat Naya lansung mengumpat tertahan diujung telepon.
"Heh! Sadar diri lo! Elo tuh anak sultan. Malah malakin gue. Seharusnya gue yang malakin elo," protes Naya tak setuju.
"Iya deh iya. Gue jajani elo. Tapi ingat bukan ngedate ya. Cuma jajan."
"Iya iya cerewet lo. Tapi jangan ajak temen yang lain apalagi Sinta, okey."
"Lah kenapa sih?"
"Karena ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo."
"Soal apa?" Alis Rama terangkat tinggi. Karena sangat jarang Naya meminta bertemu diluar sekolah tanpa adanya Dewa dan Nakula.
"Soal cincin," balas Naya cepat langsung membuat Rama duduk dengan tegak.
"Oke Nay. Entar jam sembilan di Star*buck aja. Gue jajanin. Udah ye gue mandi dulu. Dadah Naya, jangan kangen sama Bang Rama," kata Rama cepat diakhir dengan kekehan ciri khasnya.
"Heh, kalo jam sembilan gue masih---"
Tut!
Dengan kurang ajarnya, Rama langsung mematikan sambungan telepon itu. Dengan langkah lebarnya Rama langsung masuk ke dalam mandi setelah tangannya meraih handuk dibelakang pintu. Untuk masalah satu itu Rama tak bisa memandangnya dengan sebelah mata. Ya, masalah tentang sebuah cincin. Cincin yang belum diketahui oleh banyak orang. Dan hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Dan itu hanya diketahui oleh Rama dan Naya. Hanya mereka berdua.
***
"Ram, gue udah nggak bisa," kata Naya dengan raut wajah yang memelas membuat Rama menatapnya heran.
"Nggak bisa apa?"
"Megang cincin lo lagi," balas Naya cepat kemudian mengambil sekotak cincin langsung dia sodorkan kehadapannya Rama. Rama menghela napas berat kemudian mengeluarkan cincin itu. Terlihat sebuah ukiran nama. Dan itu adalah namanya Rama.
"Kenapa, Nay? Lo nggak kuat nyimpen cincin gue lagi, kenapa?"
"Sinta. Sinta udah tahu Ram. Kemarin waktu dia main ke rumah gue, Sinta nggak sengaja nemuin cincin itu dimeja gue. Gue nggak mau bikin Sinta salah paham terlalu jauh. Gue bakal merasa bersalah banget kalo hal yang gue takutin terjadi nanti."
Rama diam termenung. Namun tak berapa saat kemudian Rama mengangguk pelan lansung memasukkan cincin berserta kotaknya itu ke dalam saku hooddienya. "Oke, Nay. Gue paham. Thanks ya Nay. Selama ini lo udah mau nyimpen cincin ini."
"Tenang aja Rama. Sesuai kesepakatan kita berdua kan. Yang penting nggak ada orang lain yang tahu soal cincin itu kecuali elo dan gue," balas Naya kemudian terkekeh senang. Hal itu membuat Rama ikut terkekeh. Tak sampai dua menit, Rama langsung berdiri dan menyodorkan sebelah tangannya ke hadapannya Naya.
"Ngapain?" tanya Naya tak mengerti. Rama berdecak kesal saat mengerti bahwasanya Naya tak mengetahui dengan kode darinya.
"Ck, gue mau anterin lo pulang. Ayo pulang," kata Rama lagi kembali menyodorkan sebelah tangannya. Naya mendengus langsung berdiri dan menampar tangannya Rama itu.
"Ck, masih aja berani gombalin gue lo. Awas aja lo, Ram," kata Naya berbisik pelan langsung berjalan keluar meninggalkan Rama yang berdecak tak menyukai sikapnya Naya itu.
"Woi! Naya tungguin gue! Naya gue sumpahin lo---"
"Apa? Berani lo sama gue. Gue beberin juga rahasia lo ke temen-temen kelas," ancam Naya setelah membalikkan tubuhnya.
"Heh! Jangan!"
Rama langsung mengejar Naya yang tetap cuek berjalan pergi meninggalkan Rama. Mereka tak tahu saja jika ada seseorang dibelakang mereka yang sudah mendengar percakapan rahasia mereka sejak tadi. Orang itu duduk membelakangi Rama dan Naya dan duduk tepat dibelakang mereka.
"Jadi benar, kalo cincin itu adalah cincin pertunangan?" gumam orang itu yang masih terduduk ditempatnya.
"Jadi, Rama sama Naya udah tunangan."
Orang itu terlihat seperti kecewa. Sangat kecewa apalagi mengingat kejadian tadi malam saat dilapangan. Saat itu dirinya sedang menonton sebuah pertunjukan wayang orang bersama Rama. Ya, orang yang sedari tadi diam-diam mendengar pembicaraannya Rama dan Naya adalah Sinta.
"Dasar Rama buaya. Baru tadi malam ngajak gue jalan. Sekarang dia malah ngajak jalan cewek lain. Mirisnya kenapa harus sahabat gue sendiri? Aarrgghh!"