Usaha Mendapatkannya

1532 Kata
Berusaha keraslah sampai orang yang kamu cintai sadar, jika kamu sedang berusaha untuk menjadikannya ratu dikerajaanmu. -Rama- Pagi-pagi, entah mengapa Rama merasa gundah gulana. Dengan posisi tidur terlentang sembari menatap ke arah langit-langit, Rama terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tadi, setelah menunaikan ibadah solat subuhnya, Rama merapikan tempat tidurnya sendiri. Namun saat teringat jika hari ini adalah hari sabtu dan sekolah libur, Rama langsung melompat ke kasurnya lagi. Entah mengapa itu merupakan kabar yang buruk baginya dipagi hari mengetahui hari ini sekolah libur. Mungkin untuk sebagian orang, diusia tujuh belas tahun tanpa adanya seorang kekasih adalah hal yang lumprah. Namun berbeda dengan Rama. Rama sangat ingin memiliki kekasih semasa sekolahnya ini. Namun naas kisah percintaannya saat kelas sepuluh berakhir kandas karena tidak adanya restu dari orang tuanya Laras. Dan untuk tahun kedua ini, Rama ingin memiliki kisah cinta yang mulus tanpa halangan dengan Sinta. Memang benar, bahwa sejak kehadirannya Sinta dikelasnya, Rama sedikit berubah. Dirinya semakin bersemangat untuk sekolah. Dan entah sejak kapan rasa cinta itu hadir di hatinya. Yang pasti, Rama ingin sesegera mungkin menjadikan Sinta kekasihnya. Namun didunia ini tak ada seorangpun yang memiliki masalah, begitu pula dengan kisah cintanya Rama. Meskipun berbeda, masalah cintanya Rama kali ini adalah Sinta sendiri. Yaitu, Sinta yang membenci seorang hacker. "Andai gue nggak jatuh cinta sama Sinta," gumam Rama pelan sembari memandang kosong langit-langit kamarnya. "Pasti pagi ini gue udah ngapel dirumahnya." "Heh? Kenapa gue nyalahin Sinta? Sinta kan nggak salah. Tapi hati gue juga nggak salah? Ini tuh salahnya skenario hidup. Ck, hidup gue gini amat," kata Rama yang berakhir cibiran bibir. Memainkan sebuah mainan robot kecil ditangannya, Rama masih berpikir bagaimana cara mengobati rasa gundah dihatinya. Saat teringat sesuatu, Rama segera melempar mainan robotnya ke sembarang tempat dan meraih ponsel diatas nakas disamping tempat tidurnya. Dengan posisi yang masih tiduran, Rama mulai mengetikkan beberapa kata dikolom pencarian. "Ajak ngedate cewek yang lo suka?" ucap Rama setelah membaca barisan pertama dilayar ponselnya. Setelah memikirkan kalimat tersebut berkali-kali Rama segera bangun dari posisi menjadi duduk. "Ajak ngedate kemana ya enaknya? Mall mewah? Hotal bintang lima? Pantai private? Bagus semua sih pilihannya. Tapi masalahnya gue nggak ada duwit anj*ir." "Ngedate mumer tapi berkesan dimana? Coba cari lagi dah." "Tapi apaan?! Hah, nguras emosi juga ternyata kalo mau ajak cewek main keluar." "Sinta, Sinta, Sinta, Sinta, Sinta," ujar Rama diulang-ulang sampai pada akhirnya Rama menemukan sebuah ide. "Sinta kan tokoh wayang di budaya Jawa. Pasangannya Sinta itu Rama. Nah, kenapa gue nggak ajak dia aja pergi ke tempat berkonsep Jawa. Sinta pasti suka tuh. Kelihatannya aja dia orang kota banget. Iya bener, gue ambil konsep Jawa aja," kata Rama bersemangat langsung mencari tempat yang cocok sesuai dengan konsepnya yang akan dia kunjungi nanti. Setelah sekian lama dirinya mencari akhirnya Rama menemukan satu tempat restoran yang menurutnya bagus. Meskipun semua tempat yang direkomendasikan bagus-bagus, Rama hanya ingin mencari tempat yang dekat. Dan dia sudah menemukan satu. Apalagi nanti malam disebuah lapangan kota didekat restoran itu akan ada sebuah pertunjukan atau dalam bahasa Jawanya adalah pagelaran wayang orang. "Tempat udah beres. Acaranya juga udah beres. Jadi, gue cuma perlu ajak Sinta buat main pergi sampai nanti malam. Oke sip rencana udah mateng. Sekarang gue telpon aja Sinta." Rama segera mencari kontaknya Sinta ingin menghubunginya. Namun sebelum jarinya memencet nomornya Sinta, Rama malah mengurungkan niatnya itu. "Daripada nelpon, mending gue video call aja deh. Itung-itung buat ngobatin rasa rindu. a***y rindu hahaha." Setelah membenarkan tempat tidur dan penampilannya, Rama segera menekan ikon video call dilayar ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat sebuah tulisan berdering yang artinya Sinta sedang online. Dan benar saja tak lama kemudian video call-nya diangkat oleh Sinta. "Hm, apaan?" tanya Sinta dengan wajah bosannya. Saat ini dirinya sedang mengeringkan rambutnya. Terlihat Sinta yang memakai pakaian santainya. Mungkin saja Sinta baru selesai mandi. Tanpa sadar Rama tersenyum melihat raut wajah bosannya Sinta. "Apaan sih? Kalo cuma iseng gue matiin," ancam Sinta membuat Rama menggaruk tengkuknya. "Anu, Sin. E-entar lo---" "Apa sih. Ngomong aja gugup. Kayak ngomong sama crush aja," cibir Sinta yang masih fokus dengan rambutnya. Karena tak melihat kearah ponsel, Sinta tak mengetahui raut wajahnya Rama yang terkejut. Sedangkan disini, Rama sedang berusaha untuk merubah raut wajahnya menjadi santai. "Ya gimana nggak gugup. Gue kan emang lagi ngomong sama crush gue," gumam Rama sangat pelan takut kedengaran oleh Sinta. "Apa? Lo ngomong apa barusan?" "Enggak enggak. Eh Sinta, lo entar sore ada acara enggak?" "Enggak deh kayaknya. Kenapa?" "Ngedate yok!" balas Rama bersemangat membuat Sinta yang diujung sana kaget mendengarnya. Bukan karena Rama berteriak tapi karena kalimat yang Rama ucapkan. "H-hah? Ng-ngedate? Gimana konsepnya Mas?" tanya Sinta pura-pura tak tahu. Rama sontak menampar bibirnya dan berdeham singkat. "Anu, kita keluar yok. Gue ada restoran rekomended nih. Lo pasti suka. Sekalian entar malem disana juga ada pertunjukan wayang orang. Lo belum lihat wayang kan?" "Belum sih. Ya udah deh mau. Eh sampai malem?" "Iyalah sampai malem. Mungkin jam sepuluhan udah sampai rumah." "Kok sampai malem sih? Entar kalo gue dimarahin papa gimana?" "Ya elah Sin, sekali-kalilah keluar malem. Sekalian malam mingguan gitu. Kalo lo ijin ke bokap lo baik-baik, pasti dibolehin. Gue jamin." "Ya udah deh. Gue ijin ke papa dulu. Kalo boleh entar gue kabari elo lagi." "Yes! Ya udah Sin, gue matiin dulu. See you, Sinta!" "Iya iya. See you." Tut! Setelah video call berakhir, Rama langsung meloncat-loncat dikasurnya membuat suara gaduh. Hatinya sangat merasa senang. Akhirnya momen yang dia tunggu-tunggu kesampaian juga. Sebenarnya Rama sudah menunggu momen ini sedari lama. Hanya saja kemarin-kemarin dirinya sedang dilanda banyak masalah membuatnya tak sempat mengajak Sinta jalan berdua. "Mau bilang Cinta bukan Sinta tapi takut entar dianya ngamuk," kata Rama kemudian menghela napas berat. "Gini banget rasanya jadi jomblo." *** Saat ini, pukul setengah lima sore, Rama dan Sinta sampai disebuah restoran berkonsep budaya Jawa. Saat tiba ditempat parkir, Sinta sudah menatap takjub pada tempat ini. Saat didepan, Sinta melihat restoran itu berdiri megah dengan bentuk bangunan yang aukentik. Restoran itu berbentuk seperti rumah Joglo, namun sangat luas. Didepan bangunan Sinta bisa melihat sebuah papan besar bertuliskan Waroengkoe. "Wah keren banget," seru Sinta seperti anak kecil. Pupil matanya bahkan berbinar saat menatap restoran didepannya. Rama tersenyum melihat wajah cerahnya Sinta. Menarik tangannya Sinta pelan. "Yuk masuk," ajak Rama dan Sinta hanya menurut saat tangannya ditarik pelan oleh Rama. Sepertinya Sinta tidak sadar. Jika dirinya sadar pasti tak akan mau atau langsung marah saat Rama menarik tangannya. Apalagi ini ditempat umum. Setelah mencari tempat duduk untuk dua orang dan memesan makanannya, kini Rama dan Sinta sedang duduk menunggu. Rama membalas pesan Dewa yang mengajaknya untuk main ke rumahnya Nakula namun Rama segera menolaknya karena dirinya saat ini tengah pergi keluar bersama Sinta. Dewa tak percaya dan menyuruh Rama untuk membuktikannya. "Hah, bikin emosi aja. Sin, ijin foto," kata Rama tiba-tiba membuat Sinta menoleh dengan tatapan heran. "Foto apa---" Crek! Sinta langsung melotot saat melihat Rama yang memotret dirinya. Jika tahu yang Rama maksud adalah dirinya, Sinta pasti akan menolaknya. "Rama! Lo nggak bilang kalo---" "Gue udah ijin ya. Udah ah diem. Gue foto lo cuma buat bukti ke Dewa." "Bukti apaan?" "Bukti kalo gue lagi keluar sama lo. Masalahnya Dewa ngajak gue pergi." "Kemana?" tanya Sinta seperti seorang kekasih yang sedang mengintrogasi kekasihnya sendiri. "Mau kobam," jawab Rama asal membuat Sinta mematap kesal ke arahnya. "Yang bener Rama!" "Iya iya. Dewa mau ngajak gue ke rumahnya Nakula. Udah kayak jadwal mingguan, kalo malam minggu gue sama Dewa main ke rumahnya Nakula." "Kenapa sekarang enggak? Elo malah ngajak keluar gue." "Nggak papalah sekali-kali malmingan sama lo. Iya kali malmingan gue ngumpul sama cowok mulu. Emang gue cowok apaan?" kata Rama dengan nada congak. Sinta merasa gemas langsung meraih selembar tisu dan dia lemparkan ke Rama. "Dasar lo!" Rama yang mendapat lemparan itu langsung melotot menatap kearah Sinta dengan tatapan penuh peringatan. Sedangkan Sinta malah memeletkan lidahnya mengejek Rama. Beberapa saat kemudian, ada sebuah band kecil yang ada didepan sana. Sinta menatap beberapa orang yang sedang memainkan musik itu penuh dengan penuh ketakjuban. Rama melirik sinis kearah Sinta saat melihat Sinta yang tak berkedip sekalipun menatap vokalis yang lumayan cukup tampan itu. "Tutup mulut lo! Entar ngiler baru tahu rasa!" kata Rama setelah melempar selembar tisu ke Sinta. Sinta berdecak dan mencibir kerahnya Rama. "Ganteng banget sumpah," kagum Sinta masih menatap ke arah si vokalis band. "Tenang, masih gantengan gue." "Lo mah nggak ganteng." "Tapi bagus," sela Rama menggunakan bahasa Jawa. "Heh elo bukan bagus ya. Elo kan Rama." "Ck, maksud gue itu gue cakep." "Oh jadi bagus itu cakep? Itu bahasa mana sih?" "Ya bahasa Jawalah. Lo norak banget nggak ngerti bahasa Jawa." "Ya karena gue bukan asli orang Jawa. Cuma campuran dari papa sama mama. Mama sebenarnya juga bukan asli orang Jawa. Yang asli orang Jawa itu cuma opa gue dari pihak mama. Tapi keluarga gue nggak pernah ngomong pakai bahasa Jawa. Wajarlah kalo gue nggak tahu." "Padahal bahasa Jawa keren loh." "Ya gue nggak---" perkataannya Sinta terhenti saat menoleh kesamping kearah seseorang yang berjalan mendekat kearahnya. "Astaga!" seru Sinta membuat Rama kaget dan langsung ikut menoleh ke samping. Menyadari sesuatu tatapan Rama kembali datar lagi. Kini dirinya menyorot ke arah Sinta dengan wajah yang semakin datar. "Emang norak banget ini cewek," gumam Rama pelan tak diindahkan oleh Sinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN