Hacker Yang Lain

2749 Kata
Jangan pernah menuduh seseorang yang tak bersalah disaat kau sudah mengetahui siapa pelakunya. -Rama- Bangun pagi memang menyehatkan untuk tubuh. Ditambah melakukan olahraga kecil yang dilakukan rutin setiap harinya. Hal itu akan membuat tubuh sehat bugar dan umur akan panjang. Hal itulah yang sedang dilakukan oleh Rama saat ini. Entah mengapa pagi-pagi sekali tepatnya pada pukul setengah lima, Rama sudah bangun. Setelah menata tempat tidurnya sendiri Rama langsung keluar rumah dengan pakaian pendeknya. Langsung melakukan gerakan pemanasan kecil didepan rumah membuat mamanya yang baru saja pulang dari berbelanja ditukang sayur menatap keheranan ke arah Rama namun hanya dibalas senyum senang oleh Rama. Sehabis melakukan gerakan pemanasan Rama langsung jogging kecil mengelilingi komplek perumahannya. Menyapa dengan senyum hangat saat bertemu dengan beberapa orang dijalan. Memasang sepasang earphone dikedua telinganya dan segera menyetel musik. "Lantas mengapa kumasih menaruh hati!" teriak Rama tiba-tiba terbawa suasana oleh lagu yang dia dengarkan itu. "Padahal kutahu kau telah terikat janji!" Entah mengapa teriakannya Rama tak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang murung. Hal itu membuat beberapa pengguna jalan menatapnya dengan pandangan yang terheran. Napasnya tersenggal-senggal karena dia menyanyi dengan berteriak-teriak. Langsung saja Rama mendudukan pantatnya diatas jalan yang sedang dia pijak. Mengabaikan jika jalan itu bisa saja dilewati oleh pengguna jalan yang lainnya. Menyeka keringat yang menetes didahinya. "Bagong! Lagunya pas bener sama hati gue. Ini lagu ngeledek apa nyindir gue?" omel Rama segera meraih ponsel dari sakunya dan mengganti musik yang sedang berputar di kedua earphonenya itu. Setelahnya terlihat Rama yang terbuai oleh musik yang lain. Terlihat dari tubuhnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri penuh irama. Namun kegiatannya itu terhenti saat Rama mendengar nada yang mengganggu musiknya. Langsung saja menekan tombol angkat dan tanpa membaca siapa orang yang telah menelponnya, Rama segera bertanya dengan nada yang membentak cukup keras. "Apa?! Nggak lihat gue lagi keenakan gini? Ada apa hah, nelpon gue? Ganggu banget tahu nggak!" sentak Rama emosi. Tapi sedetik setelahnya Rama merasa aneh saat tak ada balasan dari ujung telepon. Segera Rama memeriksa ponselnya, melotot saat melihat nama kontak mamanya lah yang telah menelponnya saat ini. "M-majikan rumah," desis Rama langsung merasakan feeling yang tak mengenakan. Karena tahu pasti akan ada masalah setelah dia pulang ke rumah. "Apa? Mama nggak boleh telpon kamu gitu? Udah nggak anggap mama mamamu lagi? Mau jadi anak pungut aja iya, hah!" balas mama diujung sana dengan omelan andalannya. "I-itu, Ma. Tadi R-Rama lihat kadal terus kadalnya---" "Terus kadalnya nelpon kamu terus buat kamu marah gitu?!" potong mamanya dengan galak. "Nggak gitu, Ma. Maksdu aku itu---" "PULANG! NGGAK INGET KALO SEKARANG SEKOLAH, HAH?!" "Iya, iya, Ma. Rama pulang sekarang." "Sampai lima menit nggak tiba dirumah. Siap-siap kamu jadi anak pungut!" ancam mamanya tak main-main membuat kedua bola matanya Rama melotot. "J-jangan dong, Ma!" Tut! "Ma, mama! Mamakonda! Anjir malah diputusin. Aarrgghh ngeselin. Masa iya gue harus lari dari sini ke rumah. Padahal jaraknya udah jauh banget." "Tapi gue juga nggak mau jadi anak pungut!" seru Rama ketakutan langsung berlari dengan sekuat tenaganya agar mamanya tak mengeluarkan dirinya dari kartu keluarga dan menjadikan dirinya si anak pungut. *** Rama baru saja menginjakan kakinya digedung sekolah. Memasukkan satu tangan ke sakunya, kemudian mengeluarkan satu bungkus permen karet. Setelah membuka bungkusnya Rama langsung mengunyah permen itu dan dia buat gelembung-gelembung kecil. Membuat beberapa siswa yang dia lewati bergidik karena tak habis pikir dengan Rama yang sudah mengunyah permen karet dipagi hari. "Anjir banget tuh Bima. Gue kira dia nakal cuma diluarnya doang. Nggak tahunya hatinya juga nakal cuy!" seru seorang laki-laki yang berpotongan cepak. Sontak Rama langsung menoleh kearahnya namun hanya sekilas karena sadar yang laki-laki itu bicarakan adalah Bima. "Mana ada nakal cuma diluarnya. Eh pasti bokap atau nyokapnya nakal banget. Anaknya aja berani bunuh orang. Apalagi bapaknya," timpal laki-laki lain yang kini sedang merapikan rambutnya yang sedikit panjang didahinya. "Apa jangan-jangan bokap nyokapnya mafia? Anjir serem banget kalo emang iya," seloroh laki-laki lain diantara mereka. Rama hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tiga siswa yang ada didepannya itu. "Biasalah human. Nggak periksa dulu akar masalahnya langsung seenaknya aja ngomong. Emang mulut lebih mudah bertindak daripada tangan," gumam Rama kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Namun tak berapa lama kemudian Rama merasakan ada tangan yang menempel didahinya. Langsung saja Rama tepis tangan itu dan menatap ke si pelaku dengan tatapan yang garang. "Apa, hah! Kenapa tangan lo grepe-grepe jidat gue yang tampan mempesona ini?" tanya Rama ke pelaku yang hanya menatap dan berkedip polos seolah tak mengetahui apa yang Rama katakan. Baru setelah tersadar, orang itu menampar kepala belakangnya Rama dengan pelan. Plak! "Anjir! Lo nggak pernah tahu rasanya privasi lo gue umbar dimuka umum ya, Wa? Mau gue retas ponsel lo, hah?" desis Rama tajam tak kalah tajamnya dengan tatapannya yang menyorot langsung kearah Dewa. "Siapa yang grepe-grepe jidat lo? Gue cuma ngecek aja lo sehat apa enggak. Tadi lo angguk-angguk kepala gitu. Gue kira lo sakit," cicit Dewa pelan takut dengan ancamannya Rama. "Sejak kapan orang sakit angguk-angguk kepala hah?" Emosi Rama semakin tak terkendali. "Heh? Bukan ya? Oh gue salah hehehe. Sorry," ujar Dewa kemudian melempar senyum manisnya yang terlihat aneh dikedua matanya Rama. "Udahlah. Masih pagi juga udah debat. Yok ke kelas," ajak Nakula langsung menyeret Rama dan Dewa agar mengikutinya berjalan ke kelas mereka dilantai dua. "Btw, Ram. Lo pansos ya sekarang. Gegara kasusnya Bima sama Laras viral, nama lo jadi naik," kata Dewa tiba-tiba membuat alis Rama mengernyit mendengarnya. "Hah? Nama gue pansos? Sejak kapan?" tanya Rama keheranan. "Lo nggak buka website sekolah? Disanakan banyak yang gosipin elo," sambung Nakula menoleh singkat ke arah Rama. "Tapi kenapa gue nggak kena tag? Kalo iya gue pansos pasti nama gue udah kena taglah." "Maksut gue itu, Hacker Boy yang pansos," bisik Dewa pelan takut ketahuan orang lain. Plak! "Gimana gue tahu kalo mereka ngomongin HB. Gue cowok anti rumpi-rumpi club," desis Rama karena menyadari keganjalan saat Dewa memberitahu soal berita yang gempar di website SMA Angkasa wijaya. "Ya makanya gue bilang, HB sekarang pansos," jawab Dewa langsung. "Trik apa yang lo pake sampai tahu Bima pelakunya?" tanya Nakuka tiba-tiba membuat Rama menoleh ke arahnya. "Trik maling sempak!" seloroh Rama asal membuat Dewa dan Nakula menoleh dengan alis yang terangkat tinggi. "Gimana?" tanya Dewa dan Nakula kompak. Rama hanya memutar bola matanya singkat langsung menghembuskan napasnya pelan. "Ya retas serverlah. Gimana lagi?" sahut Rama kemudian. "Ya cara lo gimana?" tanya Dewa merasa gemas dengan jawabannya Rama. "Ya gitulah. Gue jelasin ke elo berdua juga nggak bakal paham. Udahlah gue mau tidur lagi. Tadi pagi gue bangun kepagian," ucap Rama yang kini sudah duduk dikursinya dan memposisikan kepalanya diatas tas yang dia taruh diatas meja. "Lo pasti udah lihat video rekaman cctv-nya? Gimana?" tanya Nakula menundukkan kepalanya berbisik pelan. "Udahlah. Asli ngeri banget cuy. Itu orang psikopat dah. Nggak ada raut wajah bersalahnya sama sekali!" kata Rama tiba-tiba bersemangat dan bangun dari posisi tidurnya. "Terus videonya mana?" tanya Dewa karena sebenarnya dia sudah sangat penasaran dengan isi videonya. "Lihat aja nanti," balas Rama tersenyum penuh misterius. *** Saat bel tanda jam istirahat pertama berdering, semua siswa langsung menghela napas lega. Begitu pula dengan Sinta. Langsung berdiri dan menarik sebelah tangannya Naya. Naya menoleh heran saat melihat raut wajahnya Sinta yang tak mengenakan. "Kenapa lo?" tanya Naya yang baru saja memasukan ponsel ke dalam sakunya. "Ayo, Nay temenin gue. Udah kebelet pipis nih gue. Ayo Naya," ujar Sinta tak sabaran. "Iya iya. Kuylah!" Seperginya Sinta dan Naya, Dewa dan Nakula mendekat ke mejanya Rama. Memperhatikan Rama yang sedang menguap lebar dengan mata yang terpejam. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari speaker sekolah. "PERHATIAN UNTUK SELURUH PENGHUNI SEKOLAH! UNTUK SISWA YANG BERNAMA RAMAWIJAYA AKSA ARYASATYA KELAS 11 IPA 1 DIMOHON UNTUK DATANG KE RUANG KEPALA SEKOLAH. CUKUP SEKIAN PENGUMUMAN KALI INI DAN TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN SEMUA." Langsung saja kedua matanya Rama terbuka dengan sangat lebar. Kedua sudut bibirnya tertarik dengan sempurna membentuk sebuah senyuman yang terlihat sangat manis namun berbeda dengan makna dibalik senyuman itu. Langsung Rama berdiri dari posisi duduknya dengan sigap. Hal itu membuat Dewa dan Nakula menoleh dengan raut yang penasaran. "Lo kenapa dipanggil sama kepala sekolah, Ram?" tanya Nakula terselubung sedikit rasa khawatir. Namun Rama malah berbeda. Dirinya tak merasa takut sama sekali malah terkekeh senang. "Its show time," ucap Rama penuh dengan kesenangan. Seolah seperti seorang anak kecil yang sednag menantikan mainan barunya. Raut wajahnya Rama membuat Dewa bergidik merinding. "Anjir! Udah kayak psikopat lo, Ram!" seru Dewa mencoba menjauhkan tubuhnya sendiri dari Rama. "Gimana? Udah kayak tokoh antagonis kan gue hahahaha," kata Rama yang tak menyambung dengan perkataannya Dewa. "Udahlah. Gue mau ke kepsek dulu. Bye guys!" "Eh tunggu. Gue ikut!" teriak Dewa dan Nakula kompak karena ingin mengetahui apa yang akan terjadi nanti diruang kepala sekolah. *** Sudah tiga menit Rama berdiri diam didepan Pak Surya, sang kepala sekolah SMA Angkasa Wijaya. Selama itu juga Pak Surya duduk diam menatap penuh curiga ke arah Rama. Rama hanya memasang wajah polosnya bertindak seolah-olah tak mengetahui penyebab kepala sekolah memanggilnya kesini. Sayang untuk Dewa dan Nakula yang tidak diperbolehkan untuk masuk. Dan pada akhirnya mereka berdua hanya bisa menunggu diluar ruangan. "Jadi ada apa, Bapak memanggil Saya kesini?" tanya Rama pada akhirnya karena sudah jengah ditatap penuh curiga selama itu oleh Pak Surya. "Mengaku kamu. Kamu sudah melakukan tindak kejahatan karena telah menyusup ke dalam keamanan ruang cctv kan?" tanya Pak Surya tiba-tiba membuat Rama tersenyum setelahnya. "Tidak. Saya tidak bisa melakukan itu. Kan Bapak tahu sendiri, ruang cctv dijaga ketat oleh orang berbadan besar. Saya pasti kena hajar kalo berani masuk ke dalam sana," balas Rama terdengar santai. "Bukan itu yang Bapak maksud. Yang Bapak maksud itu, kamu pasti meretas cctv sekolah kan. Mengaku kamu, Rama. Bapak akan laporkan kamu ke kantor polisi," kata Pak Surya melotot dan tetap pada pendiriannya. "Serius, Pak. Bukan Saya," sahut Rama lagi dengan raut wajah yang dia buat sedemikian rupa agar Pak Surya mempercayainya. "Lagian Bapak emang punya buktinya kalo Saya meretas cctv sekolah? Enggak ada buktinya kan, Pak." Pak Surya langsung terdiam. Tapi tetap mempertahakan raut wajahnya yang menatap kearah Rama dengan raut wajah yang curiga. Sedangkan Rama hanya tersenyum sopan. Sedangkan ditempat lain, tepatnya dikelas 11 IPA 1, Sinta dan Naya tak menemui Dewa dan Nakula. Mereka ingin bertanya soal Rama ke kedua temannya itu. Tapi mereka berdua ternyata tidak ada dikelas. "Guys, ada yang lihat Dewa sama Nakula nggak?" tanya Naya melemparkan pandangannya ke teman-temannya. "Tadi Dewa sama Nakula ikutin Rama waktu Rama dipanggil sama kepala sekolah," balas Dinda salah satu temannya. "Kenapa Rama bisa dipanggil?" tanya Sinta keheranan. "Karena Rama diduga kalo dia itu si Hacker Boy. Gue nggak tahu bener apa enggak kalo masalah penangkapan Bima kemarin itu akibat perbuatannya Hacker Boy," balas Satrio. "Hacker Boy?" tanya Sinta dan Naya kompak membuat seluruh teman kelasnya mengangguk bersama. Langsung saja Sinta menarik tangannya Naya ke luar kelas. "Okey guys. Thanks yah!" seru Naya yang masih ditarik tangannya oleh Sinta. Kembali lagi di ruang kepala sekolah. Rama masih menyangkal tuduhan dari Pak Surya kalau Rama bukan meretas cctv sekolah. Dan Rama tetap terlihat santai karena pasalnya Pak Surya memang tak memiliki bukti satupun yang mengatakan kalau Rama telah meretas cctv sekolah SMA Angkasa Wijaya. "Mengaku saja kamu. Kamu pasti sudah meretas bukan?" tanya Pak Surya tetap kukuh pada pendiriannya. "Pak, beneran Saya tidak meretasnya, Pak." "Halah! Tidak usah sok polos kamu. Bapak tahu kalo kamu adalah si Hacker Boy," ujar Pak Surya kemudian tersenyum miring ke arah Rama. Tentu saja Rama terkejut namun segera mengatur ekspresi wajahnya. Sebenarnya Rama bingung darimana Pak Surya tahu mengenai Hacker Boy itu. "Saya serius, Pak. Saya tidak tahu soal itu. Bahkan Saya juga tidak kenal dengan Hacker Boy itu---" Tiba-tiba televisi diseluruh ruangan di gedung SMA Angkasa Wijaya menyala dengan serentak. Rama yakin kalo televisi itu diretas oleh orang lain. Sontak Rama dan Pak Surya memperhatikan kearah televisi yang terpasang didinding sebelah kanan. Tiba-tiba televisi itu memperlihatkan sebuah video rekaman cctv sekolah tepatnya cctv yang ada dirootop. Di video itu terlihat Bima dan juga Laras sedang berbincang diatas rooftop. Dilihat dari gerakan postur keduanya, sepertinya dua orang itu sedang terlibat permasalahan dan sedang berdebat. Sampai tak lama kemudian Bima maju dan menampar Laras dengan sangat kuat hingga mampu membuat Laras terjatuh. Setelah Laras terjatuh Bima melesat maju kearah Laras sembari mengeluarkan sebilah pisau. Langsung saja pisau itu Bima tusukan diperutnya Laras beberapa kali membuat Laras berteriak kesakitan. Terlihat Laras yang menalawan Bima dengan cara mencakar dan menendang Bima. Hal itu membuat Bima murka dan langsung mencekik Laras dan menyayat lehernya Laras dengan pisau itu. Setelah menyayat berkali-kali lehernya Laras, Laras terkuai lemas dan langsung meninggal ditempat. Terlihat Bima yang melemparkan pisaunya ke tubuhnya Laras. Kemudian dengan santainya berjalan pergi meninggalkan jasadnya Laras. Bima sadar jika ada cctv yang merekam aksi bengisnya. Bukannya terlihat panik atau ketakutan, Bima malah melambaikan sebelah tangannya seolah sedang menyapa cctv itu diikuti dengan senyuman yang tak bersalah. Dan setelahnya video itu berakhir. Setelah video berakhir terdengar jeritan pada siswa dari luar ruang kepala sekolah. Ekspresi Rama kaget melihat isi video itu. Sedangkan Pak Surya menegang setelah menyadari pelaku di rekaman itu. Kejutan tak sampai disana, tiba-tiba televisi memperlihatjan sebuah foto data pribadi milik Pak Surya. Hal itu membuat alis Rama mengernyit. Di foto itu bertuliskan data pribadinya Pak Surya dengan komplit dan tentu relevan. Dibawah foto tiba-tiba muncul tulisan yang berjalan seolah sedang diketik oleh orang yang meretas televisi itu. "BUAH JATUH TAK JAUH DARI POHONNYA." "DENGAN BUKTI INI SAYA MENGATAKAN JIKA PAK SURYA PRATAMA BERSALAH KARENA BELIAU TELAH MELINDUNGI ANAKNYA YANG SUDAH MELAKUKAN TINDAK KEJAHATAN YAITU MEMBUNUH SAUDARI LARAS. PAK SURYA DIKATAKAN BERSALAH KARENA BELIAU BERUSAHA MELINDUNGI PELAKU DAN MENYEMBUNYIKAN BUKTI KEJAHATANNYA. BISA KALIAN SEMUA LIHAT DARI DATA PRIBADI INI YANG MENYEBUTKAN BAHWA PAK SURYA ADALAH AYAH KANDUNG DARI SAUDARA BIMA." "SAYA TIDAK AKAN BERTINDAK LEBIH JAUH JIKA PAK SURYA MENYERAHKAN DIRINYA SENDIRI KE PIHAK YANG BERWENANG." "DAN SAYA MENGATAKAN TANPA RAGU BAHWA PAK SURYA SERATUS PERSEN BERSALAH." "SEKIAN DARI SAYA. SALAM DARI HACKER BOY." Setelahnya televisi mati dan suara heboh dari luar ruangan menggema sampai ke dalam ruangan kepala sekolah yang hanya berisi Rama dan Pak Surya saja. Diam-diam Rama tersenyum singkat saat melihat Pak Surya yang frustasi. Sontak Rama berdeham untuk menarik perhatiannya Pak Surya. "Pak, Saya sudah bilang kalo Saya tidak meretas dan bahkan Bapak lihat sendiri kan tadi. Saya bukan si Hacker Boy itu," kata Rama tegas membuat Pak Surya menunduk frustasi. "Ya sudah. Silahkan kamu keluar," balas Pak Surya membuat senyum cerah terbit dibibirnya Rama. Rama segera menundukkan kepalanya sopan. "Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi." Setelah Rama keluar, barulah Rama menghembuskan napas lega. Tersenyum saat melihat Dewa dan Nakula yang masih menatapnya khawatir. Rama tertawa lebar saat melihat Sinta dan Naya berlari menuju arahnya dengan wajah yang tak kalah khawatir. "RAMA!" teriak Sinta dan Naya kompak. Kedua tangan Rama dia rentangkan menyambut kedatangan dua gadis itu. Seolah sedang menunggu untuk memeluk Sinta dan juga Naya. "Hai girls," balas Rama dengan senyum cerahnya. Dan sedetik setelahnya Sinta dan Naya memang menyambut pelukan hangat dari Rama. Namun pelukan itu tak bertahan lama. Karena sebelah lengan Rama merasa sakit karena ditampar oleh Dewa. Plak! "Aduh! Sakit bagong!" maki Rama galak dan langsung menatap garang ke arah Dewa. Namun Dewa malah membalas tatapan garangnya sembari menunjuk ke arah Naya. Barulah Rama paham maksudnya Dewa. "Hehehe, ampun Bang jago," kekeh Rama menangkupkan kedua tangannya. "Jadi, si Hacker Boy itu bukan elo kan Rama? Kan elo tadi diruang kepala sekolah. Lo pasti diinterogasi kan sama Pak Surya?" tanya Sinta beruntut dan langsung diangguki oleh ketiga temannya. "Tenang aja. Gue bukan Hacker Boy. Lo kan tahu, Sin, gue be*gonya kebangetan. Udah yok kita ke kantin," ajak Rama kemudian menarik tangannya Sinta untuk dia ajak ke kantin bersama. "Lega tahu nggak sih, Ram. Saat kita tahu kalo elo bukan si penjahat Hacker Boy itu," kata Naya tiba-tiba membuat Rama mendelik samar. "Iya tuh," kata Sinta setuju dengan perkataannya Naya. "Udah udah. Nggak usah bahas itu lagi. Kita ke kantin sekarang," ajak Dewa langsung menarik tangannya Naya. Mereka berlima langsung berjalan bersama menuju kantin karena mereka ingin mengisi perut mereka yang lapar. Disaat Sinta dan Naya sedang fokus menggosip didepan, Dewa dan Nakula sontak melempar tatapan penuh sangsi kearah Rama yang ada ditengah-tengah mereka. Dahi Rama mengernyit melihat kelakuan kedua temannya. "Why?" "Gimana bisa?" tanya Dewa dan Nakula berbisik pelan secara bersama. "Secret cowok," balas Rama kemudian terkekeh senang. "Lo kira kita berdua bukan cowok? Sialan lo!" umpat Dewa dan Nakula tanpa sadar mereka berkata secara bersamaan. Hal itu membuat tawa Rama pecah pada akhirnya. Dan tersenyum penuh arti saat mengingat kejadian tadi di ruang kepala sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN