Jangan pernah menyalahi kekuasaan hanya untuk kesenangan sendiri. Ingat, kamu hidup bukan diatas kakimu sendiri.
-Rama-
Malam harinya, dikamar yang sunyi Rama sedang duduk melamun dengan kepala tertongak ke atas. Memikirkan kasus yang menimpa temannya, Laras. Rama mengeraskan rahangnya saat tak menemukan pelaku dari keganjalan kasus tersebut. Rama memang sudah merasa ada yang tak beres sejak tadi malam setelah melihat rekaman video cctv sekolah yang menampilkan Bima sebagai pelaku dari kasus pembunuhannya Laras.
"Aaarrggghhh.... Bima breng*sek! Gue sumpahin lo nyesel seumur hidup atas perbuatan lo," desis Rama merasa marah atas perbuatannya Bima. Rama menjambak rambutnya sekali. Mendongakkan kepalanya keatas dan memejamkan kedua matanya erat.
"Wait. Laras dinyatakan hilang dan meninggal sejak tiga hari yang lalu. Selama itu Bima bebas dan nggak ada satu orang pun dari pihak sekolah yang melaporkan Bima ke kantor polisi," cerna Rama menarik kesimpulan dari akar permasalahnya.
"Kalo sekolah SMA Angkasa Wijaya sehebat dan sekaya itu, nggak bakal kecolongan dari pelaku pembunuhan yang berkeliaran bebas selama tiga hari ini."
Rama mengetuk-etukan jarinya diatas dahinya yang tak tertutupi rambut. Mengetuk beberapa kali dan semakin lama ketukan itu semakin keras. Rama sengaja mengetuk dahinya untuk menyingkirkan rasa sakit dikepalanya. Jujur saja, saat ini Rama rasa kepalanya seperti berputar.
"Atau jangan-jangan pihak sekolah tahu dengan kasus itu. Dan sengaja sembunyiin video rekaman cctv dari orang-orang. Hal itulah yang buat pihak sekolah nggak kasih lihat video rekaman cctv ke orang tuanya Laras."
"Jackpot! Bima bebas berkeliaran selama tiga hari karena sengaja disembunyiin dan pihak sekolah diam dengan kasusnya Bima. Tapi masalahnya, siapa orang yang bantu Bima?"
"Orang yang udah berani nyembunyiin rekaman video cctv dan menutup mata akan kasusnya Laras pasti dia orang yang memiliki kuasa," oceh Rama menggabungkan kemungkinan satu dengan yang lainnya.
"Di tatanan keanggotaan sekolah, orang yang paling berkuasa adalah," kata Rama sengaja menjeda perkataannya sendiri sedikit merasa tak yakin dengan pemikirannya itu. "Kepala sekolah. Dan kepala sekolahnya SMA Angkasa Wijaya adalah Pak Surya. Pak Surya, ya? Tapi jelas-jelas Pak Surya nggak ada hubungan apapun dengan Bima. Kalopun Bima adalah keponakan Pak Surya, pasti mereka dekat saat bertemu di lingkungan sekolah. Tapi selama ini mereka berdua terlihat seperti nggak saling mengenal."
"Hem, ada yang nggak beres sama mereka berdua. Gue harus retas data pribadi miliknya Bima. Iya, harus," kata Rama bersemangat langsung menyalakan komputernya. Dan selama proses komputernya loading, Rama merenggangkan tangannya dengan kuat. Agar nanti saat dirinya mulai meretas, syaraf dan otot tangannya tidak kaku.
"Lihat saja, siapapun yang bantuin nutupi kasusnya Laras, akan sama berakhir dipenjara seumur hidup," desis Rama tajam dan langsung masuk ke dalam drak web.
Selama berjam-jam Rama berselancar di dark web. Memasukkan beberapa kata kunci dan mengetikkannya diatas keyboard dengan sangat teliti. Rama ingin usahanya membuahkan hasil yang dia harapkan. Rama berusaha menerobos database milik sekolah secara online, karena Rama tahu database milik sekolahnya itu disimpan dengan jaringan yang mengalir. Dan tidak akan bisa terbuka jika diretas dengan jalur offline. Setelah berhasil masuk ke dalam database, Rama segera menekan kolom pencarian dan menuliskan nama lengkapnya Bima. Setelah menulis namanya Bima langsung saja Rama menekan tombol enter. Dan tak berapa lama komputer sedang memproses dengan sebuah gambar balok yang berkedip melingkar dengan tulisan loading diatasnya.
"Yes! Akhirnya ketemu!" seru Rama langsung menekan layar yang terdapat namanya Bima. Dengan teliti Rama mulai membaca informasi yang ada disana tentang Bima. Misal nama lengkapnya Bima, alamat rumahnya, jenis kelaminnya dan lain-lain. Namun ada satu yang mengganjal bagi Rama.
"Data ini, nggak relevan. Data siswanya nggak komplit. Disini nggak ada nama orang tuanya Bima sama nomor telepon orang tuanya. Masa iya sekolah teledor kayak gitu buat nggak cantumin nama orang tuanya Bima. Kalopun Bima nggak punya orang tua seenggaknya ditulis nama walinya. Wah ini pasti ada yang nggak beres nih. Gue harus retas lagi. Tapi, gue harus retas apaan anjir!" ujar Rama diakhir dengan erangan frustasi. Menggaruk kepala kuat karena usaha meretasnya malam ini masih saja tetap buntu.
"Gue harus retas laptopnya kepala sekolah. Disana seluruh data pribadi milik siswa pasti ada. Ya, gue harus bisa retas laptop miliknya Pak Surya," cetus Rama kemudian mengangguk mantap dengan rencananya itu.
***
Siang harinya, pada saat jam istirahat pertama, Rama keluar kelas dengan terburu-buru. Saat dirinya baru saja melewati pintu, Rama berpaspasan dengan Sinta. Sinta mengangkat tangannya menyapa Rama. "Hai, Ram. Lo mau kema---"
Grep!
Langsung saja Rama menarik Sinta untuk ikut dengannya. Rama berpikir untuk menghadapi kepala sekolah nanti dirinya tak sanggup sendirian. Maka dari itu Rama menarik Sinta untuk menjadikan alasan jika ditanya sama Pak Surya.
"Heh, Rama, lo mau nyeret gue kemana woi. Heh lepasin tangan gue. Bilang dulu mau kemana?" tanya Sinta keheranan dengan tangan yang memberontak untuk melepaskan cekalan tangannya Rama dilengannya.
"Nurut sama gue. Arang alasan apapun buat dikasih ke Pak Surya," balas Rama cepat tak kalah cepat juga dengan langkah kakinya yang berjalan lebar.
"Hah? Maksudnya? Gue harus ngarang alasan apaan?" tanya Sinta keheranan. Menatap tak berkedip ke arah Rama. Mengabaikan rasa sakit dicengkeraman tangannya. Karena Rama tak terlalu kuat mencengkeram lengannya. Sinta sangat terheran dengan tingkahnya Rama ini. Sinta sadar jika Rama adalah orang yang memiliki pribadi yang aneh. Namun sepertinya Sinta masih belum memaklumi keanehannya Rama.
"Bebas. Terserah lo," sahut Rama cepat dan segera belok ke kiri saat mereka tiba dipersimpangan lorong. Dilorong itu suasana cukup dibilang sedikit lebih sepi karena sebagian besar siswanya sedang pergi ke kantin.
"Tapi gue nggak paham sama apa yang lo maksud," protes Sinta menghempaskan tangan yang dicekal oleh Rama dengan kuat. Bertujuan untuk melepaskan tangannya Rama.
"Gue bilang terserah. Yang penting masuk logika."
"Tapi gue tetep nggak---"
Tok! Tok! Tok!
Perkataannya Sinta terpotong saat melihat Rama yang sedang mengetuk sebuah pintu. Sinta mengerjabkan kedua matanya. Mendongak ke atas untuk melihat papan kecil yang ada diatas pintu. Melotot kaget saat ternyata mereka berdua sudah sampai diruang kepala sekolah. Sinta menyentuh lengannya Rama membuat Rama menoleh ke belakang dengan kernyitan dahinya yang terlihat jelas. Sontak Sinta langsung menggeleng keras.
"Ya silahkan masuk!" teriak seseorang yang terdengar sudah cukup berumur dari dalam ruangan. Namun sial bagi Sinta karena adanya perintah untuk masuk dari orang itu, membuatnya tak bisa untuk kabur lagi. Rama langsung melempar senyum kemenangannya. Langsung membuka pintu dan menyeret Sinta untuk masuk ke dalam.
"Selamat siang, Pak." sapa Rama ramah diikuti oleh Sinta yang langsung menundukkan sedikit kepalanya dan melempar senyum sopan. Sinta mencubit pelan lengannya Rama namun Rama mengabaikannya. Melangkah maju mendekati seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun.
Pria yang disapa oleh Rama itu segera mendongakan kepalanya menatap lurus ke depan. Mengernyit saat melihat ada dua orang siswa yang kini sedang tersenyum kearahnya. Pria itu memundurkan kursinya yang awalnya terlalu dekat dengan meja. Mengelap sebentar kemeja yang dia pakai tak lupa juga mengelap sebuah name tag yang tersemat dikemeja sebelah d**a kanannya yang bertuliskan Surya Pratama dengan pangkat sebagai kepala sekolah. Rama semakin tersenyum lebar saat melihat sebuah benda persegi yang sedang beroperasi yang ada didepannya Pak Surya. Benda itu adalah sebuah laptop.
"Iya siang. Ada perlu apa sampai menemui Bapak?" tanya Pak Surya mengernyit pelan. Bertambahlah kernyitan didahinya saat melihat Sinta yang sedang mencubit lengannya Rama pelan.
"Itu, Pak. Sinta mau tanya," balas Rama cepat membuat Sinta menoleh dengan kedua mata melotot sempurna. Tentu saja setelahnya Sinta menoleh ke arah Pak Surya dengan senyum terpaksanya.
"I-itu, Pak. Anu, apa itu---" ujar Sinta gugup dengan sebelah tangan menggaruk tengkuknya sendiri.
"Anu?" tanya Pak Surya dengan alis terangkat tinggi. Langsung saja Sinta menggeleng keras.
"M-maksud Saya itu, Saya mau tanya soal proposal pengajuan lomba bulan lalu. Kata ketua OSIS, Saya disuruh buat ambil lagi karena mau direvisi, Pak," balas Sinta setelah teringat cerita dari Hoku, si ketua OSIS jika proposal pengajuan lombanya sangat kacau tapi anggota OSIS belum ada yang mau mengambilnya di kepala sekolah.
"Bukannya sudah Bapak setujui? Kenapa minta direvisi lagi?"
"Karena ada salah satu cabang lomba yang mengalami kendala, Pak. Makanya OSIS mau revisi ulang." Kali ini Sinta berkata dengan sedikit lebih tenang tak terlihat gugup sama sekali.
Terlihat wajahnya Pak Surya yang tak terbaca. Namun setelahnya Pak Surya mengangguk pelan kemudian berdiri dari duduknya. "Ya sudah. Saya carikan dulu proposalnya."
Sinta mengangguk saja. Kemudian menghembuskan napasnya dengan pelan merasa lega. Berbeda dengan Rama, kini dirinya malah mendengus kesal. Sontak Rama mendorong Sinta ke arah Pak Surya.
"Lebih baik Sinta bantu nyariin, Pak. Biar cepat ketemu proposalnya," saran Rama membuat Sinta dan Pak Surya menoleh kearahnya.
"Oh iya benar juga. Ayo Sinta, kita ke ruang sebelah."
"Baik, Pak," balas Sinta sopan dan Pak Surya langsung membalikkan badannya. Saat itu Sinta langsung melempar tatapan permusuhan dan berbisik pelan. "Awas aja lo entar dikelas."
Rama hanya melihat itu dengan tatapan sengit. Setelah kepergian Sinta dan Pak Surya, Rama langsung mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya, yaitu chip berwarna merah yang pernah dia buat sendiri.
"Untung nyala ini laptop. Makin gampanglah kerjaan gue," gumam Rama langsung menancapkan chip itu ke dalam laptop. Setelahnya Rama memutar laptopnya dan mengaktifkan chip buatannya. Tak berapa lama chip mulai beroperasi dan Rama hanya tinggal menunggu proses loadingnya sampai seratus persen. Kurang dari dua menit, chip sudah tersambung ke dalam laptop. Dengan cepat Rama mencabut kembali chipnya dan memutar laptopnya ke dalam posisi semula saat mendengar Sinta dan Pak Surya berjalan mendekat.
"Ini ya proposalnya, Sinta. Tolong kamu kasih ke Hoku. Kalau bisa revisinya secepatnya. Karena mungkin minggu depan Bapak akan sibuk diluar sekolah," ucap Pak Surya menyerahkan sebuah proposal dan duduk kembali dikursinya.
"Baik, Pak. Akan Saya sampaikan ke Hoku. Ya sudah, Pak. Kami permisi keluar dulu. Mari, Pak," ujar Sinta sopan dan menarik pelan lengannya Rama memberi kode untuk segera keluar.
"Eh sebentar, Pak," sela Rama dan segera maju mendekat satu langkah. "Bima kan lagi diinterogasi sama polisi ya, Pak. Saya dengar orang tuanya Bima kaya. Seharusnya bisa menyewa pengacara yang propesional kan, Pak. Saya jadi kasihan sama Bima. Bukan begitu, Pak?"
Pertanyaan Rama yang tiba-tiba membuat Pak Surya dan juga Sinta terkejut. Kenapa Rama tiba-tiba berkata seperti itu. Sinta tak bisa menebak apa yang sedang Rama pikirkan saat ini. Sedangkan Pak Surya terlihat sangat kaget. Rama tersenyum puas melihatnya. Langsung menundukkan kepalanya sedikit.
"Ya sudah, Pak. Kita permisi dulu. Mari," kata Rama sopan kemudian menarik Sinta keluar. Sepeninggalnya Rama dan Sinta, tubuh Pak Surya langsung merosot lemas. Dirinya langsung menyandarkam tubuhnya. Memijat pelipisnya karena tiba-tiba dirinya merasa sangat pening dikepalanya.
***
Malam harinya, Rama berkutat lagi dengan komputer kesayangannya. Kali ini Rama sedang meretas laptopnya Pak Surya yang sudah dia tancapkan chip buatannya yang menjadikan sebagai jembatan peretasannya saat ini dan itu hanya cukup memakan waktu setengah jam. Saat ini Rama tengah mencari file yang berisi data pribadi miliknya Bima. Namun sudah lewat lima belas menit, Rama tak menemukan satupun filenya. Dan dengan rasa sedikit frustasi, pada akhirnya Rama mencoba mencari data pribadinya Pak Surya. Dan saat Rama tengah membaca data pribadi miliknya Pak Surya, saat itulah Rama menemukan sebuah fakta yang mengejutkan.
"Anjir! Ternyata plot twins! Bima---" kata Rama yang masih terbelalak kaget. "Pantes aja nggak pernah muncul di data pribadinya Bima. Orang Bimanya yang muncul di data pribadinya Pak Surya. Mana statusnya Pak Surya ayah kandungnya Bima lagi."
"Jadi, selama tiga hari ini Pak Surya tahu soal perbuatannya Bima. Maka dari itu dia nutup ruang cctv dan mengancam orang sekolah juga. Tindakannya Pak Surya ini kelihatan kayak orang yang lagi nutupi kasus kejahatan dan bukti kejahatan. Wah ini namanya juga penjahat. Harus ditangkap nih. Gue harus buat laporan dan gue kirim ke polisi lagi."
"Cih, emang bener kata pepatah. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ini bapaknya penjahat anaknya juga pasti penjahat. Wah emang keluarga nggak beres nih."
Saat Rama tengah membuat laporan, tiba-tiba ada notifikasi di komputernya yang ternyata itu berasal dari seorang teman hackernya, @Arber.
"Tumben nih anak ngechat gue. Pasti gabut nih. Cih, emang gue bahan kegabutannya? Enak aja," cibir Rama namun tetap membuka pesan itu dan membalasnya. Dan entah karena keasyikan atau memang kangen dengan teman satu hackernya itu, Rama malah curhat soal kasusnya Laras dan Bima ke @Arber.
@Hacker_Boy
Jadi gitu ceritanya. Kalo dipikir-pikir, gue bakal dipanggil sama Pak Surya dah buat menghadap dia.
@Arber
Kenapa bisa? Orang Pak Surya aja nggak tahu kalo elu yang laporin anaknya ke polisi.
@Hacker_Boy
Itu gegara tadi siang gue mancing dia dengan pertanyaan soal Bima. Anjir, kok gue bisa keceplosan. Heh gue harus gimana?!!
@Arber
Dasar Oon lo! Kalo gitu Pak Surya pasti curiga sama elo.
@Arber
Mau gue bantu?
@Hacker_Boy
Nggak deh. Lagian lo mau bantu gimana bagong? Udahlah besok gue pikirin lagi.
***
Sedangkan ditempat lain tapi masih dalam waktu yang sama. Seorang pria tengah menegak wine dari bibir gelasnya. Belum juga dua tegukan, dirinya langsung melempar gelas berisi wine itu sampai membentur tembok dan berakhir pecah berserakan diatas lantai. Setelahnya pria itu menjambak rambutnya kuat-kuat. Merasa sangat frustasi dengan suatu masalah yang menimpanya.
"Sial! Kenapa bisa ketahuan? Padahal gue udah nyuruh orang buat nutup ruang cctv dan hapus video laknat itu. Kenapa masih juga ketahuan. Nggak mungkin juga orang sekolah khianati gue. Gue udah suap mereka buat diam sama kasusnya Bima. Aaargghhh kenapa bisa?!" seru pria itu menjambak rambutnya lagi dan lagi. Saat dirinya tengah diam termenung tiba-tiba terdengar dering ponselnya. Dengan cepat dirinya mengangkat telepon yang masuk ke dalam ponselnya.
"Halo?" tanya pria itu terlihat marah karena merasa tak suka waktunya saat ini diganggu oleh orang lain. Tak ada balasan dari lawan bicara membuat pria itu semakin emosi.
"Kalo lo masih diam, gue tutup dan nggak bakap gue angkat telepon dari elo lagi," kata pria itu bengis.
"Saya tahu siapa orang yang telah melaporkan anak Anda ke polisi," kata lawan bicara tiba-tiba yang ternyata adalah seorang laki-laki.
"L-lo. Lo siapa, hah!" sentak pria itu marah dan juga terkejut bagaimana orang misterius yang telah menelponnya ini tahu soal kasusnya Bima?
"Identitas Saya tidak perlu untuk Anda ketahui. Yang perlu Anda ketahui adalah, Saya mengetahui orang yang telah melaporkan anak Anda."
"Siapa? Siapa yang udah berani laporin anak gue ke polisi, hah?!" tanya pria itu cepat tapi tak segera mendapat respon. "lo minta uang berapa hah? Bilang! Berapapun yang lo minta bakal gue kasih asal lo kasih tahu gue siapa orangnya.
Terdengar suara kekehan diujung telepon. Dan tak berapa lama terdengar suara helaan napas yang panjang. "Saya tidak butuh uang Anda. Baikhlah akan Saya kasih tahu siapa orangnya. Dia adalah Rama, Ramawijaya Aksa Aryasatya. Siswa SMA Angkasa Wijaya."
Mendengar perkataan itu tentu saja si pria melotot kaget. Dirinya tak menyangka dengan fakta itu. Dan jika diperhatikan, pria yang sejak tadi marah-marah tidak jelas dan terlihat sangat frustasi itu ternyata adalah Pak Surya, sang kepala sekolah di SMA Angkasa Wijaya. Dan merupakan ayah kandungnya Bima.
"Gimana bisa? Lo nipu gue, hah?!"
"Saya bersumpah, memang Ramalah orangnya."
"Terus gimana bisa dia?"
"Karena dia adalah seorang hacker. Dia adalah si Hacker Boy."