Pelaku

2221 Kata
Yang telah melahirkan peradaban telah dibunuh oleh seekor hewan liar tak berakal. -Rama- Sinta masih terdiam dengan memeluk erat tubuh tegapnya Rama. Sedangkan Rama sendiri hanya bisa melotot menatap lurus ke depan. Tepatnya ke arah jasad si Laras. Suasana tiba-tiba sangat mencekam, Sinta menahan tangis dalam diamnya. Namun itu tak berhasil dan tangisannya akhirnya pecah membuat Rama tanpa sengaja mengusap kepalanya Sinta dengan lembut. Berusaha menenangkan Sinta untuk tetap tenang. "Ram, dia jahat, Ram. Dia bengis. Bagaimana bisa orang itu bunuh Laras yang lagi mengandung?" ucap Sinta lirih dengan diselingi tangisan pedihnya. Bagaimana Sinta tak merasakan sedih melihat sesosok jasad terbujur kaku di depannya? Apalagi kondisinya tengah hamil muda. Ya, Laras hamil. Setelah mencocokan apa yang telah Sinta perhatikan dari sikapnya Laras, Sinta tahu jika Laras memang benar-benar hamil.  Rama yang mendengar perkataan itu hatinya bergetar. Seolah tak percaya apa yang telah terjadi. "Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin Laras hamil." Sinta mendongak menatap kedua matanya Rama yang sedang menatap lurus ke depan. Ada tatapan kosong, tatapan tak percaya, serta tatapan marah yang Sinta temui. Sinta menyadari, jika sosok di dalam pelukannya ini bukanlah Rama yang dia kenal. Sedetik kemudian Sinta tersadar, segera melepaskan pelukannya. Dan berdeham pelan untuk menutupi kegugupannya. "Rama, Laras itu hamil. Percaya sama gue. Gue tahu, karena gue juga cewek dan cewek bisa merasakan adanya makhluk kecil yang tumbuh di perut cewek itu, meskipun gue sedang nggak hamil atau bahkan gue belum pernah hamil," jelas Sinta mengusap lengannya Rama membertihu kebenarannya. Rama menoleh menatap sedih ke arah Sinta. Namun tatapan Sinta tak kalah sedih dengan Rama. "Gue telpon teman-teman yang lain dulu," kata Sinta kemudian merogoh ponselnya. Segera memberitahu saat Naya menjawab telponnya. Memberitahu jika dirinya dan Rama sudah menemukan Laras tak lupa memberitahu dimana tempat mereka berada saat ini. Sepuluh menit kemudian, Naya, Dewa dan juga Nakula datang di gudang makanan. Napas mereka bertiga terengah-engah karena mereka baru saja berlari. Mereka tentu berani berlari karena yakin saat malam ini tak ada seorangpun di sekolah kecuali mereka berlima. "Ram, Sin, hosh hosh, Laras, hosh hosh, dimana?" tanya Naya terlihat sedang mengatur napasnya. Berjalan pelan menuju pintu gudang diikuti oleh Dewa dan juga Nakula. Setelah mendengar suara temannya, Rama dan Sinta segera membuka jalan membuat jasad Laras terpampang jelas di depannya Naya, Dewa dan Nakula. Tentu saja tiga orang itu syok saat melihat Laras yang sudah tergeletak tak berdaya. Mereka yakin, jika Laras sudah tak bernyawa. Namun mereka masih perlu untuk mengeceknya untuk memastikam apakah Laras masih hidup atau tidak.  "Sin, ini nggak mungkin kan? Laras nggak mungkin--" Perkataannya Naya terhenti karena dirinya tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Naya langsung menghambur ke pelukannya Sinta saat Sinta mengangguk sebagai jawaban. Menangis tersedu-sedu beradu dengan suara tangisannya Sinta. Rama dan Dewa yang melihat dua teman perempuannya yang sedang menangis itu segera mendekat dan mengusap bahu keduanya berusaha menenangkan. Mereka berlima terdiam dengan sorot mata menatap ke arah Laras. Tiba-tiba Nakula berjalan mendekati jasad Laras untuk memastikan ataupun meneliti kondisinya Laras. "Jangan!" cegah Rama saat melihat Nakula yang akan mengulurkan tangannya menyentuh Laras. "Kita harus jaga sikap kita. Jangan sampai kita meninggalkan sidik jari disini. Kalo ada satu sidik jari dari kita yang tertinggal, kita pasti ditetapkan sebagai pelakunya." Semua temannya mengangguk dengan perkataannya Rama. Rama benar, seharusnya mereka tidak meninggalkan jejak sidik jari disana satu pun. Dan jika mereka tak sengaja meninggalkan sidik jari disana, itu akan menjadi mala petaka untuk lima sekawan itu. Rama berjalan mendekati Laras kemudian menundukkan tubuhnya dengan memajukan sebelah telinganya ke mulutnya Laras. Rama sengaja tak menyentuh Laras. Dan saat itulah Rama terkejut karena ternyata dugaannya adalah benar. "Laras, dia udah pergi," kata Rama pelan. Menatap sendu ke wajahnya Laras dengan mata yang sudah tertutup rapat. Sinta mendekat dan mengusap kepalanya Rama dengan sayang. Memberi kekuatan dan semangat dengan cara yang berbeda. Maka dari itu Sinta memilih untuk mengusap kepalanya Rama. Mereka terdiam lagi sampai waktu yang lama. Tak ingin membuang waktu, Naya segera bertanya kepada Rama untuk rencana selanjutnya. "Jadi kita harus gimana, Ram? Kita harus lapor ke polisi bukan," ujar Naya menarik atensi semua orang. Mereka baru saja tersadar, jika mereka harus melaporkan kasus itu kepada polisi. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, mereka tak memiliki bukti yang cukup kuat. Dan bisa saja mereka yang ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan atas kasusnya Laras jika salah mengambil langkah. "Gue punya ide. Kita harus melapor ke polisi dengan adanya kasus penyimpanan n*****a digudang makanan ini. Kita harus buat laporan yang benar-benar seperti laporan. Kalo udah begitu, polisi akan datang dan menggeledah gudang ini. Saat itu polisi akan tahu jika disini ada jasadnya Laras. Dan mereka akan mengidentifikasi kasus ini lebih lanjut," terang Rama singkat membuat temannya mengangguk. "Masalahnya, gimana caranya kita buat laporan yang kelihatan seperti benar-benar laporan asli. Kita harus kasih buktinya biar polisi setuju," usul Nakula memberitahu kekurangan atas idenya Rama. "Besok gue bakal cari caranya. Kasih gue waktu sampai besok siang. Gue pastiin gue berhasil cari solusi," kata Rama setelah dia terdiam cukup lama. "Lebih baik kita sekarang pergi dari sini. Gue khawatir kalo ada orang lain yang lihat kita, maka kita yang dituduh sebagai pelaku pembunuhnya," saran Sinta dan diangguki temannya semua. Pada akhirnya mereka memilih untuk keluar dari gudang makanan. Dan saat terakhir Rama lah yang keluar dari gudang makanan. Sinta menoleh ke arah Rama yang masih terdiam. "Ram, gemboknya," peringat Sinta dengan melirik pelan ke arah gembok yang masih terpasang di daun pintu. Rama menolehnya dan baru tersadar. Bisa bahaya jika gembok itu mereka tinggalkan dalam keadaan terbuka. Dengan segera Rama menutup pintunya lagi, namun sebelum itu Rama menatap ke arah Laras untuk terakhir kalinya. "Gue janji, Ras. Orang yang udah bunuh lo, bakal mati di penjara," kata Rama lirih setelahnya menutup pintu itu tak lupa juga memasang kembali gemboknya. Kemudian Rama mengusap gembok dan juga gagang pintu itu menggunakan lengan hoodienya. Rama tak ingin meninggalkan sidik jari satupun disana. Dan pada malam ini, lima sekawan pulang ke rumahnya masing-masing dengan perasaan lega dan juga sedih. Mereka semua merasa lega karena pada akhirnya mereka bisa menemukan Laras. Namun mereka juga sedih karena Laras yang mereka temukan sudah dalam keadaan tak bernyawa. *** Setelah masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap, pada akhirnya Rama berhasil dan selamat sampai di kamarnya. Melepaskan hoodienya dan duduk diam dimeja belajarnya. Otaknya masih terbayang dengan bayangan Laras yang tergeletak terbujur kaku tak berdaya. Jujur saja saat ini Rama ingin sekali mengabari kedua orang tuanya Laras. Namun sebelumnya Rama harus menemukan terlebih dahulu siapa pelaku yang telah membunuh Laras. Rama teringat dengan kejadian tadi siang saat Pak Suryo tak memperbolehkan kedua orang tuanya Laras untuk mengecek rekaman cctv. Menyadari sesuatu Rama segera menghidupkan komputernya. "Sial, bisa-bisanya gue ngelupain hal sepenting itu," kata Rama bertepatan dengan komputernya yang menyala. Segera masuk ke dalam website akun retas nasional. Memasukkan titik tempat yang akan Rama retas cctvnya. Dan untung saja jaringan komputer di sekolah SMA Angkasa Wijaya tetap online meskipun dalam kondisi malam hari. Hal itu mempermudah bagi Rama untuk meretas cctv disana. Segara memeriksa semua cctv yang ada disekolahnya. Dan Rama membutuhkan waktu hampir empat jam karena Rama harus mengecek semua cctv dari waktu yang terhitung mundur sejak tiga hari yang lalu. Jika boleh jujur, Rama sangat merasa lelah sekali di sekujur tubuhnya. Tapi karena ini kasusnya Laras dan Rama ingin Laras mendapatkan keadilan, dengan tekad yang kuat Rama memaksakan tubuhnya untuk tetap berkerja. Dirinya masih memantau semua cctv yang jika dihitung ada dua puluh cctv. Saat jam weker di kamarnya menunjukkan angka tiga dini hari, saat itulah Rama menemukan sosok Laras di salah satu rekaman cctvnya. Memperhatikan dengan seksama dan memang benar jika sosok itu adalah Laras. Rama terkejut saat membaca hari munculnya sosok Laras di rekaman video tersebut. Dan ternyata itu adalah hari Jumat, tepat tiga hari yang lalu dan hari terkahir Laras bertemu dengan dua orang tuanya. Tetap memperhatikan rekaman itu sampai Rama melihat seseorang yang membuat kedua tangannya mengepal dengan erat tanpa sepengetahuannya. "Breng*sek! Dasar cowok breng*sek! Gue bakal buat lo mati dipenjara!" desis Rama kejam saat melihat sosok itu yang pergi meninggalkan rooftop. Dan sosok itu sempat menatap ke arah cctv yang ada di rooftop itu dan juga melampai ke arah cctv. Rama segera menekan beberapa keyboard dan tak lama tersalinlah video tersebut dan juga tersimpan di komputernya. Pada saat itu juga Rama segera membuat sebuah laporan kasus pembunuhan dan setelah selesai Rama segera mengirim laporan itu ke kantor polisi via email. Rama menatap kosong ke depan namun tatapannya terlihat sangat marah. Rama ingin, esok hari si pelaku segera ditangkap dan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah dia perbuat. *** Esok harinya di sekolah, digemparkan dengan adanya sebuah mobil polisi dan juga satu mobil ambulan. Para siswa yang baru saja datang saling berbisik-bisik dan sambil menunjuk dua mobil lengendaris itu. Saling bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada sekolahnya. Rama, laki-laki yang baru saja datang di sekolah, segera melarikan dirinya ke gudang makanan. Rama yakin jika di tempat itu, sudah ramai oleh banyak orang. Dan dugaannya benar, saat dirinya baru saja sampai dan langsung diperlihatkan sekumpulan siswa yang sudah berdiri di depan ruang gudang makanan dengan tatapan yang terkejut. Rama semakin mendekatkan dirinya kesana. Tak berapa lama, ada seseorang yang menepuk bahunya. Membuat Rama segera menoleh ke arahnya. Ternyata itu adalah Dewa yang baru saja datang bersama Nakula. "Nice," ujar Dewa pelan tanpa suara. Ya, Dewa dan Nakula sudah tahu jika yang melaporkan kasusnya Laras adalah Rama. Karena tadi pagi Rama sempat menelpom dua temannya itu dan menceritakan siapa pelakunya. Dan juga Dewa serta Nakula sudah tahu siapa pelaku pembunuhannya Laras. "Bentar lagi, bakal mampus itu anak,"kata Rama menyeringai tanpa sadar membuat Dewa merasa ketakutan melihat seringaian itu. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang yang telihat heboh. "Minggir! Minggir woy! Lo nggak denger, gue bilang minggir, hah?!" ujar orang itu dengan nada yang keras. Rama melemparkan tatapan marah ke orang yang baru saja datang itu. Orang itu datang dan tak berapa lama Pak Suryo datang dan berdiri disampingnya orang yang tadi sempat berteriak marah itu. Terlihat Tatapan Pak Suryo yang terkejut, saat melihat bebetapa petugas kesehatan menggotong jasad.  "Siapa dia?" tanya Pak Suryo. "Laras, Pak. Laras yang dikabarkan menghilang ternyata sudah meninggal karena dibunuh," balas salah satu siswa. Dan langsung berhasil membuat raut wajahnya Pak Suryo pucat pasi. Rama menatap remeh ke arah pak Suryo. Karena Rama yakin jika Pak Suryo ada sangkut pautnya dengan kematiannya Laras. Dua orang polisi yang baru saja keluar dari gudang itu. Berjalan mendekat dan berhenti di depannya Pak Suryo membuat Pak Suryo langsung merasa gugup seketika. Kedua tangannya bergetar tanpa dia sadari. Membuat tatapan beberapa orang terheran ke arahnya. Salah satu polisi mengeluarkan sebuah kertas yang baru saja dia ambil di saku celananya. Membukanya dan dia perlihatkan ke depannya Pak Suryo. "Dengan adanya surat resmi ijin penangkapan dari kantor polisi, kami akan membawa saudara Bima untuk kami periksa lebih lanjut di kantor polisi. Karena saudara Bima telah kami tetapkan sebagai pelaku atas kasus pembunuhan yang telah terjadi pada saudari Laras," kata salah satu polisi yang telah memperlihatkan surat penangkapannya. Tentu saja mereka semua terkejut mendengar hal tersebut. Semua pandangannya tertuju kepada salah satu siswa yang berdiri di sampingnya Pak Suryo. Bima, salah satu siswa yang tadi dia datang dengan marah, seketika wajahnya pucat pasi mendengar perkataan polisi itu. Lidahnya kelu saat dirinya akan membantah perkataan sang polisi. Tanpa perlu membutuhkan waktu lebih lama lagi, dua orang polisi itu segera membawa Bima dengan memborgol kedua tangannya. Sepeninggalnya dua polisi bersama Bima, semua siswa yang ada di sana heboh secara bersamaan. Mereka tak habis pikir dengan apa yang telah terjadi pagi itu. "Hah? Bima? Serius?" ujar Naya yang masih tak mempercayai apa yang telah dia lihat tadi. Bahkan Sinta hanya memandang heran, pasalnya Sinta belum kenal dengan Bima. Makanya Sinta tak tahu bagaimana sikap dan perilakunya Bima. Tapi sebenarnya Sinta juga sedikit merasa terkejut saat tahu jika pelaku pembunuhannya adalah Bima. Tapi ada yang mengganjal dihatinya, yaitu siapakah orang yang telah melaporkan kasus itu ke polisi? Sinta segera menatap ke arah samping kanannya. Dimana disamping kanannya itu berdiri Rama yang sedang menatap kosong lurus ke depan. Sinta mendekat, dan menggapai lengannya Rama bermaksut menarik perhatiannya Rama. "Rama," panggil Sinta pelan tanpa mengedipkan matanya. Karena Sinta ingin menemui kebenarannya. Sinta ingin mengetahui bagaimana caranya Rama melaporkan kasus itu ke polisi? Bahkan tadi malam Rama sendirilah yang berkata bahwa dirinya membutuhkan wakyu tang cukup lama sampai siang hari nanti untuk menguak kebenarannya. Tapi ini masih pagi dan kasusnya Laras sudah terselesaikan. Rama yang mendengar panggilan itu segera menoleh ke arah Sinta. "Lo, yang nyerahin laporannya ke polisi kan? Tapi bagaimana bisa? Ini belum sampai enam jam, Ram," tanya Sinta pelan takut jika sampai ketahuan oleh siswa lain. Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu membuat Rama terkejut. Kedua bola matanya membola dengan sempurna. Secepat kilat, Rama menoleh ke arah Dewa dan juga Nakula untuk meminta bantuan. Nakula yang mengerti kode tersbeut segera berkata kepada Sinta. "Gue minta bantuan papa gue, karena papa gue punya kenalan di polisi. Mereka percaya sama gue, karena mereka memang tahu kalo gue nggak pernah bohong," alibi Nakula telah menyelamatkan Rama. Rama menghembuskan napasnya lega, karena dirinya belum siap untuk membeberkan siapa Rama yang sebenarnya. Rama belum siap memberitahu Sinta jika dirinya adalah seorang hacker. Dan lebih parahnya lagi, Rama masih merasa takut jika dia mengakui bahwa dirinya sendiri adalah si Hacker Boy, seseorang yang pernah menggemparkan satu sekolah karena tindakannya yang telah berhasil memeprmalukan Queensha dua bulan yang lalu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN