Pencarian Laras

1653 Kata
Kalau satu nyawa melayang tak membuatmu merasa takut akan pembunuhan. Lantas, berapa banyak kebahagian yang akan kau rampas untuk menjauhi pembunuhan? -Rama- Rama duduk termenung di meja belajarnya. Merenung sebuah masalah yang sangat mengganggu pikirannya sejak tadi pagi. Apa lagi kalau bukan kasus menghilangnya Laras yang tiba-tiba. Bahkan tak ada jejak satupun di sekolah. Semua temannya Laras dan Rama yang dulu pernah satu kelas saat duduk dibangku kelas sepuluh, Rama tanyai semua. Namun tetap tak ada petunjuknya. Mereka berkata, mereka tak pernah mengobrol ataupun pergi bermain bersama Laras lagi. Karena memang Laras sangat sulit jika diajak main setelah pulang sekolah. Laras mau ikut pergi bermain setelah pulang sekolah kalau ada Rama yang menemaninya. Hal itulah membuat beberapa kesalah pahaman, karena mereka menduga jika Laras adalah kekasihnya Rama. Padahal kenyataannya tidak, bahkan hubungan mereka berdua tak direstui oleh mamanya Laras. Rama berpikir keras untuk mencari seseorang yang kemungkinan memiliki masalah ataupun dendam dengan Laras. Namun lagi dan lagi Rama tak menemukan jawabannya. Karena seperti yang pernah dikatakan, Laras adalah salah satu siswa kebanggaan para guru, sopan, lemah lembut dan baik hati. Mana mungkin ada seseorang yang berniat jahat terrhadapnya. Namun, seseorang bisa saja berubah jika memiliki hubungan yang tak menyehatkan atau orang-orang masa kini menyebutnya dengan istilah toxic realitionship. Hubungan yang tak menyehatkan yang bisa membuat seseorang berubah dan kadang kala sifatnya bisa berubah sampai seratus delapan puluh derat. Sekelebat bayangan terlintas di memorinya. Tapi Rama belum mengingat jelas memori itu. Rama hanya teringat jika dirinya pernah melihat Laras yang sering bolak balik ke toilet dan muntah-muntah. Sekelebat bayangan lain datang saat Rama memfokuskan fikirannya hanya tertuju kepada Laras. Sekelebat bayangan itu menyentak kesadarannya. Rama baru mengingatnya, Rama pernah melihat Laras yang menangis di taman belakang sekolahnya. Rama terkejut karena saat itulah Rama melihat Laras yang menangis untuk pertama kalinya. Karena selama Rama menjalin hubungan pertemanan dengan Laras, Rama tak pernah sekalipun melihat Laras menangis. Rama berpikir apakah Laras memiliki hubungan toxic realitionship? Otaknya terus berpikir keras sampai Rama teringat dengan sosok lain setelah Rama melihat Laras menangis. Yaitu Bima, anak badung yang tak pernah menyukainya. Bima selalu menatap penuh permusuhan saat bertemu dengan Rama. Namun Rama tak pernah menganggapnya serius. Rama berpikir ataukah Bima pelaku dari kasusmya Laras yang menghilang? Sontak Rama menggelengkan kepalanya, berpikir tak mungkin jika Bima pelakunya. Segera meraih ponselnya dan Rama mengetikkan pesan untuk teman-temannya. 5 Nak Beban Keluarga Rama, Sinta, Naya, Dewa, Nakula Rama|| Entar jam setengah delapan, kita kumpul di depan gerbang. Inget, jangan sampai ada orang rumah tahu jika kalian keluar. Pastikan mereka yakin jika kalian sudah tidur. Tanpa menunggu balasan dari teman-temannya, Rama segera meletakkan ponselnya diatas meja. Segera keluar dari kamar karena saat ini adalah waktunya dia makan malam bersama. Lima belas menit kemudian, Rama segera beranjak menuju kamarnya dan berasalan jika dirinya sudah mengantuk agar mamanya tidak curiga. Setelahnya dirinya mengantongi ponselnya dan segera keluar dari cendela kamarnya. Rama bersyukur karena letak kamarnya berada di paling belakang gedung rumahnya. Apalagi dibelakang kamarnya langsung bertemu dengan kebun anggur milik orang tuanya. Rama turun dengan sangat hati-hati menggunakan tangga yang sudah dia siapkan tadi. Untung saja, Bi Inah tak mengetahui tangga itu jadi sejak sejam yang lalu tangga itu masih berada di tempatnya. Setelah berhasil keluar dari kebun anggur, Rama segera menaiki sepedanya yang sudah tak terpakai namun masih bisa berfungsi dengan baik. Dan sepuluh menit kemudian Rama sudah sampai di depan pintu gerbang SMA Angkasa Wijaya. "Oi, Ram, sini," bisik seseorang. Rama menoleh dan langsung mendatanginya. Mengernyit saat melihat orang itu yang sendirian. "Yang lain mana?" "Gue kira juga udah pada dateng. Nggak tahunya gue dateng paling pertama. Serem tahu, udah kayak penjaga kuburan aja gue," kata Dewa menyuarakan kekesalan hatinya. Rama hanya mendengus saja. "Entar kalo di dalam kita ketangkap cctv gimana? Cctv di sekolag ada banyak wey," gumam Dewa yang masih mengkhawatirkan sesuatu. "Lo lupa gue siapa?" tanya Rama sinis. "Ya gue tahu. Cuma gue takut kalo tetep kecolongan sama orang sekolah." "Lo tenang aja. Entar, sehabis pulang dari sini, gue bakal retas cctv sekolah dan gue ambil rekaman videonya. Gue bakal buat kita nggak terlihat direkaman meskipun kita tertangkap cctv berkali-kali," terang Rama dengan tenang membuat Dewa mengangguk tersenyum. Rama merasa jika waktu sudah berlalu cukup lama, saat Rama mengecek jam tangannya tiba-tiba tiga temannya yang lain datang secara bersamaan. "Rama, Dewa!" teriak Naya spontan mendapat pelototan tajam dari empat temannya. "Kecilin suara lo, Nay," peringat Rama tajam. "Okey okey. Sorry," cicit Naya merasa bersalah. "Jadi, kita masuk dari mana nih?" tanya Sinta. "Gue ada jalan tikus. Disana aman, nggak ada cctv. Ayo," ajak Rama kepada teman-temannya. Mereka semua menurut dan mengikuti Rama dengan diam. Takut kalau-kalau menimbulkan suara dan mereka ketahuan oleh seseorang dan tentu renaca mereka pasti akan gagal. Rama memandu tiga temannya dengan hati-hati. Kenapa tiga temannya? Karena Dewa sudah mengetahui jalan tikus itu. Ya, jalan tikus itu adalah sebuah jalan rahasia khususnya untuk para anak badung yang akan membolos ataupun jalan pintas saat berangkat kesiangan. Sinta, Naya dan juga Nakula menatap takjub sepanjang jalan karena mereka baru mengetahui jalan rahasia itu. Jalan rahasia itu memang cukup panjang, emmbuat mereka cepat sampai di sebuah gedung terbengkalai di pojok sekolah. Dan dari sanalah mereka mulai membagi tugas. Mereka akan berpencar agar cepat menemukan Laras. "Oke, kita berpencar mulai dari sini. Kita bagi jadi dua kelompok. Gue sama Sinta cari dibagian gedung sayap kiri. Dewa, Naya sama Nakula cari digedung sayap kanan. Dan kalo kita nggak menemukan Laras, kita bakal ketemu di lobi tengah. Gimana? Ngerti?" terang Rama membicarakan rencana yang telah dia susun matang sejak dirinya dirumah tadi sebelum makan malam bersama. Rencananya Rama diangguki dan secara langsung disetujui oleh tiga temannya. Namun Sinta malah menggeleng. "Kenapa?" tanya Rama dengan nada rendah menatap ke arah Sinta karena memilih untuk menggeleng. "Kenapa gue harus sama lo?" tanya Sinta kebingungan. Sontak Rama menghembuskan napasnya pelan. Dirinya juga berniat ingin mendekati Sinta. Sakali menyelam sekalian minum air bukan? Mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibirnya Sinta, Naya, Dewa dan Nakula terbatuk secara bersamaan. Mereka merasa greget dengan sikapnya Sinta yang tak paham dengan kodenya Rama. "Lo nggak mau sama gue?" tanya Rama dengan memajukkan wajahnya untuk meneliti raut wajahnya Sinta. Tak tahu saja Rama, jika wajahnya ternyata terlalu dekat membuat Sinta gugup seketika. "Y-ya, enggak g-gitu. Gue--" "Udah udah. Lo sama Rama aja, Sin. Daripada buang waktu buat rubah rencana. Entar malah gagal. Udahlah ayo masuk," ajak Dewa kemudian pergi terlebih dahulu diikuti oleh Naya dan juga Nakula. Sepeninggal tiga temannya Sinta melirik ke arah Rama yang ternyata sedang menyetel ponselnya. Tak berapa lama terlihat cahaya dari ponselnya. Kemudian Rama menoleh ke arah Sinta. "Ayo jalan. Keburu kehabisan waktu," ujar Rama menyadarkan Sinta yang baru saja melamun. Sinta mengangguk dan segera mengikuti kemana perginya Rama. Mereka berdua berjalan dengan mengendap-endap takut jika ketahuan oleh orang lain. Sinta tetap berjalan disampimgnya Rama merasa takut jika jauh dari Rama. Saat mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua, mereka harus menelan ludah karena dilantai itu suasananya sangat sepi bahkan sangat gelap karena lampu semua dimatikan. Membuat bulu kuduk keduanya berdiri tegak. "Bagong! Nggak ada gunanya sekolah bayar mahal-mahal, kalo tiap malem lampu dimatiin," kata Rama dengan nada kesalnya. Dirinya bahkan mengantongi satu tangannya ke dalam saku hoodie karena disaku itu terdapat sebilah pisau lipat. Rama memang membawa pisau lipat itu untuk jaga-jaga. Sinta melihat ke sekeliling arah membuat dirinya tertinggal oleh Rama. "Rama, hih! Jangan jauh-jauh! Sini deketan," ujar Sinta dengan suara pelannya. "Kenapa? Lo takut kangen sama gue?" goda Rama memang terdengar tak menyambung dengan perkataannya Sinta. "Hih, b**o dasar! Lampunya kan lo yang bawa. Ponsel gue lowbat," balas Sinta menunjuk ponselnya yang benar-benar mati. "Ck, yaudah sinian. Jangan ngalamun. Kalo lo kerasukan, entar gue tinggal." "Ish, jahat lo!" Rama terdiam tak menanggapi Sinta. Tetap berjalan dan membuka tiap ruang ataupun mengeceknya dari luar cendela. Namun sejauh ini, mereka berdua belum menemukan Laras. Saat mereka akan melanjutkan perjalanan, mereka dikagetkan dengan kemunculan kucing hitam yang tiba-tiba. "Aaarghhh!!!" teriak Sinta ketakutan yang spontan langsung memeluk erat tubuhnya Rama. Tentu saja Rama terkejut dengan teriakannya Sinta. Tapi yang semakin membuatnya terkejut adalah Sinta yang sedang memeluknya. Mereka terdiam dengan berbagai perasaan. Pada akhhirnya Rama berdeham singkat. "Sinta, udah. Kucingnya udah pergi," kata Rama pelan dengan tepukan dibahunya Sinta. "Tapi gue masih takut," cicit Sinta yang terlihat sangat ketakutan. "Nggak usah takut, ada gue, oke?" Pada akhirnya Sinta melepaskan pelukannya. Berjalan lagi mengikuti kemanapun Rama pergi. Mereka berdua hampir selesai mengecek setiap ruang yang ada di gedung sayap kiri. Namun masih ada dua ruang yang belum mereka periksa, yaitu gudang penyimpanan makanan dan juga toilet. Rama memilih untuk mengecek gudang makanan terlebih dahulu. "Ram, kayaknya nggak mungkin ada Laras didalam," bisik Sinta pelan. Dan jika dipikir lagi, memang benar, Laras tak mungkin ada di dalam. "Mungkin apa enggaknya kita nggak bakal bisa tahu kalo kita nggak lihat sendiri. Udah, lo dibelakang gue aja. Biar gue yang cek," balas Rama kemudian berjalan mendekati pintu. Namun kedua alisnya mengernyit saat melihat pintu tak tergembok. "Gembok? Kok bisa? Dari banyaknya ruang yang kita cek, cuma ini yang digembok," gumam Sinta terheran. Tanpa berpikir lebih lama lagi Rama maju dan mengeluarkan pisau lipat dari saku hoodienya membuat Sinta terkejut melihatnya. "Lo gila?! Lo bawa--" "Gue bawa cuma buat jaga-jaga. Gue janji gue nggak akan nyakiti orang lain, Sinta," kata Rama dengan nada yang terdengar lembut. Membuat Sinta terpesona dan tanpa sadar menganggukan kepalanya. Rama segera membuka paksa gembok itu menggunakan pisaunya. Butuh waktu yang lama agar Rama bisa membukanya. Dan pada menit ke dua puluh, akhirnya gembok berhasil Rama buka. Dengan cepat Rama membuka pintu dengan perlahan. Jantung keduanya berdebar sangat kencang menunggu sesuatu yang akan mereka lihat. Dan saat pintu terbuka dengan lebar, napas keduanya terasa seperti tercekat. "Aaarghhh!!" teriak Sinta lagi dan segera memeluk erat tubuhnya Rama. Dan tanpa sadar tangisannya Sinta keluar membuat Rama bertambah terkejut dan membalas pelukannya Sinta. Kedua matanya menatap lurus didalam gudang makanan. Tepat didalam gudang itu ada Laras yang sudah terbaring tak sadarkan diri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN