Seharusnya aku menekan egoku. Seharusnya aku bisa mengungkapkan rasa ketakutanku. Seharusnya aku bergerak. Namun itu hanya sebatas kata seharusnya. Dan kini dia telah menghilang. Menghilang entah kemana sampai aku tak bisa menemukan dirinya lagi.
-Rama-
Pagi hari, setelah berbagai masalah yang Rama lalui, kini Rama berangkat sekolah dengan hari riang gembira. Hatinya terasa riang tak seberat hari-hari sebelumnya. Bahkan, kini penampilannya kembali pada semula. Tak ada lagi gaya rambut yang monoton tak ada lagi baju tapi yang dimasukkan. Semua itu tak ada lagi. Yang ada kini Rama membiarkan rambutnya menutupi sebagian matanya, dan tak lupa juga seragam yang sengaja Rama tak masukkan ke dalam celana. Kebiasaannya telah kembali, dengan tekadnya Rama berangkat ke sekolah dengan memakai sepatu hitam putihnya. Memakai jaket baseball berwarna hitam putih, dan dengan sengaja Rama melanggar tata tertib sekolah dengan memakai jaketnya itu sembari memasuki gerbang sekolah. Padahal, peraturan sekolah menyebutkan jika siswa memasuki lingkungan sekolah harus melepaskan jaketnya, namun hari ini Rama ingin menyenangkan dirinya sendiri. Kalau bukan dirinya sendiri, lantas siapa?
Berjalan dengan penuh gaya khasnya dan kebiasaannya mengunyah permen karetnya pun ikut kembali. Berjalan santai dengan mulut yang sibuk membuat gelembung dari permen karet. Satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana sedangkan satu tangannya lagi sibuk memainkan kunci motornya. Tersenyum penuh arti saat teringat percakapannya dengan mamanya tadi malam. Rama memang berbicara dengan mamanya soal les yang seharusnya dia jalani minggu kemarin. Tapi bukan itu yang Rama katakan. Melainkan hal lainnya.
***
Sore harinya, setelah Rama menghabiskan sehari penuh dengan bermain bersama temannya di mall, Rama merasa sangat senang. Seolah Rama adalah rapunzel yang baru saja dibebaskan oleh ibu tirinya. Seolah-olah, Rama baru pertama kalinya diajak bermain di mall. Rama dan keempat temannya menghabiskan waktu dengan menonton film di bioskop, bermain berbagai macam game di timezone, dan makan di kedai yang membuat mereka harus bermain kertas, batu, guting karena saling berdebat hanya untuk memilih kedai mana yang akan mereka kunjungi.
Sesampainya di rumah, Rama segera masuk dan membersihkan dirinya. Dirinya sengaja tak keluar dari kamar karena tahu jika mamanya pasti sedang istirahat. Saat makan malam, barulah Rama keluar untuk melakukan kegiatan seperti biasa, yaitu makan malam bersama. Dan saat itu dugaannya ternyata terjadi, lagi-lagi papanya tidak pulang dengan alasan lembur kerja. Rama diam saja dan berusaha untuk mengabaikannya. Mamanya yang melihat Rama yang diam memakan makan malamnya, menoleh untuk menanyakan kegiatan anaknya tadi siang.
"Rama, kamu jadi les kan tadi?" tanya Mama mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Jadi kok, Ma," kata Rama santai. "Cuma tadi ada kecelakaan, Ma."
"Kecelakaan gimana?"
"Tadi waktu Rama lagi dijalan mau ke tempat les, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu sama anak kecilnya kecelakaan tabrak lari. Rama sebenarnya nggak mau nolong karena waktunya mepet sama jam les, tapi Rama merasa kasihan waktu lihat si anak kecil," cerita Rama berbohong. Dirinya sudah merencanakan cerita itu jika dirinya ditanyai oleh mamanya. Dan ternyata benar, mamanya bertanya perihal lesnya.
"Terus?"
"Ya Rama tolongin, Ma. Rama bawa si anak kecil itu ke rumah sakit. Luka ibunya cukup parah, Ma. Harus dioperasi juga. Selama operasi, si anak kecil nggak ada yang nemenin. Sebenarnya Rama mau pergi, cuma pas Rama mau pergi ada suster yang minta tolong buat nemenin si anak kecil itu karena disangka Rama abangnya."
Rama melirik ke arah mamanya untuk melihat raut wajah mamanya. Dan ternyata benar, wajah mamanya terlihat sedikit kecewa. Rama tahu apa yang membuat mamanya kecewa, yaitu karena Rama tidak jadi mengikuti les.
"Mama, nggak papa?" tanya Rama bertanya.
"Enggak, enggak papa. Wah kamu hebat ya. Mama bangga sama kamu yang suka nolongin orang lain," kata mama membuat Rama tersenyum senang, yang sebenarnya senyum terselubung.
"Tapi, lain kali kamu ikut lesnya ya?" tanya mama terdengar memohon kepada Rama.
"Iya, Ma. Santai aja. Minggu depan kan? Oke, Rama bakal berangkat," ucap Rama membuat mamanya tersenyum seketika.
***
Rama masih berjalan dengan senyum senangnya saat teringat dengan memorinya tadi malam. Rama bersyukur karena mamanya tak menaruh curiga sedikitpun kepadanya. Dan untuk mengikuti les minggi depan, Rama akan mencoba datang. Dan jika lesnya tak seperti apa yang dia harapkan, Rama sendiri yang akan berbincang kepada mama jika dirinya tak mau ikut les. Saat berjalan melewati ruangan guru, Rama dibuat terheran saat melihat banyaknya siswa berkumpul di depan ruangan itu. Segera Rama mendekat. Bertanya kepada salah satu siswa didepannya.
"Oi, ada apaan tuh diruang guru?" tanya Rama setelah menepuk bahu orang itu.
"Katanya ada siswa hilang," balas orang itu singkat. Membuat alis Rama mengernyit tajam.
"Siswa hilang? Anak sini," tanya Rama sekali lagi dan mendapat anggukan dari orang itu.
"Oke. Thanks Bro," ucap Rama berterima kasih dan membuat orang yang dia tanyai itu mengangkat ibu jarinya ke arahnya Rama.
"Siap!"
Rama segera berjalan mendekati kerumunan itu. Alisnya tambah mengernyit saat melihat sepasang suami istri yang dia kenali. Mereka adalah orang tuanya Laras. Rama kenal karena dulu saat kelas spuluh dirinya sering bermain di rumahnya Laras. Terlihat, Luna, mama Laras menangis tersedu-sedu dipelukannya Damian, papa Laras. Segera mendekat dan menunduk dengan sopan.
"Eh ada Tante Luna sama Om Damian?" tanya Rama berbasa-basi. Luna yang mendengar suaranya Rama, segera menegak dan menoleh ke arah Rama.
"Eh ada Nak Rama," kata Ibu Luna kemudian membalas jabat tangan dari Rama. Rama juga menyalami Pak Damian.
"Tante kenapa?" tanya Rama pengertian. Ibu Luna berjalan mendekat ke arah Rama. Dan menggenggam tangannya Rama membuat Rama terkejut tiba-tiba.
"Laras, L-Laras--"
"Laras kenapa, Tante?" tanya Rama karena merasakan firasat yang tak mengenakan.
"Laras hilang, Nak."
"Nggak mungkin Laras hilang, Tante. Rama tahu kalo Laras anak baik-baik. Nggak mungkin ada orang yang nyulik Laras," ujar Rama tak percaya.
"Tapi kenyataannya begitu, Nak Rama. Laras, anak kami hilang sejak tiga hari yang lalu," ujar Pak Damian yang sedari tadi terdiam.
"Lalu, Tante sama Om udah lapor ke guru? Apa kata mereka?"
"Mereka masih menindaklanjuti kasus ini," balas Pak Damian.
Tiba-tiba bel berbunyi. Membuat semua siswa harus membubarkan diri dan kembali ke kelasnya masing-masing. Namun berbeda dengan Rama. Dirinya masih berdiri di depan orang tuanya Laras dengan berbagai perasaan yang memenuhi rongga dadanya. Disatu sisi Rama merasa kecewa dengan Luna, karena dirinya tak merestui hubungan antara dirinya dengan Laras. Namun disisi lain, Rama merasa kasihan dengan dua orang itu. Dan sejujurnya Rama merasa khawatir dengan kondisinya Laras. Maka dengan tekad yang kuat, Rama akan membantu Luna dan Damian untuk mencari Laras.
"Kamu tidak masuk ke kelas?" tanya Luna memperhatikan Rama.
"Enggak, Tante. Rama mau tahu kasusnya Laras dan Rama pengen dengar bagaimana kabar yang guru bawakan," balas Rama mantap. Mendengar pernyataan yang demikiam membuat Ibu Luna merasa terharu dan memeluk Rama. Dirinya sangat menyayangi Laras dan juga Rama. Namun ada sesuatu hal yang membuat dirinya harus menentang hubungan anaknya dengan Rama. Sat sedang asyik berpelukan tiba-tiba Pak Suryo, guru kesiswaa datang demgan wajah yang terlihat dingin. Memang begitulah karakternya Pak Suryo, jadi Rama tak mempermasalahkannya.
"Dengan adanya kasus ini, para guru tidak bisa membantunya karena kami para guri tidak tahu menahu soal hilangnya Laras. Mungkin saja Laras pergi ke tempat temannya yang berbeda sekolah. Kami akan usahakan untuk menanyai siswa di seluruh kelas jika tahu keberadaannya Laras," kata Pak Suryo membuat alis ketiga orang didepannya mengernyit.
"Tapi, Laras tidak pernah pergi bermain setelah pulang. Saat pulang sekolah Laras akan segera kembali ke rumah. Kami tahu bagaimana Laras, karena kami orang tuanya," sanggah Pak Damian karena merasa tak puas dengan jawabannya Pak Suryo.
"Maaf, kami tidak bisa membantu terlalu banyak. Namun kami akan usahakan yang terbaik untuk putri Anda."
"Tolong, Pak. Bantu kami, Saya yakin jika Laras masih ada di sekolah sebelum menghilang," ujar Ibu Luna.
"Sudah Saya katakan, kami akan berusaha semaksimal mungkin," balas Pak Suryo tanpa ekspresi. Membuat Rama terheran adalah tatapannya Pak Suryo yang tak terlihat panik ataupun lainnya. Bagaimana Pak Suryo bisa begitu?
"Apakah orang tuanya Laras bisa melihat rekaman cctv tiga hari ke belakang. Mereka perlu melihat aktifitas terakhir Laras di sekolah," ujar Rama tiba-tiba membuat semua pasang mata menatap ke arahnya. Dan Rama bisa merasakan tatapan tajam dan dingin miliknya Pak Suryo.
"Iya, Pak. Ijinkan kami melihat rekamannya," pinta Pak Damian.
"Baik. Saya akan mengeceknya. Kalian silahkan tunggu diruang tunggu," balas Pak Suryo kemudian berjalan pergi menuju ruangan cctv. Rama sebenarnya merasa heran saat Pak Suryo tak mengajak Ibu Luna ataupun Pak Damian. Namun Rama gak perlu memikirkannya, mungkin saja memang kebijakan sekolah begitu.
"Terima kasih banyak, Nak Rama. Kamu sudah membantu kami," kata Ibu Luna.
"Enggak, Tante. Itu udah kewajibannya Rama buat nolongin Tante dan Om. Ya udah, Rama pamit ke kelas dulu, Tante, Om."
"Iya. Semoga dipermudah belajarnya ya."
"Iya, Tante. Terima kasih."
Setelahnya Rama pergi meninggalkan ruang guru dan berjalan menuju ruang kelasnya berada. Sepanjang jalan, Rama terus terpikirkan oleh perkataannya Pak Suryo. Mengapa mereka tak mengajak kedua orang tuanya Laras untuk mengecek rekaman cctvnya? Padahal mereka sangat membutuhkan rekaman cctv itu. Saat sampai di kelasnya, Rama segera duduk. Dan mengikuti pembelajaran dengan baik.
Setelah kurang lebih empat jam, bel istirahat berbunyi. Buru-buru Rama pergi menuju ruang tunggu untuk menemui kedua orang tuanya Laras. Tak lupa juga keempat temannya Rama mengikuti kemana Rama pergi. Dan ternyata Ibu Luna dan Pak Damian akan pergi dari sekolah. Terlihat Ibu Luna yang menangis kencang disamping suaminya.
"Tante, Om, bagaimana?" tanya Rama langsung pada intinya.
"Tidak ada rekaman cctv yang memperlihatkan Laras beraktifitas di sekolah saat terkahir kali Laras menghilang, Nak Rama," balas Pak Damian terlihat sangat sedih. Tentu saja bukan hanya Rama saja namun keempat temannya juga terkejut. Bagaimana bisa tidak ada rekaman cctv yang memperlihatkan Laras di sekolah?
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Kata guru, saat hari terkahir Laras menghilang, Laras absen tanpa keterangan."
"Nggak mungkin," bisik Naya disampingnya Sinta membuatnya menoleh penasaran.
"Kenapa bisa?" tanya Sita lirih ke Naya.
"Karena Laras nggak mungkin bolos. Gue kenal gimana Laras. Ada yang nggak beres disini," kata Naya menatap lurus ke Rama yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya.
"Ya sudah, Om sama Tante mau pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus ini," pamit Pak Damian dan mendapat anggukan dari Rama. Setelah kedua orang tuanya Laras pergi, Rama dan keempat temannya segera kembali ke kelas.
"Ram, lo percaya gitu aja?" tanya Naya karena sebenarnya Naya juga temannya Laras saat kelas sepuluh.
"Lo tahu gue, Nay," balas Rama pelan.
"Gue juga tahu. Ada yang aneh bukan. Gue rasa sekolah kita nggak sebaik yang kita kira."
Rama mengangguk mendengarkan perkataannya Naya. Dirinya berpikir keras, dimana Laras saat ini. Rama yakin Laras tak memiliki kenalan di luar sekolah. Karena dulu Laras sendiri yang berkata padanya. Lantas, jika bukan di luar sekolah, Laras hanya memiliki teman di dalam sekolah saja. Namun sampai saat ini tak ada kabar satupun siswa yang mengetahui keberadaannya Laras. Rama berktekad ingin mencari Laras di sekolah. Diseluruh ruang sekolahnya. Dan seperti yang Naya katakan, pasti sekolahnya tak sebaik yang semua orang kira. Rama belum bisa menebak siapa yang telah menculik ataupun memiliki masalah dengan Laras. Karena setahunya Laras adalah siswa kebanggaan semua guru karena dirinya yang siswa yang penurut dan pintar.
"Gue mau nyari Laras," kata Rama membuat temannya menoleh terkejut.
"Serius lo? Laras loh ini. Lo nggak inget, mamanya Laras pernah nggak ngerestuin hubungan lo sama Laras," ucap Dewa merasa tak setuju dengan perkataannya Rama.
"Bodo amat, Wa. Gue nyari Laras karena gue khawatir sama teman gue, bukan karena gue khawatir antara cewek dan cowok. Siapa yang pengen ikut, nanti malam kita ketemuan di pintu gerbang. Entar gue chat kapan kita berangkat," kata Rama kemudian pergi meninggalkan kelas dengan tatapan bingung empat temannya.