Mantan Kekasih

1594 Kata
Tak perlu mengharapkan sesuatu dari masa lalumu. Ambilah hikmah dan pengalaman dari itu. Setelahnya berdamailah dengannya. Maka, kau akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bahagia lagi di masa yang akan tadang. -Rama- Bagaimana perasaanmu saat kamu dihantam oleh beberapa masalah dalam waktu bersamaan? Itulah yang baru saja Rama lalui. Kini tidak lagi karena saat ini, empat temannya sudah duduk melingkar membantu Rama menyelesaikan masalahnya. Minimal mereka cukup mendegarkan keluh kesahnya Rama. Dan syukur saja satu masalahnya terselesaikan berkat pertolongan Sinta. Yaitu masalah terpecah belahnya pertemanan antara Rama, Naya, Dewa dan juga Nakula. Rama sangat bersyukur karena telah dikirim teman-teman yang baik hati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Nikmat satu itu Rama tak akan pernah habis untuk mensyukurinya. Kini, masih ditempat yang sama, yaitu di taman kota, Rama dan keempat temannya sedang duduk santai dengan memakan pentolnya Mang Dennis yang baru saja tiba lima menit yang lalu. Jam mangkalnya Mang Dennis memang sedikit lebih siang daripada penjual kaki lima lainnya. Rama dan Dewa selalu melempar olokan ke arah Sinta dan Naya karena dua gadis itu terlihat sangat norak dengan makanan favoritnya, yaitu pentol. Padahal pentol adalah jajanan wajib dinikmati oleh anak SD. Bagaimana bisa Sinta dan Naya baru merasakan jajanan satu itu. Karena ini baru pertama kali bagi Sinta dan Naya makan jajanan yang biasa orang-orang menyebutnya pentol, membuat keduanya kalap memakan beberapa tusuk pentol itu dengan saus kacang yang belepotan di sekitar bibirnya. Dan saat itu juga tawa Rama dan Dewa pecah seketika. Sinta dan Naya memilih mengabaikannya dan tetap melanjutkan acara makannya. Dan aksi keduanya membuat Rama dan Dewa menggelengkan kepala dengan pasrah. "Lo belepotan banget makannya, Sin, Nay. Anak gadis itu kalo makan harus bisa kalem. Jangan kayak anak kecil ginilah. Norak tahu," kata Rama setelah menyelesaikan tawanya tadi. Dewa mengangguk membenarkan ucapannya Rama. Namun dua gadis didepannya ini tak mempedulikannya. Seolah tak bisa mendengar perkataannya Rama. "Wey, kalem wey! Lo berdua cewek loh. Entar kalo ada cowok ilfill lihat kalian berdua kan nggak etis," sungut Dewa karena dua gadis itu masih saja tak mendengarkan ucapannya.  Sedangkan Nakula tetap diam saja dengan satu tangannya memegang ponsel dan kedua matanya bergulir kesana kemari membaca materi sekolahnya. Seperti biasa, study is everywere. Beberapa detik kemudian, Rama dan Dewa merasa gatal ingin membersihkan sisa saos kacang yang menempel di sekitaran bibirnya Sinta dan Naya. Dengan kompak namun tanpa aba-aba, Rama dan Dewa segera meraih selembar tisu miliknya Sinta dan mengelap cepat bibirnya Sinta dan Naya. Membuat kedua gadis di depannya terlonjak kaget dengan perlakuannya Rama dan Dewa yang tiba-tiba itu. Membuat suasana canggung melanda diantara mereka. Sontak saja Nakula berdeham keras. "Ehem! Seumur hidup baru kali ini gue dijadiin obat nyamuk," sindir Nakula melirik sinis ke arah Rama dan Dewa bergantian. Sontak Sinta juga ikutan berdeham pelan membuat Rama menoleh ke arahnya. "Y-ya, lo kan bisa bilang ke gue kalo ada saos di bibir gue. Nggak usah gitu juga lo, Ram," cicit Sinta kemudian merebut tisu yang ada ditangannya Rama. Membersihkan bibirnya sendiri. Rama melirik sinis ke arah Sinta.  "Nye nye nye. Tadi siapa yang udah gue ingetin tapi nggak lo dengar?" tanya Rama dengan tatapan tajam. "Ehm, siapa ya? Gue nggak tahu tuh. Lo tahu nggak, Nay?" tanya Sinta bergaya seperti tak mengetahui apa yang sedang Rama katakan. "Ehm, g-gue juga nggak tahu tuh," balas Naya gagap kemudian menggaruk kepalanya dan melempar cengiran andalannya diikuti oleh Sinta. Membuat Rama dan Dewa menghela napas berat saat berhadapan dengan dua teman gadisnya itu. "Cepet makan lagi. Habisin, gue mau ajak main lo berempat habis ini," suruh Rama kepada Sinta dan Naya. Langsung saja Sinta dan Naya melahap kembali pentolnya. Kali ini mereka makan dengan sedikit lebih menjaga kebersihan. Mereka berdua tak mau lagi mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba dari Rama dan Dewa. Melihat Sinta dan Naya yang makan dengan rapi membuat Rama dan Dewa menyunggingkan senyum senangnya. Mereka berlima kemudian terdiam. Saat ini mereka berlima sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Saling duduk diam di kursinya. Mereka kompak terdiam tak ada yang bersuara salah satupun dari mereka. Hingga tak berapa lama kemudian, sepasang kekasih berlalu melewati mereka dengan berdebat ringan. Dan lima sekawan itu bisa mendengar perdebatan sepasang kekasih itu dengan jelas karena suaranya yang keras. "Ra, tunggu, Ra. Jangan pergi. Gue bisa jelasin siapa itu Tiwi!" seru seorang laki-laki yang terlihat sedang mencengkeram lengan kekasihnya. Rama dan empat temannya mengernyit melihat pertunjukan sepasang kekasih itu.  "Nggak! Gue nggak mau denger penjelasan dari lo. Karena gue tahu, lo pasti bohongin gue. Sekarang gue minta, sekarang juga putusin gue," balas seorang gadis dengan tatapan yang tajam membuat si laki-laki melototkan kedua matanya. Dirinya terlihat sangat syok maka dari itu si gadis memanfaatkan kesempatan yang ada. Segera menghempaskan tangan besar laki-laki itu dari lengannya kemudian berjalan pergi. Namun si laki-laki segera mencegahnya. "Nggak, Ra! Jangan minta putus. Gue masih sayang sama lo, Ra! Karra! Tunggu, Ra!" Melihat pertunjukan sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu membuat lima sekawan menggelengkan kepalanya kompak. Mereka tak habis pikir dengan gaya pacaran jaman sekarang. Apalagi saat melihat kejadian itu, mereka berlima merasa jika sedang menonton sinetron yang biasa tayang di televisi. Rama masih saja menggelengkan kepalanya antara merasa takjub dan juga terheran. Takjub dengan peran kedua sepasang kekasih itu yang penuh penghayatan dan juga merasa terheran bagaimana akhir dari kisah sepasang kekasih itu. "Nggak habis pikir gue sama kids jaman now," celetuk Rama tiba-tiba dengan pandangan yang masih menatap ke arah sepasang kekasih itu pergi. Celetukannya Rama membuat empat temannya memalingkan pandangan ke arahnya. "Emang kenapa?" tanya Naya penasaran. "Kalo kids jaman now lagi pacaran terus ribut, mereka sering tiba-tiba minta putus," balas Rama kemudian menggeleng pelan. "Kan emang udah gitu fase-fase orang pacaran," gumam Dewa tak habis pikir dengan perkataannya Rama. "Kalo kayak gitu salah lah. Terlalu monoton. Nggak kreatif." "Terus yang benar itu gimana?" tanya Sinta pelan. "Yang bener itu, kalo orang lagi pacaran terus tiba-tiba ribut, mereka seharusnya minta nikah bukan malah minta putus. Heran gue mah," kata Rama dengan emosi yang menggebu-gebu membuat empat temannya menatap sinis ke arah Rama. "Itu mah maunya elo!" seloroh empat temannya membuat Rama terlonjak kaget karena merasa terkejut mendengar seruan empat temannya yang terdengar sangat kompak seperti paduan suara. Rama mengusap telinganya karena merasa mendenging setelah temannya berseru secara kompak tadi. Tak berapa lama, sepasang kekasih lain berjalan melewati lima sekawan itu. Terlihat seorang laki-laki dari sepasang kekasih itu berjalan dengan tatapan malas ke arah di gadis yang senang dan terlihat sedang menggenggam lengan si laki-laki dengan erat. Dua ekspresi yang bertolak belakang itu terlihat sangat kontraks dan sangat jelas. "Sayang, Sayang, tahu nggak?" tanya si gadis dengan nada yang sangat ceria. "Nggak," balas si laki-laki dengan nada malas membuat pasangannya itu cemberut sesaat. "Ih dengerin dulu. Aku seneng deh, akhirnya orang tua kita jodohin kita." "Gue yang nggak seneng," balas si laki-laki tanpa pikir panjang membuat si gadis merasa sedih. Namun perasaan sedihnya seketika berganti menjadi ceria lagi. Segera menarik lengan si laki-laki agar si laki-laki tidak berjalan cepat meninggalkan dirinya. "Kira-kira hubungan kita diibarkan sedekat apa ya?" ucap si gadis itu secara random. Dan ternyata membuat atensi pasangannya beralih ke arahnya. Sontak si gadis merasa sangat senang karena telah berhasil merebut perhatian pasangannya. Terlihat si laki-laki yang sedang berpikir membuat Rama dan teman-temannya terdiam mendengarkan apa yang ingin si laki-laki ucapkan. Si laki-laki masih menatap ke arah si gadis kemudian berujar. "Bekasi-kalimantan." Awalnya di gadis merasa terheran dan berpikir keras. Namun tetap merasa senang karena perkataanya mendapat respon dari pasangannya. "Wah gimana tuh?" "Dekat dipeta, jauh dikenyataan," balas si laki-laki itu cuek kemudian menghempaskan tangan si gadis dari lengannya. Membuat di gadis terlonjak kaget segera menyusul pasangannya. "Hei, Jez, tungguin aku. Aku aduin ke mama kamu kalo kamu sampai berani tinggalin aku!" teriak si gadis itu ke arah di laki-laki yang telah berjalan jauh didepannya. Segera membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah si gadis lagi. "Bodo amat, Zie. Gue nggak takut sama ancaman lo. Dan satu lagi. Jangan paksa gue buat jadi tunangan lo!" teriak si laki-laki membalas perkataan si gadis. Membuat di gadis menahan tangisnya dan segera pergi ke arah yang berlawanan. Awalnya Rama dan empat temannya masih bingung menyaksikan pertunjukkan itu. Namun tak berapa lama mereka berlima mulai memahami apa yang telah terjadi. Saat itu barulah Rama dan temannya tertawa terbahak-bahak menyaksikan peristiwa itu. Dua peristiwa dari dua pasang kekasih yang berbeda namun memiliki akhir yang sama. Yaitu, sama-sama berakhir kandasnya hubungan mereka. Rama menunduk, merasa kram di perutnya karena tak berhenti tertawa. Begitu pula dengan Sinta, Naya dan Dewa. Mereka benar-benar merasa terhibur dengan dua pertunjukan itu. "Memang indah kisah para mantan itu," ujar Rama membuat empat temannya menoleh ke arahnya dengan alis mengernyit tajam. "Indah? Salah b**o! Yang bener itu tragis," kata Nakula sinis karena tak habis pikir dengan otaknya Rama. Bertanya-tanya apakah otaknya Rama masih bisa berkerja dengan baik atau tidak. "Tragis di mereka. Tapi indah di gue. Gue jadi merasa terhibur. Huh, padahal baru seminggu gue berubah jadi cowok pendiam. Tapi entah kenapa gue ngerasa udah satu tahun gue nggak ketawa. Ya Allah Gusti, gue merasa terhibur," ucap Rama yang tak lama kemudian dirinya tertawa terbahak-bahak lagi. Membuat empat temannya menatap kembali ke arahnya dengan tatapan sinis. "Dasar, nggak ada akhlak!" teriak empat temannya membuat Rama semakin memgencangkan tawanya. Merasa terhibur juga setelah melihat raut wajah temannya yang kesal. Untuk saat ini Rama hanya ingin merasakan kebahagiaan bersama dengan empat temannya. Urusan mamanya yang ternyata Rama tak jadi berangkat les dan urusan papanya yang malah berselingkuh, Rama akan selesaikan nanti saja. Saat ini dirinya butuh penyegaran otak dan mentalnya. Terutama moodnya. Dan hanya empat temannya lah yang bisa mengembalikan moodnya Rama kembali menjadi bagus lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN