Dalam sebuah lingkaran pertemanan, masih ada lingkaran pertemanan lagi di dalamnya. Hal ini memicu terpecah belahnya hubungan pertemanan itu. Jika sudah demikian, kamu harus bisa mencari seorang teman yang memang benar-benar saling percaya padamu, caranya adalah kamu berikan kepercayaanmu kepada temanmu itu. Dengan demikian kamu akan aman ketika telah mendapatkan teman seperti itu.
-Rama-
Malam hari, setelah menyelesaikam makan malamnya, Rama segera bergegas menuju kamarnya. Mengambil beberapa buku yang dia perlukan dari rak khusus buku. Setelahnya, Rama duduk tenang di depan meja belajarnya. Malam ini adalah malam minggu. Tak ada lagi, malam minggu dimana Rama akan bermain di rumahnya Dewa ataupun rumahnya Nakula. Tak ada lagi malam minggu yang Rama habiskan dengan bercanda ria dengan berkedok belajar bersama kedua temannya. Tak ada lagi malam minggu yang Rama habiskan dengan mengerjakan beberapa perintah dari teman-temannya atas imbalan dari uang yang telah Rama terima. Semua itu tak akan pernah ada lagi sejak Rama putuskan ingin menjadi anak yang patuh dengan kedua orang tuanya. Maka dari itu, malam minggu ini Rama habiskan dengan belajar giat untuk menambah wawasannya. Apalagi sebentar lagi akan ada ulangan tengah semester. Rama bertekad ingin menunjukkan hasil atas kerja kerasnya selama ini kepada kedua orang tuanya terutama papanya dengan nilai seratus di setiap mata pelajaran. Dan Rama berdoa, agar usahanya tidak mengecewakan siapapun.
Saat ini Rama sengaja mematikan seluruh perangkat elektroniknya, termasuk ponselnya sekalipun. Rama tak ingin kegiatan pembelajarannya terganggu. Saat Rama sedang asyik menghitung beberapa angka di atas kertas yang sudah banyak terdapat coretan tangannya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya dari luar. Rama menoleh ke sumber suara dengan alis mengernyit. Mencoba menebak siapa orang yang telah mengganggu belajarnya tanpa sadar. Melirik ke jam wekernya dan ternyata masih pukul delapan malam. Itu artinya, Rama baru belajar sekitar tiga puluh menit.
"Rama, ini Mama!" teriak seseorang dari luar membuat Rama menghembuskan napasnya. Segera berjalan untuk membukakan pintu agar mamanya bisa masuk. Tadi sebelumnya Rama sengaja mengunci pintunya agar tak ada seseorang yang mengganggu dirinya. Namun saat melihat mamanya yang mengetuk pintu, Rama menebak pasti ada sesuatu yang perlu mamanya bicarakan dengan dirinya. Dengan segera Rama membukakan pintunya.
"Ada apa, Ma?" tanya Rama yang sudah kembali duduk pada posisinya. Mama tak langsung menjawab, mengedarkan pandangannya ke arah meja belajarnya Rama. Tersenyum dan memgangguk saat melihat beberapa buku dan peralatan tulis lainnya tergeletak di atas meja dengan keadaan buku yang terbuka. Pandangannya berlaih ke meja satunya di sisi kamar yang berbeda. Semakin tersenyum saat melihat seperangkat komputer yang masih dalam mode offline dan juga laptop dalam keadaan mode offline. Mamanya kini yakin jika Rama benar-benar akan menjadi anak yang patuh kepada kedua orang tuanya. Segera duduk diatas kasurnya Rama dengan kedua pandangan tak lepas dari sorot matanya Rama.
"Mama seneng, akhirnya kamu mau dengerin harapannya mama. Mama seneng banget, waktu lihat kamu sungguh-sungguh mau belajar dengan giat. Semoga papamu bangga ya," kata mama dengan senyum bangganya. Rama mengangguk dan juga membalas senyum mamanya. Namun entah mengapa, Rama tak begitu terlalu senang setelah menerima pujian seperti itu. Apa karena Rama terpaksa melakukannya? Entahlah, Rama sendiripun tak begitu yakin dengan apa yang kini dia lakukan saat ini.
"Oh iya, kemarin waktu Mama belanja di mall, Mama ketemu sama teman Mama
Dia buka tempat les buat anak SMA. Kamu coba aja datang ke sana besok minggu. Kalau kamu cocok, kamu bisa les disana. Disana juga bisa les private kok. Jadi, gimana? Kamu mau kan?" tanya mama dengan wajah yang terlihat bersemangat. Sontak saja Rama menyunggingkan senyumnya. Bukan karena senang mendapatkan tempat les, tapi karena Rama senang melihat raut wajah senang mamanya dan keantusiasannya. Jujur saja, sebenarnya Rama merasa kelelahan karena belajar terus setiap waktu. Namun demi mama dan papanya Rama akan mengikuti semua kemauan kedua orang tuanya itu.
"Iya, Ma. Rama mau, besok Rama ke tempat lesnya," balas Rama pada akhirnya membuat sang mama tersenyum semakin lebar karena merasa puas dengan jawaban dari Rama. Mama sgera bangkit dari duduknya, untuk meninggalkan Rama agar lebih nyaman saat belajar.
"Yaudah, Mama balik ke kamar dulu ya. Kamu semangat belajarnya," ujar mama mengusap sayang pucuk kepala Rama. Segera berjalan menuju pintu berada. Saat pintu baru saja dibuka, Rama segera berkata kepada mamanya.
"Ma, papa udah pulang?" tanya Rama tiba-tiba. Mama pun segera membalikkan tubuhnya.
"Papamu lembur lagi. Biasalah akhir bulan. Kamu jangan terlalu memikirkan papa okey? Papa pasti baik-baik saja. Lebih baik kamu lanjutin belajarnya," jawab mama kemudian segera keluar dari kamarnya Rama. Mendengar balasan yang demikian membuat Rama menghela napasnya. Satu minggu ini papa sering lembur membuat papanya tak melihat perubahan yang sedang Rama jalani, yaitu Rama yang sudah mulai giat belajar. Rama sering bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah papanya tahu perubahan akan dirinya yang giat belajar? Karena sejujurnya Rama sangat ingin memberi tahu kepada papanya jika dirinya sudah tertip dan disiplin serta giat belajar setiap waktu.
Rama segera duduk di kursinya lagi. Mengeluarkan sebuah ponsel yang sedari tadi dia matikan. Segera menghidupkan ponselnya dan mengetik beberapa pesan kepada Sinta. Dirinya hanya ingin memberitahu kepada Sinta jika mulai besok minggu dirinya akan menjalani les di tempat lain. Rama hanya ingin Sinta mengetahui apa yang tengah dia atau akan dia lakukan. Entahlah, Rama hanya ingin memberitahunya saja. Tak ada niatin lain.
***
Minggu pagi, tepatnya pukul delapan, Rama telah rapi dengan pakaian yang kini dia kenakan. Sebuah kaos putih dibalut dengan jaket baseball berwarna merah putih, sebuah celana jeans hitam dengan sobekan disalah satu lututnya serta sebuah sepatu Nike putih melindungi kedua kakinya, telah Rama kenakan saat sepuluh menit yang lalu. Kini Rama sedang berdiri dibelakang mamanya yang sedang mencuci piring. Karena pada hari minggu atau hari-hari libur lainnya, pembantu dirumahnya Rama libur. Karena Mamanya Rama ada dirumah jadi memilih untuk meliburkan pembantunya itu. Setelah selesai mencuci piring, Rama segera menyodorkan tangannya untuk pamit kepada mamanya.
"Ma, Rama berangkat dulu. Assalammualaikum," pamit Rama setelah dirinya mencium punggung tangan mamanya.
"Waalaikumsalam. Iya, hati-hati dijalan ya," balas mama dengan senyum cerahnya. Rama mengangguk dan segera keluar dari rumahnya.
Selama perjalanan dengan mengendarai sebuah motor sport merahnya, Rama sebenarnya merasa sangat lemas dan tak bersemangat. Namun Rama sadar, jika dirinya tak jadi berangkat ke tempat les mamanya akan sangat sedih. Itu akan membuat hati Rama sakit dan sedih ketika melihatnya. Maka dari itu dengan terpaksa Rama pergi ke tempat les. Saat tiba di sebuah lampu lalu lintas, Rama segera menghentikan motornya saat melihat lampu merah menyala dengan terang diatasnya. Mengetuk jarinya di stang motor untuk mengusir rasa jenuhnya.
Kedua matanya menatap ke sekitar. Melotot terkejut saat melihat sosok papanya sedang keluar dari sebuah gedung. Yang membuat Rama sedih bercampur marah adalah saat sebelah tangan papanya digandeng oleh seorang wanita. Kedua mata hitamnya Rama masih menatap dua sosok yang telah mebuyarkan fokusnya. Mengikuti setiap gerakan yang dilakukan sosok itu. Dan kedua matanya semakin membola saat Rama melihat papanya dan wanita itu memasuki sebuah mobil. Rama tahu siapa pemilik mobil itu. Dan mobil itu adalah mobilnya papa. Kedua tangannya Rama mencengkeram di stang motor dengan kuat. Merasa marah dengan sikap papanya. Bahkan Rama sampai terlonjak terkejut saat suara klakson motor berbunyi dari arah belakangnya.
"Woi, cepetan jalan! Jangan menuh-menuhin jalan!" teriak seseorang dari arah belakang. Dengan segera Rama menarik gas motornya untuk menjalankan motornya sendiri.
"Sial, gue nggak dianggap," lirih Rama segera membelokkan motornya menuju suatu tempat yang selama seminggu ini tak pernah dia kunjungi lagi. Tempat tujuannya kini bukan lagi tempat les. Melainkan taman, taman kota. Setelah tiba di taman kota, Rama segera memarkirkan motornya dan mencari bangku kosong yang jauh dari pengunjung lain. Saat ini rasanya Rama ingin menyendiri. Maka dari itu Rama memilih duduk di paling ujung sudut taman. Melempar tasnya disamping kursi yang dia duduki. Meremas rambutnya merasa kecewa.
"Aargghh.... bisa-bisanya gue dibohongi sama bokap sendiri," gumam Rama frustasi. Mendongakkan kepalanya saat dirinya merasa perih dikedua matanya karena menahan air mata yang siap meluncur kapan saja. Rama tahu jika dirinya sangat kecewa, namun Rama tak ingin menangis begitu saja. Maka dari itu, Rama menyenderkan kepalanya di bangku dengan posisi kepala yang mendongak ke atas. Menghirup udara segar agar memenuhi seluruh rongga dadanya. Rasa sesak di dadanya ternyata masih terasa meskipun Rama sudah menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Namun tetap saja masih terasa menyakitkan untuknya.
"Demi Allah, nyesek banget," gumam Rama dengan kedua mata yang masih terpejam guna mengurangi rasa sesak di hatinya. Terdiam beberapa saat, ketika benaknya teringat dengan perubahannya seminggu belakangan ini. Rama berpikir jika perubahan yang terjadi pada dirinya tak pernah dianggap oleh papanya. Rama sangat merasa kecewa, sedih, ingin juga rasanya Rama marah kepada papanya. Namun niatnya terhenti, karena Rama bertekad ingin kembali kepada hobi awalnya, yaitu meretas dan Rama akan menggeluti hobinya itu.
Terdiam beberapa saat membuat Rama merasa semakin lama semakin kesepian. Jujur saja Rama sangat merasa kangen dengan kedua temannya. Rama ingin bercanda ria dan saling bertukar cerita dengan kedua temannya itu. Tapi Rama sadar, jika dirinya lah yang salah. Dirinya lah yang sudah mendorong kedua temannya untuk menjauh. Lantas, kalau sudah begini Rama bisa apa? Apa jikalau Rama meminta kedua temannya itu untuk kembali berteman dengannya seperti dulu, apakah kedua temannya itu akan menyetujui?
"Hah, b**o dasar! Jelas-jelas mereka nggak mau. Lo sendiri yang udah ngedorong mereka, Ram," desis Rama kepada dirinya sendiri.
"Gue b**o banget. Aargggh..."
Tuk!
Tib-tiba Rama merasakan sebuah kaleng mengenangi kepalanya. Mengusap kepalanya yang terkena lemparan itu. Memungut kaleng itu dan ingin melempar ke arah asalnya kaleng itu. Namun tangannya tiba-tiba terhenti saat melihat kedua temannya sudah berdiri di depan matanya.
"Kalian," ucap Rama lirih.
"Apa? Mau bales lo?" balas Nakula sinis, seperti biasa. Rama hanya terdiam merasa tak yakin dengan kehadiran kedua temannya yang tiba-tiba.
"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Rama dengan pandangan herannya. Dewa dan Nakula berdecak secara bersamaan. Segera berjalan mendekat dan duduk di sampingnya Rama.
"Lo kalo lagi broken heart, bikin gue nggak tega tahu nggak. Tadi niatnya, gue mau ikutan lempar pala lo pake itu kaleng. Tapi nggak jadi," kata Dewa kemudian mengeluarkan sebuah minuman kaleng soda dari kantong plastik yang tadi dia bawa.
"Jadi, Nakula yang lempar gue tadi?" tanya Rama dengan mata yang memicing tajam. Dan dibalas tatapan tajam juga oleh Nakula.
"Kalo iya, lo mau apa hah?" tantang Nakula namun ternyata Rama hanya diam saja. Segera melempar kaleng kosong yang tadi telah mengenangi kepalanya ke arah tempat sampah di samping tak jauh dari kursi mereka. Terdiam beberapa saat dengan kepala terdunduk dalam. Melihat Rama yang hanya diam saja, Dewa berdecak kesal di sela-sela acara makan ciki-cikinya.
"Ram, kita ke sini bukan cuma lihat lo yang diam doang ya. Kalo lima menit kemudian lo masih diam, gue sama Nakuka pulang!" ancam Dewa dengan kedua tatapan yang memicing tajam. Rama segera menegakkan kepalanya. Terlihat beberapa Rama yang kali tengah membasahi bibirnya sendiri. Terlihat seperti sungkan akan memulai ceritanya.
"Nggak perlu sungkan begitu. Biasanya lo langsung nyerocos," sindir Nakula kemudian ikut menyandarkan tubuhnya. Rama menghela napasnya melirik ke dua temannya itu.
"Gue," kata Rama sebagai pembukanya.
"Hem?" tanya Dewa dan Nakula kompak.
"Anu, itu, g-gue."
"Hem," balas Dewa dan Nakula lagi.
"Gue--"
"Lo mau bilang apa Rama? Gue cincang juga tubuh lo kalo lo nggak jadi ngomong," ancam Nakula yang tersulut emosi membuat Rama dan Dewa terkejut dibuatnya.
"Santai Mas Nakula, santai santai. Kalem kalem, oke?" kata Dewa agar emosinya Nakula tak meledak saat itu juga. Sedangkan Rama hanya terdiam saja.
"Cepet ngomong!" perintah Nakula setelah menghembuskan napasnya dengan keras untuk mengurangi emosinya. Dan ternyata berhasil.
"Gue pengen kita duduk bertiga lagi kayak dulu," kata Rama kemudian.
"Lo nggak lihat sekarang kita lagi ngapain? Setahu lo kita duduk berempat gitu?" sembur Nakula yang merasa emosinya kembali lagi. Pertanyaan dari Rama memang selalu membuat dirinya marah.
"Bukan, maksud gue itu. Kita temenan kayak dulu."
"Lo pikir gue sama Dewa duduk disini anggep lo apa? Musuh lo?" ucap Nakula cepat membuat Dewa menggelengkan kepalanya.
"Udah-udah, jangan berantem lagi dong.
Lo cerita aja Ram, kalo lo lagi ada masalah apa?" cetus Dewa memberi tahu.
Rama menatap ke arah Dewa dan mendapat anggukan kepala. Membuat Rama menghembuskan napasnya dengan berat. Pada akhirnya Rama menceritaakn semua masalah yang menimpa dirinya. Mukai dari masalahnya Laras yang selalu menggangu pikirannya, masalah soal jalan yang Rama jalani terkait dengan permintaan kedua orang tuanya agar Rama menjadi anak yang patuh kepada orang tua, masalah soal dirinya yang meninggalkan hobinya, masalah soal papanya yang berselingkuh dan tak menghargai perubahannya. Setelah bercerita panjang, Dewa dan Nakula terdiam bersama. Mereka tak menyadari ternyata Rama memiliki masalah yang begitu banyak dan sulit.
"Saran dari gue, lo pilih aja apa yang menurut lo bener dan bisa bikin lo bersemangat," kata Nakula akhirnya dengan nada yang berbeda tak terdengar marah seperti tadi.
"Gue pengen jadi hacker," gumam Rama.
"Ya udah. Lo tekuni aja hobi lo itu," balas Dewa dengan bersemangat.
"Tapi, bokap nyokap gue?"
"Bodo amatlah. Lo berubah aja lo nggak dihargai. Udah, lo balik aja di hobi lo. Gue yakin, kalo lo udah sukses sama hobi lo itu, kedua orang tua lo pasti bangga sama lo," nasehat Dewa memberitahu. Rama mengangguk dan akan mengikuti saran dari temannya. Ketiga remaja laki-laki itu kemudian terdiam bersama. Merasa ada keganjalan dengan sesuatu Rama segera berucap.
"Gue mintaa maaf," kata Rama lirih sarat akan kesedihan dan rasa bersalah.
"Santai aja. Gue sama Nakula nggak papa, kalo lo belakangan ini jauhin kita," balas Dewa menenangakan.
"Tapi sikap lo bikin emosi, nyet! Sok-sokan nggak kenal," cibir Nakula terlihat emosi lagi.
"Ya, gue gitu juga karena terpaksa. Maaf," ucap Rama.
"Udah-udah, yang penting kita balik temenan bertiga lagi," kata Dewa menengahi kemudian melirik ke arah Nakula. "Tumben lo, Na. Dari tadi emosi mulu."
"Sejak kapan gue nggak emosi kalo ngomong sama Rama?" tanya Nakula terdengar menantang membuat Rama seketika menatapnya sinis.
"Wah ngajak gelud," kata Rama refleks.
"Damai dong. Masa baru baikan udah gelud lagi. Damailah, damai," kata Dewa tak mau lagi ada perang dingin di antara kedua temannya. Rama terdiam seketika saat menyadari masih ada yang mengganjal.
"Lo berdua tahu darimana kalo gue ada disini?" tanya Rama penasaran. Dengan kompak, Dewa dan Nakula saling melirik dan melempar senyum misteriusnya. Dewa menepuk tangannya beberapa kali membuat dua ornag berjalan ke arahnya. Rama syok saat melihat Sinta dan Naya yang sedang berjalan mendekat.
"Lo berdua--"
"Iya, jadi tadi kita ditelpon sama Sinta buat dateng ke sini. Gue kira ada apa, ternyata ada elo yang lagi galau," ujar Dewa memberi tahu. Sontak saja Rama menoleh ke arah Sinta yang tengah tersneyum kepadanya. Rama segera menyunggingkan senyumannya membalas senyumnya Sinta. Kemudian menatap ke arah Naya yang kini ikut tersenyum ke arahnya.
"Nay, gue minta--"
"Tenang aja, Ram. Udah gue maafin kok," kata Naya memotong ucapanya Rama. Rama merasa senang dan lega karena ternyata Naya sudah memaafkannya. Kini tatapannya kembali ke arah Sinta. Dan pandanngannya terkunci disana.
"Sinta, makasih banyak. Lo udah mau bantu gue," ucap Rama kemudian memeluk tubuhnya Sinta dengan sangat erat. Tanpa sadar membuat tubuhnya Sinta terdiam kaku. Bahkan Sinta melototkan kedua matanya bertanda terkejut dengan sikapnya Rama. Bahkan ketiga temannya yang lain ikutan syok melihat Rama yang tengah memeluk Sinta. Mereka semua terdiam dan Rama masih tak menyadari suasana disekitarnya. Dewa segera berdeham keras.
"Ehem, gue juga mau pelukan dong," kata Dewa kemudian berjalan mendekati Rama dan sinta. Segera memeluk tubuh kedua temannya. Naya tersenyum dan segera berjalan mendekat.
"Gue ikutan juga dong," seru Naya dan segera menarik tangannya Nakula.
Membuat Nakula terpaksa ikut memeluk teman-temannya. Membuat lima sekawan itu saling berpelukan ala teletubis. Tertawa bersama karena menyadari sikap konyol mereka sendiri. Segera melepas pelukan saat menyadari beberapa tatapan tak mengenakan dari pengunjang lain.
"Ram, kita semua kawan lo. Jadi, mulai sekarang, lo bisa mencurahkan semua kesah lo ke kita," ucap Sinta dengan diakhir senyuman. Rama mengangguk dan menatap satu persatu semua temannya.
"Makasih semua kawan-kawanku," ujar Rama dengan senyum senang. Dan dibalas dengan senyum tak kalah senang oleh keempat temannya. Dan pada pagi ini, akhirnya salah satu masalahnya Rama terselesaikan berkat bantuannya Sinta. Rama menatap ke arah Sinta dengan penuh arti. Yang tanpa Sinta sadari, kalau tatapan itu adalah tatapan penuh akan rasa sayang kepada lawan jenisnya. Rama berdoa, agar dirinya bisa memiliki kisah sekolah dengan Sinta yang selalu menemaninya. Menemani sebagai seseorang yang memiliki arti penting di hidupnya Rama.