Jika kamu merasa tak sanggup menanggung semua beban yang ada di pundakmu, ceritakanlah, damailah, dan keluarkan semua keluh kesahmu kepada seseorang yang kamu percayai. Karena, pada dasarnya manusia tidak bisa lepas dari orang lain. Mereka tak bisa berdiri tegak dengan kakinya sendirinya.
-Sinta-
Sinta masih berusaha menenangkan Naya di dalam toilet perempuan. Menepuk pelan bahunya Naya berkali-kali. Sesekali mengusap lembut punggungnya Naya. Sedangkan Naya sendiri masih berusaha untuk menghentikan tangisannnya. Dirinya merasa sangat sakit hati setelah apa yang menimpa dirinya tadi. Sinta yang melihat Naya yang sesenggukan menghela napasnya pelan. Menarik pelan tubuhnya Naya agar menghadap ke arahnya.
"Nay, jangan lo tahan. Itu bakal bikin hati lo tambah sakit. Udah, nggak papa keluarin aja. Keluarin aja semua tangisan lo," kata Sinta penuh pengertian. Tersenyum lembut ke arah Naya membuat kedua matanta Naya tambah berkaca-kaca. Naya mengusap kedua matanya yang masih enggan untuk menghentikan air matanya dengan beberapa lembar tisu yang tadi Sinta bawa dari kantin. Masih berusaha mencoba menetralkan detak jantungnya.
"G-gue, jujur gue kaget banget, Sin, R-Rama sebelumnya ng-nggak pernah--" kata Naya masih sesenggukan dan Sinta tetap sabar mengusap bahunya Naya pelan.
"Nggak papa. Keluarin aja semua. Keluarin semua apa yang mau lo katakan," suruh Sinta yang masih mengusap bahunya. Naya mendongak masih berusaha menahan air matanya agar tak keluar terlalu banyak.
"Gue, cenggeng banget ya?" tanya Naya tiba-tiba. Sinta mendongak yang pada mulanya dirinya menunduk untuk melihat jam di pergelangan tangannya. Membulatkan kedua matanya melihat tatapan bersalah di sorot matanya Naya. Lantas menggelengkan kepalanya berkali-kali karena tak setuju dengan perkataannya Naya.
"Nggak, Nay. Lo nggak cengeng. Itu hal wajar, kalo lo nangis gara-gara masalah tadi. Lo juga pasti kaget banget waktu lo dibentak sama Rama. Gue tahu, karena lo pernah bilang, kalo Rama nggak pernah sekalipun bentak teman-temannya. Maka dari itu lo kaget dan nangis kayak gini. Udah nggak papa, lo nangis dan itu wajar. Lo nangis bukan berarti lo cengeng, Naya," nasehat Sinta meremas bahunya Naya pelan. Kemudian menarik Naya ke dalam pelukan hangatnya. Membuat Naya langsung membalas pelukan dari Sinta itu. Bersyukur, karena memiliki teman yang sangat perhatian dengan dirinya seperti Sinta. Sinta menepuk-nepukan tangannya di punggungnya Naya dengan pelan. Masih di dalam pelukannya Sinta, Naya masih memutar memori soal kejadian tadi saat di kelas dan Rama mebentak dirinya.
"Makasih banyak, Sin. Gue bersyukur banget punya teman kayak lo," kata Naya dengan penuh haru membuat Sinta melonggarkan pelukannya. Kemudian mengusap sisa air mata di kedua pipinya Naya. Tersenyum lembut ke arah Naya.
"Asal lo tahu, Nay. Gue juga bersyukur banget punya teman kayak lo. Jujur aja, selama gue sekolah di Sekar Arum, gue nggak pernah punya teman sesayang gini kayak elo," kata Sinta membuat Naya refleks tersenyum senang. Sinta ikut tersenyum ketika melihat senyumannya Naya.
"Udah? Mau balik ke kelas sekarang?" tanya Sinta ketika dirasa Naya jauh lebih tenang daripada tadi. Naya menganggukan kepalanya kemudian membasuk wajahnya di wastafel. Dengan sabar Sinta masih tetap menunggui Naya menyelesaikan urusannya. Mengulurkan beberapa lembar tisu saat Naya sudah selesai memabasuh wajah cantiknya.
"Emang, sekarang udah jam berapa sih? Kayaknya kita udah lama banget ngumpet disini," ucap Naya dengan kedua tangan yang sibuk mengelap sisa air yang ada diwajahnya dengan tisu pemberian Sinta.
"Jam sebelas," jawab Sinta santai. Bahkan dirinya saat ini mengetikkan beberapa pesan ke nomornya Dinda. Meminta Dinda untuk mengijinkan ke guru pengampu. Mendengar kalimatnya Sinta kedua matanya Naya melotot menatap horor ke arah Sinta dan dibalas dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apaan? Lo gitu banget lihatin gue-nya," tanya Sinta tak habis pikir dengan tatapan terherannya.
"Pantes, gue ngerasa gue nangisnya lama banget. Ternyata udah setengah jam-an gue nangis. Lo juga kenapa nggak bilang ke gue, kalo udah masuk. Jadi bolos kan kita. Kalo kena marah guru gimana?" kata Naya yang terlihat sangat panik. Sinta menggenggam tangannya Naya untuk menenangkannya.
"Nay, gue nggak bisa bilang ke lo kalo udah bel masuk, disaat lo masih butuh waktu buat ngelurin semua tangisan lo. Gue juga nggak mungkin ninggalin lo sendirian. Udahlah, nggak papa. Santai aja, gue udah ngechat Dinda, katanya mapel kali ini nggak ada gurunya. Lagi rapat katanya. Ya udah yuk, balik ke kelas," ajak Sinta menarik pelan lengannya Naya. Naya menurut saja saat lengannya ditarik keluar dari toilet.
"Gue, kelihatan salah ya udah buat Rama marah ke gue?" tanya Naya pelan. Sinta berdecak kesal karena mendengar kalimat tersebut. Menurut Sinta, Naya tidak melakukan perbuatan yang salah dari segi manapun. Toh, tadi Naya hanya berlari karena dirinya mengejarnya. Jadi, Naya tidaklah bersalah.
"Nggak, lo nggak salah. Yang salah itu Rama, karena nggak bisa nahan emosinya. Lagian, cuma kesenggol doang itu meja. Mana mungkin bisa buat dia nggak mood ngerjain lagi," balas Sinta terdengar santai agar Naya tak terlalu memikirkan perkataannya Rama tadi.
"Udahlah, nggak usah lo pikirin cowok kayak dia. Yuk ah jalan lagi."
Setibanya di kelas, Sinta segera mendudukan Naya ditempat duduk sendiri. Melirik sinis ke arah Rama yang masih sibuk mengerjakan tugas. Menepuk bahunya Naya sekali lagi. Sedangkan Dewa menatap ke arah Sinta dan Naya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Sinta merasa sedang diperhatikan, segera mendongak menatap ke arah Dewa dan tak lama Sinta menyunggingkan senyum menenangkan, seolah berkata jika mereka berdua tidak apa-apa.
"Wa, lo jangan rese ya. Jangan gangguin Naya. Naya lagi nggak mood. Kalo lo gangguin Naya, gue jambak juga pala lo ya," ancam Sinta dengan sorot mata yang dia buat tajam. Bahkan Dewa tersentak melihat tatapan tersebut. Sesegera mungkin menjauhkan tubuhnya dari Naya membuat Naya terkekeh geli melihat raut wajahnya Dewa yang ketakutan.
"Ternyata lo bisa takut juga sama cewek ya, Wa?" kekeh Naya pelan menikmati raut wajahnya Dewa. Sontak Sinta juga tertawa melihat Dewa.
"Canda elah, gue nggak bener-bener ngancem elo kok," kata Sinta menenangkan. "Tapi kalo lo bener-bener gangguin Naya, gue bisa mikir ulang buat kasih balasan ke elo."
"Ampunn Sin, gue nggak bakal macem-macem sama Naya. Iya iya gue bakal jauh-jauh dari Naya. Serius gue nggak bakal gangguin Naya," ujar Dewa cepat takut dengan perkataannya Sinta
Sinta mengangguk pelan saat melihat Dewa yang benar-benar menjaga jarak dengan Naya. Bahkan Dewa duduk di ujung kursinya membuat jarak yang lebar diantara dirinya dan Naya.
"Okey," balas Sinta puas segera kembali duduk di tempatnya. Duduk dengan tenang, bahkan kepalanya tak menoleh ke arah Rama. Segera mengeluarkan beberapa peralatan sekolah dari dalam tasnya. Mulai mengerjakan soal yang tadi dia tinggalkan untuk menemani Naya di toilet.
Sedangkan Rama merasa ada seseorang yang duduk disampingnya. Menoleh ke samping dengan tatapan yang berbeda dengan yang tadi. Merasa diperhatikan dari samping, Sinta hanya berdecak kesal dan tak menoleh ke arah Rama. Mencibirkan bibirnya dengan kesal dengan kedua tangan yang sibuk menulis diatas bukunya. Membentuk beberapa kata dan terus berkumpul menjadi kalimat dan terkahir menjadi sebuah paragraf yang telah dia pikirkan jawabannya. Sinta semakin berdecak keras saat dirasa Rama masih memperhatikan dirinya.
"Ck, kalo mau tahu kondisinya, nanya langsung ke orangnya. Bukan malah lihatin gue," ujar Sinta tiba-tiba membuat fokus matanya Rama beralih ke arah Sinta. Rama mengernyitkan alisnya karena perkataan Sinta memanglah seratus persen benar. Membuat Rama bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah Sinta ini memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain?
"Enggak," jawab Rama setelah lama berdiam diri. Sinta sontak mendongak ke arah Rama. Melempar tatapan sinis penuh permusuhan ke arah Rama.
"Enggak? Lo bilang apa tadi? Seriusan lo bilang enggak. Setelah lo ngomong yang nggak seharusnya ke Naya. Lo masih bilang nggak mau ngomong ke Naya? Terus lo nggak mau minta maaf juga ke Naya? Wah hebat ya lo, udah tahu lo salah masih aja nggak mau minta maaf langsung ke orangnya," cibir Sinta penuh dengan kelimat meremehkannya. Rama hanya terdiam kemudian menoleh ke depan. Ke arah Naya yang sedang bercanda ria dengan Dewa. Sinta ikut melihat arah pandanganya Rama. Tersenyum tipis saat teringat sebuah memori saat dirinya bermain di rumahnya Naya. Memori yang mengingatkan Sinta dengan sebuah cincin miliknya Naya. Cincin berwarna silver dengan desain yang sangat sederhana dengan tulisan namanya Rama.
"Emang sakit kan, lihat orang yang lo sayang lebih nyaman dan bahagia sama orang lain?" tanya Sinta dengan sindiran terselubung di dalamnya. Sontak Rama menoleh ke arah Sinta namun Sinta masih menatap ke arah depannya. Alis Rama mengernyit tak memahami apa yang Sinta katakan.
"Makanya, kalo lo udah punya seseorang yang lo sayangi, lo harus bisa ngendaliin amarah lo. Semua orang emang punya masalah. Lo cuma harus bisa menjaga perasaan pasangan lo. Kayak Naya. Lo lagi ada masalah di keluarga lo sama masalah antara lo, Dewa dan juga Nakula. Tapi lo malah lampiasin amarah lo ke Naya. Ram, Naya itu cewek baik. Awalnya gue nggak setuju kalo Naya itu punya hubungan khusus sama lo. Karena kalo gue lihat, Naya itu terlalu baik buat elo. Tapi, kalo emang udah takdirnya, gue yang cuma sebagai temannya Naya, cuma bisa apa?" terang Sinta panjang lebar. Sinta berkata demikian karena dirinya tak mau membuat Naya sedih berlarut lama. Sinta ingin Rama segera menyelesaikan permasalahnnya dan meminta maaf ke Naya. Sedangkan Rama yang mulai memahami perkataannya Sinta menghela napas dengan berat. Rama tahu jika Sinta salah paham terkait cincinnya Naya. Maka dari itu Rama memanfaat keadaan yang sedang terjadi agar dirinya lebih dekat dengan Sinta. Rama terpaksa memanfaatkan keadaan itu.
"Lo, mau bantuin gue buat nyari solusi dari masalah gue?" tanya Rama tiba-tiba membuat Sinta menoleh ke arahnya. Terlihat Sinta yang sedang berpikir keras. Kemudian terlihatlah Sinta yang menganggukkan kepalanya sekali dengan mantap.
"Okey, gue mau. Tapi pertama-tama, lo harus buka hati lo dulu. Lo harus menerima semua permasalahan lo yang sedang terjadi sekarang. Lo harus menerima kehadirannya Naya di hidup lo. Lo harus bisa mencoba memaafkan diri lo yang udah banyak salah ke teman-teman yang lainnya, termasuk Dewa dan Nakula," jabar Sinta panjang lebar. Rama mengangguk dengan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Sinta.
"Gue juga boleh ngeluarin keluh kesah gue ke elo?" kata Rama dengan nada sendu yang tersamarkan. Tanpa berpikir lebih panjang Sinta mengangguk mengiyakan.
"Boleh, lo boleh cerita apapun ke gue. Sebisa mungkin gue bakal bantu nyari solusi buat elo. Dan kalaupun gue nggak bisa, seenggak lo bisa nyeritain masalah lo ke gue. Dengan begitu, gue harap lo merasa lebih baik karena lo nggak sendirian selama ini. Lo masih punya gue dan teman-teman lainnya yang siap buat dengerin keluh kesah lo."
Rama menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal tanpa Sinta sadari. Yang ternyata, Rama sedang menahan rasa yang begitu kuat di hatinya. Sebuah rasa yang menggebu-gebu yang biasa orang-orang katakan dengan nama cinta. Namun, Rama tak bisa mengatakan rasa cintanya ke Sinta disaat situasinya seperti ini. Setidaknya, Rama harus membuat Sinta percaya jika Rama bisa meminta maaf dengan tulus ke Naya.
"Gue, ngerasa hampa, Sin," kata Rama tiba-tiba dengan nada yang sangat terdengar sedih. Membuat Sinta mematung seketika karena merasa asing dengan sosok Rama yang ada di sampingnya. Sinta tergerak untuk mengusap kepalanya Rama yang masih menunduk. Sinta ingin menyalurkan rasa semangat ke arah Rama. Sepertinya Sinta tak tega melihat Rama yang sedih seperti ini. Saat tangan kananya Sinta ingin menggapai helai rambutnya Rama, Sinta mulai tersadar. Segera menarik tangannya kembali ke samping tubuhnya. Menatap lurus ke depan dan tidak lagi menatap ke arah Rama.
"Buat saat ini, lo harus sabar akan masalah yang menimpa lo," ujar Sinta kemudian mengerjakan soalnya lagi tak mau membahas lebih jauh apa yang telah dia mulai duluan kepada Rama. Membuat Rama mengernyitkan alisnya saat mendengar nada yang terkesan dingin dari bibirnya Sinta. Menghela napas dengan berat saat Rama tahu jika Sinta telah salah paham dengan hubungan antara Rama dan Naya.