Kamu sangatlah wajar jika marah dengan keadaan dan takdir yang terjadi padamu. Namun, jangan sampai amarahmu membuat dirimu sendiri menyesal nantinya. Aku hanya berpesan untukmu, agar kamu bisa mengendalikan amarahmu itu. Kendalikanlah, seperti kamu bisa menjinakkan anak kucing yang lemah.
-Sinta-
Siang hari, saat ini adalah waktunya para siswa melepas penat sehabis menimba ilmu. Terlihat beberapa siswa duduk saling melingkar dengan beberapa meja yang digabungkan. Mengeluarkan bekalnya sendiri-sendiri dari dalam tasnya. Saling menunjuk, saat salah seorang temannya ingin bertukar makanan bekalnya. Sinta, salah satu siswa yang ikut duduk dirombongan itu terlihat sangat senang karena dapat berkumpul dengan sesama teman perempuan. Saling bertukar cerita dengan kegiatan kesehariannya. Dengan penuh antusias, Sinta menceritakan pengalamannya dulu saat masih bersekolah di SMA Sekar Arum, sekolah lamanya.
Namun, karena merasa keasyikan dengan ceritanya, membuat Sinta tanpa sadar telah membuka lembaran lamanya. Saat dirinya masih menjalin hubungan dengan Raja, mantan pertama dan sangat Sinta benci sampai sekarang. Beberapa temannya yang melihat perubahan raut wajahnya Sinta, membuat mereka merasa terheran. Salah satu temannya, memgulurkan sebelah tangannya dan mengusap lembut bahunya Sinta. Seolah berniat menenangkan Sinta. Sinta mendongak dan tatapan pandangannya bertemu dengan sorot matanya Naya.
"Lo kenapa Sin? Kenapa tiba-tiba kelihatan sedih gitu? Gue ada salah ngomong ya? Aduh maaf ya, gue nggak tahu. Gue bener-bener minta maaf," kata Dinda terlihat sangat menyesal yang terpatri di wajah cantiknya. Sontak Sinta menatap ke arah Dinda. Menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Eh, elo nggak salah kok, Din. Ini bukan karena elo salah ngomong. Beneran elo nggak salah," sahut Sinta cepat. Merasa tak enak hati karena telah membuat Dinda merasa bersalah seperti itu. Mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk punggung tangannya Dinda dengan pelan. Memberikan senyum menenangkan untuk memperlihatkan kepada Dinda bahwa dirinya memang tak masalah.
"Udah-udah, mending kita lanjut makan dulu. Siapa nih yang mau tukar makanan sama gue? Gue bawa kimbab," ujar Naya yang sangat terlihat sedang berusaha mengubah suasana agar kembali ceria kembali. Sinta sontak menoleh ke arahnya, segera mengambil kotak makannya Naya. Membuat Naya mendengus karena tingkahnya Sinta. Mencondongkan tubuhnya ke depan untuk merebut kembali kotak makannya yang ada di tangannya Sinta. Dan akhirnya, Naya berhasil merebut kotak makannya. Segera bangun dari tempat duduknya untuk menghindari Sinta. Namun ternyata, Sinta tak tinggal diam saja. Dirinya juga ikut berdiri dan berjalan ke arahnya Naya.
"Nay, gue minta tuker dong. Tiba-tiba gue pengen makan kimbab lo lagi," kata Sinta menatap kesal ke arah Naya. Sontak Naya menggeleng refleks karena merasa tak percaya dengan perkataannya Sinta.
"No no no! Lo tadi udah minta kimbab gue. Tapi lo nggak kasih sandwich lo tuh. Jangan maruk lo," balas Naya kemudian menatap tajam ke arah Sinta.
"Lo sendiri kenapa nggak ambil sandwich punya gue. Salah lo sendirilah. Udah ah sini, gue minta satu," ucap Sinta yang ternyata sudah merasa ketagihan dengan kimbab buatan tangan mamanya Naya.
"Ya karena, gue nggak mau sandwich lo," jawab Naya santai. Tetap berusaha menjaga jarak dengan Sinta. Sinta mencibirkan bibirnya, segera berlari ke arahnya Naya membuat Naya terkejut dan segera lari menjauhi Sinta. Mereka berdua pun akhirnya kejar-kejaran di dalan kelas. Membuat Dinda dan empat teman perempuan lainnya tertawa renyah merasa terhibur dengan tontonan yang mereka lihat saat ini, yaitu Sinta yang sedang mengejar Naya dan Naya sedang kesusahan berlari menjauhi Sinta dengan membawa kotak bekalnya.
"Naya! Sini lo! Jangan lari!" teriak Sinta yang masih bersusah payah menambahkan laju kecepatan larinya.
"Enak aja lo. Kalo gue nggak lari, lo bakal--"
Bruk!
Sontak Sinta menghentikan laju larinya. Menatap terkejut ke arahnya Naya. Merasa khawatir ke arah Naya yang ada didepannya saat terlihat Naya yang sedang membungkukkan tubuhnya. Segera berjalan mendekat dan mencekal lengannya Naya. Memeriksa seluruh tubuhnya Naya, merasa khawatir jika ada bagian anggota tubuhnya Naya yang lecet atau sakit. Bernapas lega saat tak ada luka di salah satu tubuhnya Naya.
"Untung aja lo nggak papa, Nay. Bikin jantungan aja lo," sungut Sinta setelah menghembuskan napas leganya. Kemudian melirik kotak bekalnya Naya yang tergeletak di atas meja. Saat Sinta akan mengambil kotak itu terlebih dahulu Naya menyembunyikan di balik tubuhnya. Membuat Sinta mencebikkan bibirnya.
"Nggak papa gimana? Ngilu nih kaki gue. Kesodok meja," kata Naya kemudian memajukkan bibir bawahnya. Sinta mendengus kesal dan mengusap lengannya Naya bermaksud menenangkan.
"Makanya, jangan lari-lari di kelas," peringat Sinta.
"Gue kan lari gara-gara lo--"
"Diam! Lo berdua nggak sadar udah bikin gue nggak konsen lagi ngerjain soal?" Tiba-tiba terdengar perkataan yang dingin dan tajam. Dengan kompak Sinta dan juga Naya menoleh ke sumber suara. Menelan salivanya dengan keras saat melihat sorot mata yang tajam dari seorang laki-laki. Keduanya baru kali ini melihat tatapan dingin seperti itu. Sinta dan Naya hanya terdiam terpaku tak mampu membalas perkataan tersebut.
"Terutama lo Nay, lo udah bikin mood gue hancur setelah lo nendang meja gue," ujar Rama kemudian, setelah terjadi keheningan diantara ketiganya. Ya, Rama lah yang baru saja berkata dingin dan terdengar tak berperasaan. Rama lah yang telah melontarkan kata-kata tajam dan sorot mata yang tak kalah tajam.
"Gue, minta maaf ya. Tadi gue--" Perkataannya Naya terhenti karena Rama denfan cepat menyelanya. Seperti tak memberikan waktu untuk Naya berkata ataupun membela diri.
"Maaf lo nggak bakal buat mood gue balik lagi. Ngerti?!" ucap Rama tajam membuat Naya menundukkan kepalanya.
Naya merasa jika air matanya sudah menumpuk di ujung mata. Merasa tak percaya dengan sosok yang ada di depannya ini. Naya merasa asing dengan sosok itu. Bahkan Naya tak mengenali Rama yang sekarang. Karenanya, Rama yang Naya kenal adalah orang tipe easy going, ramah, suka jahil, dan gemar menolong antar sesama. Terutama menolong Dewa. Karena Rama tahu jika Dewa memiliki keluarga yang tak sederat dengan derajat sosial keluarganya. Membuat Rama sering membantu Dewa terutama masalah wifi. Namun kini, yang ada didepannya Naya adalah sesosok Rama yang dingin, dengan sorot mata tajam, galak, mudah marah dan gila akan belajar.
"Sono lo pergi," usir Rama tak berperasaan, dengan langkah pelan Naya berjalan menjauni tempat duduknya Rama. Sinta yang melihat perbuatannya Rama yang terlihat semena-mena, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Berjalan dan berhenti tepat di depannya Rama. Mengangkat tangannya dan menggebrak mejanya Rama dengan keras. Menatap ke arah kedua matanya Rama dengan sorot mata yang tak kalah tajam sama seperti dengan sorot matanya Rama.
"Heh, lo sadar nggak, kalo elo udah berbuat semena-mena ke Naya. Lo sadar nggak, kalo elo udah salah ngomong kayak gitu ke Naya. Lo sadar nggak, kalo elo itu cowok dan Naya itu cewek?" kata Sinta beruntun dan sejujurnya dirinya belum puas dengan rentetan pertanyaan itu. Namun Sinta sadar, jika dirinya harus memberikan waktu untuk Rama agar dirinya bisa membela diri. Rama mengikuti gerakannya Sinta. Meletakkan kedua tangannya dan dia letakkan di atas meja digunakan untuk menyangga dirinya. Dengan posisi seperti ini membuat wajahnya Rama dan Sinta hanya berjarak dua jengkal saja. Saling melempar tatapan akan permusuhan.
"Gue sadar. Gue udah berbuat semena-mena sama Naya. Gue sadar, gue udah ngomong salah ke Naya. Dan gue sadar, kalo gue cowok dan Naya itu cewek," ucap Rama dingin.
"Kalo dia nggak ganggu gue, gue nggak akan berbuat semena-mena ke Naya dan gue juga nggak akan ngomong kayak gitu ke Naya. Paham lo!" Tambah Rama membuat Sinta menghembuskan napasnya dengan berat. Berurusan dengan Rama menang selalu menguras tenaga dan pikirannya. Semakin mempertajam tatapannya dan melemparnya ke arah Rama.
"Lo, kalo ada masalah sama keluarga lo, jangan lo lempar ke sana-sini. Jangan lo lempar ke teman-toman lo yang selalu ada buat lo disegala situasi. Gue paham kalo lo kecewa dengan menjauhnya Dewa sama Nakula. Tapi bukannya lo sendiri yang ngedorong mereka buat jauhin lo. Maka dari itu, lo marah-marah ke Naya tadi buat pelampiasan amarah lo kan. Ck, dasar cowok breng*sek," tutur Sinta panjang lebar. Melipat kedua tangannya di depan untuk menunjukkan kemenangannya. Tersenyum miring saat melihat Rama yang terdiam saja. Terkekeh pelan melihat sorot matanya Rama yang tak fokus.
"Masih untung, meja lo yang gue tampar. Bukan wajah lo," kata Sinta dingin kemudian membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi mejanya Rama.
Ditempatnya, Rama hanya diam termenung dengan semua perkataannya Sinta. Duduk dengan kepala menunduk dalam. Berpikir jika benar semua ini adalah salahnya. Salahnya karena dengan sikapnya yang menyebalkan itu membuat Dewa dan Nakula menjauhi dirinya. Namun, jika saja Rama meminta maaf kepada Dewa, Nakula dan Naya, akankah hubungan pertemanan mereka kembali ke semula? Kembali pada hubungan pertemanan yang penuh akan canda dan tawa. Namun untuk saat ini, Rama belum ada keberanian untuk mengajak teman-temannya berbicara. Rama akui, untuk saat ini, kali pertama baginya, Rama menjadi seorang pengecut. Seorang pengecut yang hanya bersembunyi dari masalah yang bahkan masalah itu timbul karena ulah dirinya sendiri.