Jika aku bertindak terlalu jauh dalam urusanmu, percayalah, bahwasanya aku tak mau kau jatuh terlalu dalam.
-Rama-
Entah mengapa, pagi ini terasa sangat berat bagi seorang Rama. Bahkan, dirinya baru saja bangun dari tidurnya. Seperti tak ada gairah untuk menjalani harinya ini. Membuat garis wajahnya terlihat terlipat, dahinya mengernyit tipis, dan jari jemarinya menggantung lemas di samping tubuhnya. Akan tetapi, semua itu tergantikan dengan gerak gestur tubuhnya yang berdiri menegak. Dadanya membusung tinggi saat dirinya teringat dengan permintaan sang mama. Segera bangun dari posisi duduknya agar tak membuang waktu lebih lama lagi. Berjalan memasuki kamar mandi untuk memulai ritual mandi paginya.
Lima belas menit kemudian, Rama keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sepanjang pinggang kokohnya. Berjalan ke arah almari pakaian dan mengambil satu setel seragam sekolahnya. Memasuki kamar mandi lagi untuk memakai seragamnya. Setelahnya, Rama membenahi penampilannya di depan cermin yang menggantung di lemari. Menyisir rambutnya dengan rapi tak lupa menambahkan parfum di permukaan pakaiannya. Tersenyum pahit saat menyadari tak ada lagi senyuman penuh akan rasa bangga seperti selama ini dia lakukan. Rama merasa jika pantulan bayangan seseorang yang ada di depannya itu bukanlah dirinya. Segera keluar dari kamar mandi dengan tas yang menggantung di punggungnya. Sesampainya di ruang makan, Rama segera mendekati mamanya yang sedang menyiapkam bekal untuk Rama. Kemarin, Rama sempat meminta mamanya untuk menyiapkan bekal untuknya. Dan tentu saja mamanya senang karena sudah lama Rama tidak pernah mau membawa bekal sendiri dari rumah. Namun sang mama juga sedikit merasa heran, entah mengapa Rama meminta bantuannya secara tiba-tiba. Dan mama merasa jika semakin hari, Rama semakin pendiam.
"Ma, Rama berangkat," ujar Rama singkat. Menerima kotak bekal yang mama ulurkan ke arahnya. Dengan segera Rama memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas hitamnya. Mengulurkan telapak tangannya membuat sang mama terheran menatap ke arahnya.
"Rama langsung berangkat," kata Rama memberitahu maksud dari uluran tangannya. Mama membalas uluran tangan itu. Menghela napas berat saat merasakan telapak tangannya Rama tak sehangat seperti biasanya. Menahan tangan itu saat menyadari Rama yang akan menarik telapak tangan yang sedang dia genggam.
"Kamu sakit? Kok tangan kamu dingin?" tanya mama sedikit merada khawatir dengan anak sulungnya. Bagaimana tidak khawatir, seingatnya Rama adalah anak yang sangat jarang sakit. Namun, sekalipun dia jatuh sakit, itu akan membuat Rama sedikit merasa rewel seperti bayi yang sedang sakit flu ringan. Rama menggeleng pelan, kemudian menarik tangan yang digenggam oleh mama dengan pelan, membuat mama dengan terpaksa melepaskan genggamannya.
"Nggak, Ma. Rama sehat. Ya udah Rama berangkat dulu. Asaalammualaikum," pamit Rama menyempatkan diri tersenyum ke arah mama. Namun tanpa Rama sadari sendiri, senyum yang dia perlihatkan bukanlah senyum tulus, akan tetapi seperti senyum keterpaksaan.
"Iya, waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," balas mama dengan senyum keibuannya. Rama memgangguk dan segera keluar dari rumah. Meninggalkan mama yang masih menatap ke arahnya dengan tatapan sayunya. Meremas dimana tempat jantungnya berdetak, mama menelan salivanya dengan pahit.
"Apakah kamu terpaksa menuruti kemauan orang tuamu ini, Nak?" gumam mama yang masih menatap punggung kokoh milik si anak, sampai anaknya itu hilang setelah keluar melewati pintu utama.
"Namun, cuma itu yang bisa membuat papamu bangga. Tapi, Mama tetap mendoakan, semoga banyak jalan yang bisa membuat papa bangga padamu," turur mama pelan kemudian berlalu menuju kamarnya berada. Tak sanggup, jika menangis dan ketahuan oleh orang lain.
***
Seperti telah menjadi hobi barunya, Rama berjalan dari parkiran menuju ruang kelasnya berada dengan sebuah ponsel di tangan kanannya yang menampilkan sebuah materi yang sedang dia pelajari. Seperti sehari sebelumnya, Rama tetap fokus pada layar ponselnya itu dan mengabaikan sapaan dari beberapa kenalannya dari kelas lain, termasuk Anta sendiri. Berjalan menatap lurus ke layar ponsel membuat Rama tak sadar jika dirinya telah sampai di depan ruang kelasnya sendiri. Berjalan masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mengabaikan bisikan-bisikan halus dari teman-temannya saat Rama berjalan menuju kursinya. Segera duduk dan mengambil buku bank soalnya. Setelahnya Rama sudah fokus mengerjakan soal.
"Emang bener kata Dewa, kalo Rama lagi kerasukan setan," sindir Dinda pedas. Pasalnya Dinda merasa kesal dengan perubahan sifatnya Rama yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat pendiam, dingin, dan tak ramah seperti biasanya. Rama tentu saja mendengar sindiran dengan nada pedas itu. Namun dirinya tak ambil pusing dan tetap fokus mengerjakan soalnya. Tak berapa lama, terdengar suara Dewa yang tertawa terbahak-bahak di depan kelas mereka.
"Hahaha.... muka lo, Na. Gokil banget!" tawa Dewa kencang memasuki ruang kelas mengambil atensi seluruh teman sekelasnya kecuali Rama sendiri. Tak lama terdengar suara benta yang bergesekan dengan benda lain dengan suara yang sangat keras.
Plak!
"Gokil pala lo?" omel Nakula segera duduk di kursinya sendiri. Dewa yang melihat Rama sedang fokus mengerjakan soalnya, berniat akan menyapanya. Namun segera ditahan oleh Nakula dengan pelototan matanya yang tajam. Dan sayangnya, tindakan mereka tak dilihat oleh Rama. Dewa sontak berdeham pelan untuk menyingkirkan rasa canggungnya.
"Tahu nggak, Na. Gue akhir-akhir ini suka sesak napas. Bertanda apa ya?" tanya Dewa dengan gerakan yang heboh. Tanpa perlu berpikir panjang, Nakula segera menjawab.
"Nyawa lo lagi afk," balas Nakula datar yang malah membuat Dewa tertawa terbahak-bahak mendengar balasan dari Nakula.
"Lo ternyata bisa ngelawak juga ya, Na. Hahaha...."
Nakula mendengus kesal. "Gue nggak lagi ngelawak, kutil kuda."
Namun tetap saja, Dewa tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Nakula memilih untuk mengalah, melirik sebentar ke arah Rama yang masih sibuk mengerjakan latihan soal. Tak berapa lama, Dewa menyelesaikan tawanya, ikut melirik ke arah Rama. Menghela napas denga berat saat tahu jika Rama tak menoleh ke arah mereka. Membuat Dewa sangat yakin, jika Rama benar-benar sudah berubah. Tak tahu saja, jika sedari tadi Rama mati-matian menahan mulutnya untuk tak menimpali percakapannya antara Dewa dan Nakula. Karena sudah menjadi kebiasannya untuk saling bercanda ria dengan Dewa dan Nakula. Namun Rama sadar, jika dirinya harus giat belajar mulai sekarang. Membuat dirinya harus menutup diri dengan keberadaan teman-temannya. Tak berapa lama, Sinta dan Naya datang dengan sebelah tangannya Sinta tersemat sebuah plastik berwarna putih.
"Wih, apaan tuh Sin? Buah tangan dari papa lo yang habis pulang dari Singapura ya?" tanya Dewa dengan mata yang berbinar menatap plastik itu.
"Bukanlah. Ya kali dari papa gue. Papa gue pulangnya masih lusa," balas Sinta yang telah sampai di kursinya sendiri.
"Terus dari siapa?"
"Nggak tahu ah, gue nggak kenal. Tadi ada adik kelas yang ngasih ini ke gue. Isinya roti sama s**u. Lo mau? Gua udah sarapan tadi, gue juga nggak terlalu suka makan roti," kata Sinta menyodorkan kantong plastik itu ke arah Dewa.
"Serius lo nggak mau? Ya udah, sini ah. Gue mau makan. Mumpung gue masih laper," kata Dewa segera merebut kantong plastik itu dari tangan Sinta. "Susunya, lo mau?"
"Nggak. Buat lo semua aja. Gue alergi sama s**u botolan."
"Alhamdulillah, rejeki anak soleh. Thanks Sin, lo baik banget. Gue doain, lo dapet suami modelan kayak gue," kata Dewa kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Sinta.
"Dih, mimpi lo!" sembur Naya setelah menjitak kepalanya Dewa sekali.
"Ya mana tahu, Sinta seneng kan."
"Enak aja. Tekor gue kalo suami gue modelan kayak elo. Hobinya makan mulu," balas Sinta dengan nada bercanda. Membuat Naya tertawa senang diikuti oleh Sinta. Tak berapa lama terdengar suara bel berdering. Dan setelahnya, guru pengampu datang memasuki ruang kelas.
***
Tring! Tring!
Bel tanda istirahat berbunyi, dengan segera para siswa berjalan keluar dari ruang kelas setelah guru pengampu pergi. Setelah belajar kurang lebih empat jam, kini adalah waktunya para siswa mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Tak lupa juga dengan Sinta dan Naya. Dengan semangat yang membara, Naya menarik tangannya Sinta untuk segera keluar dari kelas.
"Tunggu Nay, bentar dong. Gue mau ambil dompet gue dulu," ucap Sinta melepaskan genggamannya Naya.
"Ih, Sinta. Cepetam dikit dong. Entar kehabisan seblaknya," sungut Naya kesal.
"Nggak bakal kehabisan. Percaya deh."
"Tahu ah. Cepetan dong."
"Iya iya. Ini gue udah bawa dompet. Kuy ke kantin," kata Sinta riang.
"Kuylah," balas Naya bersemangat. Dengan kompak Sinta dan Naya pergi dari kelas menuju kantin. Tak berapa lama, terdengar derit kursi dari depan mejanya Rama. Sudah dapat ditebak, dia adalah Dewa.
"Na, kantin kuy," ajak Dewa menatap lurus ke depan, ke tempat kursinya Nakula.
"Oke," balas Nakula singkat segera berjalan menuju pintu kelas diikuti oleh Dewa. Keduanya berjalan dengan Dewa yang merangkul lehernya Nakula dan dibalas dengan sikutan lengan yang terasa menyakitkan bersarang di perutnya Dewa. Karena Nakula adalah tipe yang tak suka disentuh oleh orang lain kecuali keluarganya sendiri.
"Iya, iya ampun!" seru Dewa dengan suara keras saat melihat Nakula yang akan menjitak kepalanya. Belari keluar dari kelas menghindari amukan dari Nakula. Tanpa mereka berdua sadari, ditempat pojok kelas, Rama memperhatikan keduanya dengan sorot mata yang dingin namun terasa hampa. Rama sadar, jika masalah pertemanannya antara dirinya, Dewa dan Nakula penyebabnya karena dirinya yang tiba-tiba menjauhi kedua temannya. Jika Rama menjadi Dewa dan Nakula, Rama juga tentu akan merasa kesal dan mungkin juga marah. Jadi wajar saja, jika saat ini Dewa dan Nakula mengabaikan dirinya sejak pagi tadi. Namun apa boleh buat? Rama terpaksa seperti ini karena dirinya ingin giat belajar dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Rama tak ingin membebani pikiran kedua orang tuanya. Bahkan, tanpa Rama sadari, dirinya sangat rindu dengan hobi meretasnya. Namun sekuat tenaga, Rama menahan gejolak rasa yang menggebu ingin melakukan rutinitas meretasnya setiap hari. Dan itu sangatkah tidak mudah. Karena baginya, meretas seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jika sehari saja Rama tak meretas, Rama merasa sangatlah hampa.