Sikap Anehnya

1531 Kata
Aku memang pendiam, tapi bukannya aku tak pernah memperhatikanmu dan lingkungan sekitar. Aku hanya lebih senang mencermati dalam diam. -Rama- Tulalit!!.... Tulalit!!.... Terdengar sebuah suara yang menggema diruangan itu. Dan tebaklah, berasal dari mana suara itu. Mungkin dari kalian semua, tidak mengira jika sumber suara tersebut berasal dari sebuah ponsel yang tergeletak di lantai yang terlihat lusuh. Membuat seseorang mengerang di tengah tidur nyenyaknya. Segera sadar dengan kernyitan tipis di dahinya. Meraih ponselnya yang masih berbunyi mengeluarkan suara itu dengan sangat nyaring. Setelahnya sebelah tangannya akan menggapai ponsel tersebut, akan tetapi suara itu berhenti berbunyi. Membuat si empu pemilik ponsel yang masih tertidur di atas kasur itu, berdecak kesal. Kemudian meraih selimutnya dan akan bersiap memejamkan kedua matanya lagi. Akan tetapi tindakannya terganggu oleh deringan ponsel yang terdengar untuk kedua kalinya. "Ck, siapa sih ah ganggu tidur aja. Nggak ngerti orang capek habis kerja apa," ujar pemilik ponsel dengan malas segera bangun dari tidurnya. Merubah posisinya menjadi duduk dengan kedua kaki lurus ke depan. Melirik ponselnya yang masih menyala. Dengan berat hati, tangannya segera meraih ponsel itu. Menggeser tompol hijau yang ada di layar untuk menerima telepon. "Oi," sapa Dewa dengan sebelah tangannya mengucek matanya yang masih terasa sangat berat untuk dia buka. Bahkan setelah dia mengucek kedua matanya, tetap saja dua mata itu terpejam dengan sangat eratnya. "Nggak sopan. Ulang!" tandas si penelpon membuat Dewa mengernyitkan alisnya. Merasa antara percaya dan tidak percaya dengan si penelpon yang ada diujung sana. Dewa menjauhkan ponselnya dari telinga, membulatkan kedua matanya saat melihat sebuah kalimat yang berisi nama seseorang. "Kirain Rama. Eh ternyata elo," ucap Dewa kemudian dirinya meletakkan ponsel di samping tubuhnya. Mengangkat kedua tangannya ke atas dan melakukan peregangan otot. Rasa-rasanya seluruh tubuhnya Dewa seperti hancur karena sehabis pulang kerja shif malam. "Lo lupa? Rama lagi kerasukan," balas si penelpon cepat membuat Dewa seketika terdiam. Masih mencerna apa yang dikatakan oleh si penelpon. Mengernyit saat belum menyadari ucapan dari si penelpon. "Maksud lo, Na? Gue--" Perkataan Dewa terhenti karena secercah memori menghampiri benaknya. Menganggukan kepalanya saat teringat sesuatu. "Bener lo, Na. Rama lagi kerasukan." "Makanya gue nelpon elo," balas si penelpon yang ternyata adalah Nakula. Pada mulanya Dewa merasa bingung mengapa pagi-pagi buta begini Nakula menelponnya. Karena bukan kebiasaan Nakula kalau pagi membuka ponsel jikalau tidak penting. Berbeda lagi dengan Rama, kalau Rama meskipun tidak penting dia akan tetap menelpon Dewa dan bahkan menerornya saat Dewa tak mengangkat teleponnya. "Gue? Salah lo, Na. Kalo mau ngerukyah si Rama bukan nelpon gue. Noh telpon tuh Pak Kyai Abdursomat, tetangga komplek gue. Gue jamin Rama bakal sembuh total dari segala godaan jin dan setan jahan*am," koar Dewa dengan semangatnya. Bahkan dirinya mengangkat sebelah tangannya yang terkepal erat saat berkata 'sembuh total' mengisyaratkan jika apa yang dia katakan memang benar. "Ck, gue bukan mau ngerukyah temen b**o lo itu. Gue mau kita nggak ladenin dia," balas Nakula setelah berdecak merasa kesal dengan perkataan Dewa sebelumnya. Dewa yang mendengar perkataan tersebut mengernyit heran. Ada satu kata yang menurut Dewa sangat mengganjal di hatinya. "Temen gue? Wah berarti lo nggak anggep Rama temen lo ya? Sadis lo, Na. Eh bentar bentar, jangan-jangan lo juga nggak anggep gue temen lo ya?" tanya Dewa setelah sebuah pertanyaan terlintas di otaknya. "Baru nyadar? Ck b**o!" tandas Nakula dengan nada santainya. Bukan, bukan nada santai yang memang terdengar santai. Nada santainya Nakula adalah nada yang terdengar sangat dingin namun tidak mengintimidasi. Sontak saja Dewa membelalakan kedua matanya setalah mendengar perkataan tersebut. "Lo nggak setia kawan, Na. Kemarin aja anggep kita berdua teman. Sekarang, saat Rama lagi ada masalah, lo malah unfreind-an ke gue sama Rama. Gue yang merasa sedih loh ini. Jahat lo ya," kata Dewa dengan dramatis. Merasa seperti seorang kekasih yang dikhianati pasangannya sendiri. Bahkan dengan sekuat tenaga, Dewa berusaha mengeluarkan air matanya agar dapat menghidupkan perkataannya yang terdengar sangat dramatis itu. "Bukan, b**o! Kita harus jauh-jauh sama Rama, kalo bisa jangan ajak ngomong dia. Biar dia tahu rasanya sendirian. Gue jamin rencana kita ini berhasil," papar Nakula cepat seperti terlihat sedang terburu-buru. "Tapi gimana kalo Rama malah menjauh dari--" Tut! Tut! Tut! Bahkan, disaat Dewa sedang berbicara, dengan tanpa merasa bersalah Nakula segera mematikan sambungan teleponnya. Membuat Dewa merasa kesal sendiri dengan sikap semena-menanya Nakula. Memang benar apa yang pernah dia katakan sebelumnya, jika berteman dengan Nakula, kesabaran dan umurnya sangatlah diuji. Karena Nakula adalah tipe laki-laki yang pendiam, pintar namun sedikit menyebalkan di matanya Dewa. "Gue belum selesai ngomong, pinter!" maki Dewa kesal berteriak keras ke arah ponselnya. Seolah sedang memarahi Nakula lewat telepon. Padahal teleponnya sudah terputus sedari tadi. Dewa mengacak rambutnya, merasa kesal dan juga bingung dengan rencana yang dikatakan oleh Nakula. Melirik ke arah jam dinding yang ada di di atas pigura foto keluarganya yang menggantung. Berniat akan tidur dan masuk ke dalam alam mimpinya lagi karena waktu masih menunjukkan pukul lima lebih empat menit pagi hari. Untuk Dewa, disaat jam-jam seperti ini, baginya masihlah malam untuk memulai aktifitasnya. Maka dari itu Dewa berniat akan kembali tidur. Namun niatnya terhenti saat mendengar suara batuk dari arah kanan di ruangan sebelah. Itu adalah kamar milik orang tuanya, yang kini menjadi kamar milik ibunya sendiri. Segera beranjak dari kasur dan pergi keluar kamar. Setelah membuka pintu kamar ibunya dengan sangat pelan, hati Dewa mencelos saat melihat seorang wanita berusia tiga puluhan sedang terbaring di kasur dengan posisi membelakangi Dewa. Dewa segera masuk dan berjalan pelan ke arah ibunya yang masih terbatuk-batuk kecil. "Ibuk, nggak papa? Masih sakit apa udah mendingan?" tanya Dewa pelan setelah berhasil duduk di sebuah kursi disamping ranjang ibunya. Mendengar pertanyaan yang penuh akan nada kekhawatiran, ibu Dewa, bernama Winduasmi, atau lebih sering dipanggil Bu Asmi, segera membuka kedua matanya. Dengan mata sayunya, Bu Asmi dapat melihat raut kekhawatiran di anak sulungnya. "Enggak, I-ibuk udah mendingan. Kamu udah bangun? Mau berangkat pagi?" tanya Bu Asmi karena merasa heran saat melihat Dewa yang notabenya adalah anak laki-laki yang akan bangun kesiangan, sekarang malah sudah bangun awal dari biasanya. "Enggak, Buk. Wawa enggak berangkat pagi. Tadi cuma kebangun gegara ada temen Wawa yang nelpon. Ibuk beneran udah mendingan? Nggak perlu ke dokter buat periksa?" tanya Dewa sekali lagi karena masih belum yakin dengan jawaban Bu Asmi mengingat saat Dewa melihat raut wajah ibunya itu, terlihat sangat jelas jika wajah itu lebih pucat dari biasanya. Kedua matanya memerah meskipun hanya terlihat disudut-sudut matanya saja. Bibirnya terlihat hampir putih semua di seluruh bagiannya, bahkan terlihat bibir itu yang bergetar patah-patah. Terlihat sepeti bibir orang yang sedang kedinginan.  "Iya, Ibuk udah nggak papa. Sana tidur lagi kalau masih ngantuk. Nanti Ibuk bangunin kalo udah jam enam," ujar Bu Asmi lemah dengan elusan tangan di rambut anaknya itu. Kedua matanya Dewa terpejam, meresapi rasa hangat yang menjalar di hatinya saat jari jemari lemah milik Bu Asmi mengelana dirambut keritingnya. "Enggak deh, Buk. Wawa udah nggak ngantuk lagi. Wawa mau masak aja. Ibuk mau dimasakin apa?" tanya Dewa menundukkan kepalanya untuk melihat raut wajah Bu Asmi yang masih bertahan dengan posisi tidurnya. "Nggak usah. Kamu nggak usah masak. Biar Ibuk saja. Kemarin kamu juga udah masak kan." "Nggak papa Ibuk. Wawa seneng kok bisa masak masakin buat Ibuk sama Wulan," balas Dewa dengan senyum gembiranya. Melihat binar senang di kedua matanya Dewa membuat Bu Asmi tersenyum senang. "Ya udah kalau kamu maunya begitu. Ibuk mau dimasakin, ehm, makanan favorit Ibuk, bagaimana?" "Siap laksanakan! Wawa keluar dulu ya, Buk. Chef Wawa mau beraksi dulu. Ibuk tidur lagi aja, entar Wawa bangunin," kata Dewa kemudian membenarkan letak selimut di tubuh Bu Asmi. Segera beranjak dari duduknya setelah memberikan sebuah ciuman hangat di kening Bu Asmi. Setelah Dewa keluar dari kamar, terlihat senyum senangnya perlahan memudar. Bahkan kedua binar matanya yang tadi menatap sayu ke arah Dewa tergantikan dengan tatapan yang terlihat sangat sedih. Menghela napas dengan berat saat teringat sebuah kenyataan pahit yang menimpa dirinya. "Aku, bukan seorang ibu yang baik buat anaknya," gumam Bu Asmi sedih. Segera menoleh ke arah kiri, dimana ada sebuaj foto keluarga yang sama dengan foto yang terpajang di dinding kamarnya Dewa. Menatap dengan tatapan penuh akan rasa ingin bertemu saat kedua netranya menangkap sesosok laki-laki dewasa di foto itu. "Mas, lihat kan. Anakmu sangatlah hebat," katanya kemudian tersenyum sedih menatap foto seorang laki-laki itu. Sedangkan didapur yang sederhana, Dewa baru saja menyiapkan peralatan yang akan dia gunakan untuk memasak. Tiba-tiba terdengar suara dari ponselnya yang menandakan jika ada pesan yang masuk. Dengan segera Rama membuka isi pesannya. Nakula Si Manusia Projen Online Nakula|| Inget sama rencana kita. Jangan deketin Rama. Membaca pesan tersebut membuat Dewa merasa penasaran. Dewa awalnya menebak jika tadi saat Nakula menelponnya, dirinya hanya bercanda. Namun saat melihat pesan itu, Dewa baru menyadari jika Nakula sangat bersungguh-sungguh dengan rencananya itu. Tanpa membalas pesan dari Nakula, Dewa segera meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan acara masaknya. "Aneh. Sikap dua temen gue aneh semua. Apakah selama ini, emang cuma gue yang waras?" gumam Dewa namun tak berapa lama senyum cerianya terlihat setelah dirinya berkata demikian. Merasa benar dengan apa yang telah dia katakan. Bahwasanya hanya dirinya yang masih waras tak seperti Rama dan Nakula. Hanya saja, Dewa tak menyadari kenyataan jika dirinyalah sendiri yang sangat aneh diantara dirinya, Rama dan juga Nakula. Memangnya ada, orang aneh yang menyebutkan dirinya sendiri aneh? Jelas-jelas tidak ada bukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN