Rasa Tak Terbendung

1466 Kata
Keluarga adalah dimana disaat aku membutuhkan, mereka akan selalu ada. Disaat aku mulai terjatuh mereka lah yang menarikku untuk bangkit. Disaat aku kehausan, mereka lah yang memberiku sumber mata air. Dan aku menyebut mereka dengan nama rumah. Rumah ternyaman di dunia ini. Dan mungkin, akan menjadi rumah yang menjadi satu-satunya rumah untukku kembali. -Rama- Terlihat para siswa yang sedang duduk berjajar rapi membentuk pola persegi. Mereka terlihat hening saat seorang guru dengan sebuah penggaris yang terbuat dari kayu, berjalan pelan. Langkah demi langkah terlihat menakutkan bagi seluruh siswa saat beliau mengelilingi seluruh ruangan. Membuat para siswa yang dilaluinya menahan napas dengan berat. Seolah tarikan napas mereka bisa saja menjadi kesalahan untuk menjadi hukuman bagi dirinya sendiri. Suara hak sepatu tinggi terdengar menggema di ruangan yang ramai namun terasa seperti sepi. Bahkan, tepukan penggaris kayu di tangan sang guru, membuat hampir semua siswa terpekik kaget dengan suara nyaringnya. Saat ini kelas 11 IPA 1, sedang berlangsung mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan tugas mereka kali ini adalah membaca dan memperlajari suatu materi yang ada di bab buku paket. Dewa, yang sudah menahan kedua matanya agar tidak mengantuk dengan segera membuka kedua matanya lebar-lebar dengan tangannya sendiri. Tidak mau menerima konsekuensi jika ketahuan tidur di kelas saat mata pelanjaran tersebut. Tring!!.... Tring!!.... Dan pada akhirnya, bel penyelamat nasib semua siswa akhirnya berbunyi. Dan saat itu juga kedua bola matanya Dewa terbuka dengan sangat lebar. Segera mengemasi beberapa peralatan tulisnya ke dalam tas warna biru donker-nya. Tak lupa juga segera memakai tasnya dipunggungnya yang kokoh. Membuat Bu Sriningsih, guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia berdeham kencang di sampimgnya Dewa. Dengan gerakan pelan, Dewa mendongak ke arah kanannya. "Hehehe, kan udah bel, Bu. Udah boleh pulang kan Bu," ujar Dewa diakhiri dengan memberikan cengiran lebarnya. Kemudian menggaruk tengkuk belakangnya saat melihat Bu Sriningsih yang memberikan pelototan maut ke arahnya. Membuat Dewa dengan cepat melepaskan tasnya dan menempatkan pada tempat semula. Puas dengan apa yang telah Dewa lakukam, Bu Sriningsih segera berjalan ke depan kelas. Memukul penggarisnya ke papan tulis membuat perhatian semua siswa tertuju hanya kepada dirinya. "Jadi, dengan apa yang telah saya obserfasi, kelas ini masih minim akan akhlak dan tata krama," ujar Bu Sriningsih dengan kedua bola matanya menatap ke seluruh siswa yang ada di ruangan itu. Dewa yang merasa tersindir karena perkataan Bu Sriningsih yang mengacu kepada dirinya, menghembuskan napasnya berat. Meluruhkan kepalanya agar tak ketahuan oleh Bu Sriningsih. "Sindir gue aja terus. Ini tuh udah bel pulang. Masih aja mau ceramah. Gue jadi heran, pasti dulunya Bu Sriningsih pernah interview jadi pekerja ustadzah, tapi Mama Dedeh malah yang keterima. Terus Bu Sriningsih ganti profesi jadi guru, tapi karena hobinya ceramah, makanya sering pindah ceramah di kelas. Huh," oceh Dewa pelan dengan mengangguk-anggukan kepalanya. Seolah memang percaya dengan opini yang telah dia utarakan barusan. Melihat Dewa yang mengangguk-anggukan kepalanya sendiri, dan terlihat berbeda dari siswa lain, membuat Bu Sriningsih menatapnya dengan tatapan yang sangat garang. "Dewa! Kenapa kamu angguk-angguk begitu hah!" teriak Bu Sriningsih tiba-tiba membuat Dewa gelagapan karena ketahuan sedang tidak fokus. Dewa segera melirik ke sekitarnya. Mulai memahami situasi. "Karena Saya paham, Bu. Makanya Saya angguk-angguk," balas Dewa dengan percaya diri. Sangat merasa percaya diri. "Paham soal apa kamu?" tanya Bu Sriningsih mengangkat alisnya menantang Dewa. Dewa menangkap pergerakan kecil di tangan Bu Sriningsih. Membuat Dewa yakin dan menyadari jika pertanyaan barusan adalah jebakan untuknya. "Soal, e-eng kelas ini masih minim akhlak dan tata krama," balas Dewa sedikit merasa ragu. "Misal?" tanya Bu Sriningsih lebih lanjut. Dewa merasa cukup senang, karena jawaban yang dia berikan ternyata benar dan syukurlah nasibnya tidak sial pada hari ini. "M-misal, seperti Saya. Yang sudah beres-beres dan gendong tas saat Bu Sriningsih masih ada di kelas." "Bagus. Ternyata kamu sadar dengan sindiran Saya ya," kata Bu Sriningsih dengan santainya. Membuat Dewa langsung mengecilkan umpatannya agar tidak ketahuan oleh Bu Sriningsih. "Monyet! Sindirnya keras banget. Ini mah namanya bukan sindiran lagi," gumam Dewa menggerutu pelan membuat Naya yang ada di sampingnya terkekeh pelan mendengar gerutuannya Dewa. "Udahlah diam. Entar makin ngaret pulangnya," bisik Naya setelah mencolek lengannya Dewa berkali-kali. Setelah mendengar saran dari Naya, Dewa mengangguk dan segera mengatupkan bibirnya dengan sangat rapat agar tak mendapat teguran dari Bu Sringningsih lagi. "Dengan adanya kejadian ini, Saya beri peringatan agar mulai minggu depan, kalian semua harus meningkatkan tata krama. Dan jika ada salah satu siswa yang tidak beradap, nilai akhir kalian akan Saya kurangi. Apakah kalian paham?" terang Bu Sriningsih membuat semua mata melotot ke arahnya. Tak ada siswa yang menjawab pertanyaan beliau karena masih syok setelah mendengar pengumuman itu. "Apakah kalian paham?!" Ulang Bu Sriningsih kali ini dengan intonasi yang naik menjadi dua oktaf. "Iya, Bu. Kami paham!" balas semua siswa dengan kompak. Mau bagaimana lagi, mereka dengan terpaksa membalas pertanyaannya Bu Sriningsih itu agar bisa mendapatkan nilai akhir di mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Ya sudah, pembelajaran kali ini Saya cukupkan sampai disini. Kita lanjutkan pelajaran tercinta ini minggu depan. Jaga kesehatan kalian semua dan sampai jumpa di minggu yang akan datang. Assalammualaikum," pamit Bu Sriningsih yang tanpa perlu mendengar balasan dari siswanya, Bu Sriningsih sudah lenyap dari kelas. "Huh, bisa cepet tua kalo gue ketemu Bu Sriningsih terus-terusan," decak Dewa kesal yang kini sudah menggendong tasnya lagi dan beranjak dari posisi duduknya. "Terus lo mau, lo nggak dapat nilai akhir di mata pelajaran Bahasa Indonesia?" tanya Naya kemudian tekekeh sinis ke arah Dewa. Dewa melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Gak butuh nilai dari mata pelajaran ini tuh," ucap Dewa meremehkan dengan tatapan yang seolah berkata baik-baik saja tanpa nilai akhir dari mata pelajaran tersebut. "Canda elah, gue juga mau lulus. Kalo gue nggak dapat nilai akhir di mata pelajaran Bu Sriningsih, gimana gue bisa lulus? Jadi siswa abadi di SMA Angkasa Wijaya? Ogah banget!" sambung Dewa dengan ekspresi memelasnya. Segera membalikkan badannya ke arah Rama saat teringat sesuatu. "Eh, Ram. Gimana kalo kita pergi ke taman kota? Gue kangen sama pentolnya--" ucapannya Dewa terhenti saat melihat Rama yang berjalan dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan Dewa yang sedang mengajaknya berbicara. "Terntaya masih anggry ya?" gumam Dewa memiringkan kepala menoleh ke arah Rama yang baru saja keluar dari kelas. Sinta berjalan ke arahnya Dewa. Menepuk pelan bahunya Dewa. "Temen lo tuh, gengsi kok di gedein. Punya masalah nggak mau cerita. Ngambek kayak anak kecil," kata Sinta tiba-tiba membuat Dewa teebengong saat itu juga. "Hah? Maksut lo apaan, Sin?" tanya Dewa masih terbengong dengan perkataannya Sinta. Sinta hanya mengangkat bahunya kemudian menepuk bahunya Dewa sekali dan segera pergi keluar dari kelas karena papanya sudah sampai di depan gerbang. Sedangkan di lorong yang ramai oleh para siswa yang sedang berdesakan berjalan menuju parkiran, Rama malah merasakan kesepian yang mendalam pada didirinya. Dirinya merasa jika hari ini adalah hari paling berat selama dia sekolah di SMA Angkasa Wijaya. Tapi entah mengapa, dirinya sedikit merasa jika hari ini dirinya seperti menjadi orang yang berbeda. Seolah jiwanya tergantikan oleh jiwanya orang lain. Apa pengaruh masalah papanya memang sekuat itu terhadap dirinya? Ya, Rama berubah hanya karena ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Terutama papanya.  'Gue, udah bener kan?' batin Rama bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. 'Gue nggak bakal nyesel kalo gue udah milih jalan ini kan?' 'Bisakah seseorang kasih jawabannya ke gue?' Batin Rama semakin sedih saat tak ada yang bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terus menerus mengganggu pikirannya sejak semalaman. Apakah dirinya sudah benar? Apa Rama hanya perlu menunggu waktu atas jawaban yang dia butuhkan? 'Benar. Gue cuma perlu waktu. Selagi gue nunggu waktu itu tiba, gue harus berusaha semaksimal mungkin jadi anak kebanggaan papa sama mama.' Rama segera melanjutkan jalannya lagi. Saat Rama baru jalan beberapa langkah setelah dirinya berhenti sejenak tadi, Rama merasakan aura yang tak mengenakan dari sisi kirinya. Dengan cepat Rama menoleh ke arah kiri, tepatnya di lorong dari kelas lain yang merupakan barisan dari kelas bahasa. Memang benar, jika di sekolah SMA Angkasa Wijaya ada tiga jurusan yang dapat dipilih oleh para siswa. Yaitu ada jurusan kelas IPA, jurusan kelas IPS dan jurusan kelas Bahasa. Dan juga sekolah ini mendapat banyak sekali penghargaan karena siswanya yang sangat berprestasi.  Rama melebarkan kedua matanya, saat melihat Laras yang memegangi perutnya. Bahkan satu tangannya menutup mulutnya seolah sedang menahan sesuatu di dalam perutnya agat tidak keluar. Rama berniat akan menghampiri Laras. Namun, saat satu langkah dirinya maju, tiba-tiba Rama teringat dengan memori percakapan antara dirinya dan mama yang meminta agar Rama bisa menjadi anak yang patuh. Dan terlintas beberapa memori saat Rama melihat papanya yang pulang terlalu malam, lembur atau bahkan berangkat saat fajar belum tampak. Menyadari jika apa yang akan dia lakukan adalah salah, buru-buru Rama membalikkan badannya dan berjalan cepat meninggalkan Laras. Tujuannya adalah satu, rumahnya. Dan dirinya akan melanjutkan mengerjakan soal tadi pagi. 'Nggak seharusnya gue prioritasin Laras lagi. Tujuan gue sekarang cuma satu, buat bangga papa sama mama. Dan buat sekarang, gue harus giat belajar," bisik Rama yang terus berjalan menuju parkiran sekolah berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN