Rama Berubah

3352 Kata
Ketika seseorang terlihat seperti berbeda dari biasanya, entah itu sifatnya, rutinitasnya atau yang lainnya, ingatlah, mereka bukan sedang berubah. Akan tetapi mereka sedang berada di tahap menjadi manusia yang lebih dewasa. -Rama- Seorang remaja laki-laki yang sedang terbaring di atas kasur empuknya terlihat sedang tidur tak tenang. Dapat dilihat dari raut wajahnya yang terlihat seperti khawatir atau sedang ketakutan. Menggelengkan beberapa kali kepalanya. Bahkan beberapa tetes keringat muncul di dahinya. Entah apa yang terjadi di alam mimpinya itu. Tentu saja mimpi itu sesuatu yang tak diharapkan untuk terjadi. "Jangan…. P-papa, jangan…. Tidak!" ujar Rama diakhir dengan teriakan yang panjang dan setelahnya dirinya terbangun dari tidurnya. Mengerjap-erjapkan untuk memastikan apakah dirinya sedang mimpi atau tidak. Dan saat mendengar suara jam weker yang berbunyi, remaja laki-laki itu segera bernapas lega. Segera mendudukan dirinya dan minum segelas air mineral yang sengaja dia sediakan diatas mejanya. Meminumnya sekali habis dalam sekali tegukan. Tubuhnya terlihat lemas seolah energinya terserap habis oleh mimpi buruk yang baru saja dia alami. "Hah hah hah…." Terlihat Rama yang sedang mengatur napasnya yang terdengar berat. Menyugar rambutnya ke belakang. Kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, Rama tak ingin apa yang terjadi di mimpinya itu menjadi peristiwa nyata yang benar-benar terjadi pada dirinya. Meraih ponselnya dan mengeceknya, apakah ada pesan penting di pagi hari. Dan syukurlah jika tidak ada satupun pesan penting. "Bisa-bisanya gue mimpi kayak gitu," gumam Rama pelan. Ingatan tentang mimpi buruknya itu masih terekam jelas di memorinya. Menyingkap selimutnya, Rama segera bangun dari posisi duduknya.  Melirik sebentar ke arah figura yang berisi foto keluarganya yang masih utuh. Kemudian mengusap wajahnya dengan kasar lagi. "Gue berharap, mimpinya nggak bakal jadi kenyataan. Gue nggak sanggup bayanginnya Ya Allah," mohon Rama terdengar sangat rapuh. Setelah terdiam di tempatnya, Rama segera duduk di meja belajarnya. Melirik ke arah jam wekernya. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum dirinya mandi dan menjalani rutinitas seperti biasanya sebelum dirinya berangkat ke sekolah. Meraih sebuah buku latihan soal dari rak bukunya dan Rama mulai mengerjakannga sebisa yang dia mampu. Ya, sudah Rama putuskan setelah berpikir semalaman tentang dua pilihan menyangkut masa depannya. Dan dirinya akan berusaha semampunya untuk menjadi anak yang patuh kepada kedua orang tuanya dan akan mewujudkan harapan papanya yang sangat ingin Rama menjadi penerus perusahaannya. Jika hanya memang dengan cara tersebut kedua orang tuanya akan bangga terhadapnya, Rama akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mewujudkannya. Dirinya bertekad tak akan menggeluti dunia hacker lagi. Sejauh mungkin Rama akan menghindari hobinya itu, meskipun itu akan terasa sangat sulit mengingat jika di sekelilinya masih ada beberapa server untuk melakukan hobi meretasnya itu seperti ponsel, laptop dan komputernya. Tapi Rama akan mencoba untuk tak menyentuh ketiga benda itu jika tidak dalam keadaan penting untuk mengerjakan tugas atau mencari referensi. Setelah setengah jam Rama segera bergegas untuk memulai acara mandi paginya. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Rama akan mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah. "Ada tiga  hipotesis tentang terjadinya replikasi DNA, yaitu satu Replikasi konservatif menjelaskan bahwa DNA induk tidak mengalami perubahan apapun, lalu urutan basa basa nitrogennya disalin sehingga terbentuk dua rantai DNA yang sama persis. Dua Replikasi dispersive menjelaskan bahwa DNA induk terpotong -potong, kemudian potongan -potongan tersebut merangkai diri menjadi dua buah DNA baru yang mempunyai urutan basa- basa nitrogen sama persis seperti urutan basa nitrogen semula. Tiga Replikasi semikonservatif menjelaskan pada saat akan mengadakan replikasi kedua, rantai polinukleotida akan memisahkan diri sehingga basa -basa nitrogen tidak berpasang pasangan," gumam Rama saat membaca buku catatannya sembari menuruni anak tangga di rumahnya satu persatu. Membuat mama yang sedang membaca sebuah buku melirik ke arahnya sebentar dengan kernyitan di dahinya. "Kamu lagi ngapain?" tanya mamanya tak habis pikir dengan perubahan kelakuan anaknya itu. Bahkan saat Rama turun tadi, Rama tak memberikan sapaan seperti pagi-pagi sebelumnya. Bahkan, saat mama melempar pertanyaan itu Rama tak menoleh ataupun melirik ke arahnya sekali. Dirinya masih sibuk menatap buku yang ada di genggamannya. "Lagi belajar, Ma," balas Rama kemudian duduk di salah satu kursi di dekat meja makan. Dengan tatapan yang masih tertuju pada buku catatannya, kedua tangannya Rama mengambil sarapannya sendiri. "Kamu ada ulangan pagi?" tanya mama lagi yang masih merasa terheran dengan perubahan tingkah anaknya. "Enggak," balas Rama singkat kemudian memasukan makanannya ke dalam mulut dan tentu saja tatapan kedua matanya masih tertuju pada pada buku catatannya. Membuat mamanya menghela napas dengan berat. "Kalau lagi makan, makanannya yang dilihat. Entar malah salah masuk tuh makanannya," ujar mama bermaksud untuk mengingatkan anaknya jika apa yang Rama lakukan itu tidak baik. Rama hanya menggeleng dan masih melakukan kegiatannya. Rama tetap membaca buku sembari memakan sarapannya sampai makanannya yang ada di dalam piringnya habis tak bersisa. "Rama berangkat dulu, Ma. Assalammualaikum," pamit Rama setelah memasukan buku catatannya tadi ke dalam tasnya. Mamanya mengangguk dan menyalami Rama. "Walaikumusalam. Hati-hati di jalan," pesan mamanya. Dan Rama hanya menganggukan kepalanya. Setelahnya, Rama berbalik badan dan keluar dari rumahnya. Selama Rama turun dari kamarnya, memakan sarapannya sendiri, dan berangkat sekolah, mama merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya Rama. Tak ada canda tawa riang dari anaknya lagi. Namun mama tak mempermasalahkan. Mengira jika Rama hanya sedang ingin giat belajar dan akan kembali pada kebiasaan biasanya dalam waktu dekat. Maka dari itu mama tak mempermasalahkannya sama sekali. ***   Setelah menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah Angkasa Wijaya dan hanya memerlukan waktu tiga puluh menit, kini Rama telah sampai di area parkiran sekolahnya. Segera turun dari motor dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Setelah menemukan apa yang Rama cari, Rama segera membukanya dan mencari file tentang bab pelajaran yang telah Rama pindah tadi malam dari laptop ke memory card yang ada di ponselnya. Mulai membaca materi sekolahnya sembari berjalan memasuki gedung sekolah yang terlihat sangat megah. "Yo whats up bro!" seru seorang laki-laki diujung koridor. Mengangkat sebelah tangannya ke arah Rama. Rama yang masih fokus pada ponsel yang berisi file materi pelajarannya, tetap berjalan santai melewati orang itu. Orang itu adalah Antasena. Ketua anak badung di sekolah SMA Angkasa Wijaya. Anta memandang heran ke arah Rama yang sudah berjalan jauh darinya. Menggaruk kepalanya karena merasa bingung dengan sikapnya Rama yang terlihat aneh baginya. "Efek samping kelamaan menjomblo tuh pasti. Rama jadi aneh gitu," gumam Anta kemudian menganggukan kepalanya menyetujui idenya tersebut. Rama terus berjalan dengan tatapan yang fokus membaca tiap kata yang ada di layar ponselnya. Sesekali melirik ke arah depan saat dirinya akan menaiki tangga ataupun berbelok arah. Hingga kurang dari sepuluh langkah lagi, kelasnya sudah terlihat dari tempatnya berpijak. "Hai, morning my husband--" sapaan dari Cindy terpotong tiba-tiba saat Rama melengos dan tetap jalan lurus menuju kelasnya. Bahkan tanpa perlu repot-repot Rama tak meliriknya. Cindy dibuat terheran melihat tingkahnya Rama. Karena, setiap dirinya menyapa Rama, tak pernah sekalipun Rama tak membalas sapaan ataupun perkataannya. Meskipun Rama tak pernah terlihat merespon perkataannya Cindy dengan baik, Rama tak pernah tak membalas perkataanya Cindy. Baru kali ini Rama mengabaikan Cindy, bahkan seolah Rama tak menyadari kehadirannya Cindy. "Huuh.... Rama!" teriak Cindy yang merasa kesal dengan perubahan sikapnya Rama. Namun Rama masih diam saja, tatapannya masih tertuju pada layar ponselnya. Dan lagi, tak ada balasan dari Rama membuar Cindy berkali-kali lipat merasa semakin kesal terhadap Rama. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan di lantai marmer, Cindy berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya berada. Kini Rama telah sampai di ruang kelasnya. Berjalan menuju kursinya berada. Dinda, salah satu temannya Rama yang melihat Rama berjalan sembari menatap ponsel merasa terheran. Maka dari itu, untuk menjawab pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, Dinda ingin bertanya langsung kepada Rama. "Rama! Lagi ngapain sih elo. Segala pake acara jalan sambil lihatin ponsel. Emang penting banget?" tanya Dinda bermaksud menyindir agar Rama segera membalas perkataan.  Dan jika Dinda tebak, Rama akan menyindirnya kembali ke arahnya. Karena begitulah wataknya Rama. Tak mau kalah dari temannya. Apalagi masalah dalam hal menyindir orang lain. Namun, sudah lima detik, masih saja tak ada balasan dari Rama. Malahan kini Rama sudah duduk tenang di kursinya setelahnya mengeluarkan sebuah buku yang berisi kumpulan soal-soal. Dan segera mengerjakan soal yang ada di buku tersebut. Tingkahnya Rama membuat temannya terbengong, bukan hanya Dinda tapi seluruh penghuni kelas. Mereka saling melempar pandang masih merasa bingung dengan sikap Rama yang banyak diam dan  tiba-tiba mengerjakan soal tanpa diminta. Padahal, biasanya Rama tak akan mengerjakan soal, meskipun itu disuruh oleh guru pembimbing saat freeclass. "Rama, kesambet setan mana sih guys!" teriak Naya tiba-tiba yang baru saja masuk dan langsung terbengong melihat Rama yang pagi-pagi sudah duduk di kursinya. Ditambah, Rama yang sedang fokus mengerjakan latihan soal. Semua temannya dengan kompak menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu tuh. Dari tadi aja udah diem itu anak," balas Dinda kemudian melanjutkan kegiatannya menata rambutnya sembari bercermin di layar ponselnya. Naya mengangguk kemudian segera berjalan menuju kursinya. Namun sebelum duduk di kursinya sendiri, Naya menundukkan tubuhnya saat dirinya berdiri didepan mejanya Rama. Menatap heran saat melihat Rama yang terlihat benar-benar mengerjakan soal. Merasa ada seseorang didepannya, Rama mendongakan kepalanya. Melempar tatapan yang berbeda ke arah Naya. Tak sampai lima detik, Rama segera menundukkan kepalanya lagi. Melanjutkan menulis di atas bukunya. Sontak Naya membulatkan kedua matanya. Merasa asing dengan tatapannya Rama tadi. "Rama lo--" "Gud apternun guys!" sapa seseorang di depan kelas. Naya segera menatap malas si pelaku yang baru saja berteriak. "Nggak usah sok speak English deh, kalo lo bisanya cuma yes sama no doang," balas Naya membuat Dewa melempar cengirannya. Naya memutar bola matanya malas. Kemudian menatap ke arah Rama lagi yang bahkan, saat Dewa si b****k best freind-nya Rama datang, Rama tak terlihat tertarik ataupun terlihat tak ingin menghujat Dewa sekalipun. Padahal biasanya Rama akan menghujat Dewa tanpa ampun. "Wih, tumbenan lo pagi-pagi udah buka buku, Ram. Kan biasanya kalo masih pagi lo buka dompet. Terus nongkrong sebentar di kantin," kata Dewa yang sudah duduk di kursinya yang berada tepat di depan mejanya Rama. Terlihat Rama yang tak terusik dengan perkataannya Dewa. Membuat semua orang bertanya-tanya, ada apa dengan Rama. Dewa mendekat ke sampingnya Rama kemudian menyenderkan sebelah tangannya dibahunya Rama. Melirik sebentar di bukunya Rama yang sudah terisi tulisan tangan yang baru saja Rama tulis. "Rajin banget sih temen b****k gue--" Ucapannya Dewa terhenti saat Rama menghempaskan tangannya Dewa dengan sedikit kasar. Membuat Dewa dan Naya saling melempar pandang. "Lo kesambet demit ya, Ram. Wah perlu dirukyah nih. Gusy, ada yang punya nomornya pak ustadz nggak? Rama lagi kena sawan nih," seru Dewa menatap teman sekelasnya yang malah disambut dengan tawa canda dari temannya. "Heh, demit j*****m, keluar lo dari tubuhnya Rama. Gue nggak ijinin lo buat ganggu temen gue. Cepat keluar!" seru Dewa yang sedang memegangi kepalanya Rama seolah sedang menarik sesuatu yang tak terlihat di atas kepalanya Rama. Dewa terkekeh menyadari sikap konyolnya. Namun lagi dan lagi, Rama segera menghempaskan tangannya Dewa yang ada di kepalanya. Kali ini dengan tenaga yang cukup besar membuat Dewa terjungkal ke belakang. "Weh kasar lo. Bintang satu," protes Dewa dengan nada yang dibuat seperti sedang merajuk. Menunggu balasannya Rama, akan tetapi Rama tetap diam saja mengerjakan soal. "Kenapa pada diam?" tanya Sinta yang baru saja masuk ke dalam kelasnya. Sontak semua tatapan anak satu kelas menatap dengan kompak ke arah Sinta kecuali satu siswa yaitu Rama sendiri. Mereka memberi kode ke arah Rama. Dengan alis yang mengernyit, Sinta berjalan mendekat ke arah Rama. Menatap dengan bingung saat melihat Rama yang tengah mengerjakan soal. "Rama kenapa?" tanya Sinta kepada Naya dan Dewa. "Tumben banget ngerjain soal pagi-pagi gini." Naya mengangguk, "Iya itu, kita juga bingung--" "Gue nggak papa. Lagi pengen," ujar Rama tiba-tiba membalas pertanyaannya Sinta. Sontak Naya dan Dewa berhasil dibuat terkejut. Mereka sontak melihat ke arah Sinta. "Sin, lo diem-diem jadian sama Rama ya?" tanya Dewa tanpa berpikir panjang. "Apaan? Kagak ada. Jangan ngawur lo kalo ngomong. Gue jambak juga lo," balas Sinta diakhir dengan ancaman. "Ya gimana kita nggak curiga. Dari tadi loh Rama cuma diam aja. Baru ngomong pas lo tanya tadi," imbuh Naya dengan berapi-api. Sinta langsung menatap ke arah Rama yang masih sibuk mengerjakan soal. Kemudian Sinta melambaikan tangannya. "Udahlah, biarin aja. Kelas jadi adem kalo begini. Udah sana balik ke tempat duduk lo berdua," ujar Sinta kemudian duduk di kursinya. Dengan segera mengambil beberapa peralatan sekolahnya. Dan tak berapa lama bel tanda jam pelajaran telah dimulai pun berdering. Memberikan sinyal kepada seluruh penghuni sekolah untuk segera memasuki ruang kelasnya masing-masing. *** Tring!!.... Tring!!... Bel beedering. Bertanda jika jam istirahat telah tiba. Dan proses belajar mengajar dibeherntikan sebentar secara serentak. Sinta merenggangkan otot lehernya dan juga tangannya. Merasa pegal sehabis meringkas sebuah materi. Melirik dan menatap heran saat melihat Rama yang masih saja menulis materi di buku tulisnya. Tak seperti biasanya, Rama masih bertahan duduk di kursinya untuk meringkas materi disaat bel istirahat telah berbunyi. Dewa tersenyum lebar saat bel istirahat telah berbunyi. Menatap ke depan dimana Nakula berada. "Na, kantin yok!" "Ye," balas Nakula malas kemudian berdiri dari posisi duduknya. "Ram, kantin yok. Biasa, Neng Ayu-an kuy," ajak Dewa dengan ceria. Siswa mana yang tak mau ke kantin disaat perut meronta minta diisi seperti saat ini? Rama masih diam saja, tak membalas ajakannya Dewa. Hingga sepuluh detik kemudian Rama baru berujar.  "Nggak!" Penolakan mentah-mentah dari Rama membuat Dewa dan Nakula sangat merasa bingung. Pasalnya, biasanya Rama lah pelaku yang pertama kali mengajak untuk pergi ke kantin. Tapi hari ini Rama tidak mengajak Dewa dan Nakula untuk pergi ke kantin sekolah. "Berasa punya dua temen modelan kayak Nakula," sindir Dewa melirik sinis ke arah Rama. Namun tetap saja, Rama tak membalas sindirannya bahkan tak sekalipun melirik ke arahnya. "Sin, kantin kuy," ajak Naya kemudian menarik tangannya Sinta. Dengan segera Sinta berdiri dari duduknya. "Iya iya kita ke kantin," balas Sinta menyejajarkan langkah kakinya dengan Naya. "Weh, gue ikuta juga," ujar Dewa mengintrupsi Sinta dan Naya. "Ayo Na, kita ke kantin." Hingga tak berapa lama kemudian, Sinta, Naya, Dewa dan Nakula pergi ke kantin bersama. Meninggalkan Rama sendirian yang masih fokus dengan buku yang berisi sejuta soalnya. Saat diperjalanan menuju kantin, Dewa melepaskan segala unek-uneknya soal Rama. Membuat Sinta dan Naya merasa kesal karena merasa seperti sedang mendengarkan seseorang yang sedang mencurahkan segala permasalahan hidupnya. "Gue nggak habis pikir ya, bisa-bisanya Rama tiba-tiba diem kayak gitu. Kalo nggak kesambet setan terus apa lagi?" oceh Dewa yang terus saja menyalahkan sosok lain atas perubahan sikapnya Rama. "Emang kudu dirukyah itu anak. Lo bertiga entar bantuin gue nyari ustadz yang paling manjur doanya. Biar setan yang ada di tubuhnya Rama pada keluar semua. Lagian aneh banget sikapnya Rama hari ini," kata Dewa dengan berapi-api. "Tadi pagi aja, Rama cuekin gue terus. Dia cuma natap gue. Dan anehnya tatapannya itu--" Perkataannya Naya terhenti saat Sinta menarik pelan lengannya. "Gue mau ke kelas aja deh. Baru ingat kalo gue bawa bekal sendiri. Lo bertiga aja ke kantinnya," ucap Sinta kemudian berbalik badan untuk kembali ke ruang kelasnya. Disepanjang perjalanan, Sinta masih terngiang dengan ucapannya Dewa. Yang berkata jika Rama berubah. Awalnya Sinta tak mempermasalahkannya namun lama kelamaan, Sinta juga menyadari jika hari ini Rama banyak terdiam tak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan Rama hanya berbicara satu kali saat Sinta bertanya tadi pagi. Menatap ke arah Rama yang masih saja terlihat sedang mengerjakan soal di bukunya. Sinta segera berjalan mendekat dan mengeluarkan bekal dari dalam tas maroon-nya. Sinta letakkan bekal yang dia bawa dari rumah diatas mejanya. Sinta belum berniat untuk membuka bekalnya. Mengetuk-etukkan jarinya di tutup kotak makannya. Sinta menoleh ke Rama dan Rama terlihat seperti tak terganggu sama sekali. Dengan sengaja Sinta menyenggol lengannya Rama membuat tangan Rama melesat dan mengakibatkan sebuah coretan pendek di bukunya.  "Oops, sorry. Gue nggak sengaja," kata Sinta dengan ringisan pelan membuat alibi jika Rama marah kepadanya. Rama hanya menatapnya sebentar tepat di kedua manik matanya Sinta. Rama hanya menatapnya bukan berucap, tapi hal tersebut membuat Sinta terpengarah. Sebab tatapan Rama saat menatapnya tadi terlihat sangat berbeda. Seperti tatapan seseorang yang sedang frustasi. 'Rama, lagi nggak baik-baik aja. Lalu, penyebab dia seperti itu apa?' batin Sinta bertanya kepada diri sendiri. Setelah sekian lama terdiam dan tak mendapatkan jawabannya, Sinta memilih untuk menyodorkan bekalnya ke arah Rama. Membuat kernyitan di dahinya Rama terlihat samar. "Udah waktunya istirahat. Lo harus makan. Apa gunanya belajar banyak-banyak, kalo nggak makan ya sama aja. Lo nggak akan sukses," ujar Sinta yang sedetik kemudian membuka tutup kotak makannya. Mengambil sepotong sandwich dari dalam kotak makananya. Mengernyit heran saat melihat Rama yang hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang masih tertuju ke arah bukunya. "Ck, lo kena kutukan apa gimana? Demen banget ngerjain soal," sindir Sinta sengaja membuat Rama kesal. Tapi lihatlah, bahkan Rama hanya diam saja saat mendengar Sinta yang menyindir dirinya. "Makan, Rama! Lo nggak mau kan, kena mag gara-gara lo nggak makan?" Masih saja, Rama tak membalas ataupun menoleh ke arah Sinta. "Apa mau gue suapin?" goda Sinta. Dan sedetik kemudian Rama menoleh ke arahnya. Kemudian menganggukan kepalanya. Sinta mencibir karena mengira jika Rama hanya memanfaatkan situasi saja agar disuapi oleh Sinta. Padahal, Rama memang mau disuapi oleh Sinta karena dirinya akan tetap mengerjakan soal dengan mulut yang mengunyah makanan. Dengan begitu, Rama tetap bisa mengerjakan soal dan menambah wawasannya. "Ck, lo ngeselin ya. Dasar buaya, maunya disogok duluan," kata Sinta berdecak kesal. "Nggak jadi," kata Rama kemudian melanjutkan mengerjakan soalnya. Melihat Rama yang langsung berucap seperti itu membuat Sinta semakin berdecak kesal. "Iya iya gue suapin," ujar Sinta kemudian mengambil sepotong sandwich yang lainnya. Kemudian mengarahkan ke mulutnya Rama. Rama menggigit makanan yang ada di depan mulutnya dengan tangan yang masih sibuk menulis. Sinta menghela napasnya saat dirinya tahu apa yang Rama inginkan. "Gue lakuin ini karena gue nggak mau temen gue ini kena penyakit mag ya," ucap Sinta memecahkan keheningan diantara mereka. Pergerakan tangannya Rama saat menulis terlihat terhenti sejenak namun Sinta tak menyadarinya. Rama tetap melanjutkan kegiatannya mengerjakan soal-soal latihannya. "Lo nggak bisa? Anggap gue lebih dari sekedar teman?" gumam Rama pelan. Sinta yang tengah mengunyah makanannya segera menoleh ke arah Rama. "Lo barusan bilang apa?" tanya Sinta yang secara tidak sengaja meminta Rama untuk mengulangi perkataannya. "Nggak," balas Rama cepat dan singkat. Rama segera memfokuskan dirinya untuk mengerjakan soalnya lagi. Hening kembali melanda ruang kelas. Sinta terlihat sedang memikirkan sesuatu dan Rama tetap pada kegiatan awalnya. Tak berubah sejak lima menit yang lalu. Sinta menganggukan kepalanya sekali setelah berpikir cukup lama, kemudian menyodorkan sandwich ke mulutnya Rama. "Ayo makan lagi," minta Sinta yang masih setia memegang sandwichnya di depan mulutnya Rama. Rama hanya menggeleng, menyudahi acara makannya. "Apa-apaan? Lo cuma makan tiga gigitan doang. Kalo gitu sama aja lo nggak makan. Cepet buka mulut lo, habisin sandwichnya," ujar Sinta yang entah mengapa tiba-tiba merasa jika sikap Rama hari ini terlihat sangat menyebalkan dimatanya Sinta. Saat Sinta menyodorkan sandwichnya lagi ke depan mulutnga Rama, tetap saja Rama menggelengkan kepalanya. Memilih untuk menyerah, Sinta meletakkan sepotong sandwich yang masih banyak itu ke dalam kotak makannya.  "Lo kalo lagi frustasi emang kelihatan rewel ya, Ram?" tanya Sinta tiba-tiba membuat Rama terkejut setelah mendengarnya. Rama segera menoleh ke arah Sinta secepat mungkin. "Lo bilang apa?" tanya Rama dengan nada yang terlihat tak suka. "Lo rewel. Kayak bayi," sembur Sinta langsung. "Mana ada," protes Rama tak terima jika dirinya disamakan dengan bayi. Melihat raut protesnya Rama membuat Sinta tertawa seketika. Merasa puas setelah mengerjai Rama. Rama yang merasa kesal segera memalingkan pandangannya ke arah bukunya lagi. Melihat tatapan Rama yang mulai berubah menjadi seperti seseorang yang tengah frustasi, Sinta segera menghentikan tawanya. Berdeham pelan untuk mengusir kecanggungan yang ada. "Lo, kalo emang apa yang lo lakuin sekarang nggak bikin elo seneng, jangan lo lakuin. Apalagi lo lakuin itu cuma karena terpaksa. Hasilnya nggak akan sesempurna yang lo harapkan, Rama," kata Sinra menasehati. Rama mendongakkan kepalanya. Kemudian menyugar rambutnya ke belakang. Tak lama kemudian Rama menghentakkan tangannya di atas meja membuat Sinta terkejut. Napas Rama terdengar sangat berat. "Lo bener, Sin. Gue cuma kepaksa," ucap Rama kemudian menoleh ke arah Sinta dengan sorot mata yang terlihat pedar ketakutan. Sinta terpengarah. Baru kali ini Sinta melihat tatapan seperti itu di kedua matanya Rama. Namun ada sesuatu yang membuat Sinta bingung. Apa yang menjadi paksaan agar Rama melakukan sesuatu hal itu? Dan juga siapa yang memaksa Rama untuk melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang terus berseliweran di benaknya Sinta. "Ram, lo berhak nentuin pilihan lo," kata Sinta kemudian berdiri dari duduknya. Berjalan keluar dari kelas meninggalkan Rama. Membuat Rama tersadar akan ucapannya Sinta. Ya, Sinta memang benar. Rama berhak untuk menentukan pilihannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN