Jantungku berdetak sangat kencang akibat baru saja lolos dari maut. Untungnya Bang Alan sigap menarikku, jika tidak, pasti aku sudah sekarat sekarang. "Kamu gapapa 'kan, Queen?" Bang Alan bertanya cemas. Aku yang masih berada di dalam pelukan Bang Alan semakin mengeratkan pelukanku. "Makasih udah nolongin Queen, Bang. Kalau Abang gak ada, gak tau gimana nasib Queen setelah ini." Lirihku. Bang Alan mengecup puncak kepalaku beberapa kali, kebiasaannya ketika menenangkan ku. "Gak usah berterimakasih Queen karena ini sudah tugas Abang untuk melindungimu sampai kapan pun." Orang-orang di sekitar kami mulai heboh namun itu tidak berlangsung lama karena Kak Theo membubarkan mereka. "Kenapa kamu tidak menuruti perintahku, bee? Apa kamu tahu? Karena kekerasan kepalamu, kamu dan anak kita hamp

