Aruna selalu mengira, mencintai berarti memilih lalu kemudian bertahan. Ia tidak pernah benar benar memikirkan satu hal yag penting, bagaimana rasanya bertahan ketika hati tidak ikut tinggal.
Pagi itu, Aruna bangun di apartemen Dava. Ia terbangun lebih dulu, cahaya matahari mengusiknya masuk dari sela tirai jendela tipis, jatuh di dinding putih yang rapi. Segalanya tampak teratur bahkan terlalu teratur. Aruna melihat tidak ada tumpukan buku, tidak ada kanvas yang berantakan, dan tidak ada bau cat yang melekat pada hidung. Tempat ini bersih, tenang, dan sangat asing bagi Aruna.
Dava masih tidur di sampingnya, napasnya terdengar teratur. Wajahnya damai, seolah dunia tidak sedang berantakan. Aruna menatapnya dengan lama, mencoba memaksa hatinya merasa tepat di tempat yang sekarang ini.
Ia bangun perlahan, berjalan menuju ke dapur, lalu membuat teh untuknya dan untuk Dava. Tangannya bergerak dengan cekatan, tapi pikirannya terlampau jauh. Di kepalanya teringat wajah Rama muncul tanpa diundang, cara ia duduk di studio, cara ia diam ketika sedang terluka, dan cara ia memilih untuk menjauh tanpa menyakiti dan juga caranya mengalah.
“Pagi.” ucap Dava yang tiba tiba.
Aruna terkejut kecil. Dava berdiri di ambang pintu kamar, rambutnya sedikit berantakan.
“Pagi,” balas Aruna dengan tersenyum tipis.
“Kamu bangun cepat banget,” kata Dava sambil mengambil cangkir yang lain.
“Iya, uda kebiasaan bagiku,” jawab Aruna.
Dava mengangguk.
Mereka minum dalam diam. Dava memperhatikan Aruna lebih lama dari biasanya.
“Kamu melamun ya,” ucapnya akhirnya.
Aruna tersentak. “Enggak.” jawab Aruna cepat.
Dava tersenyum kecil. “Kamu selalu bilang gitu kalau lagi jauh.” ucap Dava.
Aruna menunduk. “Maaf.” lirihnya.
“Aku nggak minta maaf, Aruna!” kata Dava pelan. “Aku cuma pengen kamu di sini, sama aku, itu aja.” lanjut Dava.
Aruna mengangguk. “Aku di sini.” ucap Aruna.
“Tapi nggak sepenuhnya,” balas Dava dengan jujur.
Kalimat itu membuat Aruna tercekat dan ia pun menunduk.
Di kampus, Aruna mencoba kembali ke rutinitas biasa. Studio kembali ramai. Ia bekerja lebih keras lagi, berbicara dengan seperlunya aja, menghindari sudut sudut yang mengingatkannya pada Rama. Tapi kenangan itu tidak bisa diatur ulang seperti sebuah jadwal.
Saat ia mengambil cat di gudang kecil di belakang studio, ia melihat ada tas Rama di rak atas. Jantungnya berdegup cepat.
Rama terlihat tidak ada di sana.
Ia berdiri cukup lama, menatap tas itu seperti benda yang ditinggalkan. Sebuah tanda kehadiran tanpa pemilik.
“Aruna?” panggilnya.
Ia menoleh, salah satu teman memanggil. “Kamu tahu Rama ke mana? Dosen nyari.” ucap temannya.
Aruna menggeleng. “Aku nggak tahu.” jawab Aruna jujur.
“Oh,” temannya mengangguk. “Katanya dia lagi fokus proyek luar. Kayaknya jarang ke kampus sekarang.” lanjutnya lagi.
Kalimat itu seperti informasi yang tidak ia minta, tapi ia butuhkan itu. Rama benar-benar menjauh.
Aruna menelan ludah, ada bagian dari dirinya yang ingin mengejar, memanggil, menjelaskan. Tapi ada juga bagian lain yang tahu, beberapa jarak tercipta karena memang perlu.
Sore hari, Aruna bertemu Dava lagi untuk membahas progres pameran. Mereka duduk di kafe dekat kampus. Dava membuka laptop, menunjukkan layout promosi.
“Kita bisa pasang ini di depan,” jelas Dava antusias. “Aku udah urus izinnya.” ucap Dava.
“Bagus,” jawab Aruna cepat dan antusias.
Dava berhenti mengetik. “Kamu bahkan nggak lihat.” ucap Dava.
Aruna terdiam. “Maaf, aku capek.” lirih Aruna.
“Kamu capek sejak lama,” kata Dava, kali ini tanpa senyum.
Aruna mengangkat wajahnya. “Aku berusaha.” ucap Aruna.
“Aku tahu,” ujar Dava. “Tapi aku mulai ngerasa sendirian meski kamu di samping aku.” lirih Dava.
Kata-kata itu menekan d**a Aruna.
“Kamu menyesal milih aku?” tanya Dava, pelan tapi tajam.
“Enggak,” jawab Aruna terlalu cepat.
“Jawaban cepat biasanya bohong,” balas Dava.
Aruna memejamkan mata. “Aku cuma lagi adaptasi, Dav.” ucap Aruna mencoba untuk tenang.
“Adaptasi atau menahan?” tanya Dava.
Hening.
Dava menarik napas panjang. “Aruna, aku butuh pasangan, bukan orang yang terus membandingkan di kepalanya.” ucap Dava.
Aruna menunduk. “Aku nggak membandingkan.” kata Aruna.
“Lalu kenapa setiap kali kamu diam, aku ngerasa kamu lagi pergi?” Dava menatapnya, matanya jujur. “Aku cemburu pada sesuatu yang bahkan nggak hadir.” ucap Dava jujur.
Kalimat itu menghantam Aruna dengan keras.
“Aku nggak mau jadi pilihan yang aman,” lanjut Dava. “Aku mau jadi pilihan yang kamu mau.” ucap Dava meminta.
Aruna menggenggam tangannya sendiri. “Aku mau kamu.” ucap Aruna.
“Tunjukkan,” kata Dava singkat.
Malam itu, Aruna pulang dengan langkah gontai. Di kamar kos, ia duduk lama tanpa menyalakan lampu. Gelap terasa lebih jujur.
Ia membuka ponsel, membuka chat Rama. Tidak ada pesan baru sejak pertama hari Rama pamit di studio. Aruna mengetik satu kalimat, lalu berhenti.
Aku kangen.
Ia menghapusnya, ia menulis lagi.
Kita bisa ngobrol?
Dihapus.
Tangannya gemetar. Ia sadar, satu pesan saja bisa merusak semua yang sudah ia putuskan.
Akhirnya, ia meletakkan ponsel dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku ini kenapa,” bisiknya.
Beberapa hari kemudian, Aruna mendengar kabar yang membuatnya terguncang. Rama akan ikut residensi seni di luar kota selama beberapa bulan, bukan pindah. Tapi cukup jauh untuk benar-benar menghilang dari rutinitas Aruna.
Ia mendengar itu dari orang lain. Bukan dari Rama langsung. Itu yang paling menyakitkan baginya.
Aruna duduk di bangku taman kampus, menatap pepohonan yang bergoyang dengan pelan. Dadanya terasa kosong, seperti ada ruang yang baru ia sadari keberadaannya dan kini akan ditinggalkan.
Ponselnya bergetar, ada peesan dari Dava.
Dava : "Kamu kenapa? Dari tadi jawabnya singkat terus!"
Aruna menatap layar itu lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu kepada siapa ia harus jujur.
Ia membalas.
Aruna : "Aku lagi kehilangan sesuatu."
Beberapa detik berlalu.
Dava : "Kehilangan siapa?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak.
Aruna tidak membalas. Ia menyadari, kesalahan terbesarnya bukan memilih Dava.
Kesalahan terbesarnya adalah datang tanpa sepenuh hati dan ia berharap tidak ada yang terluka.
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam. Aruna tahu, waktu tidak akan berhenti menunggunya untuk siap. Dan cepat atau lambat, satu kebenaran akan memaksanya untuk keluar entah itu lewat pengakuan, atau pun itu lewat kehilangan yang lebih besar lagi. Dan Aruna harus siap.