Aruna baru benar-benar panik ketika sesuatu berubah dari kemungkinan menjadi kenyataan. Mendengar Rama akan pergi bukan hanya sekadar kabar itu seperti pintu yang ditutup perlahan, dan kali ini tanpa celah untuk mengintip.
Ia duduk di kamar kos, menatap dinding yang kosong, napasnya pendek-pendek. Pikirannya berputar, mencari satu jalan keluar yang terasa masuk akal. Tapi tidak ada yang rapi. Tidak ada yang aman.
Rama akan pergi. Dan ia belum pernah benar-benar mengatakan apa pun.
Aruna meraih jaket, menyambar tas, lalu keluar tanpa menyalakan lampu. Tangannya gemetar saat mengunci pintu. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi kakinya sudah melangkah menuju satu-satunya tempat yang mungkin yaitu Studio.
Langit sore berwarna kelabu ketika Aruna tiba di kampus. Studio seni masih menyala, meski sebagian besar mahasiswa sudah pada pulang. Jantung Aruna berdetak keras saat ia mendorong pintu.
Terlihat Rama masih ada di sana. Duduk di lantai, dikelilingi sketsa dan koper kecil yang setengah terbuka. Ia terlihat tenang bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang akan meninggalkan sesuatu.
“Rama.” Suara Aruna terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri.
Rama menoleh, terkejut sepersekian detik sebelum wajahnya kembali netral. “Aruna.”
“Kamu mau pergi?” tanya Aruna, meski jawabannya sudah jelas.
Rama mengangguk pelan. “Iya, lusa.” jawab Rama.
Kata itu menghantam lebih keras dari yang ia bayangkan.
“Kenapa kamu nggak bilang?” suara Aruna bergetar.
Rama tersenyum kecil, tanpa humor. “Kamu nggak nanya.” ucap Rama santai.
Aruna terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi tidak bisa.
“Kamu ngejar aku ke sini cuma buat itu?” tanya Rama lembut.
Aruna menggeleng cepat. “Aku, aku nggak tahu harus mulai dari mana.” lirih Aruna.
Rama berdiri, menutup koper, lalu bersandar di meja. “Aku akan denger.” ucap Rama.
Aruna menarik napas panjang, kata-kata itu menumpuk di tenggorokannya, saling mendesak untuk keluar.
“Aku salah,” katanya akhirnya. “Aku salah karena nunda, salah karena takut dan salah karena pura-pura baik-baik saja.” lanjut Aruna lirih.
Rama menatapnya, diam.
“Aku bilang ke Dava aku datang ke pameran sama dia,” lanjut Aruna cepat, takut kehilangan keberanian. “Aku pikir itu keputusan dewasa tapi ternyata itu cuma cara paling aman buat lari.” lirihnya.
Rama menghela napas. “Aruna,”
“Aku kehilangan kamu pelan-pelan,” potong Aruna, air matanya jatuh. “Dan baru sekarang aku sadar.”
Hening menyelimuti studio. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
“Aku nggak datang buat minta kamu tinggal,” ujar Aruna lirih. “Aku cuma aku nggak mau kamu pergi dengan pikiran kalau aku nggak peduli.” ucap Aruna.
Rama menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Aku tahu kamu peduli.”
“Terus kenapa kamu menjauh?” tanya Aruna, hampir memohon.
“Karena aku harus selamatkan diriku sendiri,” jawab Rama jujur. “Aku nggak kuat jadi orang yang selalu nunggu kamu selesai bingung.” ucap Rama.
Kalimat itu menusuk, tapi tidak terasa kejam. Justru terasa adil.
“Aku nggak pernah mau menyakiti kamu,” kata Aruna.
“Aku tahu,” Rama mengangguk. “Tapi niat baik nggak selalu mencegah luka.” ujar Rama.
Aruna terisak pelan. “Aku takut salah memilih.” lirihnya.
Rama mendekat satu langkah, lalu berhenti. “Kadang yang salah bukan pilihan. Tapi waktu kita berani memilih.” ucap Rama.
Di luar studio, waktu malam turun dengan perlahan. Lampu-lampu kampus menyala, menciptakan bayangan panjang di lantai. Aruna dan Rama duduk berdampingan, tidak sedekat dulu, tapi cukup dekat untuk merasa hangat.
“Kamu bahagia sama Dava?” tanya Rama pelan.
Pertanyaan itu membuat Aruna menunduk lama.
“Aku merasa aman,” jawabnya jujur. “Tapi bahagia, aku nggak tahu.” jawabnya lagi.
Rama tersenyum tipis. “Keamanan bukan hal buruk.” ucap Rama.
“Bukan,” kata Aruna cepat. “Tapi aku ngerasa setengah.”
Rama terdiam. “Dan sama aku?” tanya Rama.
Aruna mengangkat wajahnya. “Aku merasa hidup tapi juga takut.” lirih Aruna.
Rama mengangguk pelan. “Itu jawaban yang jujur.”
Mereka diam lagi, tidak ada sentuhan dan tidak ada janji.
“Aku pergi bukan buat menghukum kamu,” kata Rama akhirnya. “Aku pergi karena aku perlu jarak biar perasaanku nggak berubah jadi pahit.” ungkap Rama.
Aruna mengangguk, air mata masih jatuh. “Aku ngerti.”
“Dan kamu?” Rama menatapnya. “Apa yang kamu mau sekarang?” tanya Rama.
Pertanyaan itu akhirnya datang, tanpa penyangga dan tanpa penundaan.
Aruna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia sadar apa pun jawabannya, akan ada yang terluka.
“Aku mau jujur,” katanya pelan. “Untuk pertama kalinya.” lanjut Aruna.
Rama menunggu.
“Aku belum siap kehilangan siapa pun,” lanjut Aruna. “Tapi aku juga nggak mau terus menyakiti dengan diam.”
Rama tersenyum kecil, sedih. “Kejujuran selalu datang dengan harga.” kata Rama.
Aruna pulang dengan kepala penuh. Begitu masuk kamar, ponselnya bergetar nama Dava muncul.
Ia mengangkatnya.
“Kamu di mana?” tanya Dava.
“Di kos,” jawab Aruna suaranya lelah.
“Kita bisa ketemu?” Nada Dava serius.
Aruna memejamkan mata. “Sekarang?” tanya Aruna.
“Iya.” jawab Dava singkat
Beberapa menit kemudian, Dava datang. Wajahnya tegang, matanya penuh pertanyaan yang sudah lama ditahan.
“Kamu ke mana tadi?” tanya Dava tanpa basa-basi.
“Ke kampus,” jawab Aruna. “Ketemu Rama.”
Hening jatuh.
Dava tertawa pendek, pahit. “Akhirnya jujur juga.” ucap Dava.
“Aku nggak bohong,” kata Aruna cepat. “Aku cuma,”
“Kamu pergi ke dia,” potong Dava, suaranya meninggi. “Setelah semua yang kita bicarakan?” tanya Dava.
Aruna menahan napas. “Aku perlu penutupan.”
“Atau kamu perlu kepastian dari orang lain?” tanya Dava tajam.
Kalimat itu menghantam Aruna keras.
“Aku lagi belajar jujur,” ucap Aruna, suaranya pecah. “Dan kejujuran itu bilang aku belum sepenuhnya hadir sama kamu.”
Dava terdiam lama. Wajahnya menegang, lalu melembut, lalu lelah.
“Aku capek bersaing dengan bayangan,” katanya pelan. “Aku butuh kamu memilih, Aruna, bukan besok dan bukan nanti.” ucapnya menatap Aruna dalam-dalam.
Aruna menunduk. “Aku tahu.” lirih Aruna.
“Kalau kamu tetap di sini, aku mau kamu utuh,” lanjut Dava. “Kalau tidak, aku lebih baik pergi sekarang.” ucap Dava tegas.
Air mata Aruna jatuh. “Aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Terus pilih,” kata Dava tegas.
Hening kembali. Kali ini, tidak ada jalan kabur.
Di satu sisi, Rama yang akan pergi, membawa luka tapi juga kejujuran.
Di sisi lain, Dava yang tinggal, menawarkan masa depan, tapi menuntut kehadiran penuh.
Aruna menyadari, cinta gila-gilaan bukan tentang siapa yang paling keras memperjuangkan. Tapi tentang siapa yang berani ia pilih, meski konsekuensinya menyakitkan. Dan malam itu, Aruna tahu waktu menundanya sudah habis.