Waktu tidak pernah bertanya apakah seseorang sudah siap untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi.
Ia berjalan begitu saja.
Tiga bulan sudah berlalu dan tanpa Aruna menyadarinya sebagai sesuatu yang besar. Tidak ada momen yang dramatis dan tidak ada keputusan monumental setelah Babak itu. Hidupnya hanya bergerak dan mengikuti hari yang terus berlalu.
Aruna mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang baru ini. Ritmenya lebih cepat, tuntutannya lebih tinggi. Ia sering pulang waktu malam, dan sering terasa lelah, tapi untuk pertama kalinya lelah itu terasa miliknya sendiri. Tidak ada pesan yang harus dibalas karena rasa yang bersalah. Tidak ada panggilan yang harus diangkat karena takut akan kehilangan.
Ia belajar tidur enak tanpa harus menunggu kabar.
Di sela kesibukan Aruba itu, kadang Dava muncul di pikirannya seperti lagu lama yang tidak lagi ingin diputar, tapi masih kuat ingatan pada nadanya. Dava tidak pernah menghubunginya lagi dan Aruna sangat bersyukur atas itu.
Ia tahu, melepas dengan tenang jauh lebih sulit daripada mempertahankan dengan sebuah alasan.
Rama, berada di sisi lain kota ia hidup dengan caranya sendiri.
Studio kecil yang ia sewa kini lebih sering terang hingga malam dini hari. Lukisan-lukisannya berubah tidak lagi penuh dengan warna yang gelap seperti dulu, ada celah untuk ruang, ada jarak yang ia beri dan ada cahaya yang masuk tanpa harus dipaksa.
Rama tidak lagi menunggu Aruna untuk datang. Ia juga tidak mencoba pergi terlalu jauh. Ia hanya hidup biasa tanpa harus mengejar cinta dan itu baru baginya.
Sesekali ia membuka percakapan lama mereka di ponsel nya. Ia tidak untuk mengirim pesan ia hanya membaca ulang semua percakapan itu. Mengingat bahwa cinta tidak selalu gagal kadang hanya selesai begitu saja.
Suatu sore, hujan turun dengan deras secara tiba-tiba.
Aruna berteduh di halte bus, rambutnya terlihat sedikit basah, jaket tipisnya tidak cukup untuk menahan dingin pada tubuhnya yang sudah basah karena air hujan. Ia menatap jalanan yang macet, lampu kendaraan berpendar di genangan air.
Di seberang jalan, sebuah galeri seni kecil terlihat masih hidup. Lampunya terlihat hangat, jendelanya yang terbuka sedikit. Aruna tidak tahu kenapa kakinya sangat ringan untuk melangkah ke arah sana.
Saat sampai ia langsung masuk.
Aroma cat dan kayu basah menyambutnya dengan rasa hangat. Beberapa lukisan itu terpajang dengan rasa yang tenang, tidak berisik, tapi selalu berbicara. Dan di sudut ruangan itu Aruna seketika berhenti bernapas.
Terlihat Rama berdiri membelakanginya, sedang membetulkan posisi sebuah kanvas.
Tidak ada terdengar musik yang dramatis dan tidak ada sapaan langsung bagi keduanya.
Hanya jarak yang menyempit dengan sendirinya.
Rama menoleh menatapnya dengan sangat lama.
Pandangan mereka bertemu dan tidak ada yang terkejut. Seolah pertemuan itu memang akan terjadi, dalam waktu yang cepat atau pun lambat.
“Hai,” kata Rama menyapanya terlebih dahulu.
“Hai,” jawab Aruna, sama tenangnya.
Tidak ada pelukan bagi keduanya dan tidak ada senyum yang berlebihan. Hanya dua orang yang pernah saling berarti dan saling mengisi hati, berdiri tanpa peran.
“Kamu kelihatan baik,” kata Rama akhirnya.
“Kamu juga, kelihatannya begitu, Ram” jawab Aruna jujur dan tersenyum.
Mereka berdua berjalan dengan pelan menyusuri galeri bersama, membicarakan hal-hal yang ringan. Tentang hujan, tentang sebuah lukisan dan tentang kota yang tidak pernah benar-benar diam pada keramaian.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut tentang masa lalu.
Namun justru karena itulah, masa lalu terasa hadir tanpa harus menyakiti nya kembali.
“Aku senang kamu masuk ke sini, Ar.” kata Rama sebelum Aruna pergi.
Aruna tersenyum memandang setiap lukisan yang ia lihat.
“Aku juga,” jawab Aruna. “dan aku masuk tanpa ada rencana, hanya mengikuti langkah kaki ku saja.” jawab Aruna santai.
Rama tersenyum kecil. “Mungkin suatu hal yang terbaik memang tidak akan direncanakan.” ucap Rama terdengar bahagia.
Aruna mengangguk setuju dengan yang dikatakan Rama.
Aruna pun berpamitan pada Rama.
Malam itu, Aruna pulang dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan sebuah harapan dan bukan rasa rindu yang mendesak.
Hanya ada kesadaran yang sederhana. Beberapa orang tidak perlu dikejar untuk tetap tinggal dalam hidup.
Sementara itu, Rama menatap pintu galeri yang sudah tertutup. Ia tidak merasa kehilangan dan tidak juga merasa akan menemukan nya kembali.
Ia merasa harus siap. Untuk apa pun yang tidak perlu harus dipaksa.