Aruna bangun pagi dengan perasaan yang aneh lebih terasa ringan tapi tidak lega.
Ia melihat ponsel itu sepertinya tidak ada pesan masuk dari Dava dan tidak ada juga kabar dari Rama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa perlu mengecek ponsel lagi. Aruna bangun dan ia langsung duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, dan membiarkan pagi berjalan apa adanya tanpa ada rasa yang tergesa gesa.
Ia menyeduh kopi itu sendiri kemudian menikmatinya dengan rasanya yang pahit, tapi jujur.
Selama ini Aruna selalu mengira ia butuh seseorang untuk merasa agar hidupnya lebih utuh. Nyatanya ia salah, yang ia butuhkan hanyalah berhenti berharap pada orang lain yang menanggung kebimbangannya.
Pada hari itu, Aruna mengambil keputusan kecil yang terasa besar baginya. Ia mengajukan untuk pindah divisi di tempat kerjanya ke posisi yang lebih menantang, lebih banyak sibuk nya, dan lebih sesuai dengan kebutuhan dirinya. Bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk tumbuh lebih tenang dan damai.
“Apa kamu sudah yakin, Aruna?” tanya atasannya.
Aruna mengangguk dengan mantap. “Saya mau bertanggung jawab Pak dan saya sangat yakin.” jawab Aruna dengan tegas dan yakin.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu keluar tanpa ada rasa yang gemetar.
Dan pada sore harinya, Aruna menghubungi Dava.
Bukan untuk mengajak bertemu dan bukan untuk membicarakan suatu hal yang kemungkinan. Ia hanya ingin jujur sekali lagi, tapi dengan cara yang lebih benar.
Mereka bertemu di warung kopi yang tampak sederhana. Tidak ada terdengar suara musik dan tidak ada cahaya yang membuat suasana menjadi lebih romantis.
“Aku nggak mau kita menggantung,” kata Aruna setelah duduk. “Aku nggak mau kamu menunggu sesuatu yang nggak akan aku berikan sekarang, Dav” jawab Aruna jujur dan menatap Dava.
Dava kembali menatapnya dengan lama. Wajahnya terlihat sangat tenang.
“Kamu memilih diri kamu sendiri ya ?” katanya pelan.
“Iya,” jawab Aruna. “Dan itu bukan karena aku nggak peduli lagi tapi karena aku akhirnya peduli dengan caraku sendiri untuk mencintai.” lanjut Aruna lagi.
Dava tersenyum kecil. “Aku bangga sama kamu.” ucap Dava dengan rasa kagum pada Aruna.
"Seperti itu yang ku mau, melihatmu lebih percaya diri." Ucap Dava terdengar bangga.
Kalimat itu tidak terdengar seperti perpisahan. Lebih seperti restu yang tulus.
“Aku juga mau hidup tanpa berharap kamu berubah,” lanjut Dava lagi. “Dan itu rasanya sangat melegakan.” ucap Dava.
Dan pada akhrinya mereka berpisah dengan pelukan yang terasa hangat dan sangat singkat bagi keduanya. Tidak ada air mata yang jatuh karena kesedihan dan tidak ada janji untuk bertemu lagi, biarkan semuanya berjalan begitu saja.
Aruna pulang dengan langkah yang lebih ringan. Bukan rasa bahagia tapi dengan rasa yang mantap.
Matahari terlihat sudah tenggelam dan malam telah datang. Kota itu terasa sunyi, tapi tidak akan menekan.
Ponsel Aruna berbunyi, kini pesan dari Rama masuk.
Rama : Kamu kelihatan tenang hari ini, Ar!
Aruna tersenyum kecil membaca pesan dari Rama.
Aruna : Aku memilih berhenti untuk bingung dengan keadaan.
Balasan Rama datang agak lama, mungkin karena dia sedikit sibuk, pada akhrinya balasan itu pun terkirim.
Rama : Aku senang dengarnya, Ar!
Aruna : Aku nggak minta kamu nunggu, Ram.
Rama : Iya, aku tahu.
Balas Rama ada jeda yang panjang tapi terdengar jujur.
Rama : Aku juga sedang memilih diriku sendiri.
Aruna membaca pesan itu berkali-kali. d**a kirinya terasa hangat bukan karena harapan, tapi karena sebuah pengertian.
Aruna : Mungkin itu satu-satunya cara kalau kita mau bertemu lagi tanpa harus saling melukai.
Rama tidak langsung membalas.
Rama : Iya mungkin begitu ya.
Tidak ada janji yang terucap dan tidak ada sebuah rencana yang akan di tetapkan. Tapi untuk pertama kalinya, Aruna tidak merasa kehilangan lagi.
Malam itu, Aruna menulis di jurnalnya.
"Aku tidak memilih Rama dan juga aku tidak kembali ke Dava. Aku memilih untuk berhenti menggantungkan hidupku pada kemungkinan orang lain."
Ia menutup buku kemudian mematikan lampu, dan ia tidur dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bukan rasa bahagia, bukan rasa sedih, tapi perasaan yang utuh dan terasa sangat tenang, dan mungkin Aruna akan bisa tidur dengan nyenyak.
Dan di kejauhan, Rama berdiri di depan jendela studio sementaranya, menatap sebuah kota yang bukan miliknya, dengan pikiran yang akhirnya terasa sangat tenang.
Dua orang yang saling mencintai, akhirnya berjalan di jalur masing-masing bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pilihan yang tepat.