Setelah sekian lama kini Dava muncul kembali di hidup Aruna seperti orang yang tidak pernah benar benar pergi dari hidupnya
Bukan dengan secara tiba-tiba, bukan juga secara dramatis. Ia hanya berdiri di depan kos Aruna pada suatu sore, dengan mengenakan kemeja yang terlihat sederhana tapi terlihat sangat rapi, wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, rambutnya sedikit lebih panjang dan matanya tidak lagi setajam dulu.
“Aku hanya kebetulan lewat sini,” katanya ketika Aruna membuka pintu. “Kalau kamu nggak mau ketemu, aku bisa pergi lagi, Ar.” lanjut Dava menatap Aruna.
Aruna menatapnya dengan lama. d**a kirinya menghangat dengan cara yang berbeda bukan rasa rindu yang membakar, tapi kenangan yang masih menetap di hatinya.
“Kamu mau naik, Dav?” tanya Aruna akhirnya.
Dava mengangguk dan kemudian mereka naik menuju kamar kos Aruna.
Mereka duduk saling berhadapan di kamar kos yang terasa asing bagi Dava terlihat lebih rapi dan terasa lebih sunyi. Tidak ada foto mereka yang terletak disana dan tidak ada barang Dava yang tertinggal juga.
“Kamu seperti berubah ya, Ar” kata Dava pelan.
Aruna tersenyum kecil. “Aku belajar berhenti lari.” ucap Aruna.
Dava mengangguk, seolah mengerti lebih dari yang Aruna katakan.
“Aku juga berubah,” ucapnya. “Aku pindah divisi, kerjaanku lebih terasa tenang sekarang.” ucap Dava lagi.
“Itu bagus, Dav.” kata Aruna tulus.
Hening datang menghampiri, tapi tidak ada kata yang menekan.
“Aku nggak datang buat minta kita balikan,” kata Dava tiba-tiba. “Aku cuma mau tahu kalau kamu baik, Ar” ucap Dava lagi.
Aruna menatap Dava. “Kenapa itu penting?” tanya Aruna.
Dava tersenyum pahit. “Karena aku pernah berharap kamu pasti baik bersamaku.” ucap Dava lirih.
Kalimat itu tidak menyakiti tapi justru itu sangat menenangkan. Tidak ada tuntutan dan tidak ada luka baru lagi.
“Aku minta maaf,” kata Aruna pelan. “Untuk semua yang setengah hati.” lirih Aruna.
Dava mengangguk. “Aku sudah memaafkan. Tapi aku belum lupa tentang itu semua.” ucap Dava.
Ia berkata jujur dan Aruna menghargai itu.
Mereka memilih keluar untuk makan malam bersama bukan untuk kencan, hanya dua orang yang dulu saling memilih dan kini mencoba untuk duduk sejajar. Tidak ada sentuhan biasa dan tidak ada kalimat yang manis. Justru itu yang membuat Aruna merasa aman dengan cara yang sehat dan terasa tenang dan damai.
“Kamu masih kontakan sama Rama?” tanya Dava, tidak menatap Aruna.
Aruna ragu sejenak. “Sesekali.” ucapnya biasa.
Dava mengangguk. “Sudah ku duga.” ucap Dava santai.
“Kamu marah?” tanya Aruna menatap Dava.
“Tidak,” jawab Dava jujur. “Aku cuma akhirnya tahu, aku bukan orang yang bisa kamu cintai dengan setengah-setengah.” lanjut Dava lagi.
Aruna menunduk. “Aku nggak mau mengulang kesalahan itu.” ucap Aruna terdengar pelan.
Dava menoleh, menatap Aruna lama. “Kalau suatu hari kamu memilih seseorang lagi kamu harus pilih dengan sepenuh hati, bahkan kalau itu bukan aku.” jelas Dava menatap Aruna.
Kalimat itu menusuk dengan cara yang lembut.
Malam itu, setelah berpisah dengan Dava, Aruna berjalan sendirian. Kota itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu jalan menyala dengan redup, angin malam membawa bau hujan.
Ponselnya terasa bergetar.
Rama : Kamu di kampus tadi kelihatan tenang, Ar.
Aruna berhenti berjalan, membaca pesan itu.
Aruna : Kamu lihat ya?
Rama : Iya, dari jauh.
Aruna tersenyum kecil.
Aruna : Aku lagi belajar untuk jujur sama diriku sendiri.
Balasan Rama datang agak lama.
Rama : Iya, aku melihat nya.
Aruna menelan ludah.
Aruna : Kamu masih menjaga jarak ya ?
Rama : Aku lagi belajar mencintai tanpa harus merusak diriku sendiri.
Kalimat itu terdengar dewasa dan sedikit menyakitkan.
Aruna : Aku nggak mau jadi luka buat siapa pun lagi.
Rama : Iya, aku tahu. Tapi tidak semua luka bisa kita perbaiki bersama.
Tak ada balasan lagi dari Aruna, percakapan itu berakhir.
Aruna menutup mata. Ia tidak menangis tapi ia hanya merasa sedikit paham apa yang di katakan Rama.
Malam semakin larut. Aruna duduk di tepi ranjang, ingatannya mengulang kembali satu kesadaran yang kini tidak bisa ia hindari lagi.
Dava datang kembali sebagai kemungkinan yang biasa tanpa ada tuntutan dan tanpa drama.
Rama tetap hadir sebagai perasaan yang jujur dan tanpa adanya janji atau tanpa ada pegangan.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna tidak langsung condong ke salah satu dari mereka. Bahkan ia bertanya pada dirinya sendiri. "Kalau tidak ada siapa pun, siapa aku?"
Pertanyaan itu lebih menakutkan daripada kehilangan rasa cinta. Namun di sanalah Aruna tahu, jika ia ingin mencintai dengan gila-gilaan, ia harus berhenti takut sendirian.