Aruna mulai sadar bahwa ketenangan bisa jadi sesuatu yang menakutkan.
Bukan karena ia tidak bahagia, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada kekacauan yang bisa ia jadikan sebuah alasan. Tidak ada drama yang bisa ia sembunyikan di balik kata “aku belum siap”. Tidak ada luka baru yang bisa ia rawat agar terlihat sibuk.
Hari-harinya berjalan dengan stabil dan terlalu stabil bagi Aruna.
Pagi hari ia bekerja, sore ia pulang, malamnya ia membaca atau menulis. Kadang bertemu Rama di galeri tapi tidak terlalu sering, tidak juga jarang. Mereka seperti dua garis yang berjalan dengan sejajar, cukup dekat untuk saling melihat, cukup jauh untuk tidak saling menyentuh. Dan justru jarak itulah yang membuat Aruna merasa dirinya gelisah.
Karena selama ini, cinta selalu hadir dalam bentuk ketergesaan. Dalam tangisan, dalam rasa takut untuk ditinggalkan. Sekarang, tidak ada lagi itu semua.
Rama yang tidak menuntut, tidak mengejar dan juga tidak menahan.
Ia hanya ada. Dan Aruna tidak tahu harus bagaimana menghadapi cinta yang tidak memaksa.
Pada suatu malam, Aruna duduk sendirian di balkon kecil kosnya. Hujan turun dengan tipis, tidak deras, dan tidak dramatis. Ia menatap lampu-lampu rumah yang terlihat buram dari balik tetesan air hujan.
Ponselnya menyala terlihat nama Dava.
Nama itu muncul setelah berbulan-bulan tidak ada. Tidak ada peringatan dan tidak ada sebuah tanda.
Aruna tidak langsung membuka pesannya. Jantungnya berdegup pelan secara teratur, bukan karena rindu, tapi karena refleks lama yang belum sepenuhnya mati.
Ia menarik napas, lalu membuka.
Dava : Aruna, aku cuma mau bilang aku pindah kota minggu depan.
Aruna membaca pesan itu berkali-kali.
Aruna : Ke mana, Dav?
Balasan datang cepat.
Dava : Surabaya, aku ada proyek baru disana dan aku nggak mau pergi tanpa pamit.
Aruna menatap layar dengan lama. Ia tidak merasa kehilangan, tapi ada bagian dalam dirinya yang bergetar seperti buku yang akhirnya ditutup setelah lama dibiarkan terbuka.
Aruna : Semoga kamu bahagia selalu, Dav.
Beberapa menit berlalu sebelum balasan muncul.
Dava : Aku sudah bahagia dan kamu salah satu bagian dari prosesnya.
Kalimat itu membuat d**a Aruna terasa menghangat bukan sebagai cinta, tapi sebagai penutup.
Aruna : Terima kasih karena kamu sudah menyempatkan waktu untuk bilang.
Dava : Terima kasih sudah melepaskan.
Aruna tidak membalas dan ia menutup ponsel. Tidak ada air mata dan tidak ada rasa sesak. Hanya ada rasa selesai yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Keesokan harinya, Aruna bertemu dengan Rama. Bukan karena janjian dan bukan karena kebetulan. Rama mengirim pesan sederhana.
Rama : Kamu mau lihat lukisan baru?
Aruna tidak membalas tapi ia datang pada sore itu. Galeri terliha sepi. Hanya ada aroma cat dan suara langkah kaki mereka yang bergema dengan pelan.
Lukisan itu besar. Warna-warnanya tenang, abu, biru pucat, dan warna putih. Tidak ada figur yang jelas. Hanya ada bentuk-bentuk yang seperti sedang menunggu.
“Apa itu artinya?” tanya Aruna.
Rama diam sejenak. “Tentang orang yang berhenti lari.” ucap Rama melirik Aruna sekilas.
Aruna menatapnya.
“Bukan berhenti karena capek,” lanjut Rama. “Tapi karena akhirnya berani untuk berdiri sendiri.” ucap Rama lagi.
Kalimat itu seperti menelanjangi sesuatu dalam diri Aruna.
“Kamu melukis ini untuk siapa?” tanyanya pelan.
Rama menoleh, menatap Aruna tanpa senyum. “Untuk diriku sendiri.” ucap Rama.
Aruna mengangguk dan ia menghargai kejujuran itu.
Mereka duduk di lantai galeri, tidak bersentuhan dan tidak saling mendekat, ada jarak di antara mereka.
“Dava pindah kota,” kata Aruna akhirnya.
Rama tidak terkejut. “Apa kamu sedih?” tanya Rama.
Aruna menggeleng. “Aku dengan perasaan yang lega.” ucap Aruna santai.
Rama menatapnya lama. “Itu berarti kamu benar-benar selesai.” ucap Rama.
Aruna menunduk. “Iya.” ucapnya mantap.
Hening jatuh kali ini bukan hening yang terlihat canggung.
“Terus kamu?” tanya Aruna. “Kamu menunggu apa?” tanya Aruna lagi.
Rama tersenyum kecil, tapi ada kelelahan di sana. “Aku menunggu kamu berhenti berlindung.” ucap Rama tegas.
Kalimat itu menghantam tepat sasaran.
“Berlindung dari apa?” Aruna berusaha tenang.
“Dari kemungkinan untuk bahagia,” jawab Rama jujur. “Kamu selalu siap terluka, tapi ragu ketika semuanya baik-baik saja.” ucap Rama menjelaskan.
Aruna terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi tidak bisa.
“Aku cuma takut,” katanya akhirnya.
Rama mengangguk. “Aku tahu itu.” ucap Rama.
“Takut kalau kali ini aku jatuh, aku nggak punya alasan untuk bangkit lagi,” lanjut Aruna. “Karena kamu nggak melukai aku.” ucap Aruna.
Rama menatap Aruna dengan mata yang tidak memaksa. “Cinta bukan tempat berlindung, Aruna. Tapi juga bukan medan perang.” jawab Rama.
Aruna menutup mata, napasnya terasa berat.
“Aku nggak minta kamu memilih sekarang,” kata Rama lembut. “Aku cuma mau kamu berhenti bersembunyi di balik ketenangan itu.” ucap Rama lagi dengan lembut.
Malam itu, Aruna pulang dengan pikiran yang penuh.
Ia duduk di kamar, menatap dinding yang kosong. Tidak ada suara juga tidak ada gangguan. Dan justru di situlah pikirannya paling berisik.
Ia sadar sesuatu yang selama ini luput, selama ini juga ia tidak takut pada cinta, ia juga takut pada versi dirinya yang bahagia tanpa sebuah alasan.
Karena jika bahagia datang tanpa luka, ia tidak tahu harus mempertahankannya lagi dengan cara apa.
Aruna mengambil jurnalnya dan menulis.
Aku selalu merasa bahwa cinta harus sakit agar terlihat terasa nyata. Tapi mungkin selama ini aku hanya terbiasa berdarah.
Ia menutup buku itu dengan tangan yang gemetar.
Di luar, hujan kembali turun namun kini lebih deras dari semalam. Dan untuk pertama kalinya, Aruna tidak mencari siapa pun untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia duduk dan merasakan ia tidak harus lari.
Karena ia tahu, hidup berikutnya bukan tentang memilih siapa melainkan berani mencintai tanpa perisai.