Aruna tidak pernah menyangka bahwa kedekatan bisa terasa menakutkan. Bukan karena Rama yang terlalu cepat, bukan karena ia menuntut. Justru karena semuanya berjalan dengan pelan, terlihat wajar, dan tidak ada kata memaksa. Tidak ada drama. Tidak ada tarik ulur. Dan itu membuat Aruna gelisah dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Ia duduk di bangku taman kampus, menatap daun-daun yang jatuh satu per satu. Rama duduk di sampingnya, jaraknya cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak menekan. “Kamu kelihatan capek,” kata Rama. “Aku nggak tahu kenapa,” jawab Aruna jujur. “Padahal hidupku lagi baik-baik aja.” lanjutnya lagi. Rama tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, seolah memahami bahwa kelelahan Aruna bukan berasal dari tubuhnya. “Kadang,” kata Rama akhirnya, “ten

