Aruna bangun pagi dengan mata yang terasa sembap dan dengan kepala yang terasa berat. Tangis semalam tidak menyisakan kelegaan, hanya kelelahan yang menempel di tubuhnya. Ia berdiri lama di kamar mandi, menatap wajahnya sendiri di cermin, wajah seseorang yang terlalu lama menunda kejujuran. Ia tahu satu hal dengan pasti pagi itu, ia tidak bisa terus berada di posisi tengah. Tidak dengan Dava yang telah selesai, juga tidak dengan Rama yang mulai kehilangan kesabaran, dan tidak dengan dirinya sendiri yang makin sering hancur secara diam-diam. Hari terus berjalan dengan terasa lambat. Aruna bekerja tanpa benar-benar hadir. Tangannya bergerak, pikirannya tertinggal di malam sebelumnya dan tatapan Rama, suaranya yang tertahan, jarak yang sengaja dijaga tapi justru menyiksa. Sore hari, p

