Kesalahan Aruna tidak datang dengan teriakan. Ia datang dengan satu keputusan kecil yang tampak masuk akal, bahkan dewasa dan justru karena itulah dampaknya jauh lebih besar. Hari itu Aruna menerima kabar mendadak dari kantor ia diminta mendampingi klien penting ke luar kota selama dua hari. Bukan hal istimewa, tapi cukup menentukan. Atasan menyebut namanya tanpa ragu. Aruna tahu, ini kesempatan. Masalahnya bukan pada pekerjaan, tapi masalahnya adalah waktu. Hari keberangkatan itu bertepatan dengan malam pembukaan pameran Rama, pameran yang sudah ia siapkan berbulan-bulan. Pameran kecil, tapi penting. Bukan hanya untuk kariernya, tapi untuk kepercayaan dirinya yang lama dibangun pelan-pelan. Aruna membaca pesan dari kantornya berkali-kali. Ia lalu membuka kalender. Tanggal itu ditanda

