BAB 22 - SEBUAH MISI

1812 Kata

Kedua mata Milla menatap lurus ke arah Mahesa yang tengah duduk seraya menyantap sate lilit yang tersaji dengan lezat di depannya. Dengan kedua tangan yang terlipat di d**a, Milla terus menghela napas lelah. Mahesa memaksanya untuk ikut makan malam, namun, Milla merasa lelah dan tidak bernafsu untuk menyantap apa pun setelah semua kejadian yang ia alami hari ini. Milla telah berusaha untuk menolaknya. Namun, bukan Mahesa namanya jika tidak bisa memaksanya. Apalagi, suaminya itu memberikan ancaman yang tidak bisa Milla abaikan. Milla tahu jika Mahesa masih merasa marah terhadapnya. Namun, yang Milla tahu, Mahesa tetap berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Apa Milla terlalu keterlaluan? Tentu saja, dan pria seperti Mahesa terlalu baik untuk bersanding dengan dirinya. Waktu berlalu begi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN