BAB 6 - SEBUAH BENTENG

1640 Kata
"Bagaimana? Saya telah membuat surat perjanjian itu sesuai dengan permintaanmu." Mahesa duduk di atas single sofa dengan sebelah kaki yang diangkat dan ditopangkan pada kaki yang satunya. Kedua matanya menatap lurus dan tajam ke arah Milla yang tengah duduk di sofa sampingnya seraya membaca perjanjian pernikahan itu dengan seksama "Apakah di dalam otakmu itu tidak pernah jauh-jauh dari hubungan suami-istri?" Mahesa mengangguk pasti, wajahnya masih nampak datar tanpa ekspresi. "Tentu saja. Saya pria normal, Milla, dan saya juga harus memenuhi kebutuhan biologis saya, bukan?" Kepala Milla menunduk sedikit lebih dalam. Terdapat semburat merah yang menyeruak pada pipinya ketika mendengar ucapan Mahesa. Milla tahu bahwa mereka telah menikah dan sah, tapi bagaimana mungkin Mahesa dapat berkata sevulgar itu padanya? "Dan juga, sebagai seorang istri...," Mahesa memperhatikan ekspresi Milla yang menurutnya lucu. Gadis yang kini telah menjadi istrinya ini masih nampak begitu malu-malu. "Bukankah kamu harus memenuhi kewajibanmu? Dan saya, tentu saja ingin mendapatkan hal itu, bukan?" Dalam keadaan menunduk Milla mengangguk pelan menyetujui. "Ya, saya mengerti. Dan saya akan melakukan kewajiban saya sebagai istri." Milla mendongak menatap Mahesa lurus. "Tapi, sesuai permintaan saya, hak asuh anak akan jatuh kepada saya." Rahang Mahesa mengeras, ucapan Milla begitu menancap di hatinya. Mereka bahkan belum melakukan itu dan Milla sudah berbicara tentang hak asuh anak. Sebegitu inginnya kah Milla bercerai dengannya? Memang apa kurangnya Mahesa? Ia tampan, kaya dan sukses di usia yang masih muda. Mahesa rasa, itu adalah poin penting yang selalu wanita cari dalam memilih calon suami. Tapi Milla? Gadis itu seakan tidak menginginkannya. Apa ini karena Mitta? Seseorang yang seharusnya menjadi istrinya? Bahkan Milla meminta persyaratan bahwa pernikahan mereka akan selesai ketika orang ketiga datang. Dan Mahesa tahu, orang itu adalah Mitta. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka? "Sebenarnya saya tidak setuju dengan permintaan kamu itu. Tapi jika dilihat dari sisimu, seorang ibu pasti tidak ingin berpisah dari anaknya." Milla mengangguk setuju. "Ya, Anda pasti sudah tahu itu." Mahesa nampak bergeming dari duduknya, sedikit menggeser tubuhnya kemudian sedikit menegakkannya. "Lalu, bisa, 'kan kamu tidak bersikap terlalu formal kepada saya?" "Maaf?" "Saya ini suami kamu, bukan kolega bisnis. Jadi kamu tidak perlu bersikap terlalu formal seperti itu." "Ah, baiklah. Akan saya coba." Mahesa mengangguk angguk pelan. "Ya, sepertinya kamu harus mencobanya." Jemari Mahesa mengetuk-ngetuk pelan pada meja kaca di depannya. Tatapannya lurus menatap Milla yang kini masih duduk dengan tegak dan sopan layaknya bawahan yang bertemu dengan atasan. Bukan rahasia umum lagi, jika kini Milla telah resmi menjadi istri dari seorang Mahesa, wakil direktur di RHInfra. Dan seluruh karyawan di kantor pun telah mengetahui fakta tersebut. Bahkan, bukan hanya hal itu saja yang menyebar, melainkan gosip yang menyuarakan bahwa seorang Milla merebut calon suami -Mahesa- adiknya. "Jadi, bisakah saya kembali ke ruangan saya, Pak? Karena sepertinya, Pak Tian telah menunggu saya." Milla menatap Mahesa yang masih menatapnya, bahkan kini dahi pria itu nampak mengerut dalam. Yuantian Fang, adalah salah satu General Manager di RHInfra. Tian adalah seorang blesteran China dan Indonesia. Ayahnya keturunan China asli, sedangkan ibunya adalah orang Palembang. Jadi, tidak salah jika Tian sering dijuluki dengan China Palembang oleh teman sejawatnya. Hanya teman satu angkatan, senior dan atasan yang berani memanggilnya seperti itu, tidak dengan bawahan dan karyawan biasa. "Tian? Ah, kamu sekretarisnya, ya? Saya baru sadar." Mehesa mengusap dagunya perlahan. Milla mengangguk pelan. "Ya, dan Pak Tian mungkin menunggu saya." "Apakah Tian lebih penting dari suamimu?" Milla tergelak mendengar ucapan Mahesa. Bagaimana bisa pria itu berkata sedemikian rupa? Seakan, ia begitu menginginkan Milla agar tetap berada di sisinya. Tapi..., tidak, Milla tidak bisa membiarkan hal tersebut. "Tapi saya sedang berada di kantor, Pak, bukan di rumah. Dan di kantor saya harus bisa bersikap seprofesional mungkin." "Ya, saya tahu. Dan saya dengar kamu memiliki kinerja yang bagus." Milla masih menunggu lanjutan dari ucapan Mahesa. "Bagaimana jika saya memberimu promosi?" "Promosi?" Milla sedikit memiringkan kepalanya. Mencoba mendengar dengan benar apakah yang dikatakan Mahesa itu sungguhan. Mahesa mengangguk pasti. "Ya, promosi. Kamu mau, 'kan menjadi sekretaris saya?" "Apa?" Milla memekik, manahan suaranya agar terdengar tidak terlalu lantang. Ekspresi wajah Mahesa berubah datar, matanya menatap Milla dengan tajam seakan ia tidak ingin mengulang atau pun menerima penolakan. "Tidak ada pengulangan, Milla. Dan juga, saya tidak menerima penolakan." "Kalau, Bapak tidak suka penolakan, kenapa harus menanyakan pendapat saya?" Dahi Milla mengernyit dalam, dan tanpa ia sadari, suaranya ketika berbicara dengan Mahesa sudah tidak terlalu kaku dan lebih terkesan rileks. Dan Mahesa, tersenyum tipis mendengarnya, sungguh tipis, hingga Milla tidak menyadari hal tersebut. "Tidak ada salahnya meminta suatu pendapat. Lagi pula, kamu, 'kan istri saya." Mahesa mengendikkan bahunya sedikit tak acuh, padahal di dalam hatinya, Mahesa merasa adanya bunga bertaburan. "Buat apa menanyakan suatu pendapat kalau pada akhirnya Bapak yang memutuskan, iya atau tidaknya." Bibir Milla mengerucut kesal, karena sepertinya ia mulai menyadari jika sikap Mahesa itu begitu menyebalkan dan pemaksa. "Ya karena saya tidak suka adanya penolakan." "Terserah Bapak saja lah." Milla menghela napasnya pendek dan kemudian memalingkan wajahnya tak acuh. Dahi Mahesa mengernyit, ia merasakan perasaan tak suka ketika melihat Milla lebih memilih mengalihkan pandangannya daripada melihatnya. Bisa-bisanya dia mengabaikan sosok tampan di depannya ini. "Lagi pula kamu itu istri saya. Jadi sudah menjadi kewajiban kamu untuk menuruti apa kata dan perintah suami." Memantapkan hatinya, Milla kembali mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Mahesa. "Bapak Mahesa yang terhormat, saya tahu kalau saya adalah istri Bapak. Jadi Bapak tidak perlu mengingatkan hal tersebut setiap saat." Lama-lama Milla merasakan adanya sedikit perasaan aneh yang mengerayap di hatinya setiap Mahesa mengucapkan kata istri dan suami. "Dan juga, ini di kantor, bukan di rumah. Dan di kantor saya adalah bawahan sekaligus rekan kerja Bapak, jadi saya memiliki hak untuk menolak promosi Bapak tawarkan." Milla harus menolak promosi dari Mahesa. Ia tahu, bahwa ini adalah kesempatan langkah ketika Mahesa yang memberikan promosi langsung. Namun, sekali lagi Milla harus menolaknya, karena ia tidak bisa lebih dekat dengan Mahesa. Milla hanya seorang pengganti. Ia hanya bertugas untuk menggantikan Mitta ketika adiknya itu tidak ada. Dan Milla, ia harus membatasi dirinya agar tidak terlalu dekat dengan Mahesa. Ia takut, ia takut jika apa yang ia jaga selama ini akan goyah begitu saja. Hatinya, hanya milik Andy seorang. Ia mencintai pria itu. Walau Milla tahu, bahwa Andy telah membencinya dan juga menolaknya. Namun, itu keputusan Milla. Sedari awal, ia tahu, bahwa apa yang ia lakukan pasti memiliki konsekuensi, dan Milla harus siap menanggung segala risiko dan juga konsekuensinya mulai sekarang. "Tidak ada bawahan yang menolak untuk dipromosikan." Mahesa nampak menegakkan posisi duduknya. Melipat kedua tangannya di d**a, Mahesa menatap tajam ke arah Milla. Mahesa tidak habis pikir, bagaimana bisa Milla menolak promosi darinya. Dan lagi pula, jarang-jarang Mahesa memberikan promosi langsung kepada karyawannya. Karena Mahesa adalah seseorang yang pemilih dalam menentukan sekretaris, atau orang yang bekerja langsung padanya. Dan ketika Milla mendapatkan promosi itu darinya, Ia justru menolaknya. Ada apa ini? Apa semua karena Mitta atau karena Andy? Shit. Memikirkan hal tersebut, ingin rasanya Mahesa pergi untuk menemui Mitta dan menanyakan apakah yang diinginkan oleh gadis itu sebenarnya. Gadis yang membuatnya hampir menanggung malu. "Tapi saya menolak," ucap Milla yang keukeuh dengan pendiriannya. "Lalu apa argumentasimu?" Dan di sisi lain, Mahesa pun tidak mau kalah dengan Milla. Bagaimanapun caranya ia akan tetap membuat Milla menjadi sekertarisnya. Ada rasa yang menyuruhnya untuk selalu berdekatan dengan Milla. Wanita yang kini telah menjadi istrinya itu seakan terus menarik perhatiannya ketika pertama kali bertemu. "Apa saja, yang jelas saya tidak mau." Milla beranjak dari duduknya. Berdiri menjulang tepat di depan Mahesa yang masih duduk dengan tenang dan gaya angkuh miliknya. "Kamu harus memiliki alasan yang jelas, Milla." "Yang jelas, saya tidak mau dikatakan memanfaatkan jabatan suami untuk mendompleng jabatan saya," alibi Milla agar Mahesa percaya. Sejujurnya, itu bukanlah alibi semata, karena nyatanya, pasti banyak karyawan di perusahaan ini yang menjudge dirinya jika sampai hal tersebut terjadi. Dicap sebagai perebut calon suami adik sendiri, jujur saja itu telah menyakiti hati Milla. Namun, Milla tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Memangnya, siapa yang akan percaya? Di saat kamu baru saja menginjakkan kakimu di kantin, dan sudah banyak bisik-bisik yang membicarakanmu. Dan di saat kamu membutuhkan teman untuk berbicara, mereka justru menjauhimu. Memang inilah hidup, banyak yang palsu. Karena terkadang, apa yang kita anggap baik, justru itu adalah hal terjahat yang akan menghancurkanmu. Mahesa tersenyum miring mendengar ucapan Milla barusan. Wanita itu bilang, ia ingin bersikap profesional, dan lihatlah, sekarang siapa yang mengungkitnya? "Kamu bilang, harus profesional dan tidak menyangkut pautkan masalah rumah dan kantor. Tapi sekarang, kamu justru membawa-bawa kata-kata suami dan istri." "Pak, tolong mengerti saya," suara Milla terdengar memelas. Tidak tahu lagi, dengan cara apa ia akan menyakinkan Mahesa agar pria itu tidak memaksanya. "Iya, atau kamu ajukan surat resign ke Tian besok." "Kalau saya memilih resign?" Sebelah alis Milla terangkat, seakan menantang seorang Mahesa. "Itu lebih bagus, jadi saya dapat melihat istri saya yang menyambut saya ketika pulang kerja." Mahesa menyunggingkan senyumnya ketika bayangan itu terlintas di pikirannya. "Anda tidak malu, memiliki istri pengangguran yang hanya menumpang hidup pada suami saja?" Mahesa mengendikkan bahunya tak acuh. "Memang apa yang salah? Bukankah tugas suami memang mencari nafkah dan membiayai hidup istrinya? "Ya baiklah, terserah Bapak saja. Saya mau kembali ke ruangan saya, permisi." Milla beranjak dan melenggang pergi meninggalkan Mahesa yang masih menatapnya hingga pintu utama ruangannya tertutup dengan sempurna dari luar. Mahesa mengusap dagunya. "Milla..., apa yang sebenarnya kamu hindari? Benteng apa yang tengah kamu bangun?" Mahesa heran. Apa benar, jika Mitta adalah alasan Milla menghindarinya? Mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri. Lagi pula, ia tidak ada niatan untuk menceraikan Milla, karena walau bagaimanapun, pernikahan adalah sekali seumur hidup baginya. "Tapi, tidak. Ya, kamu adalah milikku sekarang, dan selamanya akan seperti itu, bukan?" _________________________ [Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN