BAB 7 - RUMAH KITA

1587 Kata
"Maaf, Pak Tian, saya terlalu lama." Milla sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum canggung menatap pria blesteran china-indo bernama Tian yang tengah berdiri di depannya. Tian -pria itu- mengibaskan pelan tangan kanannya ke depan wajahnya seraya tersenyum tipis. "Ah, tidak perlu sungkan seperti itu, Milla. Lagi pula kamu, 'kan istri bos." "Ah, jangan seperti itu, Pak, saya jadi tidak enak. Dan juga, saya harus bersikap profesional." Milla tersenyum kikuk, dan setelahnya gadis itu nampak sedikit menggeram kesal. Ini pasti ulah Mahesa! Pikirnya menuduh. "Tidak perlu sungkan. Kita, 'kan sudah jadi partner sejak lama, kamu sudah saya anggap seperti adik sendiri. Umur kita juga tidak beda jauh, em..., dua tahun ya?" Tian tersenyum geli, melihat ekspresi tegang di wajah Milla. Terkadang, gadis itu terlalu serius menanggapi segala hal. Dan Tian, perlu mencairkannya. "Ah ya, bagaimana dengan berkas yang saya minta minggu lalu? Kamu sudah menyiapkannya?" Milla mengangguk pasti. "Sudah, Pak, dan saya sudah membuat laporannya sekaligus. Seperti yang bapak minta." Tian mengangguk bangga. "Kamu memang selalu bisa saya andalkan, Milla." Tian kembali tersenyum dengan begitu manis, hingga membuat matanya yang sipit menutup. Dan mungkin jika kalian bersembunyi ketika ia tertawa tidak akan ketahuan. "Kalau begitu, kamu antar keruangan saya, ya? Saya mau ke pantry dulu." "Apa Bapak membutuhkan sesuatu? Bapak ingin minum sesuatu? Ingin saya buatkan?" "Ah, tidak perlu. Saya hanya ingin membuat secangkir kopi saja. Ingin buat sendiri, kamu siapkan saja berkasnya." "Baiklah." Milla mengangguk paham. Dan setelahnya ia kembali menuju ke meja kerjanya untuk menyiapkan berkas yang Tian minta lalu mengantarkan ke ruangan atasannya. Dengan langkah yang sedikit terseret, Milla berjalan menuju ruangan Tian, mempersiapkan berkas yang pria itu minta. "Gak nyangka ya, calon adik sendiri direbut!" "Pelakor sekarang mah, nggak tanggung-tanggung!" "Mukanya aja yang alim, kelakuan udah kayak kotoran! Jijik!" Kedua mata Milla melirik ke arah tiga perempuan yang memakai setelah kerja dengan secangkir kopi di tangannya menatap ke arahnya sinis, jijik, dan iri. Sering kali Milla mendapatkan gunjingan seperti itu dari teman sekantornya, terutama kaum wanita. Milla tahu, jika apa yang telah ia pilih, pasti akan menimbulkan risiko. Dan inilah, risiko yang harus ia tanggung. Mendapatkan gunjingan, cacian dan juga makian dari teman-teman sekantornya. Tapi, apakah mereka yang membicarakan dan menjelekkan kita di belakang masih bisa disebut teman? Milla rasa tidak. Karena hanya ada kebencian dan iri di mata mereka. Mungkin, mengabaikan dan memilih pergi adalah cara yang terbaik. Milla tidak ingin menimbulkan masalah, apalagi hingga menimbulkan keributan seperti di sinetron yang pernah ibunya tonton, saling memaki dan menjambak satu sama lain. Gadis itu tertunduk lesu di atas meja kerjanya. Jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan itu artinya adalah jam istirahat. Biasanya Milla akan berjalan ke kantin kantor di lantai lima, bersama sahabatnya. Namun kini, sahabatnya tengah dinas luar kota, bahkan perempuan itu tidak bisa datang ketika hari pernikahan adiknya, yang justru menjadi hari pernikahannya. Lagi-lagi Milla menghembuskan napasnya lelah, ia terlalu lelah memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya dengan waktu yang begitu singkat, dan semuanya jadi berantakan. Rencana masa depannya bersama Andy menjadi kacau karena satu masalah yang mengubah seluruh hidupnya. Bahkan ia pernah berpikir, lebih baik ia bercerai dengan Mahesa dan hidup melajang seumur hidupnya. Kemudian, mengadopsi anak yang akan ia rawat hingga dewasa. Dan anak itulah yang akan merawatnya ketika tua nanti. Namun ternyata, semuanya tidak semudah yang Milla bayangkan, karena Mahesa lebih memilih untuk mempertahankannya. Dan entah karena alasan apa Mahesa melakukan hal tersebut. Tapi mungkin, Milla bisa bertahan sedikit lagi untuk memenuhi janjianya. Dan setelah itu, semuanya akan lunas. Jujur, ia lelah. Kaki jenjang itu melangkah, melewati Milla yang tengah termenung di tempatnya. Hingga langkahnya terhenti ketika ia tidak mendengar sapaan dari wanita itu seperti biasanya. Kepala Tian menoleh, menatap Milla yang masih duduk melamun di kursinya. Dengan bertopang dagu, wanita itu menatap lurus ke depan. Dan sepertinya, ia tengah ditimpa beban pikiran yang begitu berat hingga tidak menyadari keberadaan Tian di dekatnya. Bahkan Tian sengaja menunggu untuk mendengar suara sapaan yang biasanya ia dapatkan dari Milla. "Milla," panggilnya, ia memutuskan untuk menyapa Milla terlebih dahulu. Ia sedikit penasaran dengan apa yang wanita itu alami. Jujur saja, Milla adalah wanita yang cukup menarik. Sayang, dia telah menikah. Milla tersentak, matanya menatap Tian dengan pandangan terkejut. Ia tidak menyadari kapan Tian sudah berada di sampingnya seraya memegang secangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya. Bahkan, Milla dapat mencium aroma nikmat dari kopi tersebut. "Pak Tian?" Milla berdiri dari duduknya, sedikit menunduk, menatap Tian takut. "Kamu kenapa?" Ada nada khawatir di dalam suara tersebut. "Ma-maafkan saya, Pak. Saya sedang...," "Kamu ada masalah? Lagi banyak pikiran?" Milla sedikit mendongak untuk menatap Tian yang juga menatapnya. Entah apa yang pria itu pikirkan sekarang, namun Milla merasa tidak enak. "Eumm," "Kamu sakit? Tidak enak badan?" "A..., saya," Tian nampak menghela napas pelan. Lalu menatap Milla lekat. "Kalau kamu sakit, kamu bisa ke ruang kesehatan sekarang," "Pak," "Atau kamu mau pulang, mau saya antar?" Tian menawarkan diri. Milla tersenyum sopan. Tian tidak pernah berubah, selalu perhatian terhadapnya. Dia, adalah bos yang sangat baik dan pengertian, contohnya seperti sekarang. "Pak Tian, saya tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah dan beberapa masalah-" Tian berdecak. "Kamu tidak perlu terlalu formal sama saya, Milla, kita udah lama, 'kan kerja bareng?" "Iya, Pak, tapi, 'kan tidak enak sama yang lainnya," jawab Milla seraya tersenyum simpul. Tian selalu mengingatkannya untuk bersikap biasa saja. Padahal status mereka adalah atasan dan bawahan. "Anggap saja kita ini teman, atau anggap saya sebagai kakak kamu. Dan, lagi pula kamu juga sudah menikah." Tian sedikit menunduk, mencoba melihat wajah Milla lebih dekat. Wanita itu tetap cantik seperti biasanya, "kamu mau istirahat saja?" lanjutnya bertanya. Milla kembali menunduk, kemudian meringis pelan. Jujur saja, kepalanya terasa sedikit pusing, namun bagaimana dengan pekerjaannya nanti, ia sedikit ragu. "Em, tapi, pekerjaan saya?" Tian mengendikkan bahunya. "Kamu bisa tinggal. Berkas yang kemarin saya minta sudah kamu taruh di meja Saya, 'kan?" Milla mengangguk. "Sudah, Pak." "Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar yang lainnya saya urus sendiri, besok kamu rekap." "Baik, Pak. Terima kasih." Wanita itu hendak mengambil ponselnya, namun belum sempat ia kembali melangkah, Tian telah kembali memanggil namanya. "Em, Milla?" "Ya, Pak?" tanyanya sembali menolehkan kepala menatap Tian yang juga tengah menatapnya hangat. "Jangan lupa makan, nanti kamu tambah sakit." Milla tersenyum dan mengangguk pelan. Kakinya terus melangkah, hingga tepat berdiri tepat di depan lift. Ada dua lift di sana, lift khusus pegawai dan atasan. Jemari Milla terulur untuk memencet tombol lift. Ia ingin segera menuju lantai tujuh dan merebahkan tubuhnya sebentar saja. Kepalanya terasa sedikit sakit. Lift itu berdenting, menandakan jika pintunya telah terbuka, kakinya melangkah pelan dengan kepala yang masih menunduk, tidak lupa dengan tangannya yang terus memijit pelipisnya, untuk mengurangi rasa nyeri. Hingga ia berhenti tepat di dalam lift tersebut, mengulurkan jemarinya dan memencet tombol tujuh. Sedangkan pria itu, tatapan matanya tidak terlepas dari wanita yang kini berdiri di sampingnya. Kepala wanita itu terus menunduk tanpa menyadari adanya keberadaan orang lain di dalam sana. "Kepalamu pusing?" Milla tersentak, mengangkat kepalanya spontan, menatap seseorang di sampingnya. Ia tidak tahu jika ada orang lain di dalam lift itu, dan ia baru sadar bahwa ia salah masuk lift, karena sekarang ia tengah di dalam lift khusus atasan. "Pak..., Mahesa?" "Wajahmu pucat, kamu sakit?" tanya Mahesa mengabaikan keterkejutan Milla. "Ah, saya hanya pusing. Anda tidak perlu khawatir." Terdengar suara decakan yang keluar dari mulut Mahesa. "Saya ini suami kamu, kenapa masih formal seperti itu?" "Karena kita di kantor." "Alesan!" Milla kembali menunduk, tak mengacuhkan decakan kesal Mahesa, dia terlalu lelah untuk menghadapi pria itu. Lift itu kembali berdenting, dan dengan gerakan pelan ia melangkah keluar dari lift tanpa berpamitan dengan Mahesa. Kakinya terus berjalan, hingga berhenti tepat di depan pintu kaca bertuliskan ruang kesehatan yang tertempel di tembok, tepat di samping kanan atas pintu. Milla mengetuk pintu itu sebentar, lalu menggesernya dan melangkah ke dalam. Bibir titisnya menyunggingkan sebuah senyuman, menyapa seorang pria yang berjaga di ruangan tersebut. "Siang, Dokter Dimas, boleh saya menumpang istirahat di sini?" "Ah, Milla, boleh-boleh." Pria yang dipanggil Dokter Dimas tersebut beranjak dari duduknya, kemudian berdiri tepat di depan Milla. "Kebetulan tidak ada siapa pun di ruangan ini. Jadi kamu bisa beristirahat dengan baik." Dokter Dimas tersenyum hangat ke arah Milla yang mengangguk. Kemudian, melangkah menuju salah satu bed di ruangan itu. Dan ketika wanita itu hendak berbalik, tubuhnya terlonjak, melihat Mahesa yang telah berdiri di belakangnya dengan raut kesal dan tatapan mata yang sulit untuk dijelaskan. "Kalau kamu sakit, lebih baik pulang saja." Milla menggeleng pelan, "Tidak perlu, Pak, mungkin saya cuma kelelahan," jawabnya dengan nada sopan dan baku. Mahesa menghela napas kasar, sangat susah untuk memberitahu dan mengatur Milla, padahal wanita itu tahu, bahwa ia tidak suka di bantah. "Kenapa sih? Kamu selalu bersikap kaku sama saya? Saya ini suami kamu, Milla! Ingat itu!" "Saya ingat, jadi Anda tidak tidak perlu mengatakannya lagi," "Cukup! Berhenti berbicara formal, atau saya akan menciummu sekarang juga!" Mahesa menggeram marah. Mungkin perlu sedikit ancaman agar Milla menurut padanya. "Baiklah," Lihat? Sepertinya Mahesa berhasil kali ini, dan, sepertinya ia mempunyai strategi baru untuk membuat Milla tunduk dan menurut padanya. "Sekarang, kita pulang!" "Tapi, Pak?" "Jangan membantah, Milla. Kamu istri saya, jadi harus menurut. Mengerti?" Milla mencebik pelan, mendengar ucapan Mahesa, pria itu selalu menekan statusnya setiap kali berdebat. "Tapi, pulang ke mana?" "Rumah kita. Rumah yang saya bangun, khusus untuk istri saya nanti. Dan karena kamu adalah istri saya, maka kamu akan tinggal di sana, bersama saya." _________________________ [Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN