"Rumah kita?" Mahesa mengangguk menanggapi pertanyaan Milla. "Tapi…,"
"Tapi apa, Milla? Kita sudah menikah dan sudah sewajarnya jika tinggal serumah berdua, 'kan?"
Milla nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, tapi saya harus mengambil beberapa barang, dan juga pakaian di rumah Mama,"
"Tidak perlu, saya sudah menyuruh kurir untuk mengambil barang-barangmu. Kamu ingin langsung pulang?" Mahesa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. "Atau ingin saya antar?"
"Di sini saja, Pak. Lagi pula Anda harus bekerja terlebih dulu, 'kan?" Mahesa menghela napasnya lelah, mendengar ucapan Milla yang masih saja formal dan kaku padanya. Padahal mereka itu suami istri.
"Baiklah, aku pergi dulu." Dan setelahnya Mahesa keluar dari sana, meninggalkan Milla yang mulai merebahkan tubuhnya, dan berharap rasa pusing di kepalanya dapat berkurang.
.
.
.
Tak terasa, ternyata sudah beberapa jam ia berbaring di ruang kesehatan. Dan tepat pukul lima Mahesa menghampirinya, bersama dengan tas jinjing yang biasanya ia bawa ketika bekerja. Dahi Milla berkerut, menatap Mahesa, apa pria itu tidak malu harus membawa tas perempuan seperti itu? Karena biasanya ada beberapa pria yang tidak mau membawakan tas istrinya walaupun dalam keadaan mendesak.
"Saya bawakan tasmu, jadi kita bisa langsung pulang." Milla mengangguk, dan mengambil tasnya, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Mahesa.
Suasana di dalam mobil Land Rover Range Rover Velar berwarna putih itu nampak begitu sunyi. Hanya terdengar aliran musik yang berasal dari radio mobil yang sedari tadi terus berbunyi. Namun tentu saja hal tersebut tidak cukup untuk memecahkan kesunyian yang ada. Bahkan dua insan yang menghuni mobil mewah tersebut seakan tidak perduli.
Mahesa nampak begitu fokus dengan jalan yang mulai macet di depannya. Tidak heran, karena hari telah menjelang sore apalagi di waktu pulang kerja seperti ini.
Surabaya, adalah sebuah kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta. Walaupun tidak sesibuk Jakarta, namun kota tersebut cukup besar dan maju. Kota ini terletak di 796 km sebelah timur Jakarta, atau 415 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Surabaya sendiri adalah ibu kota provinsi Jawa Timur. Bahkan Surabaya adalah salah satu kota terbersih di Indonesia. Dan sudah mendapat banyak penghargaan, salah satunya adalah Adipura.
Mata Mahesa melirik kesal ke arah Milla yang terus fokus terhadap tablet digenggamannya tanpa mengacuhkan keberadaan Mahesa yang berada di sampingnya. Seakan Mahesa hanyalah seorang supir pribadi yang tidak terlalu penting.
"Apakah kamu akan terus memandangi tablet itu hingga kita sampai nanti?" tanya Mahesa yang akhirnya sudah tidak tahan lagi untuk terus didiamkan.
Mahesa menghela napas kasar karena masih tidak dihiraukan. "Milla!"
"Sebentar, saya sedang mengatur jadwal Pak Tian," jawab Milla tanpa mengalihkan pandangannya untuk menatap Mahesa sedikit pun. Dan tentu saja hal tersebut membuat Mahesa naik pitam.
"Apa selalu ada Tian di pikiranmu itu?" ucap Mahesa ketus. Ada sedikit rasa tidak suka di dalam hatinya ketika melihat Milla yang terus memperhatikan Tian walaupun sudah di luar kantor.
"Memang salah? Ini, 'kan pekerjaan saya." Kali ini Milla menatap ke arah Mahesa dan memasukkan tabletnya ke dalam tas. Karena memang pekerjaannya telah usai. Ia hanya tinggal mengurus tiga jadwal rapat Tian untuk besok, jujur ia merasa tidak enak terhadap Tian karena meninggalkannya siang tadi, bahkan sampai jam kerja usai.
"Tentu saja salah! Mungkin di kantor kamu adalah sekertaris Tian. Tapi sekarang kamu adalah istri saya. Jadi seharusnya saya yang menjadi prioritas kamu, Milla!" Nada suara Mahesa terdengar meninggi. Matanya menatap tajam ke arah Milla yang turut menatapnya juga.
Untung saja traffic light sedang berwarna merah, jadi mereka dapat berhenti dan bertengkar?
"Andy tidak pernah mempermasalahkan itu."
"Andy?" Mata Mahesa memancing mendengar nama yang terdengar tidak asing lagi di telinganya. Nama itu, bukankah itu nama dari pria yang merupakan mantan tunangan Milla? Dan Mahesa tidak suka mendengarnya.
"Saya berbeda dengan Andy, dan jangan samakan saya dengan pria bodoh itu!" ucap Mahesa sarkas.
Milla menggeleng pelan. "Tapi Andy tidak bodoh."
"Apa kamu akan terus membela pria lain di depan suamimu sendiri?!" Sorot mata Mahesa semakin menajam. Ia tidak suka Milla terus membela mantan tunangannya itu ketimbang suaminya sahnya.
"Mungkin, karena Andy adalah pria yang masih mengisi hati saya," ucap Milla mantap yang tentu saja membuat hati Mahesa bergemuruh marah.
"Kamu-"
'TIN'
'TIN'
'TIN'
Suara klakson mobil yang bersahutan dari arah belakang membuat Mahesa tersadar. Karena terlalu asik mereka berdebat hingga tidak menyadari bahwa lampu yang tadinya merah kini telah berubah menjadi hijau. Menghembuskan napasnya kesal, Mahesa menancap pedal gasnya dengan sedikit kencang. Membuat laju mobil yang mereka naiki bertambah cepat.
Suasana kembali hening, seperti sedia kala. Milla hanya dapat membuang wajahnya ke arah samping. Matanya lebih fokus menatap ke arah jalanan kota Surabaya di sore hari. Mata Milla menatap ke arah Taman Bungkul yang begitu ramai, banyak pasangan muda-mudi yang sedang berjogging bersama di sore hari, bahkan ada juga beberapa keluarga dan anak-anak mereka.
Taman Bungkul, adalah salah satu taman urban yang ada di Kota Surabaya. Lebih tepatnya berada di jalan Darmo, Surabaya Pusat.
Land Rover Range Rover Velar milik Mahesa terus melesat hingga tidak terasa mereka telah memasuki pintu gerbang Perumahan Citraland Cluster Diamond Hill. Jarak antara perusahaan Mahesa dengan rumah mereka hanya empat puluh lima menit jika ditempuh menggunakan mobil, itu jika tidak macet. Dan perusahaan Mahesa berada di jalan Basuki Rahmad, kawasan Central Business District Surabaya.
Dan Milla sendiri tidak tahu, apa alasan Mahesa membeli rumah di Citraland Cluster Diamond Hill. Mungkin karena itu adalah perumahan elite di Surabaya Pusat. Dan juga, tempatnya tidak terlalu jauh dari RHInfra.
Land Rover Range Rover Velar milik Mahesa berhenti tepat di sebuah rumah berlantai dua bercat abu-abu dan hitam. Sungguh perpaduan yang terlihat manly. Mencerminkan rumah seorang pria dewasa, bukan rumah bersama. Dan mungkin, Milla bisa menganti catnya nanti, jika Mahesa mengizinkannya.
Land Rover Range Rover Velar itu memasuki pekarangan rumah, dan berhenti tepat di depan garasi. Entah apa alasan Mahesa tidak memasukannya saja sekaligus, atau mungkin, ia akan pergi lagi nanti. Mereka berdua masuk ke dalam rumah tanpa suara. Tidak ada yang ingin memulai sebuah percakapan terlebih dahulu.
"Apa ini rumah Anda?" tanya Milla kepada Mahesa yang kini tengah berdiri di depannya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan berwarna dongker yang ia kenakan.
Mata Milla menatap keseluruhan penjuru ruang tamu. Sofa itu memiliki warna abu-abu dengan meja kaca sebagai pelengkapnya. Sedangkan dindingnya di cat dengan menggunakan warna putih.
"Rumah kita. Dan bisakah kamu tidak berbicara seformal itu padaku?" Mahesa berbalik menatap Milla yang masih memperhatikan keadaan rumah mereka. Mahesa kesal, namun, entahlah, tapi ia tidak bisa berlama-lama mendiamkan Milla.
"Tapi..., kenapa semua perabotan di sini berbau manly?" Milla menatap Mahesa meminta sebuah penjelasan. Dan pria itu hanya mengendikkan bahunya tak acuh.
"Entahlah, saya tidak tahu selera wanita seperti apa. Dan juga, saya baru membeli rumah ini ketika akan menikah." Mata Mahesa ikut menatap sekitar dan setelahnya berjalan menuju sofa dan duduk di sana. "Lagi pula, tidak ada yang bisa saya ajak berbelanja perabotan rumah. Kamu tahu alasannya."
Milla mengangguk. Dan setelahnya ikut mendudukan diri pada sofa yang berbeda dengan Mahesa. Dan hal itu membuat dahi Mahesa mengernyit tidak suka.
"Kenapa kamu duduk di situ?"
"Lalu saya harus duduk di mana?"
"Kamu masih ingat dengan perjanjian kita, bukan? Kehidupan suami istri seperti pada umumnya?"
Milla mengangguk. "Iya, lalu?"
"Lalu? Ya- seharusnya kamu duduk di samping saya dan bemanja-maja dengan saya selayaknya pengantin baru." Mahesa mengendikkan bahunya, entah apa yang ia pikirkan sehingga hal konyol itu terlintas di pikirannya.
"Apa itu harus?" Mata Milla melotot sempurna. Mahesa, apakah mulutnya itu tidak disaring terlebih dahulu ketika berbicara?
"Tentu saja. Bahkan remaja yang berpacaran pada zaman sekarang lebih dari itu."
"Itu karena pergaulan mereka terlalu bebas."
"Lalu?" Sebelah alis Mahesa terangkat. Ia merasakan penolakan dari Milla.
"Tapi..., kita hanya dua orang asing."
"Tapi kita suami istri."
Kepala Milla menunduk dalam. Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan Mahesa. Karena pria itu sepertinya tidak menyukai sebuah penolakan. Lagi pula, benar yang Mahesa katakan, mereka telah sah menajadi suami istri. Jadi seharusnya tidak ada kata canggung mau pun orang asing lagi di antara mereka.
"Ya, terserah kamu saja."
Kamu? Apakah Milla baru saja mengucapkan 'kamu' dan bukannya 'Anda'? Good! Ini adalah kemajuan yang begitu baik dalam hubungan mereka. Dan Mahesa senang mendengarnya.
"Tapi..., bagaimana dengan baju dan juga perlengkapan saya yang tertinggal di rumah Mama?"
"Untuk baju, kurir sudah mengantarkannya tadi , jadi kamu tidak perlu khawatir, dan sisanya akan diantar besok."
Milla mengangguk, "lalu barang-barangmu?"
Mahesa mengangguk. "Mereka juga mengantarnya. Dan mungkin besok saya akan ke Apartemen untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal." Mahesa menatap Milla yang menganggukkan kepalanya. "Dan kamu harus ikut."
"Kenapa harus?"
"Tentu saja karena kamu adalah istri saya."
"Apa tidak ada alasan lain selain istri?"
"Tidak. Itu adalah alasan yang paling mujarab."
"Terserah kamu saja." Milla menghembus napasnya lelah. Ia butuh mandi agar tubuhnya kembali segar. "Saya perlu mandi, di mana kamar mandinya?"
"Pakai saja kamar mandi di kamar kita. Lantai atas, pintu warna abu-abu paling ujung."
Milla mengangguk paham dan setelahnya beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Mahesa yang masih duduk di tempat semula. Sedangkan Mahesa, beberapa menit setelah Milla pergi ia memutuskan untuk menyusul wanitanya. Mungkin sedikit merebahkan tubuh di ranjang akan membuatnya rileks.
Tiga puluh menit berlalu dan Milla belum keluar juga. Mahesa juga butuh membersihkan dirinya yang terasa begitu lengket. Namun ia malas jika harus memakai kamar mandi lain.
'Tok tok tok'
Tangan Mahesa terus mengetuk pintu kamar mandi berwarna putih di depannya dengan agak keras. Ia telah menunggu Milla sejak tadi, dan wanita itu belum juga keluar dari kamar mandi.
'Klek'
Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Milla yang keluar dengan balutan kimono mandi berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Dan juga, jangan lupakan rambut panjangnya yang di gerai karena basah. Membuat beberapa bulir air menetes membasahi wajahnya yang nampak natural tanpa polesan make up. Bahkan wajah itu tetap nampak begitu cantik.
"Ada apa?"
Dahi Milla mengernyit dalam menatap Mahesa yang hanya bediri diam memandangnya tanpa bergerak seinci pun. Apakah ada yang salah dengan penampilannya?
Milla menundukkan wajahnya untuk melihat penampilannya, tidak ada yang salah dengannya. Kecuali pada bagian depan kimono yang sedikit terbuka sehingga menampilkan leher dan juga dadanya yang putih mulus. Nampak begitu menggiurkan dan menggoda di mata Mahesa.
Seakan tahu pemikiran pria dewasa di depannya, dengan cepat Milla menarik kerah kimononya dan merapatkannya sehingga dadanya tidak lagi terlihat. Dengan agak takut dan canggung, Milla menatap Mahesa yang menatapnya..., sayu?
"Mahesa?"
"Milla..., saya lapar."
_________________________
[Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]