"Lapar?" tanya Milla sambil mengernyit dalam, wanita itu nampak memikirkan sesuatu sebelum akhirnya mengangguk. "Ah, baiklah kalo begitu, saya ganti baju dulu ya? Nanti saya buatkan makanan." Dan setelahnya Milla berjalan melewati Mahesa yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Tadi Milla bilang apa? Buatkan? Oh ayolah! Bukan itu maksud Mahesa, ia lapar, namun lapar akan sesuatu yang Milla miliki, bukan lapar perut. Mahesa mendengus, dan berpaling menatap Milla yang tengah berjongkok untuk mengambil beberapa potong pakaian di dalam koper hingga akhirnya melangkah menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Sial!" Mahesa mengumpat, ia tidak sanggup lagi untuk menahan kekesalannya. Ia bingung, sebenarnya siapa yang bodoh di sini? Dia? Atau Milla yang terlalu polos? Namun seharusnya wanita itu paham maksudnya, tapi nyatanya, Milla justru menganggap laparnya adalah maksud yang sebenarnya.
"Kamu mau mandi dulu?" tanya Milla yang telah keluar dari kamar mandi lengkap dengan setelah baju tidur berbahan satin berwarna dongker. "Saya akan memasak, kamu mau makan apa?"
"Kamu."
"Apa?"
"Terserah kamu mau masak apa." Dan setelahnya Mahesa melenggang pergi, masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Milla yang masih berdiri di tempatnya seraya menatapnya bingung. Hingga setelahnya wanita itu mengedikkan bahunya tak acuh dan pergi menuju dapur.
Mungkin sekaranglah saatnya Milla harus bersikap sebagai istri yang baik, menyiapkan segala kebutuhan yang Mahesa perlukan. Termasuk memasak dan melayani pria itu. Tangan Milla terulur untuk membuka pintu lemari pendingin di depannya, namun setelahnya dahinya mengernyit. Ah ya, Milla baru ingat, mereka baru saja pindah rumah dan tentu saja belum ada satu pun bahan masakan di rumah. Bahkan air minum saja mereka tidak punya.
Huh, lalu bagaimana caranya ia memasak jika tidak ada yang bisa di masak.
"Sedang apa?"
Sebuah suara dari arah belakang membuatnya sedikit terlonjak, dan ketika ia membalikkan tubuhnya, ternyata Mahesa telah berdiri tepat di belakangnya dengan rambut yang masih basah.
"Tidak ada bahan makanan untuk dimasak. Kamu mau makan apa? Saya akan berbelanja sebentar, tadi sepertinya di dekat sini ada supermarket yang masih buka."
"Oh, saya lupa tidak berbelanja. Dan tidak tahu apa yang harus dibeli," jujur Mahesa yang membuat bibir Milla sedikit berkedut menahan tawa.
"Rambutmu masih basah, keringkan dulu, nanti masuk angin."
Mahesa tersenyum mendengar perhatian Milla untuknya. "Nanti juga kering sendiri," Matanya menatap Milla lekat, "Ayo, saya akan menemanimu berbelanja."
Dan setelahnya Mahesa menarik lengan Milla dan mengajaknya ke supermarket yang berjarak dekat dari kompleks perumahan mereka. Dengan baju santai yang Mahesa kenakan, kaus oblong warna biru dongker dan celana putih pendek selutut, Mahesa tetap terlihat tampan dan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Land Rover Range Rover Velar putih itu berhenti, dan dengan cekatan Milla keluar dari sana. Dengan cepat pula Mahesa mengikuti Milla dari belakang. Dan ketika istrinya akan mengambil sebuah troli belanja, dengan cepat Mahesa mendahuluinya.
"Biar saya saja," ucapnya, dan Milla mengangguk mengiyakan.
Pertama yang Milla tuju adalah bagian sembako, dia mengambil satu karung beras dengan berat 5kg, satu liter minyak goreng, beberapa rempah-rempah, bumbu masak, sayur, daging ayam, sosis, dan buah. Selesai dengan itu, Milla berjalan menuju bagian cemilan. Ia akan membeli beberapa untuk menemaninya di ruang keluarga, atau mungkin jika ada tamu.
"Kamu mau cemilan apa?" tanyanya pada Mahesa yang tengah mendorong troli seraya mengikutinya dari belakang. Pria itu sungguh bersikap layaknya suami yang siaga.
"Em," Mahesa nampak berpikir sebentar, "terserah kamu saja, saya suka yang gurih dan asin."
Milla mengangguk, "apa di rumah sudah ada gas? Soalnya tadi tidak ada air minum."
Mahesa menyengir malu, ia sungguh tidak memperkirakan hal tersebut, bahkan air minum saja tidak ada di rumah. "Saya akan menyuruh orang untuk mengantarkan air dan gas."
Milla mengangguk pelan. Dan setelah selesai dengan bahan makanan dan sembako, mereka berjalan menuju bahan alat kebersihan. Membeli beberapa sabun cuci baju dan piring, pembersih lantai dan kamar mandi juga.
Setelah selesai, Mahesa dengan cekatan membayar itu semua. Dan mengangkatnya menuju mobil. Bahkan ketika Milla hendak membantu, Mahesa tidak mengizinkan.
Milla memperhatikan semua yang Mahesa kerjakan. Dan dengan pelan, ia menghembuskan napasnya. Bagaimana mungkin ia tidak akan luluh dengan sikap Mahesa yang begitu perhatian dan cekatan. Karena ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya yang ingin menjalankan pernikahan sebagaimana mestinya.
Bahkan ketika sampai di rumah pun, dengan cekatan pula Mahesa membawa semua belanjaan itu menuju dapur, bahkan ia kembali lagi ke pintu depan untuk mengangkat gas elpiji dan galon minuman yang telah diantar. Ya, Mahesa adalah definisi dari suami yang cekatan dan bertanggung jawab. Dan mungkin ketika ia hamil nanti, Mahesa akan menjadi suami yang sangat siaga.
Tunggu, hamil? Kenapa bisa Milla berpikir hingga sejauh itu? Apa ia sudah berencana untuk memiliki anak dengan Mahesa, dan melakukan hal itu? Tidak, tidak! Milla tidak boleh melakukan hal tersebut, ia harus ingat dengan janjinya. Ya, janjinya kepada seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
"Milla?" panggil Mahesa dengan cukup keras, dan hal itu ternyata berhasil membuat Milla terbangun dari lamunanya.
Sudah beberapa kali ia memanggil Milla, namun istrinya itu justru terdiam dan sibuk memikirkan sesuatu. Dan, siapa yang Milla pikirkan hingga tidak menghiraukannya? Atau jangan-jangan Milla tengah memikirkan Andy? Mantan tunangan yang masih mengisi hatinya? Mau tak mau Mahesa mendengkus kesal dengan pemikiran negatif yang muncul di kepalanya.
"Kamu mikirin apa sih? Sampai saya, kamu abaikan?" tanya Mahesa dengan nada yang sedikit ketus, yang sukses membuat Milla mengernyit bingung.
Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Pikir Milla.
"Maaf," ucap Milla pelan, "kamu mau dimasakin apa?"
"Terserah!" Dan setelahnya, Mahesa melenggang pergi menuju ruang keluarga yang bersampingan dengan ruang makan yang jadi satu dengan dapur.
Milla mengedikkan bahunya, tidak mau memikirkan Mahesa lebih jauh. Dan memilih untuk mengambil beras sesuai takaran, membersihkannya dan memasaknya menggunakan rice cooker. Dan setelah itu, Milla mencuci semua sayur dan buah yang tadi ia beli. Tak lupa mencuci daging ayam dan merebusnya.
Selesai dengan itu, Milla memutuskan untuk membuat soup dengan campuran sosis. Juga menggoreng ayam crispy.
Rice cooker itu telah mengepulkan asapnya, menandakan jika sebentar lagi nasi telah matang, dan Milla pun hampir selesai dengan masakannya. Terlatih, memasak sejak sekolah menengah atas, Milla telah cekatan dengan semua peralatan dapur. Bahkan dulu, Andy sering memintanya untuk membuat bekal dan makan bersama di kantin. Masa sekolah yang menyenangkan.
Perut itu berbunyi, ketika hidungnya mencium aroma masakan yang begitu lezat, dan Mahesa yakin jika rasanya pun akan senikmat aromanya. Tubuhnya, beranjak, meninggalkan siaran pembawa acara di televisi yang memberitakan tentang kondisi pemerintahan saat ini. Dan jujur saja, hal tersebut sedikit berdampak untuk perusahaannya yang bergerak di bidang infrastruktur. Karena ada beberapa proyek yang bekerjasama dengan pemerintah sedikit terkendala, namun untung saja Mahesa bisa mengatasi masalah tersebut karena jika tidak, maka akan berdampak buruk, dan bukan hanya dirinya saja yang terkena, melainkan seluruh karyawannya juga.
"Duduk dulu ya, saya akan menyiapkannya," suruh Milla yang menyadari kehadirannya. Menuruti perintah sangat istri, Mahesa memilih duduk di ruang makan, seraya memperhatikan Milla yang nampak begitu handal. Ternyata menikahi Milla adalah sebuah keberuntungan, walaupun pernikahan mereka adalah sebuah keterpaksaan. Tapi ternyata Milla memiliki keahlian menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik. Pantas saja Andy menangis ketika kehilangan Milla.
Mahesa terus memperhatikan Milla yang menaruh satu per satu makanan di atas meja. Dari tampilannya saja pun sudah menggoda untuk segera di lahap. Dan ketika Milla mengambilkannya nasi beserta lauk, dan juga menuangkan segelas air putih ke dalam gelasnya. Istrinya sungguh cekatan dan pengertian. Mahesa tersenyum, ia merasa beruntung. Kapan lagi ia dilayani dan diperhatikan hingga seperti ini? Sudah lama, bahkan ketika ia memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen. Dan maminya jarang datang ke apartemen, mungkin, sebulan sekali.
Milla duduk di kursi tepat di depan Mahesa, dan bersiap untuk menyantap makannya. Namun gerankannya terhenti, "kenapa nggak dimakan? Masakan saya tidak enak?"
Dengan cepat Mahesa menggeleng, "Eh, enggak kok! Ini enak, saya hanya memikirkan sesuatu." Dan setelahnya Mahesa menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, dan benar saja, baru saja masakan itu menyentuh lidahnya, ia sudah bisa merasakan betapa nikmatnya masakan yang istrinya buat. Dan mulai sekarang, Mahesa hanya akan memakan masakan istrinya. Mahesa akan menyuruh Milla untuk memasakkannya, dan jika wanita itu tidak mau, Mahesa akan memaksanya.
.
.
.
Selesai dengan acara makan malam mereka, Mahesa memilih untuk kembali ke kamar. Meninggalkan Milla yang tengah mencuci peralatan masak dan juga piring. Mahesa telah menawarkan diri untuk membantu, dan mendapatkan sebuah penolakan, tapi bukan Mahesa namanya jika tidak memaksa. Hingga ia memecahkan sebuah piring, dan berakhir dengan kemarahan Milla. Jujur saja, Milla sedikit menakutkan ketika marah, karena biasanya istrinya itu lebih cenderung datar, namun keras kepala.
Pintu itu terbuka, menampilkan Milla yang telah masuk. Namun bukannya bergegas tidur, Milla justru berjalan menuju koper yang berada di sudut ruangan. Membuka dan menata pakaiannya juga pakaian Mahesa ke dalam lemari yang berada di walk and closed satu persatu. Menaruh mana yang perlu dilipat dan mana yang perlu di gantung.
Hampir satu jam telah berlalu, dan Mahesa bosan menunggu, ia sudah tidak tahan! Dan Mahesa harus bisa mendapatkannya malam ini juga!
Pria itu berjalan, menghampiri Milla yang tengah menggantung baju terakhir. Ini saat yang tepat, pikir Mahesa.
"Apa kamu masih lama?"
Milla berbalik, menatap Mahesa yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya. "Sedikit lagi, tinggal satu dan..., selesai."
"Baguslah."
"Kenapa memangnya?" tanya Milla bingung, dan hal itu dibalas dengan sebuah seringaian di bibir Mahesa. Dan tentu saja Milla dapat melihatnya, hingga membuat perasaannya sedikit tidak enak.
"Kamu tahu, 'kan, Milla? Saya ini pria normal."
Mahesa semakin mendekat, membuat Milla refleks berjalan mundur.
"Dan pria normal, tidak bisa berduaan dalam satu atap dengan wanita normal tanpa melakukan apa pun."
Milla semakin mundur, hingga tubuhnya terbentur lemari kaca di belakangnya. Apalagi tubuh Mahesa yang terus merangsek maju, membuatnya terhimpit.
"Apalagi jika mereka telah terikat dalam sebuah komitmen yang sah. Munafik jika mereka mengatakan tidak." Mahesa semakin menyeringai senang, melihat wajah Milla yang semakin pias.
"Dan, saya, menginginkannya. Maka izinkan saya untuk mendapatkan hak itu malam ini."
_________________________
[Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]