Mata Ran membengkak akibat menangis terus menerus. Hatinya sakit mengingat kalimat Damar yang menyatakan bahwa hanya dirinya yang ia cintai. Ran pun tak bisa membendung bahwa ia masih sangat amat mencintai cinta pertamanya itu. Namun melawan restu orang tua Damar? Itu sungguh tak mungkin. Berjuang? Jika kedua belah pihak keluarga saja sudah bertemu dan menunjukan keseriusannya, maka tak akan ada lagi jalan lagi. sudah dua hari Ran berada dalam kamar sang Eyang dan tak ingin keluar. Dan kemarin, Damar datang untuk menemuinya. Namun ajeng menghalau kehadiran Damar. FLASHBACK ON: “Assalamualaikum… Ran.. sayang.. Ranai pramunintyas..” Damar memanggil manggil Ran. “Walaikumsalam.. Nak Damar?” Ajeng keluar menemui Damar. “Eyang..” Damar menghampiri Ajeng “Eyang.. Ran dimana Eyang? Aku mau ke

