Aku mengigit bibir, mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung bolpoint yang sedang ku genggam. Kulirik jam digital yang tertera di pojok layar monitor, 5 menit lagi Utha pasti sudah sampai di kantor. Semakin mendekati waktu rutinnya tiba, semakin aku gugup bukan main. Bagaimana aku harus berhadapan dengannya setelah sejam lalu aku melihat adegan menjijikan tunangannya itu dengan kedua mataku?! Apa yang harus kukatakan?! Apa sebaiknya aku pura-pura tidak tahu saja? Atau aku memberitahunya sambil tertawa? Layaknya teman menertawakan nasib buruk kawan baiknya. Tapi memangnya dia kawan baikku? Lagi pula berlebihan kan jika aku menertawakannya, karena Utha diselingkuhi saat mereka akan menikah, bukan dalam masa pacaran. Mereka sudah dalam tahap yang sangat serius, dan itu yang menjadi masala

