Bukankah perjalanan ini memang terasa begitu melelahkan? Kau bertarung dengan dirimu sendiri, dan juga orang lain. Ya. Lagi pula, setiap manusia ditakdirkan untuk saling menyakiti. Betapa beruntungnya mereka yang tidak terlahir. Bahagia dalam ketiadaannya. Tak perlu menjadi manusia, sama artinya dengan tak perlu bertemu derita. Tazza mengalami itu. Bahkan dalam gelapnya tidur, ia masih bertarung. Untuk tetap hidup. Karena ia terlanjur menjadi manusia. Dan manusia hidup untuk selalu bertarung—sampai benar-benar Tuhan izinkan mati. Kini Tazza merasakan dorongan yang sangat kuat untuk tetap hidup, hingga jasad itu terlihat nampak berusaha keras bertahan. Terbukti dengan beberapa jari-jati tangan yang bergerak ketika tubuhnya diguncang-guncang. Tazza mati-matian memberi respon. “Tazza, bangu

