Bab 2. Si Gelo dan Si Tampan

1614 Kata
“Laraas! Ada yang luka?” Aku terpana, apa ini mimpi? Bagaimana bisa pria yang beberapa jam lalu begitu menyebalkan sampai ingin rasanya ku kubur hidup-hidup kini begitu manis dan mengkhawatirkanku? Apa ini hanya halusinasiku saja efek terbentur? Bocah perempuan yang ku selamatkan itu menangis hebat. Pria itu mengangkat tubuh mungil si bocah dan memeluknya erat-erat. “Laras, apa ada yang sakit nak?” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Hadeeh! Ternyata bukan aku yang dia cemaskan. Tapi bocah kecil yang ternyata bernama sama dengan ku. Sesaat aku merutuki diriku yang terlalu percaya diri. Lagipula siapa aku sampai harus dia khawatirkan? Mungkin malah dia akan senang aku dilindas mobil. Beberapa orang segera datang membantuku. Mengeluarkanku dari parit dan memapahku ke teras sekolah. “Mama Farel nggak apa-apa?” tanya seorang guru yang dipanggil miss Vania. Nggak apa-apa apanya? Dia nggak lihat jidatku ada darahnya? Aku meringis kesakitan dan mengedarkan pandangan mencari keberadaan anakku. Ku lihat Farel sedang menangis di gendongan salah satu guru. Mungkin dia panik melihatku hampir ditabrak mobil. “Mas, tolong antar mbaknya ke rumah sakit. Itu kepalanya berdarah!” salah seorang abang jualan berkata kepada pria gelo yang sedang menggendong anaknya yang masih menangis itu. “Kenapa saya? Anak saya juga lagi cedera ini!” sahut si gelo itu seenaknya. Kalau saja aku sedang tidak keliyengan benar-benar akan ku jedotkan kepala ini ke jidatnya agar otak koplaknya itu sedikit waras. “Lah, mas ini bagaimana? Mbaknya bocor gitu kepalanya gara-gara nyelamatin anak mas loh!” tuh, si abang telur gulung ternyata lebih waras dari dia. “Buruan anterin mas! Sebelumnya mbaknya m*ti kehabisan darah!” Siyalaan! Siapa itu yang nyumpahin aku m*ti? “Biar saya aja yang bawa mbaknya ke rumah sakit bapak ibu semua!” seorang pria lumayan, ah tidak, seorang pria keren berdasi menawarkan diri. Aku kembali terpana. Apa ini perwujudan malaikat di dunia nyata? “Edgar? Ngapain kamu di sini?!” si gelo itu setengah menjerit. “Loh? Bang Varo? Abang sendiri ngapain di sini?” si Edgar ganteng itu balik bertanya. “Ini sekolahan Laras! Ya jemput Laras lah..” Dua orang yang ternyata saling mengenal ini malah reunian dan lupa kalau aku nyaris pingsan! “Gue yang barusan nyaris nabrak mbak itu bang!” “Jadi kamu yang ugal-ugalan barusan?” si gelo yang ternyata bernama Varo itu menjitak kepala Edgar, “Kamu hampir ngelindes Laras juga tau!” “Ya ampun, ponakan om.. maaf ya..” Edgar memeluk Laras kecil yang berada di pangkuan Varo dan menciumi bocah itu. “Bisa-bisanya kamu ngebut di kawasan sekolahan gini! Gimana kalau tadi sampai ada yang ketabrak coba?” “Maaf bang, gue lihatnya dari jauh jalanan kosong. Nggak taunya Laras tiba-tiba nyebrang.” Edgar membela diri. Benar juga, anak perempuan itu memang tiba-tiba berlari ke jalan raya. Aku saksinya! “Udah toh mas-mas! Nanti berantemnya. Antar dulu mbaknya, udah mau pingsan itu!” si abang telur gulung greget sendiri. “Oh ya! Ayo mbak, saya obatin ke rumah sakit!” Edgar membantuku berdiri. Aku melirik Farel yang makin nangis kejer karena melihatku di bawa orang asing. Seolah tahu kekhawatiranku, miss Vania mendekat. “Farel biar kami yang urus ma! Nanti kami antar pulang berikut motor mama. Mama berobat aja dulu!” Aku hanya mengangguk lemah menanggapi ucapan miss Vania. Kepalaku memang sedang berdenyut sakit. “Abang sekalian ikut deh, biar Laras dicek juga!” “Oke!” Kami bertiga ditambah si bocah Laras plus salah seorang guru yang dipanggil miss Fifi berjalan meninggalkan pelataran sekolah. Edgar membantuku duduk di jok depan, sementara miss Fifi duduk di jok belakang. “Ayo bang, barengan aja!” ajak Edgar. Varo menolaknya , “Aku ngikut pake mobil sendiri aja. Ngeri semobil sama orang aneh! Mana g!la lagi!” ucapnya melirikku sinis. Astogee..! Dasar sampah! Tidak tahu terima kasih! Anaknya itu bisa selamat berkat aku! “Gilaa? Apa maksud lo?” semburku masih bisa melawan dengan tenaga yang tersisa. “Cuma orang g!la yang pakai sandal beda warna begitu!” balasnya sambil berlalu masuk mobil, masih sempat ku lihat seringaian menyebalkan dari bibirnya. Semua mata melirik ke kakiku. Sepasang sandal beda warna bertengger di kakiku. Pink dan hijau, dua warna yang sangat kontras, dan aku tidak menyadarinya setelah memakainya seharian. Aku mendengar beberapa kikikan tertahan entah dari mulut siapa. Haduuh.. kepalaku makin berdenyut dibuatnya. *** Untung saja tidak ada cedera yang berarti di tubuhku. Tidak ada tulang yang patah atau geger otak, hanya lecet di sana-sini gara-gara berguling-guling dan mendarat di parit. Satu-satunya yang parah hanyalah kepalaku yang robek dan membutuhkan empat jahitan. Edgar itu menawarkan untuk dironsen saja demi memastikan tidak ada cedera dalam. Tapi aku menampiknya dan beralasan aku baik-baik saja. Dan Laras kecil itu baik-baik saja. Tentu, itu berkat aku! Tolong digaris bawahi supaya si gelo, eh, si Alvaro yang ternyata kakaknya Edgar itu bisa mengingatnya dengan baik. “Mbak Laras mau aku antar kemana?” tanya Edgar pada saat pengobatanku sudah selesai. “Kalau tidak merepotkan bisa langsung antar aku pulang? Soalnya motor dan anakku sudah berada di rumah” jawabku. Setelah menurunkan miss Fifi kembali ke sekolahan, Edgar mengantarku pulang. Dan si Alvaro gelo itu, entahlah bagaimana nasibnya. Aku tidak tahu dan tidak peduli. Dasar pria sombong tidak tahu terima kasih! Menyesal aku menyelamatkan anaknya. Tuh kan, gara-gara dia pahalaku jadi menguap! Sesampai di rumah, bu Titiek yang cantik menyambutku dengan tangisan histeris. Berkali-kali ia membolak-balikan badanku untuk memastikan tidak ada organ tubuh yang hilang. “Kamu kalau mau nolong orang ya dipikir-pikir dulu toh Ras! Pikirin anakmu juga!” omelnya. “Kalau mikir dulu keburu kelindes anak orang bun!” jawabku membela diri. “Farel itu udah nggak punya papa, masa iya dia harus kehilangan mama juga?!” Aku melirik Edgar tidak nyaman. Duh, kenapa bundaku harus membahas hal pribadi begini di depan orang asing sih? “Bun, jangan marah-marah ah. Malu sama tamu..” bisikku mengode bundaku. “Kalau begitu aku permisi dulu mbak Laras, tante..” seolah paham ketidaknyamananku, Edgar langsung undur diri. “Loh, duduk dulu toh nak Edgar..” basa basi bundaku. “Lain kali aja tante. Ini udah mau kesorean.” Jawab Edgar sopan. “Sekali lagi makasih ya mbak, karena udah selamatin Laras. Dan.. maaf buat kelakuan bang Varo. Orangnya memang begitu, tapi aslinya baik kok!” Baik apanya orang g!la begitu! Aku mengangguk saja menanggapi omongan Edgar. ”Jangan lupa ya mbak Laras, kalau tiba-tiba merasa ada yang nggak beres sama badan mbak segera hubungi aku!” dia kembali mengingatkan aku. Aku mengangguk dan mengancungkan jempol, “Sipp! Makasih ya Ed!” Edgar balas mengangguk dan segera menggas mobilnya meninggalkan rumahku. Aku dan mama masih terus berdiri di halaman sampai mobil Edgar benar-benar menghilang dari pandangan. “Temanmu Ras? Ganteng ya?” celetuk bundaku tiba-tiba. Mataku membulat. Sejak kapan neneknya Farel ini menjadi ganjen? “Baru kenal tadi bun!” sahutku sambil berjalan terseok-seok masuk rumah. “Baru kenal kok langsung akrab sampai diantar pulang segala?” “Dia orang yang nyaris nabrak aku sama anak itu bun.” “Lah, kenapa kamu baru bilang? Tahu gitu bisa bunda omelin dia tadi!” bundaku langsung protes. “Emang bunda tega ngomelin cowok ganteng?” godaku. “Ya ditega-tegain! Eh Ras, kenapa nggak dicoba aja pedekate? Kriteria bunda banget itu!” bundaku mengerling-ngerling keganjengan. Aku urung masuk kamar dan menyipitkan mata memandangi ibuku itu, “Bunda mengincar daun muda? Aku bilangin ayah nih ya.. yaah!” sorakku memanggil ayahku yang sebenarnya masih belum pulang kerja. “Aseeem..! Buat kamu maksud bunda!” Aku terkikik masuk kamar dan meninggalkan bunda yang misuh-misuh di ruang tengah. Pelan-pelanku ku tutup pintu kamar karena Farel tengah tertidur. Ku dudukkan bokongku di sisi Farel dan mengusap kepala putra kesayanganku. “Mama masih belum bisa menggantikan posisi papamu dengan yang lain nak..” lirihku. Ku tatap lekat-lekat foto mas Fadly yang tengah bersanding denganku di pelaminan. Tak terasa mataku berair. Tiga tahun sudah aku ditinggal pergi suamiku itu untuk selama-lamanya. Tiga tahun lalu, tepatnya di hari ulang tahunku, mas Fadly mengalami kecelakaan tunggal saat dalam perjalanan pulang dari dinas luar kota. Dia yang sudah dua hari dinas luar kota mengendarai mobil dengan ngebut agar sampai di rumah sebelum jam 12 malam. Dengan begitu bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku secara langsung sebelum hari berganti. Namun naas, keadaan jalan yang licin sehabis hujan membuat mobil mas Fadly slip lalu berguling-guling di jalan hingga akhirnya menabrak tembok pembatas jalan. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahunku. Bagiku, tanggal 1 April itu benar-benar merupakan April Mop yang sebenarnya. Saat Tuhan mengerjaiku dengan mengambil nyawa suamiku! Tring! Sebuah notifikasi chat masuk ke gawaiku. Aku meliriknya, dari nomor tidak dikenal. Aku menggumam dalam hati. ‘Siapa ya?’ Tring! Tring! Ya ampun! Nomor asing itu kembali mengirimkan chat beruntun. Terpaksa ku buka karena penasaran. [P] [Laras, ini Alvaro!] [Saya mau menelpon, tolong angkat!] Mataku membulat. Si pria gelo sombong nyebelin itu! Dari mana dia mendapatkan nomorku? Ku balas chatnya, [Dari mana lo dapat nomor gue?] Belum sempat ku kirimkan chat itu, panggilan darinya langsung masuk. Siaalan! Kaget aku! Benar-benar orang yang ngotot dan semaunya! Padahal aku belum mengizinkan eh, main serobot saja! “Halo orang g!la! Ngapain lo nelpon gue? Terus dari mana dapat nomor gue? Lo stalker ya?” aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan. “Pertama saya bukan orang gila, nama saya Alvaro Nugroho. Kedua saya telpon situ karena terpaksa ada perlu. Ketiga saya bukan stalker, jadi jangan sok cantik, saya dapat nomor situ dari Edgar!” Benar-benar orang g!la yang menyebalkan! Kalau saja membun*h itu tidak dosa, aku pasti sudah mem-voodonya dari jauh! “Lalu ada perlu apa lo sampai ganggu istirahat gue?” “Kita harus ketemuan sekarang juga!” “WHAAATT?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN