bc

WARNING: DICARI PAPA UNTUK FARREL

book_age16+
7
IKUTI
1K
BACA
HE
dominant
boss
stepfather
single mother
drama
bxg
witty
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Laras berkali-kali dijodohkan orangtuanya untuk menikah lagi. Mereka bilang, sebentar lagi Farrel pasti akan membutuhkan figur seorang ayah. Tapi Laras masih belum bisa menggantikan posisi Fadly di hatinya. Baginya hanya Fadly-lah satu-satunya papa Farrel, walaupun lelaki itu telah tiada.

Tapi suatu hari, Laras terjebak cinta segi empat. Antara dua kakak beradik si duren Alvaro dan brownies Edgar, dan satu orang lagi manusia es dari kutub utara Faizan.

Lalu siapa yang akan dipilih Laras untuk menjadi papa barunya Farrel? Jika Farrel sendiri lebih menyukai Faizan yang bagai pinang dibelah kampak dengan Fadly. Sementara Alvaro membutuhkan dirinya untuk menjadi mama sambung Laras, sang anak perempuan yang bernama sama dengan dirinya. Lalu hatinya sendirinya lebih nyaman dengan Edgar, si brondong tampan.

“Haduuh.. pusing jadi orang cantik!” gumam Laras sok imut.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Raja Jalanan
Hari pertama Farrel masuk sekolah nyaris ku buat terlambat bocah itu gara-gara jam dinding di rumah yang entah kenapa pagi itu pakai acara mati segala. Padahal bertahun-bertahun menempel di dinding baik-baik saja. Harus gitu di hari sekrusial ini benda tua itu berulah? Dan dodolnya aku tak kunjung sadar padahal cukup lama wara-wiri dari dapur hingga teras dan jarum pendeknya tetap anteng di angka 6! Aku baru tersadar ketika anakku yang sedang sarapan roti tawar ikut menyanyikan sountrack serial kartun kesukaannya. Kenapa jam 6 pagi filmnya sudah dimulai saja? Bukankah biasanya setengah 8? “Ayo mama..!” bujangku itu sudah bersorak dari atas motor maticku yang sedang dipanaskan. “Bentar nak!” sahutku sambil meraih botol minumannya di atas meja. Tergopoh-gopoh ku raih helm dan ku sorongkan kaki ini ke beberapa sandal yang berserakan di dekat pintu. Bundaku setengah berlari dari dalam rumah sambil menenteng sesuatu: bekal anakku! “Haduuh! Kamu ini gimana sih Ras? Kamu berencana mau bikin anakmu kelaparan seharian?” omel wanita yang telah melahirkanku itu. “Hehe.. maaf bun! Lupa!” cengengesan aku meraih bekal itu. Bu Titiek, bundaku yang namanya mirip dengan artis senior yang menolak tua itu hanya mendengus dan geleng-geleng kepala, “Gini nih, kalau bocah punya anak!” gumamnya. Setelah memastikan dua barang yang paling penting di abad ini, ponsel dan dompet terbawa, segera ku starter motor dan melaju meninggalkan halaman rumah. Seperti biasa, Farrel selalu memilih duduk di depan. Katanya enak dihembus angin sepoi-sepoi. Aku sih tidak masalah, karena Farrel baru 5 tahun dan tubuhnya masih pendek. Jadi tidak menghalangi pandanganku. Hanya saja badan Farrel menghalangiku melihat papan speedometer dan itu menjadi bencana beberapa saat kemudian. “Ngebut maa..” seru anakku di sela deru angin. “Wokeey..” sahutku ikut semangat, aku dan Farrel memang sefrekuensi. Setengah ugalan-ugalan ku terobos jalanan kecil yang lumayan sepi itu. Hampir jam 8 pagi begini lalu lalang kendaraan memang mulai sepi karena para pekerja dan pelajar tentu saja sudah sampai di tempat tujuan masing-masing. Sedikit mengurangi kecepatan ku belokkan motor ke gang terakhir, karena di ujung jalan besar sana adalah sekolah anakku. Tapi siapa sangka di saat aku belok sebuah mobil dari arah berlawan juga belok ke gang yang sama. Aku yang tidak bisa mengendalikan laju kendaraanku hanya bisa memencet klakson sampai memekakkan telinga seraya mengucapkan sumpah serapah kepada si pengemudi sabl*ng itu. Motorku menyosor ke semak-semak di pinggir jalan. Untung saja ada tembok pembatas parit setinggi 30 cm yang mencegah motorku loncat indah ke dalam parit. Aku terdorong ke depan menghimpit Farrel yang langsung menangis karena dadanya tertekan di setang motor. Sementara si pengemudi mobil kampreet itu hanya melongokkan kepalanya dari kaca tanpa memberi pertolongan apa-apa. “Woii sialaan! Punya mata gak lo?” umpatku sambil menggebrak kap mobil seperti yang di drama-drama tivi. Tak kupedulikan Farrel yang sedang mewek, aku harus membuat perhitungan dengan bajing*n ini sebelum dia memutuskan untuk kabur. “Saya yang nggak punya mata atau situ?” jawabnya enteng. Darahku semakin mendidih. “Lo gak lihat gue segede gaban ini mau belok? Bisa ngantri gak? Jangan mentang-mentang bawa mobil lo bisa seenaknya ngeremehin pengemudi motor kaya gue ya!” aku makin merepet tak karuan. “Mbak, situ belok kanan lampu sen yang hidup sebelah mana?” Deg! Aku langsung terdiam dan melirik motorku. Astaga! Kenapa sen kiri yang hidup? Si pengemudi sabl*ng yang bertampang lumayan itu menyunggingkan senyuman remeh membuatku ingin rasanya menghantukkan kepala ini ke jidatnya yang glowing itu. “Sana minggir! Saya mau lewat!” usirnya padaku. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku minggir begitu saja tanpa perlawanan! “Dasar mak-mak gilaa!” masih sempat ku dengar gumamannya sebelum mobil itu menghadiahkan asap knalpot kepadaku. “Kurraang ajaaar...!” umpatku sambil memungut sebuah batu dan melemparkannya ke mobil itu, tapi sayangnya tidak kena karena sudah terlalu jauh. Ku hampiri Farrel yang sudah menyisakan sesegukan saja. Ku lap air mata dan ingusnya yang bleber dengan ujung cardinganku. “Apa dadanya sakit nak?” tanyaku lembut. Farrel menggeleng, “Udah enggak lagi ma, tapi aku kaget!” ucapnya. Setelah ku rapikan tampilan anakku yang sedikit acakadut, ku gas kembali motorku menuju sekolahnya Farrel. Kali ini tidak sebarbar tadi. Sesampai di gerbang sekolahnya Farrel, mataku membulat saat melihat sebuah mobil SUV hitam yang berdiri tidak jauh di depanku. Rasa-rasanya cukup familir pernah tampak, tapi dimana ya? Kuciumi pipi Farrel seraya mengingat-ingat. Ah, biarlah pikirku tak mau pusing. Ku antar Farrel masuk gerbang, maklum hari ini hari pertama sekolah dan yang namanya anak TK pasti banyak dramanya. Sekumpulan orang tua berdiri berkelompok di berbagai sudut. Ada sibuk mengabadikan momen, ada pula yang sibuk menenangkan anaknya yang sedang menangis. Untung saja Farrel bukan anak yang drama. Walapun telat datang dia tetap percaya diri menyalami para guru dan bergabung dalam barisan. Perjanjiannya aku hanya harus menungguinya hingga masuk kelas. Kuputuskan untuk duduk menunggu di atas motor saja. Aku bingung harus bergabung di kelompok ibu-ibu yang mana. Saat sibuk mengamati sekitar, fokusku teralihkan kepada seorang pria jangkung yang sibuk membujuk anak perempuannya yang tidak mau di tinggal. Melihat setelan formal yang melekat di badannya, aku yakin si pria pasti hendak pergi kerja. Kulihat ia setengah tidak tega meninggalkan putrinya yang makin meraung di pangkuan sang guru. Ada raut wajah sedih di muka tampannya. Tapi tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Wajah yang familiar, pernah lihat tapi dimana ya? Baru ketika dia melewati dan melirikku dengan sinis aku menyadari siapa pria itu. Si pengemudi kampreet yang barusan hampir bertabrakan denganku. Darahku kembali mendidih! Refleks ku kejar dan kuhampiri dia. “Woi!” panggilku tak sopan sambil mengamit kasar lengannya. “Apa lagi raja jalanan?” balasnya memandangku rendah. Terang saja, tinggiku hanya sedagunya. Tuh kan benar! Dia si pria kopl*k! “Tanggung jawab lo!” semburku. “Tanggung jawab apa?” balasnya sinis, “Motor situ bonyok?” Dan dengan bodohnya aku menggeleng. “Lalu?” “Anak gue syok gara-gara lo!” “Terus anak saya enggak?” balasnya, “Bibirnya sampai berdarah loh kena dashboard!” “Anak gue juga dadanya sakit!” balasku tak mau kalah. “Kalau begitu kita impas! Sana minggir! Jangan ganggu mulu. Saya sibuk, nggak ada waktu ngurusin penggemar!” What? Penggemar? Halo? Sok ngartis banget lo sialaan! Lagi-lagi aku terhipnotis, minggir tanpa perlawanan. Dan setelah dia pergi baru aku mengamuk lagi. *** Sudah hampir tiga jam aku duduk menunggu di atas motor. Sambil mengutak-atik ponsel menyicil kerjaanku. Aku adalah pengangguran yang sebenarnya jadi penulis novel online. Yah, daripada gabut kupikir kenapa tak ku asah bakat terpendamku? Setidaknya begitulah menurutku. Dan rasanya tidak sok kepedean aku ngomong begitu, karena dari empat novel yang sudah kutelurkan rata-rata viewernya mencapai ratusan ribu. Dan aku memperoleh pendapatan bulanan yang lumayan dari pekerjaan ‘ngepet online’ ini. Ngepet isi kantong pembaca. Hehe.. Ini gara-gara banyaknya anak yang drama di hari pertama sekolah, Farrel ikutan latah drama juga. Dia bersikeras aku harus menungguinya hingga pulang seperti anak-anak yang lain. Ya sudah lah, kumaklumi saja. Untung saja aku membawa ponsel jadi tidak perlu bengong seperti orang b*go. Ada sebuah pondok kecil di samping sekolah. Lebih tepatnya di sebuah tanah kosong di luar pagar sekolah. Tidak ada yang istimewa dari pondok itu. Sekilas tampak jelas pondok itu dibangun seadaanya dari bahan sisa. Pun atap seng bekas yang warnanya sudah berkarat. Satu-satunya keistimewaan pondok itu hanyalah ada sebuah pohon rambutan yang sedang berbunga lebat tumbuh persis di depannya. Hingga membuat tempat itu menjadi rindang dan sejuk. Besar pahala si pembuat pondok karena sudah memberi tempat berteduh bagi sekelompok ibu-ibu yang menunggui anak-anak mereka. Ada sekitar 15 orang yang duduk di atas bangku kayu yang dibuat mengeliling hingga menyisakan sebuah ruang lepas di tengah-tengahnya. “Ayo mbak, gabung di sini!” tawar salah seorang ibu-ibu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Aku mau duduk dimana kalau bergabung? Jongkok di tengah-tengah? “Gak apa-apa mbak! Di sini juga adem.” sahutku. Untung saja motor ku parkirkan di bawah sekumpulan pohon palem di pinggir jalan. ‘Aku gak ada waktu buat buang-buang waktu mbak!’ kalimat ini kusambung dalam hati saja. Untung saja jam setengah 12 siang anak-anak pulang. Keadaan langsung riuh. Ibu-ibu penghuni pondok tadi bubar dan mencari anak masing-masing. Sementara aku masih anteng di atas motor menunggu penampakan Farrel muncul. “Mamaa!” tiba-tiba anakku itu melongokkan kepalanya di balik pagar. “Sayang, yuk pulang!” ajakku sumringah. “Nanti ma, aku mau main sebentar!” Tanpa menunggu persetujuanku anak itu langsung balik kanan dan berlari menaiki seluncuran. Astaga anak ini! Tak tahukah ia kalau ibunya sudah mulai bosan? Sepuluh menit berlalu, sekolah mulai sepi. Anak-anak banyak yang sudah pulang bersama orangtua mereka. Sisa beberapa orang saja yang belum dijemput, termasuk Farrel anakku itu. Dia sih bukannya belum dijemput, ibunya bahkan sudah menungguinya sejak pagi! Pasrah, ku putuskan untuk kembali menghempaskan bok*ng di jok motor sambil menonton anakku yang aktif itu beraksi. Beberapa orang guru tampak mengawasi anak-anak yang masih tersisa. Tiba-tiba seorang anak perempuan berlari keluar gerbang, lolos dari pengawasan sang guru. Aku yang dilewatinya hanya bisa tercengang saat ia berlari melintasi jalan. Sedetik kemudian baru aku sadar bahwa bahaya sedang mengincar si anak. Sebuah mobil melintas cepat dari arah kanan. “AWAAASS..!!” beberapa abang jualan yang mangkal tak jauh dariku kompak berteriak. Sementara bunyi ban mobil yang berdecit keras tanda direm paksa turut memekakkan telinga. Entah di kehidupan sebelumnya aku ini titisan Gundala Putra Petir, secepat kilat aku melompat dari motor dan mengejar anak itu. Aku berhasil menangkapnya sesaat sebelum moncong mobil itu menghantam tubuh mungilnya. “LARAAASS...!” entah siapa yang memekikkan namaku. Namun sepertinya dugaanku salah, aku bukan titisan Gundala Putra Petir. Karena setelah aku menangkap bocah itu, kami berdua malah nyusruk ke parit yang untungnya tidak berair. Kepalaku langsung berkunang-kunang dan tulangku berasa mau copot semua. Kulepaskan pelukan eratku pada si bocah dan kuraba sesuatu yang hangat mengalir di pelipis. Darah! Aku langsung pusing melihat cairan kemerahan itu. “Laras! Kamu nggak apa-apa?!” Si pria sabl*ng tadi pagi bersimpuh di atas parit dan menatapku dengan wajah cemas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook